
"Nona Alana Chavez merestui hubungan Nyonya Andreia bersama Tuan James. Telah putuskan semua ikatan dengan Tuan James Chavez. Nona mengatakan padaku, ayahnya telah meninggal saat ia masih kecil."
Salsa mengurut kening pelan. Alfredo Alvarez tak ingin dua wanita terus mengenang Tuan James Chavez. Kehidupan keduanya lebih damai sebelum Tuan Chavez kembali sekalipun sering berdebat dan saling menyerang.
Menurut pendapatnya, tak benarkan sikap Nyonya Salsa pada Archilles Lucca. Terlalu keliru. Harus diakui Archilles Lucca terbaik untuk Nona Arumi. Tetapi, menurutnya Tuan James tak punya pendirian jika tinggalkan Nyonya Salsa sekarang, di saat, kedua orang ini butuh dukungan. Jika jadi, James Chavez, ia lebih memilih mencari jalan terbaik termasuk ikut serta dalam mengurus Archilles Lucca alih-alih tampak melarikan diri.
Okay. Marah pada kebrutalan Nyonya Salsa dan tidak tahan pada attitude buruknya, tetapi, Nona Arumi tidak pantas disakiti seperti yang ia lihat hari ini. Apakah Nyonya Andreia lebih berharga dari puterinya sendiri?
Dan apakah Nyonya Andreia memang harus serendah itu? Menghina puterinya tetapi melekat pada ayahnya? Dunia ini berisi hal-hal paling tidak masuk akal.
"Alfredo ..., jika keadaan Leona membaik, bisakah bawa dia kembali?"
"Akan aku periksa, Nyonya. Hanya saja, kakaknya tak ijinkan Leona bekerja pada kita. Aku akan mencoba yang terbaik."
"Baiklah."
"Dokter yang menangani Nona Arumi laporkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, Nona terlalu tertekan, capek, lelah, sebabkan kondisi fisiknya terganggu. Akan sembuh dengan istirahat, makan teratur dan pastikan Nona untuk bahagia."
Alfredo Alvarez berkata lagi.
"Terima kasih karena membuat keputusan yang tepat bawa Arumi kemari."
"Nyonya, Nona Arumi jalani hari-hari berat sejak di Càrvado. Aku telah jadwalkan pemeriksaan lengkap. Nona Arumi pernah terjatuh dari kuda. Dan belum pernah ditangani secara serius," tambah Alfredo lagi.
"Terima kasih banyak, Alfredo."
Salsa melangkah gontai di sepanjang lorong. Masuk ke lift seakan melayang. Andreia tidak hanya merampas Ethan Sanchez dari Arumi, tetapi juga Ayahnya. Arumi bisa saja sekarang tidak hanya membenci James Chavez, mungkin juga Ethan Sanchez. Walau Salsa yakin Ethan Sanchez tak akan mau terlibat dengan kisah asmara ibunya.
Ini buruk. Haruskah sekarang waktunya?
Pintu lift tertutup. Turun. Ia memikirkan segala hal. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Ting!
Terbuka. Ia melangkah keluar. Di depan lift ia disapa. Terkejut.
"Nyonya Salsa?"
"Salsa?"
Wajah terangkat. Laurent Vincenti dan puteranya sama-sama terperanjat.
"Young?!" Beralih. "Laurent ..., kalian di sini?"
"Ya, Salsa. Senang berjumpa denganmu. Sepupu Young di opname tadi malam. Kami baru saja akan mengunjunginya." Laurent Vincenti sodorkan bawaan pada Young. Mendekat pada Salsa ulurkan tangan dan menyentuh kening. "Salsa ..., kamu tidak sehat. Apa kamu sakit?"
"Tidak, Laurent."
"Siapa yang dirawat? Apa Tuan Chavez?"
Salsa menggeleng.
"Mengapa kamu di sini?"
"Arumi di atas ...."
"Apa? Arumi?" tanya Young Vincenti prihatin. Biasanya dia selalu tahu tetapi belakangan dia sibuk mengganggu Fernanda Miller termasuk belajar keras agar bisa menendang Fernanda dari peringkat tiga. Pikirnya Archilles bersama Arumi. Lagipula, ponsel dan laptopnya disita Ayahnya yang muak ia lakukan hal-hal bodoh. Dia hanya sibuk nikmati jadi anak sekolahan.
"Ya."
