My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 28. Perfecto Love



***


"Archilles Lucca, aku akan nikahi Paula Carla."


Archilles menatap pria yang sedang bicara padanya.


"Raul Lucca, apa aku tak salah dengar?!" Mencemooh.


"Aku akan menikahi Paula Carla," ulang Raul Lucca lebih jelas.


Archilles Lucca menahan gemuruh murka di dadanya. Paula Carla, 20 tahun, muda dan sangat cantik. Bagaimana bisa ayahnya akan menikahi gadis 20 tahun, terlebih Paula Carla adalah sahabatnya.


"Bukankah kamu terlalu tua dan penat untuk Paula?! Kupikir Zeta Zurin lebih cocok untukmu ketimbang Paula. Apa Paula tahu?!"


Archilles Lucca berbalik dan temukan Zefanya Gavriella yang berusia dua tahun lebih sedang berada dalam pelukan Paula Carla. Sefanya ditimang dan dibelai lembut.


"Ya. Paula telah setuju."


Seakan tahu ia sedang dibicarakan, Paula Carla menoleh, bangkit berdiri dan menggendong Zafanya dalam lengan-lengannya.


"Kapan kalian akan menikah?" Archilles Lucca tak percaya pada apa yang ia lihat, saat tak ada yang bisa menahan gejolak emosi yang mengalir begitu saja di sisi wajah Paula Carla.


"Dua Minggu lagi," sahut Paula menatap ayahnya tersenyum lembut penuh cinta. Di pemukiman ini ada banyak pria muda, ya Tuhanku yang hidup, mengapa Paula jatuh pada Raul Lucca?


Gadisnya yang polos dan murni akan bersama ayahnya?! Meskipun Raul Lucca berubah dalam dua tahun tidak lantas buat Archilles sepenuhnya berhenti mengingat sikap buruk ayahnya.


"Aku harap kamu tak menyakiti Paula, Raul. Kamu tahu akibatnya."


Seminggu sebelum pernikahan terjadi, Archilles Lucca mengemas barangnya dan barang-barang Zefanya. Tak punya tujuan. Martha Via kabur dari rumah orang tuanya setelah menerima perjodohan dengan sebuah klan cukup bermartabat.


Martha berlari agar bisa bersama Raul Lucca, tinggalkan banyak kepedihan yang mungkin masih berbekas. Orang tua Martha Via menolak Archilles Lucca. Zefanya Gavriella bisa saja buat keajaiban.


Orang membuat keputusan keliru tetapi nekat benarkan sikap. Kehidupan Martha Via tanpa restu, dipenuhi selaksa kemalangan.


Raul Lucca sering mabuk-mabukan. Sering lampiaskan kesal pada Martha Via. Archilles ingat disembunyikan Martha Via di kolong ranjang agar terhindar dari ikat pinggang Raul Lucca.


"Archilles kemana kamu akan pergi bersama Zefanya?" Paula Carla berkaca-kaca di ambang pintu. Archilles tak menyahut hanya mengisi baju termasuk baju-baju peninggalan Martha Via, selimuti tubuh Zefanya yang terbaring di atas ranjang. Kehilangan kasih sayang Martha Via, kini Paula Carla, Archilles terlalu tegar untuk utarakan hati yang patah.


"Archilles jawab aku!" Paula pegangi tangan, hentikan tindakan sedang berlangsung, memaksa Archilles berbalik. Menahan luapan marah, pegangi sisi lengan Paula Carla.


Mengapa tak jatuh cinta padaku? Archilles mengumpat di hatinya.


"Aku bisa menerima pria lain jadi suamimu, bukan Raul Lucca. Ya Tuhan, apa yang kamu cari? Raul Lucca 40 tahun, Paula."


"Archilles, aku dan Raul ..., kami saling mencintai."


Cinta buta yang menjijikan.


"Jangan tertipu dengan sikap manisnya!"


"Raul telah jauh berubah, Archilles."


Ya, ia ingin percaya.


"Kamu terlalu sibuk membencinya!" tambah Paula.


"Aku mencoba tetap tinggal, aku tak bisa. Aku berharap semuanya kembali seperti dulu."


"Archilles tak ada yang berubah, aku tetap milikimu sebagai temanku."


"Paula?! Kamu akan nikahi Ayahku, akan jadi ibu tiriku. Bisakah kamu menembus hari dan melihat ke depan?"


"Jangan bawa Zefanya! Aku mohon." Mengemis. Archilles Lucca mendekap Paula, memeluk erat. Ini yang terakhir kali, ia hanya akan pergi, berjuang demi hidup. Ia akan besarkan Zefanya Gavriella.


