
"Selamat pagi, Tuan Agathias," sapa Arumi tersenyum ramah seperti biasa walaupun tak pernah dapatkan balasan. "Apakah malam-malam Anda penuh masalah? Wajah Anda murung terlebih dalam beberapa hari ini."
"Nona ..., aku tersanjung Anda perhatikan hal-hal kecil tentangku. Tetapi, aku pikir itu buang-buang waktu Anda."
"Maafkan kekasihku karena sebabkan beban berat di pundakmu."
Agathias menatap Arumi. "Anda terlalu percaya diri, Nona."
Agathias Altair berdiri kaku di depan pintu, di dalam ruang tidur kekasihnya, Natalie seperti biasa sedang jalankan tugas. Belakangan kemesraan mereka mengganggu Natalie. Bisa dilihat wanita itu sangat cemburu.
"Apakah Anda menyesal kini biarkan kami bersama? Aku perhatikan Anda lebih menyukai Nona Natalie bersama kekasihku dibanding aku."
"Lemparan yang bagus, Nona Arumi. Anda mungkin tidak akan siap dengar jawaban dariku."
"Aku berspekulasi jawabanmu, ya! Kamu menyesali serahkan ia padaku."
Agathias tak menyahut.
"Lalu, aku akan curiga motifmu. Kamu tak inginkan kesembuhannya? Tak ingin ia bahagia? Suka pada penderitaannya? Aku saja tidak cukup?"
"Harap perhatikan ucapan Anda agar tidak timbulkan penafsiran yang tidak-tidak, Nona! Anda mengambil sepotong kisah dan berasumsi."
"Kami akan menikah," tukas Arumi tajam.
Keduanya saling bertatapan.
"Ya, aku dengar dan bagaimanapun aku ucapkan ..., selamat untuk Anda berdua. Aku berbahagia untuk Tuan Muda. Semoga sekali ini berhasil."
"Terima kasih, Agathias. Aku mewakili Tuan Muda."
"Anda tak akan buat Tuan Muda bepergian ke Mansion Diomanta dan menikah di sana?"
"Oh, apakah kita tak punya Gereja atau Kapel di wilayah Càrvado? Itukah sebabnya beberapa iblis berkeliaran di sini dan menakuti-nakuti aku? Bahkan sejak dulu kala mereka berkomplot menyerang gadis lima belas tahun? Seperti ular tua yang menggoda Hawa di awal, mereka kini terus melanglang. Oh, Tuhan tolong aku!"
Agathias Altair terkejut. "Nona, siapa yang sedang Anda bicarakan?"
"Arghhh!!!" Arumi gunakan cakar tangan dan pamerkan gigi taring berekpresi macam serigala kerasukan setan. Menyeringai depan hidung Agathias hingga pria itu mundur ke tembok.
"Nona Arumi ..., ini tidak lucu."
Pintu terbuka. Natalie keluar dari sana, tertegun di depan pintu. Wajah memerah dan sedih. Mata sembab dan tampak kacau.
"Aku berharap ..., Tuan Muda tidak sakiti teman yang sudah merawatnya selama tujuh tahun dan sebabkan kesedihan padanya."
"Oh, Sayang Sekali," sahut Arumi mengangkat salah satu bahunya. "Apa sudah selesai pemeriksaannya?" tanya Arumi prihatin.
Natalie tidak menjawab. Arumi tersenyum.
"Dalam lima hari ini, Tuan Robot tak pernah kejang-kejang. Dia bisa naik tangga sendiri tanpa bantuan dan mulai tak gunakan kursi rodanya lagi," kata Arumi berbinar-binar. "Hampir tak ada keluhan. Terlebih Zefanya Lucca benar, ia butuhkan aku dibanding yang lainnya. Kamu dan kamu hanya akan melihat keajaiban ke depannya."
"Anda berlebihan, Nona Arumi."
"Agathias, sejak awal pentingnya untuk tahu tempatkan dirimu dan tahu posisimu." Arumi menegur keduanya terlebih nada yang hilang respek. "Aku diam saja direndahkan olehmu karena aku menghargai-mu. Aku tidak heran, kekasihku tak pernah bahagia. Jika, dikelilingi orang-orang model begini, hidupku juga akan tertekan dan suram semacam hidup di gua bawah tanah. Setidaknya Itzik lebih berperikemanusiaan padahal dia penjahat dari lahir." Menghela napas panjang. "Baiklah. Mari ke dalam. Kita perlu bicara berempat."
