My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 92. The Story About Me



Nyonya Nastya Lucca sangat shock dan sampai pingsan. Dua alasan paling masuk akal adalah jika Glacio Lucca masih hidup maka putera Nyonya Nastya seumuran dengannya. Mungkin mereka miliki terlalu banyak kemiripan hingga Nyonya Nastya tak bisa membendung guncangan emosi.


Atau yang kedua, Nyonya Nastya Lucca mungkin Ibu kandungnya. Lucia menyadari lebih awal ketika Nyonya Nastya berkunjung dan kenyataan bahwa Putera Nyonya Nastya yang meninggal akibat penyakit tertentu itu adalah cucu Lucia berdasarkan riwayat penyakit yang diderita Glacio.


Mengapa Archilles meyakini ini?


Archilles tak punya kata lebih lanjut. Ia hanya secara aneh merasa memiliki Tuan Maurizio Lucca dan Nyonya Nastya Lucca dalam dirinya. Sesuatu dalam batin yang tidak bisa ia jelaskan.


Bagaimana bisa suasana hening rumah, aroma kamar tidur, suara kedua orang memberi ilusi seakan-akan ia pernah berada di sini pada suatu waktu. Alam bawah sadarnya seolah berikan pengakuan bahwa ia miliki ingatan detil spesifik tentang ruang tidur ini padahal ia belum pernah mengunjungi tempat ini sama sekali apalagi masuk ke ruang tidur dari orang-orang asing. Ia telah terkoneksi secara langsung dengan lingkungan ini.


Bukan sekedar sensasi deja Vu, ada sesuatu yang lebih mengikat dari itu. Yang bahkan selama ia berada di dunia kejahatan tidak pernah ada satu fase yang sefamiliar ini.


Samar-samar suara Martha Via terngiang di kepalanya.


"Apakah kamu tahu dari mana namamu berasal?"


"Ya dari sebuah legenda."


Dongeng sebelum tidur paling sering diceritakan Ibunya adalah tentang legenda Achilles, prajurit setengah dewa di masa Yunani Kuno. Dari sana namanya diambil.


Archilles ,tokoh pahlawan dalam perang Troya. Prajurit terhebat dan tersohor dari semua pejuang Yunani. Achilles lahir dari pernikahan Nereid - salah satu bidadari laut bernama Thetis dan seorang raja Myrmidons bernama Raja Peleus. Martha Via membuatnya menyukai kisah Achilles putera Peleus.


Diceritakan bahwa Thetis, Ibunya, sangat-sangat menyayangi Achilles dan melindunginya dari ramalan bahwa Achilles akan terbunuh suatu waktu saat berperang. Ayahnya mengirim Achilles muda pada centaur bernama Khiron di gunung Pelion untuk dilatih menjadi tangguh dan tak terkalahkan.


"Tahukah kamu ..., Archilles bukan sembarang nama. Archilles adalah sebuah kata yang memiliki arti nama Pangeran?"


"Orang akan menertawai aku, Martha. Namaku, Archilles artinya pangeran tetapi aku pergi serabutan ke ladang tetangga kita setelah pulang sekolah."


Ia masih terlalu kecil untuk mengerti dan Martha Via akan bersedih mendengar jawabannya. Memeluknya dan membelai kepalanya penuh cinta dan kasih sayang, berikan banyak kekuatan dan dukungan hingga ia merasa akan baik-baik saja di dunia selama ia memiliki Martha Via. Karena Martha akan melindunginya, termasuk dari tendangan dan ikat pinggang Raul Lucca.


"Kamu, pangeranku, Archilles Lucca. Aku mencintaimu dan menyayangimu sepenuh hatiku. Aku akan menjagamu sepenuh jiwaku."


Sebelum meninggal Martha Via hanya tinggalkan pesan, jaga adikmu. Apapun yang terjadi jaga adikmu! Jaga adikmu dengan nyawamu! Tak ada yang lain.


