My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 37. My Husband My Enemies 1



Burung hantu bernyanyi tepat di kaki jendela iringi hembusan hawa dingin tembusi tulang. Kesunyian secara ajaib lebih mencekam ketika si Burung hantu diam. Ada perasaan kuat semirip berada di rumah penyihir.


Tentu saja, Penyihir-nya adalah suaminya sendiri.


Anna Marylin, buka mata. Ia menggeliat sedikit di atas ranjang, belum terbiasa dibangunkan burung hitam pekat bermata tajam, entah mengapa, menurut Anna selalu menyeringai kepadanya persis Tuannya. Si burung malah lebih seram dua level dibanding pemiliknya.


Hidup penuh kehampaan tanpa bau obat-obatan. Terlebih ia paham tujuan Hedgar mengurungnya di rimba belantara, tidak lain agar Hellton Pascalito tak menerima perawatan.


Hedgar percaya, sembunyikan Anna Marylin akan membuat Hellton Pascalito mati perlahan. Hedgar tepati janji tak menyerang teman-teman Anna, pria itu menempuh cara berbeda, berkuasa penuh atas Anna. Sedang Anna hanya ikuti permainan suaminya sementara waktu.


Tak ada yang dapat menerka pikiran kotor penjahat macam Hedgar. Pria itu bisa jadi bersamanya, tetapi tangannya jauh lebih panjang dari yang Anna lihat. Anna hanya belum menerima informasi.


"Oh ayolah, Anna. Kejahatan adalah makanan sehari-hari Hedgar. Bul***it, pria itu bertobat dalam seminggu hanya karena kamu setuju menikahinya."


Hari masih pagi buta, menoleh ke sisi ranjang, tak ada Hedgar. Ia hendak ke dapur berencana memasak untuk dirinya sendiri sebab Hedgar selalu penuh kecurigaan Anna menaruh racun hingga Anna tak begitu peduli.


Akhir dari pelarian panjang di lorong selepas percintaan panas membara di malam pernikahan, mereka berada di sebuah rumah tua di sisi lain perbukitan, terlalu renta, beruntung tidak sehoror rumah-rumah hantu dalam film. 24 jam, terpantau penuh oleh Hedgar bahkan Anna tidur di bawah tatapan tajam. Tak jarang mereka bikin keributan.


Udara di sini jauh lebih sejuk. Harusnya yang tinggal dan teguk untung adalah orang introvert yang keadaan otaknya bagus karena menyerap banyak oksigen. Hedgar jelas sebuah anomali.


Menghela napas panjang, hembuskan perlahan. Anna tertarik berkeliling rumah. Hanya kebiasaan atau ia mulai terbiasa ingin tahu ..., apa yang dilakukan Hedgar?


"Tidak wajar!" keluh Anna Marylin peringatkan diri sendiri. Ia belum bertemu kesempatan bagus membunuh Hedgar, atau niatnya berapi-api mulai redup oleh hal lain.


Hanya Tuhan yang tahu.


Di sayap kanan rumah, siluet tinggi besar si pria tertangkap ujung mata, berikan instruksi relatif kasar pada beberapa orang, tak lain; pengurus rumah, pekerja taman dan asisten rumah. Kaki, tangan dan mulut berkerja dalam waktu bersamaan.


Anna berdecak, intensitas brutal berkurang hanya semacam kamuflase. Pria ini tak tertolong. Lebih heran lagi, mengapa orang-orang ini tak larikan diri?


Nyala mesin perahu di sungai kecil depan pondok, menarik perhatian Anna. Hulu di sini, hilir entah di mana. Buntut kapal tinggalkan dermaga kayu. Seorang terindikasi terpidana mati dalam kantung, tertutup kepala. Anna Marylin berdecak, ia yakin, telaga indah dikelilingi pinus dipenuhi mayat manusia. Ia nikahi salah seorang mafia paling berpengaruh. Terkenal maniak senjata, bengis, kejam dan psikopat.