"Tidak. Kami hanya patuh pada perintah Tuan Muda."
"Begitukah?" tanya Arumi berdecak. "Aku beri tahu ini pada Anda berdua. Aku tak bisa biarkan racun berada terlalu dekat pada kami. Terlebih wanita yang mencintai kekasihku. Di masa lampau, seorang malaikat penjagaku akan habisi semua wanita yang inginkan kekasihku tanpa ampun. Dia ..., entah di mana kini. Kamu pernah bertemu dengannya kan Agathias? Kamu bahkan tidak sehebat dia seujung kuku pun. Dia sangat loyal padaku dan aku tak perlu bicara tentang kehebatannya. Sekarang aku berkarir solo menjaga Tuan Robot. Aku juga cukup bisa lakukan sendiri habisi siapapun yang inginkan kekasihku."
"Nona? Kata-kata Anda bisa jadikan Anda dalam masalah."
"Oh, apa aku peduli?" Arumi hampiri Natalie. "Nona Perawat, aku menaruh kesetiaanku sebagai mahkota di kepalaku dan kesucianku hanya untuk kekasihku. Dan makin jelas bahwa dia sangat mencintaiku. Jika aku tak bisa bersamanya maka tidak ada satupun wanita yang boleh bersamanya. Karena aku berhenti murah hati pada yang lupa daratan."
"Apakah Anda sadar bahwa Anda telah mengancam orang-orang terdekatnya, Nona Arumi?"
"Sebelum ada teman-temannya, dunia kekasihku hanya aku bahkan ia beritahu aku sepanjang beberapa hari ini. Dunianya hanya aku. Sekarang, ia tak akan lakukan hal keliru lagi, Natalie. Aku temukan seniormu dari Saint Alberto Hospital, Dokter Vadel Ganimedes."
Natalie benar-benar terkejut. "Dokter Vadel?"
"Tugasmu berakhir di sini, Perawat Natalie. Terima kasih untuk semua dedikasi dan pengabdianmu padanya. Kembalilah ke Rumah Sakit. Dokter Vadel siapkan posisi bagus untukmu dan beliau akan mengurus kekasihku sejak hari ini."
Natalie terpukul. Matanya kesakitan.
"Tuan Archilles tak katakan apapun padaku saat aku di dalam," kata Natalie nyaris berguman.
"Dia akan sepakat denganku. Keputusanku kini adalah keputusannya. Ia mengatakan aku bisa lakukan apa saja untuk menghapus semua kejahatan yang dilakukan padaku."
"Nona Arumi?" tegur Agathias lagi.
"Tolong biarkan kami bersama," kata Arumi abaikan Agathias dan membungkuk dalam-dalam pada Natalie hingga kalungnya keluar dari balik baju.
Mrs. Lucca berayun-ayun. Ia memohon pada wanita lain untuk lepaskan kekasihnya.
"Nona Arumi ..., kami perlu dengar langsung dari Tuan Muda." Agathias tak mudah percaya.
"Bukankah tadi kamu menolak masuk, Agathias?" Arumi berdecak pada pria yang membantunya tetapi mencekiknya di waktu bersamaan. Tak mengerti apa mau Agathias ini.
"Tetapi ...."
"Kamu juga bisa pergi Agathias menyusul Natalie walaupun tak sungguh-sungguh ke rumah sakit dan mungkin jadi penjaga ruang jenazah. Aku telah menyewa jasa dua orang prajurit dari pasukan Khusus untuk menjaga kekasihku. Mereka akan tiba dalam dua jam."
"Itu tidak mungkin terjadi."
"Saat namaku Arumi Chavez Diomanta dan menjadi ponaan Aunty Nastya, tidak cukup buat aku dihargai. Sekarang, namaku Narumi Yuki Vincenti. Aku Puteri seorang gangster. Kurasa cara kami lebih ampuh untuk orang-orang seperti kalian berdua ini. Pergilah menghadap Uncle Maurizio. Kamu akan dapatkan tugasmu kembali di sisi beliau. Tolong hadir di pernikahan kami. Undangan akan diberikan padamu oleh asistenku. Jika kamu tak menerimanya anggaplah penyampaian lisan ini adalah undangan resmi."