"Aku tak akan ajarkan Zefanya membencimu. Aku janji. Bahagialah bersama Raul."


***


Kring ... Kring ... Kring ....


Sebuah lonceng kecil berbunyi di puncak menara.


Apakah aku mati?


Archilles Lucca, untuk semua dosa-dosamu, kamu akan tinggal di tempat ini selama beberapa waktu. Kamu akan disiksa dalam api yang menyala-nyala. Gigimu akan gemetaran, lidahmu akan bungkam, mulutmu akan keluh, jiwamu akan terkesima melihat tatkala Sang Penguasa jatuhkan hukuman bagi pendosa.


Archilles Lucca menengadah pada loteng berwarna merah jingga oleh jilatan api, pada lautan bara. Jiwa-jiwa berteriak minta tolong dari dalam sana. Di antaranya ada banyak pria yang ia kenal berasal dari golongannya di masa lampau. Archilles Lucca tiba-tiba saja ketakutan. Tak ada pengampunan, mengerikan untuk disaksikan.


Apa aku bisa pulang?! Bertanya dalam hati.


Tergantung!


Sebuah jalan dengan sisi berduri terbentang di hadapannya menuju lembah penuh kobaran api. Archilles Lucca pejamkan mata. Ia akan menerima penyiksaan, mulai langkahkan kakinya menuju ke sana sementara hawa panas perlahan mulai menyengat.


Berada tepat di gerbang neraka, ternyata menyeramkan. Harusnya ia tak main-main dengan neraka.


Lalu, mata badai entah dari mana bergumul di sekitarnya. Angin berhembus, lonceng berayun.


Kring ... Kring ... Kring ....


"Archilles Lucca. Aku akan tunggangi Aorta yang liar, berlari menuju ke lembah di mana sungai kecil mengalir sementara para buaya berjemur. Aku akan biarkan aku dimangsa. Jiwamu tak akan tenang di manapun kamu berada. Kamu dengar aku?!"


Archilles Lucca hentikan langkahnya. Bagaimana bisa badai bicara gunakan suara Nona Arumi?


Archilles Lucca berbalik pada keinginan yang kuat untuk menggapai pusara badai. Kini, membentuk sebuah rupa cantik dari butiran pasir serta debu bahkan miliki mata-mata sepolos mata bayi, menatapnya; indah dan murni. jiwanya memberontak.


"Buka matamu! Ayolah!"


Tuhan ..., aku akan kembali lain kali!


Atau aku akan bertobat dan tak akan datang kemari!


Aku berjanji*!


Archilles tak sadar telah berlari keluar dari mimpi buruk.


"Jika kamu tak bangun aku akan mencari pengawal baru yang lebih tampan dan perkasa darimu."


Menggeram. Perlahan buka matanya. Buram. Ada bayangan sempurna bergerak di ujung pandangan.


Archilles Lucca, berbahagialah kamu di antara para pria brengsek di dunia ini. Saat kamu pejamkan mata sebelum sekarat, saat kamu di neraka pun dan kini saat bangkit dari kritis, Dewi Kecantikan ada di depanmu.


Hidungnya kemudian menghirup aroma dupa dan kemenyan yang dibakar di atas bara kemerahan arang. Pendengaran Archilles menangkap bunyi-bunyian penutup perbaraan saling beradu, juga bunyi rantai bergetar naik turun.


Kring ... Kring ... Kring .... Disusul bunyi lonceng kecil berdering.


Mata Archilles terbuka lebih lebar. Mulanya sangat kabur sebelum berubah terang, lebih jelas.


"Oh ..., lihat dia! Nah, kan apa kataku? Dia akan bangun jika diancam." Suara ceria dari raut indah yang muram, menggoyang sesuatu di tangan putih mulus hasilkan asap mengepul. Aroma wewangian penuhi rongga hidung bahkan sampai langit-langit kepala.


Apa yang terjadi di sini? Apakah Nona Arumi sedang mengasapinya untuk dijadikan mumi?


Sementara seseorang berjubah cream berkerah hijau, kelilingi pembaringan, bunyikan lonceng kecil.


Kring ... Kring ... Kring ....


"Leona?!" Nona Arumi beri signal karena suara bel melemah.


Leona?!


Luar biasa? Dari mana Nona Arumi dapatkan benda-benda suci ini? Jangan bilang, Nona Arumi menyuruh Leona merampok di sebuah rumah ibadah?!


Leona segera mengguncang lonceng.


Kringgggggg ... Kringgggggg ... Kringgggg!!!