"Ayah, bolehkah aku menjenguk Arumi terlebih dahulu?"
"Pergilah setelah menyapa sepupumu, Young. Bawakan juga oleh-oleh dan kembali lagi nanti untuk belikan Nona Arumi sesuatu yang disukainya."
"Baik, Dad."
"Katakan pada adikku, aku segera menyusul. Tolong jaga sikapmu, Young. Kita berada di rumah sakit."
"Baiklah, Ayah. Nyonya Salsa aku pergi."
Pria muda itu pergi. Caranya patuh pada Laurent dan menjaga perilakunya luar biasa. Sangat manis. Padahal menurut Anna, Young biang ribut. Siklus hidup Young Vincenti adalah sembuh, berkelahi, luka parah, hampir mati dan sembuh.
"Kamu ..., mau kemana, Salsa? Wajahmu terlampau pucat."
"Temui dokter."
"Di mana Tuan James Chavez?"
Keduanya saling menatap. Laurent Vincenti bernapas berat.
"Biar aku temani."
"Tidak, Laurent."
"Berdirimu saja limbung, Salsa."
"Aku bisa sendiri. Bukankah, kamu harus menjenguk keluargamu dulu, Laurent? Mari bertemu nanti. Sampai jumpa."
Salsa melangkah pergi. Menuju tempat praktek dokter kandungan. Berdiri di sana ragu-ragu. Waktunya tidak tepat. Harusnya ia tinggal saja dan menjaga Arumi. Tarikan napas berat. Ia sangat ingin tidur. Badannya sangat-sangat lemah dan letih.
Salsa berbalik hanya untuk terpaku. Laurent Vincenti ternyata ikutinya dari belakang. Mata Laurent melihat board dokter kandungan. Kembali pada Salsa.
Pintu terbuka. "Nyonya ..., dokter menunggu."
Salsa terlalu terkejut tak menyangka Laurent ada di depannya. Hanya diam di tempat beberapa saat.
"Masuklah, Salsa. Aku akan menemanimu!" Laurent berkata lembut.
Salsa menatap lurus pada pria di depannya.
"Dia pergi!"
"Aku tahu," sahut Laurent cepat. "I am so sorry for you, Salsa. Ini akhir bagi cinta dua orang, tetapi awal dari sebuah kehidupan baru. Tolong jangan hilangkan dia hanya karena ayahnya pergi. Aku yakin kamu memanggilnya datang. Cukup jahat untuk membunuhnya. Banyak wanita di dunia ini merana karena tak bisa miliki bayi."
"Ini sangat berat bagiku dan Arumi, Laurent. Aku akan tambahkan satu lagi untuk rasakan segalanya."
Keduanya bertukar pandang. Laurent ulurkan tangan.
"Pegang tanganku, Salsa. Kamu bisa berbagi kecemasanmu denganku karena aku pernah alami."
"Maafkan aku ..., Tuan dan Nyonya ..., apakah Anda berdua akan masuk sekarang atau kita bisa jadwalkan ulang kunjungan?"
Perawat berdiri di muka pintu tak berniat menyela tetapi dokter praktek menunggu.
"Kami datang, Suster," sahut Laurent Vincenti yakin. Meraih Salsa dan tersenyum, "jangan takut, andalkan saja aku".
Pria itu menuntun Salsa.
"Ini pertama kalinya masuk kemari bersama, kami agak gugup. Maafkan kami, Dokter, buat Anda menunggu." Laurent Vincenti menoleh pada Salsa yang tanpa pikiran dan seakan membuta kepalanya.
"Aku mengerti. Anda berdua harus lebih bahagia hadapi hari, Tuan dan Nyonya. Demi kesehatan bayi." Dokter menatap keduanya bergantian.
Laurent mengangguk, menggenggam tangan wanita linglung di sebelahnya. "Salsa ..., tolong dengar kata Dokter."
Begitulah, Salsa Diomanta perhatikan pria yang tampak lebih berminat pada bayi. Mengulang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan wanita hamil seperti seorang Ayah sejati.
"Ada kelas senam ibu hamil bersama pasangan setiap Minggu di pusat kebugaran rumah sakit. Silahkan mendaftar. Anda berdua harus tahu, ini sangat penting untuk menjaga kebugaran tubuh dan perkembangan janin lebih optimal."