Anna berdiri di teras kembali amati Hedgar dan Hedgar, oleh tatapan intimidasi Anna, suka gelisah saat melihatnya. Anna senang meneror Hedgar seakan dirinya akan pergoki Hedgar berbuat curang dan Anna punya alasan pergi. Atau sebaliknya Hedgar takut Anna Marylin ketahui apa yang dilakukannya.


"Coba kita daftarkan isi dosa pria ini! Neraka mungkin tak akan muat," guman Anna Marylin.


Hedgar menoleh sekejab, menyipit pada Anna sebelum buru-buru akhiri ceramah. Ia berbalik sedang Anna Marylin segera angkat kaki menuju dapur.


Sejujurnya, Anna Marylin tak begitu suka masak, kendati demikian ia harus terus hidup, bukan? Lagipula, ia tak punya hal lain untuk dikerjakan. Mulai keluarkan bahan makanan dari lemari penyimpanan. Sarapannya selalu telur bebek. Ada banyak bebek di tempat ini, di sudut lahan.


"Kamu bangun lebih awal, Baby?" tanya Hedgar bersandar di ambang pintu dapur cermati Anna Marylin.


Menggelikan ditangkap kuping Anna Marylin.


"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Hedgar lagi menggaruk kening. Kemeja Anna dan celana pendek menarik perhatiannya. Pupil bergerak ikuti Anna.


"Aku diserang mimpi aneh. Tempat ini berhantu!"


"Aku tak percaya wanita secerdasmu percaya takhayul."


Anna mengangkat bahu, mengocok telur.


"Bawa aku kembali. Teman-temanku tak akan tinggal diam saat aku tak ditemukan di manapun."


Hedgar diam sejenak sebelum melipat tangan.


"Em, kamu rindukan teman-temanmu?"


"Aku punya beberapa jadwal operasi di klinik. Cheryl tak akan sanggup tangani segala hal."


"Kita akan di sini lebih lama."


"Baiklah, terserah padamu. Aku yakin teman-temanku mulai langkah taktis untuk berburu sekarang."


Hedgar menyeringai senang. Mata-matanya bergejolak, sangat gilai pertarungan.


"Walaupun aku sangat ingin memenggal kepala Axel Anthony juga habisi Lucky Luciano, aku telah bersumpah pada wanita yang kunikahi untuk menekan hasrat primitif dalam diriku. Tetapi, jika mereka mulai berburu, aku senang diburu. Datang padaku!"


Hedgar berganti ekspresi dengan cepat, pura-pura sedih. "Sayangnya, tak akan ada yang bisa temukan-mu di sini."


Kenyataannya Hedgar mungkin benar.


"Tempat ini tak terdeteksi. Orang hanya melihat pin penanda Old Tree National Park," tambah Hedgar lagi.


"Selamat," ucap Anna Marylin datar keluarkan roti mulai kecokelatan dari toaster. Berpindah pada juicer tuangkan jus ke dalam gelas. Duduk di meja sarapan mulai menggigit sarapan seakan ia hidup sendirian.


"Kamu tertekan?"


Anna Marylin menelan makanan, minum seteguk.


"Anggap saja salah seorang pasien rumah sakit jiwa terlepas dari ruang isolasi dan menangkapku karena tergila-gila padaku."


"Kata-kata tajam dari diksi yang luar biasa," puji Hedgar. "Anak-anakku akan sepandai Ibunya dalam menyusun bahasa lisan."


Terdengar lebih manusiawi dibanding mirip Egiana atau Tatiana, Anna Marylin tetap pada pendirian; menentang ide Hedgar. Ia memutar bola matanya, muak. Sarapannya meluncur ke pencernaan.


"No boy, no girl, no kids! Aku tak ingin menyimpan anak-anakmu di dalam-ku apalagi lahirkan dan besarkan mereka, pasti hanya akan jadi monster mengerikan sepertimu. Kita akan berakhir sebelum 300 hari, silahkan cari wanita lain."