Lengkingan itu kagetkan jiwa dan raga Archilles hingga ia meringis, lekas menggeliat dan berusaha mengangkat kepalanya.


Demi Tuhan, telinganya segera berdenging pekak.


"Hebat, Arumi. Kamu mengancam pasien koma selama empat jam." Nada suara Tuan Elgio Durante terdengar antara prihatin, geli ; apalah-apalah.


"Dan memanggil arwah Archilles kembali," Tuan Lucky Luciano terbatuk-batuk menahan tawa.


"Berterima kasihlah pada gadis yang tak biasa ini, Archilles Lucca!" sambung Tuan Carlos Adelberth manggut-manggut.


"Semua tak gratis. Leona, tolong catat utang Archilles Lucca padaku hari ini dalam buku hutang-piutang. Tagih padanya setiap akhir bulan sebelum jatuh tempo."


"Wah, Arumi Chavez. Kemajuan luar biasa pesat," puji Reinha Durante.


"Apa kamu butuh minuman isotonik, Arumi? Kurasa tenggorokanmu kemarau kering kini," goda Elgio Durante lagi, senyuman lebar hiasi wajahnya.


Nona Arumi adalah jelmaan kekonyolan sejati.


"Aku berjanji pada Tuhan tak akan makan dan minum sampai Archilles Lucca bangun."


"Oh?! Luar biasa, kamu benar-benar menyayanginya. Tidak heran, Ibumu berubah gelisah." Lucky Luciano bicara.


"Oh ayolah, Kakak. Mengapa terus mengungkit hal satu itu? Archilles harus bangun karena dia harus bertanggung jawab. Aku dan Ethan Sanchez bertengkar hebat karenanya. Aku akan menggantungnya di ring basket, berlatih kekuatan otot kaki dengan menendangnya keras."


"Arumi ..., turunkan suaramu!" Suara Nyonya Marya ingatkan adiknya. "Leona, please, berhenti menggoyang lonceng. Kepalaku berubah nyeri."


"Maafkan kami, Nyonya!" Leona membungkuk tampak kelelahan karena demi jadi sahabat Arumi Chavez, ia telah didera selama empat jam untuk terus mengguncang lonceng. Tidak hanya itu, Nona Arumi benar-benar shock dapati Archilles Lucca kritis karena tertembak. Dalam putus asa, Nona Arumi dapat gagasan cukup bagus.


"Nona Arumi ..., senang melihat Anda di sini." Archilles bicara cukup kuat untuk sampai di kuping semua orang.


"Oh ya Tuhan, Archilles Lucca. Apakah kamu akan mati jika tak berkelahi? Apakah kamu mencintai musuhmu lebih dari padaku?


Apa kamu ingin tubuhmu dipenuhi bekas luka dari senjata tajam?


Apakah kamu setidaknya penuhi janjimu padaku untuk menjemputku?


Bagaimana jika seseorang menculikku dan menyekap aku?


Apakah kamu sadar betapa brengseknya kamu, Archilles Lucca?"


Apakah kamu akan mati jika tak berkelahi? (Kamu bersedia mati demi membela kehormatan-ku)


Apakah kamu mencintaiku lebih dari musuhmu?


(Kamu sangat mencintaiku hingga pertaruhkan nyawamu.)


Apakah kamu ingin tubuhmu dipenuhi bekas luka dari senjata tajam?


(Semua bekas ditubuhmu pertanda cinta tanpa batas untukku)


Apakah kamu setidaknya penuhi janjimu padaku untuk menjemputku?


(Aku menunggumu)


Bagaimana jika seseorang menculikku dan menyekap aku?


(Aku berharap kamu datang)


Apakah kamu sadar betapa brengseknya kamu, Archilles Lucca?


(Aku mencintaimu ..., Archilles Lucca)


Mengapa umpatannya seakan ber-idiom? Mengapa terdengar seolah Nona Arumi sedang berpuisi, nyatakan cinta padanya?!


Archilles Lucca, setelah ini sesegera mungkin periksakan kesehatan otak dan mental-mu pada yang berwenang. Kamu butuh instalasi ulang.


"Lihat aku!" Nona Arumi acungkan telunjuk. Ia mulai menunjuk. "Lihat ini, Archilles Lucca!Hidungku, daguku, lenganku, pahaku lecet karenamu. Aku terjatuh karenamu."


Apa salahku?


"Apa kamu akan terus berbaring di sini dan cuma-cuma mendapat upah? Setelah ini, gajimu dipangkas, utangmu ditambahkan."


Nona Arumi belajar ekonomi dengan cepat.


Siapa dulu gurunya?