"Tidak perlu," sahut Salsa. Sebenarnya ia berharap bisa ada di kelas itu dan bertemu wanita hamil lainnya, bertukar pengalaman dan berbagi energi positif. Kehidupan wanita normal yang menyenangkan terlebih bersama ayah dari si bayi.
"Kami akan ikut."
Salsa menengok pria yang kadang-kadang kebablasan di sebelahnya hendak protes. Dia lupa, pria ini Laurent Vincenti.
"Salsa ..., aku selalu serius soal kesehatan bayi. Mari kita terbuka pada segala kemungkinan bagus dan bersikap fleksibel yang menunjang perkembangan bayi."
"Anda ..., suami yang luar biasa." Dokter tersenyum memuji. "Sangat sedikit pria antusias dan terang-terangan tunjukan minat mereka pada istri sedang hamil. Bayi Anda akan sangat senang miliki Anda di sisinya."
"Amen," jawab pria itu. "Aku tak sabaran sembunyikannya di dalam selimut sedang ibunya pusing mencarinya. Semoga dia mendengarnya."
Kesekian kali Salsa berpaling pada Laurent Vincenti yang selalu totalitas dan tak pernah gagal.
Mereka keluar dari sana setelah dokter agak "mengusir" karena Laurent Vincenti punya terlalu banyak pertanyaan seputar kehamilan dan bayi. Dan tak akan habis kalau tak dihentikan paksa.
Laurent Vincenti pegangi Salsa sepanjang langkah seakan wanita 36 tahun itu hamil sembilan bulan dan akan segera melahirkan. Tingkah pria itu menarik perhatian orang. Dia tidak peduli.
"Laurent, aku baik-baik saja. Anda berlebihan, Tuan!" Salsa berhenti di tengah jalan. Menegur pelan.
"Salsa, ini adalah dorongan alami dari dalam diriku sebagai seorang pria untuk lindungi wanita hamil. Bayi buat pria sepertiku lemah. Entah mengapa."
Padahal bukan bayinya. Pikir Salsa murung.
"Sungguh pengertian."
Salsa menghela napas panjang. Sungguh buruk.
"Bukan aku yang berlebihan tetapi sepatumu." Laurent pegangi Salsa semakin erat seakan takut Salsa diterbangkan angin. "Tekanan darahmu rendah, kamu pucat, kurang darah. Bisakah gantikan dengan sepatu flat? Yang tidak mudah goyah. Heels sepatumu terlalu runcing. Dan lantai rumah sakit, apa harus selicin begini? Bukankah ini sangat berbahaya bagi orang sakit?" Pria itu mengeluh. "Pegangan padaku. Dokter bilang, trisemester pertama adalah masa-masa rawan."
Salsa kehilangan kata. Merasa sangat aneh tetapi tak menolak perlakuan padanya. James Chavez tak akan mau menyentuhnya di depan orang banyak. Apalagi menggandengnya di hadapan umum. Laurent Vincenti sesuatu.
"Ibu Young ..., apakah kamu pernah menemukan identitasnya?"
"Tidak, Salsa. Aku tak akan mau peduli. Wanita yang mengisi bayi ke dalam loker sekolah yang sempit adalah wanita kejam dan tidak punya nurani sama sekali. Binatang saja tahu mengurus bayi mereka. Pertama kali aku temukan Young, aku mengutuki rahimnya. Bayangkan jika aku tak datang ke sekolah di hari itu. Puteraku akan mati kehabisan udara. Padahal, dia bisa datang padaku, membawa puteraku dan aku akan bertanggung jawab."
"Dia mungkin menyesalinya, Laurent." Salsa mengingat dirinya sendiri. Tak lebih buruk dari Ibu Young.
"Ya, aku berharap dia bahagia di suatu tempat dan berubah."
"Aku melakukan hal buruk pada dua puteriku."
"Tidak untuk ketiga kalinya, Salsa. Aku yakin kamu akan milikinya sepenuh hatimu."
Mereka pergi ke ruangan Arumi Chavez. Young Vincenti dan Itzik Damian bersebrangan saling menatap dan saling menilai. Di tengahnya Arumi tertidur pulas.
Oh ya, mereka musuhan dulunya. Beda kubu dalam upaya berebutan Anna Marylin. Manusia putih di sini tidak mungkin dikirim Hedgar Sangdeto menjaga ponakan musuh bebuyutannya. Mungkin perintah Anna Marylin. Pikir Laurent Vincenti. Menoleh dapati Salsa merenung jauh.