Pikiran Archilles melompat kemana-mana. Ia tak bisa berpikir jernih.


Mungkin ..., ia adalah pangeran bagi Martha Via yang memperlakukannya seakan ia putera raja.


Atau mungkin ia adalah Glacio Lucca oleh human error sebuah sistem kehidupan, pertukaran nasib. Sesuatu tanpa kesengajaan. Itu berarti, Lucia benar Archilles Lucca putera Martha Via telah meninggal dan kini bersama ibunya. Lebih tepat sepuluh tahun lalu telah bersama Martha Via.


Lamunannya menguap bersamaan dengan kedatangan Tuan Maurizio Lucca dampingi seorang dokter keluarga. Archilles bergeser ke ujung ranjang, mencoba paham, mengapa Tuan Maurizio inginkan ia ada dalam ruangan saat mata Nyonya Nastya Lucca terbuka.


"Nastya kelelahan, Maurizio. Apakah ada situasi yang membuatnya tidak bahagia? Tertekan?"


Dokter bicara sembari mengukur tekanan darah dan mengecek yang lainnya. Sepertinya mereka cukup dekat.


"Ya, Davi. satu Minggu ini, situasi kami sangat sulit." Saat bicara Tuan Maurizio menatap pada Archilles jelas ingin mengatakan ini berkaitan erat dengannya. Dan sepertinya Archilles memahami kesedihan Maurizio Lucca.


"Em, biarkan dia di ranjang beberapa hari dan tolong ciptakan lingkungan yang kondusif. Terlebih jauhkan Nastya dari kondisi-kondisi yang membuatnya stress."


Selepas kepergian dokter, Tuan Maurizio di hadapannya, mengelus wajah istrinya. Mengusap alis istrinya gunakan jempol dan mengecup punggung tangan. Kehalusan karakter Tuan Maurizio Lucca sampai pada Archilles, kuduknya meremang.


"Nastya, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Aku berjanji padamu."


Pria sangat penyayang, sangat lembut berbanding terbalik dengan Raul Lucca, sering perlakukan Martha Via seenaknya termasuk berselingkuh dengan janda di ujung perumahan. Oh ya Tuhan, walaupun demikian mengapa Archilles masih tak sanggup membenci Raul Lucca?


Tak ada percakapan sementara Archilles mengambang di ujung kaki ranjang.


"Archilles ..., anakku duduklah!" kata Tuan Maurizio mengangguk pelan. Archilles Lucca menahan napasnya.


Menurut kikuk duduk di sisi pembaringan tanpa tahu harus bertindak apa.


"Maafkan kami karena mengejutkanmu."


"Tuan Maurizio ..., aku tidak bermaksud sebabkan Nyonya Nastya terluka."


"Tidak sama sekali, tidak. Ini akan menjadi awal kebahagiaanku dan Ibumu, Archilles. Aku tak bisa berkata-kata, tetapi aku percaya di dalam dirimu kamu meyakini apa yang aku yakini sekarang bahwa kita saling memiliki di tempat ini karena kamu adalah putera kami."


Archilles Lucca terpaku untuk beberapa waktu lumayan terguncang. Ia hanya datang karena syarat dari Nyonya Salsa Diomanta agar bisa menikahi pujaan hati, Nona Arumi Chavez yang miliki status sosial jauh lebih tinggi darinya. Tak punya pikiran bahwa ia ternyata putera kandung Maurizio dan Nyonya Nastya. Antara percaya dan tidak. Serta merta berdiri tegap ketika Nyonya Nastya tersadar.


"Tuan? Di mana dia?"


"Nyonya ..., apakah Anda baik-baik saja? Jika Anda tak ingin melihatku, aku bisa pergi!"


"Tidak! Jangan!" geleng Nastya Lucca segera bangun dipegangi erat oleh Tuan Maurizio. "Kamu tak akan berpikir untuk pergi kemanapun setelah ini, Sayang. Aku akan mati di hadapanmu jika itu terjadi lagi."