Narsis!


"Arumi, berhenti mengganggunya!" Suara Nyonya Marya menegur halus.


"Aku harus buat keributan agar pria ini sepenuhnya sadar, Kak."


Archilles Lucca setelah keheningan jangka panjang ..., pendengarannya sedikit terganggu karena pengunjung pasien satu ini tidak hanya memekik, menghardiknya tetapi juga mengancamnya tepat di atas muka kupingnya. Ditambah wangi dupa, kemenyan juga lonceng tadi. Ia tak tahu lagi cara pejamkan mata.


"Cara bangunkan pasien koma yang luar biasa." Carlos Adelberth di sudut ruangan sedari tadi melipat kedua lengannya menonton pertunjukan putus asa seorang gadis.


"Sangat ampuh!" sambung Lucky Luciano dengan ekspresi lucu.


"Lebih ampuh ini?! Atau dicium saja persis seseorang beberapa waktu lalu?!" Reinha Durante bertanya dari sisi Lucky Luciano hingga pria di sebelahnya mendes***.


Tuan Lucky Luciano pernah sekarat di pesisir Timur dan dirawat oleh gadis-gadis pemilik suku di sana. Nyonya Luciano sepertinya sulit lupakan apa yang telah dialami suaminya.


"Uh?! Mengapa para wanita suka mengulang lagu yang sama?! Apa mereka suka mengingat dosa?!" keluh Lucky Luciano.


"Yang Enya (Reinha) ungkapkan hanyalah satu dari sekian banyak dosa." Elgio Durante menyeringai senang.


"Baiklah, pawang orang suci. Apa dayaku yang bekas gangster?!"


"Nona Arumi ..., bukankah ...."


"Oh ..., Archilles Lucca?! Syukurlah Tuhan, kamu ingat namaku. Apakah kamu benar-benar siuman kini?" Membungkuk amati Archilles seksama. Terlalu mepet untuk buat Archilles Lucca tersengat. "Kak, panggil dokter!Segera beri dia sesuatu sebelum dia pingsan lagi. Ya Tuhan, mereka bilang kau tak akan bangun. Mereka menyuruhku pulang. Aku berpikir akan minta ibuku belikan peti mati berukiran indah, mengubur-mu seperti ksatria pulang dari perang. Aku akan gunakan kerudung hitam dan menangisimu. Aku akan menjahit bendera dan menggantungnya setengah tiang. Aku telah bersiap-siap menderita karena akan kehilangan teman terbaik."


Sejak kapan Nona Arumi bisa menjahit?


Mulai terisak-isak.


Emm, bukankah Nona Arumi berlebihan?


No, Lucca. Nona Arumi sungguhan menangisimu.


Tak ada kata gambarkan keindahan dan kerapuhan ini, menangisinya. Martha Via ..., aku temukan gadis yang akan berkabung di hari kematian-ku. Archilles Lucca berubah miliki sayap-sayap indah. Seekor kunang-kunang pinjamkan sayap kuning kecil imut dipasangkan pada kedua punggungnya. Ia terbang bercahaya kini, meski tak bisa menggapai loteng.


Archilles Lucca, selamat. Pucuk-pucuk cinta kini bertunas di sekujur tubuhmu!


"Nona ..., aku baik-baik saja. Jangan bersedih!"


Tak nyaman terus tengkurap, ingin bangun.


"Siapa yang lakukan ini padamu?"


"Itulah, mengapa kamu perlu belajar bela diri, Arumi. Sesuatu bisa saja terjadi sewaktu-waktu."


Dokter berpakaian tentara masuk ke dalam ruangan.


"Oh ada apa ini, Carlos Adelberth? Mengapa aku seakan ada dalam sebuah ritual suci?" tanya sang dokter keheranan. Lebih heran lagi saat dapati pasiennya telah bangun dan seorang gadis belia baru berhenti meratap di sisinya.


"Nona Muda ini mengundang Tuhan, Daphne," sahut Carlos Adelberth serius menjawab.


"Well, sepertinya Tuhan memang baru saja hadir," balas Daphne angguk-angguk kecil. "Mr. Lucca seakan baru bangun tidur. Mari kita periksa."


Daphne hampiri ranjang.


"Nona ...," ujar Daphne mengerut karena wajah imut Arumi memerah dan sembab. "Pria ini akan baik-baik saja. Bisakah tolong menyingkir sedikit? Aku akan memeriksanya."


Leona memapah Arumi Chavez menjauh.


"Jika Ethan Sanchez melihatmu seperti ini, pria malang itu akan cemburu," ujar Elgio Durante.