"Mereka belum lagi lahir, semoga tak punya telinga untuk mendengar penolakan Ibunya."


"Lucu," sahut Anna penuh ejekan. "Sementara di sini, aku akan nikmati hidup walaupun aku tak tahu harus berbuat apa. Di dunia nyata aku terlalu sibuk."


"Lakukan apa saja sesukamu kecuali berendam dalam telaga. Menjauh dari sana."


"Tentu saja. Aku yakin banyak mayat bergelimpangan di dasar kegelapan. Mereka disiksa sebelum dikarungkan hidup-hidup, ditaruh pemberat batu sebelum dibuang ke telaga. Mereka tenggelam dan tersiksa. Semoga arwah mereka menungguimu di pintu alam baka."


"Oh ya?" Hedgar sunggingkan senyuman tipis. "Otakmu sangat cerdas dan kreatif. Aku bahkan tak berpikir ke sana. Kamu beri aku ide sangat detil dan definitif."


"Ada jeritan melolong di tengah malam selagi mataku terpejam. Salah seorang di antara mereka menarikku di antara dedaunan air yang menjalar," ungkap Anna Marylin kisahkan mimpinya.


Hedgar berdecak. "Titip salam ya! Tolong tanyakan, apa mereka sukai rumah baru mereka?"


"Tanyakan sendiri! Ngomong - ngomong, bawa pergi burung hantu-mu Hedgar! Cukup buruk melihat wajahmu dan tersiksa dengarkan suaramu, tak perlu tambahkan satu."


"Blacky akan menjagamu, Anna."


"Atau mematai-matai aku!" tuduh Anna Marylin. Tatapan mereka bentrok, sama-sama keras kepala. "Mau makan?" tawar Anna basa-basi.


"Tidak, trims. Sarapan buatku sakit perut."


"Kamu takut aku racuni makananmu!"


"Mungkin itu termasuk di dalamnya."


"Lucu. Aku hanya memakai kemejamu, di malam pernikahan saat berlari bersamamu. Mungkin aku sembunyikan sianida di suatu tempat dalam tubuhku."


"Akan aku bongkar. Akhirnya mungkin bagus untuk kita," sahut Hedgar bersemangat..Anna melihat mata dan pikiran suaminya bersayap dan mondar mandir terbang.


"Jika tak mau sarapan menyingkir dari hadapanku. Jus jeruk bisa tersangkut di ujung kerongkonganku." Anna lekas kesal berusaha ditekan ke dasar jiwa. Bangkit karena sukai jus jeruk ingin tambahkan lagi. Saat berbalik Hedgar menempel padanya. Mata pria itu terang-terangan nyatakan cinta, tertarik dan keinginan lain.


Rekatkan jarak.


"Apa yang ingin kau lakukan, pagi-pagi begini?" tanya Anna Marylin pegangi gelas jus kuat. "Menyingkir dari jalanku!"


Hedgar membungkuk tepat di bibir, dapati rahang Anna menegang, tangannya menyusuri tangan Anna. Tak malu-malu saat berlabuh. Tangan membuat pertahanan, itu terlalu lemah dianggap sebagai bentuk perlawanan, menyesap Anna sedikit. Anna Marylin segera berpaling hingga bibir Hedgar hanya berhenti di leher jenjangnya.


Tangan Hedgar sampai di gelas jus Anna, meraih lalu minum di depan Anna hingga tandas. Gelasnya ditaruh lagi.


"Walaupun aku kecanduan ingin lihat dan dengar umpatanmu padaku, aku akan tinggalkanmu bersama Wandah. Banyak pekerjaan butuh diselesaikan. Mari bersama nanti malam ..., Baby."


***


Cut jadi dua ya, ini. Part lanjutan semoga di update bersamaan. Tinggalkan komentar.