"Nyonya ...."


"Bisakah lebih dekat padaku?"


"Baiklah," angguk Archilles menurut seperti robot.


"Bagaimana masa kecilmu?"


"Baik."


"Apakah kamu bahagia?"


"Ya, Nyonya."


"Ceritakan padaku!"


"Semuanya, Sayang," sahut Nyonya Nastya tak berhenti menatapnya. Tanpa kedip. Seolah satu kedipan akan membuat mereka terpisah. Dan Nyonya Nastya setelah membenci ketidak beruntungan di masa lalu akan mulai mengutuki jika sampai kehilangan lagi.


"Aku paling bandel dilingkungan kami tinggal. Ibuku, Martha Via sangat tabah menghadapi-ku." Archilles tersenyum sedikit.


"Apakah wanita ini ..., Ibumu ..., memperlakukanmu dengan baik?"


Archilles Lucca mengangkat wajah, tak nyaman pada pertanyaan itu tetapi Nyonya Nastya menunggu jawaban penuh harap dan mulai berkaca-kaca.


"Martha Via segalanya bagiku. Tetapi, Ibuku meninggal saat melahirkan Zefanya, Nyonya. Usiaku 14 tahun. Aku kemudian membawa Zefanya pergi ke rumah kakek dan nenek kami."


"Bagaimana dengan Tuan Raul Lucca."


Archilles menghirup udara, mengisi ke dalam paru-parunya yang terhimpit beban tiap ingat Raul Lucca.


"Kami selalu tidak cocok. Itu karena, kenakalanku membuatnya menerima banyak kritikan dan protes."


Nastya Lucca mengusap air mata dengan sapu tangan sedang Tuan Maurizio menepuk punggung tangan istrinya menenangkan. Tuan Maurizio sempurna untuk ditiru seperti pendapat Zefanya.


"Apakah kehidupanmu baik?"


"Ya, Nyonya. Sangat baik. Aku bekerja di perkebunan sayur tetangga kami yang kaya raya. Tiap Januari di musim dingin kami memanen kubis dan kol. Aku memotong rumput di halaman tetangga untuk dapatkan uang saku walaupun aku tak pernah pergi ke kantin sekolah untuk jajan karena ibuku pandai buatkan aku camilan."


Archilles pikir hanya itu yang bisa ia ceritakan tentang masa kecilnya. Ia tak mungkin mengada-ada.


Nyonya Nastya Lucca tak bisa sembunyikan lagi tangis. Raut meregang dan menyusut oleh kesedihan. Mengusap wajah dengan sapu tangan.


"Aku tidak merasa memanen tanaman di musim dingin adalah kehidupan yang baik," keluhnya di dada suaminya. "Aku pikir ..., Glacio Lucca hanya akan menyesap minuman di ruang hangat dengan sweater musim dingin terbaik sambil membaca buku. Kami akan bersama di depan perapian dan suamiku akan biarkan puteraku hanya berada di sana untuk sebuah kehangatan."


"Nastya ..., jangan lakukan ini. Kamu akan semakin terluka."


"Hatiku sakit," balasnya meratap. "Sangat sakit, Tuan."


"Aku tahu, tetapi dia di sini sekarang."


"Jika Salsa tidak meminta bantuan kita, aku tak akan pernah tahu puteraku masih hidup, Tuan. Ini semua salahku, harusnya aku mencari tahu sejak awal. Aku menutup semua ingatan setelah kematian bayiku karena kesedihan tak berujung pangkal. Mengakhiri cerita yang bahkan harusnya baru dimulai."


"Nastya ..., mari kita perbaiki ini?" Tuan Maurizio membujuk istrinya yang sekarat karena berduka.


"Katakan pada Salsa aku tak butuh sikat gigi puteraku, aku mengenalinya tanpa tes. Aku mengenali matanya, hidungnya dan wajahnya."