"Kita bisa balas dendam pada Ethan Sanchez," sahut Lucky Luciano bergairah.


Mereka pernah jadi bahan olok-olok Ethan Sanchez. Senang kalau bisa balas dendam.


"Aku penasaran bagaimana tampang Ethan Sanchez saat cemburu pada Archilles Lucca," tambah Elgio Durante terjangkiti gairah yang sama.


"Hhhh, padahal kamipun pernah cemburui Archilles Lucca hingga bertingkah bak orang kesurupan," sambar Abner Luiz, wali Durante, yang tahu-tahu telah bergabung dalam ruangan.


"Oh, Tuan Abner, selamat datang," sambut Carlos Adelberth.


"Carlos ...."


"Terima kasih sudah mencekikku di tempat yang tepat, Abner Luiz. Kamu macam alarm berjalan, tak bisa senang lihat orang lain bahagia."


"Asapi juga pria ini, Leona!"


"Jangan konyol! Kamu sendirian?"


Abner Luiz mengangguk ke belakang. Dua petugas kepolisian dan seorang pria berjubah cokelat gelap, berikat pinggang putih sepertinya imam dari sebuah tempat ibadah berdiri di ambang pintu.


"Tuan?! Apakah ada yang bisa kami bantu?!" tanya Elgio Durante merasa tak memanggil seorang Padre untuk doakan Archilles Lucca. Ataukah rumah sakit memang sediakan layanan bagi yang sedang butuhkan dukungan doa?


"Maafkan kami mengganggu Anda, Tuan!" sahut Sang Padre menghela napas kuat.


"Kami terima laporan, dua orang gadis pergi ke Gereja, membawa pergi perkakas suci. Keduanya datang kemari!"


"Arumi?!" Semua orang dengan nada berbeda-beda berbalik pada Nona Arumi Chavez yang memucat.


Nah kan? Nah kan? Tebakanku tak salah. Nona Arumi telah merampok, di rumah Tuhan pula. Ya Tuhan, ya Tuhan, nekad sekali gadis ini.


"Oh ..., sepertinya Anda salah paham, Tuan. Aku hanya meminjam sebentar dan akan mengantarnya kembali setelah temanku siuman," sahut Arumi membungkuk dalam. "Maaf membuat Anda khawatir."


"Nona ..., tetap saja ..., tindakan Anda salah. Anda bisa dituntut dan dibawa ke pihak berwajib."


Nona Arumi mendadak menangis tersedu-sedu.


"Apakah aku salah meminjam langsung pada Tuhan? Aku tak lihat ada orang lain. Aku kehilangan akal Tuan, maafkan aku. Temanku sekarat dan aku pikir dia telah mati. Aku hanya putus asa." Menunjuk Archilles Lucca yang terguncang di atas ranjang.


Astaga, jika saja Ethan Sanchez ada di sini ..., Nona Arumi sudah pasti kena ketukan berulang kali di keningnya.


Lara Nona Arumi cepat menyebar hingga sang Padre berubah iba.


"Apakah pria di sana? Ijinkan aku berdoa bagi kesembuhannya."


Arumi Chavez mengangguk kuat, berbalik dan mengusap hidung yang meler.


*Apakah g*adis ini akan taklukan dunia suatu waktu dengan kecantikan yang sempurna dan kekonyolan yang tak terukur?


Atau ia akan ada dibalik pagar putih, Lucca. Rambut dikepang, dress floral pink, sweater rajut musim dingin juga riasan sederhana. Kamu tahu maksudku?


Taklukan seorang pria? Seorang istri yang sempurna?!


Ya, Untukmu.


Atau Ethan Sanchez ....


Atau seseorang yang beruntung.


Aku tak peduli dengan siapa Nona Arumi jatuh cinta. Aku tak peduli jika Nona Arumi menyukai cokelat atau vanila,bukan sesuatu yang pahit sepertiku!


Benarkah?!


Archilles awasi wajah sendu Nona Arumi Chavez. Sadari sesuatu dengan cepat, emosi berganti-ganti, Nona Arumi sedang menutupi hal lain. Mata-mata polos bening itu tak bisa bohongi dirinya. Ada kesedihan di sana. Apa yang terjadi?


Sorot Archilles Lucca sangat lembut saat tatapan mereka bertemu. Nona Arumi sedang terluka oleh sesuatu, ia bisa merasakannya tepat di hatinya.


Aku mungkin bukan takdirmu, aku tak bisa paksakan rasa. Aku hanya sayang padamu dan akan menjagamu dengan nyawaku!


***


Gaya rambutku oleh : Nona Arumi.