"Aku terlalu egois padanya. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Agar tak menyesal sama sepertiku."
"Saat kamu bersedih, anak-anakmu mungkin juga akan bersedih. Tolong atasi emosi dalam dirimu demi kebaikan mereka."
Laurent banyak benarnya.
"Aku tak tahu caranya." Sekali ini Salsa menyerah. Mungkin kehamilan pengaruhi emosinya. Pikiran jernih raib dari kepalanya.
"Sudah aku duga Tuan Chavez akan meninggalkanmu. Aku bertemu dengannya bersama seorang wanita beberapa waktu lalu di Saint Clara Hospital. Aku pikir hubungan mereka tidak biasa."
"Aku pasrah. Aku tidak sempurna seperti yang diharapkannya."
Laurent Vincenti menepuk pundak Salsa berikan kekuatan.
"No body perfect, Salsa. Mencari kesempurnaan dalam diri seorang wanita sangat mustahil. Apa dia tahu, kamu sedang mengandung?"
"Tidak. Aku tidak beritahu dia."
"Sayang sekali."
Sama-sama berpaling melihat siapa yang berkunjung karena langkah kaki terdengar di koridor. James Chavez tergesa-gesa datang dengan seikat bunga. Di belakangnya, asisten pribadi pria itu bawakan keranjang buah dan entah apa lagi.
"Umur panjang serta mulia," keluh Salsa sangat ingin menghindar tapi tak punya cara.
"Apa Arumi baik-baik saja?" tanya James Chavez setelah mereka berhadapan.
"Aku yang seharusnya bertanya. Arumi pergi ke kediamanmu, Tuan."
"Salsa ...."
"Anda bisa melihatnya sendiri, Tuan Chavez." Salsa kelelahan. "Apa Alana menyakitinya? Puteriku berdarah."
"Maafkan aku. Sungguh, aku tak bisa mencegah ini terjadi."
Omong kosong! Umpat Salsa dalam hati. Apa yang membuat pertengkaran dua anak tak kedengaran Ayah mereka? Sedang pria itu ada di rumah? Salsa menggeram.
"Aku berharap wanita yang akan bersamamu adalah wanita terakhir, Tuan Chavez. Anda menyakiti banyak hati wanita dan anak-anak."
"Lihat ke dalam diri sendiri, Salsa. Kita punya kesalahan masing dan urusan yang tak boleh dicampur adukan."
"Urusanmu adalah urusanku saat menyangkut Puteriku, Tuan Chavez. Sisanya, aku tak peduli. Jangan mengundang Arumi saat anda menikahi Andreia. Itu akan sangat menyakitkan."
James Chavez menatap Salsa. "Arumi memberitahumu?"
Salsa menggeleng. "Tidak! Aku menebak dari ceritanya. Anda pergi dengan ibu dari mantan pacar Puterimu yang menghina Puterimu sendiri. Mengapa harus dia? Oh, betapa menggelikan untuk dibicarakan. Aku akan mengirimkan barang-barangmu ke kediamannya, Tuan. Bawa pulang bunga dan buahmu sama seperti yang Andreia lakukan pada Puterimu. Atau aku akan kirimkan langsung padanya."
"Salsa ..., aku menyesal untuk kita. Kamu marah bukan karena Arumi, aku pikir. Tetapi, kamu hanya tak bisa menerima aku bersamanya."
"Aku tak peduli dengan siapa kamu akan habiskan sisa hidupmu, Tuan. Tidak penting bagiku karena kita telah resmi berpisah. Aku sedang bicarakan Arumi Chavez."
"Hei! Hei! Tenanglah! Anda berdua tak akan berdebat di depan puteri yang sedang sakit dan menambah kesedihannya, please!" Laurent Vincenti melerai dua orang itu.
Kedua mantan kekasih saling bertatapan dengan seluruh emosi yang akan meledak. James Chavez mengalah, pergi ke dalam. Membeku di samping Arumi. Salsa tak ingin melihat, duduk di kursi.
"Kendalikan dirimu, Salsa!"
Laurent Vincenti pegangi tangan Salsa yang gemetaran oleh kesal, mendekap Salsa erat.
"Aku sangat marah."
"Tidak ada untungnya, Salsa. Please. Mari kita pergi. Kamu perlu makan."