Archilles Lucca segera kelu.


"Apakah kamu bersekolah?" Mata Nastya memerah nyaris secara keseluruhan. Tampak lelah tetapi tak ingin istirahat.


"Ya, Nyonya. Aku kuliah dan lulusan terbaik di fakultas Ekonomi. Kakek dan nenekku membiayai sekolahku. Sekarang aku mengajar di sekolah menengah di sebuah kota kecil."


Archilles tak sengaja mengaitkan kedua tangan untuk mencari ketenangan bagi diri sendiri. Ia tak mungkin ceritakan kehidupan rumitnya bersama Raul Lucca. Atau ia mantan penjahat bayaran. Nyonya Nastya tampak sangat-sangat terluka pada apapun yang akan diucapkannya saat ini. Kehidupan Archilles pada hakikat hanya dipenuhi kemalangan dan kesedihan, ia mencoba jadi tangguh demi adiknya.


"Mengapa tanganmu, Nak?" Mata Nyonya Nastya sangat cepat menangkap kecacatan itu yang kini mengganggu Archilles karena tangannya juga selalu sebabkan kesedihan pada Arumi Chavez.


Oh ya, ia akan kembali ke penjara dan mencabut sepuluh jari dari tiga iblis yang telah curangi dirinya.


Bernapas dengan bebas, makan yang kenyang dan nikmati dengkuranmu. Aku akan datang sebagai mimpi paling buruk bagimu.


"Em, ini ..., bukan kesengajaan. Hanya kecelakaan karena kelalaianku, Nyonya." Archilles menarik tangan pelan dan sembunyikan dalam kantong celana.


Wanita itu, Nastya Lucca, kembali dalam pelukan Tuan Maurizio. Pegangi jantung sendiri dan meratap semacam ada kematian hingga Archilles serba salah.


"Nastya ...."


"Tuan, apa yang telah kita lakukan?" Meraung pada suaminya.


"Nastya ..., jangan mempersulit keadaan dan membebani dirimu sendiri."


"Maurizio, aku pikir, jalani kehidupan sebagai orang baik saja maka kehidupan kita akan selalu diberkahi. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ..., kamu tak bisa mengenali bayimu sendiri?"


"Nastya ...."


"Aku mengandungnya selama sembilan bulan dan menderita kesakitan saat melahirkannya. Kini, setelah melihatnya aku melihat kita, Tuan. Suamiku bertanya padaku, seperti apa bayi yang aku doakan kedatangannya? Aku menjawabnya, bayi laki-laki yang tampan seperti Maurizio Lucca, yang ketika ia menatapku, aku seakan berada bersama suamiku." Wanita itu mengeluh panjang. "Bagaimana bisa instingku mati? Ya Tuhan."


Archilles Lucca miliki ikatan terdalam dengan Martha Via. Mungkin karena Martha menyusuinya dan membesarkannya. Tetapi kini ia percaya wanita yang menatap padanya membawa sejuta nelangsa, terus berkubang dalam air mata bersama perasaan sangat tidak beruntung, kehilangan dan ketidak ber-dayaan bersama suaminya adalah Ibu yang telah melahirkannya.


Grenny benar, di sini rumahnya yang sebenarnya.


Ketika tangan Nyonya Nastya menggenggamnya, ia melihat buku-buku jari dan itu sangat familiar. Mudah dikenali terlebih belaian padanya.


"Kamu akan mengirim undangan pada Salsa untuk berterima kasih padanya.


"Tidak, Nastya. Kita akan mengunjungi Mansion Diomanta bersama anak-anak hari Minggu nanti."


Ini adalah tabir lain. Sejak kapan Nyonya Salsa tahu kebenaran tentangnya?


Archilles penasaran pada banyak hal.


Apa yang akan terjadi setelah ini?


***


Aku perpendek Chapternya biar gampang update. Jadi mungkin aku up dua chapter tiap hari sebagai ganti.