"Aku akan bersama Arumi, Laurent. Aku bersalah di masa lalu tetapi Puteriku menanggungnya untukku."
"Young akan menjaganya sampai kita kembali. Akan jadi masalah baru jikalau kamu juga jatuh sakit."
Salsa Diomanta pejamkan mata. Tangan - tangan berkaitan. Marion Davis dan Sunny Diomanta datang bersamaan. Dua orang itu berhamburan ke dalam ruangan dan tak bisa mencegah kejadian sentimentil.
"Siapa yang lakukan ini padamu, aku akan mencekiknya sampai mati," kata Sunny meraung.
"Ya, beritahu aku, Baby!" Marion Davis tambahkan dari sisi sebelah. "Sayang, mengapa tangannya bengkak? Siapa yang berani menyentuhnya? Apakah gadis kriminal itu? Yang kemarin mengurungnya di lemari besi?"
"Maafkan aku. Arumi dan Alana bertengkar."
James Chavez menarik perhatian dua bersaudara. Sunny menatap marah padanya.
"Tuan Chavez, berhenti menyakitinya. Kamu dan kakakku dengan seluruh keegoisan kalian tanpa henti. Gadis ini cuma anak-anak, ya Tuhan. Di mana pikiranmu?"
"Aku sungguh-sungguh menyesal untuk kami."
James Chavez keluar dari ruangan. Berkata pelan pada Salsa yang pucat pasi.
"Aku akan kembali nanti untuk bicara dengan Arumi dan jelaskan semua padanya."
"Tolong, jangan! Arumi Chavez berhenti memanggilmu Ayah. Aku pikir, tidak ada lagi yang perlu dipertahankan, Tuan. Kita telah menyakitinya."
"Aku akan mencoba yang terbaik, Salsa."
"Tidak. Tolong biarkan dia bersamaku. Tinggalkan saja kami."
Mereka berbagi tatapan untuk penghabisan.
"Salsa, sekali ini sangat penting. Mari ambil waktu sejenak untuk bertemu Alana dan selesaikan semua ini sebelum timbulkan bencana di masa depan."
Salsa Diomanta pikirkan hal itu. Menyerah. "Baiklah."
James Chavez menoleh pada Laurent Vincenti.
"Anda di sini, Tuan Vincenti?"
"Ya, Tuan James Chavez. Senang bertemu denganmu lagi."
"Anda pasti tahu bahwa kami berpisah."
"Ya. Mengejutkan. Anda abaikan nasihatku. Anda meninggalkan Salsa."
"Aku punya banyak kekurangan."
"Semua orang punya kekurangan, Tuan Chavez dan Anda tak bisa mencegah aku untuk bersama Salsa dan bayimu."
James Chavez luar biasa terkejut. Menoleh pada Salsa menuntut penjelasan.
"Kamu memang ratunya menembak seseorang, Salsa."
"Arumi datang untuk beritahu Ayahnya tentang adiknya. Tetapi, ia berkata dapatkan kejutan beruntun."
Wajah James Chavez seketika berubah dingin. Seakan baru ditampar satu kubik es.
"Ini bukan waktu yang tepat, Tuan Chavez. Tetapi, kita mungkin tidak akan bertemu lagi. Aku perlu beritahu Anda." Menarik napas panjang. "Aku belum minta pendapat Puteraku dan Nona Arumi soal ini tetapi aku yakin baik Young dan Arumi akan berikan dukungan mereka. Aku akan menikahi Salsa dalam beberapa hari ke depan sebelum janinnya bertambah besar."
Itu mengagetkan semua orang. Termasuk Sunny dan Marion yang baru saja keluar. Salsa menoleh kepada pria yang bicara serius ditiap katanya. Sangat takjub. Cari di mana, pria se-langka ini?
Laurent tersenyum sedikit mengusap bahu Salsa. Dan Laurent tidak sedang bercanda.
"Secara hukum, bayi ini akan menjadi milikku. Aku akan mengurus Salsa dan bayi kami. Juga akan merawat Nona Arumi dengan kasih sayang dan perhatian yang tidak didapatkan dari ayahnya. Tolong tinggalkan Nona Arumi bersamaku. Sejak hari ini Nona Arumi dan saudara-saudaranya adalah anak-anak dari Laurent Vincenti."
***
Encuentra su Lugar : Menemukan Tempatnya. (Menemukanmu).