"Aku hanya akan dengarkan langsung dari Tuan Muda."
"Masuk saja, Agathias! Bergabunglah bersama kami untuk sarapan."
Arumi persilahkan keduanya setelah mengetuk pintu. Sedang, ia berbalik pergi, lewati lorong melangkah keluar rumah. Berdiri menyapa hawa dingin pagi.
Berjalan pergi ke rumah-rumah merpati. Lemparkan kacang setelah diambil dari kotak penyimpanan. Lamunan pergi kemana ingin menjelajah.
"Apa yang harus aku lakukan? Apakah perlu beritahu dia bahwa aku mungkin sakit?"
"No!" Ia menggeleng. "Aku baik-baik saja."
Tak tahu berapa lama ia merenung dan bicara seorang diri.
"Bukankah harusnya calon pengantin berwajah ceria menjelang pernikahan?"
Itzik Damian berdiri tak jauh darinya.
"Oh, apakah ini akhir pekan?" tanya Arumi keheranan. Pagi sekali asistennya muncul di Càrvado.
"Syukur aku datang dan dapati-mu galau, Narumi. Apalagi sekarang? Apa dia menyakitimu lagi?"
Arumi menggeleng.
"Lalu?"
"Aku takut ...," jawab Arumi lirih.
"Apa yang membuatmu takut? Pada siapa? Pada sesuatu?"
"Banyak hal."
"Rincikan dan selesaikan. Berapa usiamu? Berapa waktumu habis persiapkan diri untuk masa ini? Berhenti merengek dan cengeng! Urutkan biar aku mudah mengerti!" Itzik Damian menatap ke dalam rumah. Kembali pada Arumi. "Apa Agathias berubah pikiran dan mengganggumu? Tentang Natalie?"
"Kamu tahu?"
"Ya. Kami bertukar kisah sewaktu di hotel." Itzik Damian lepaskan mantel putihnya sisakan sweater putih. "Pasang kuda-kudamu!"
"Tidak sekarang!"
"Alihkan pikiran negatif-mu, Arumi! Get Up!" Itzik Damian suka sadis padanya. Menunggu ia bangun. Pria itu temukan stik panjang dekat sisi rumah merpati. Lemparkan satu pada Arumi yang langsung ia tangkap. Itzik Damian berikan hormat.
Arumi ikuti gerakan temannya. Satu kaki di depan sedikit menekuk beri salam. Ia membuat beberapa gerakan pemanasan. Memutar tongkat di tangannya.
"Bayangkan aku adalah masalahmu yang beruntun. Habisi saja!"
Arumi mengangguk. Pegangi tongkat kuat-kuat. Mereka memulai serangan-serangan ringan. Sapuan Utara ke selatan lalu kombinasi pukulan dan tendangan. Ayahnya adalah gurunya. Ayah Laurent kuasai hampir semua teknik penggunaan senjata entah senjata api, senjata tajam macam pedang dan senjata yang kelihatannya tak mematikan macam tongkat. Arumi belajar dari Ayah Laurent sebelum ia pergi ke keluar negeri untuk belajar seni. Mereka masih sering berlatih tiap ada kesempatan bersama Young dan Itzik. Ibunya sekarang jauh lebih ahli di bawah kontrol suaminya.
"Natalie jatuh cinta pada kekasihku."
"Mereka bersama selama tujuh tahun. Kamu tak bisa mencegah seorang wanita jatuh cinta pada pria macam kekasihmu. Terlebih Natalie merawatnya seperti merawat bayi."
"Kamu lakukan hal yang sama padaku, menjaga dan menemaniku bahkan saat aku kuliah. Kamu menyuapi aku saat aku sakit. Kadang mengeringkan rambutku. Kita bersama selama tujuh tahun. Tetapi, kamu tidak jatuh cinta padaku."
Itzik berputar. Tongkatnya di bawah mata mengarah pada Arumi.
"Kamu keliru ..., aku jatuh cinta padamu." Itzik serius menyerang. Arumi terkejut. Menghindar dengan gerakan lambat. "Aku mencintaimu." Itzik membaca gerakan pertahanan Arumi. Serangannya menjadi sangat intens dan rapi. Membuat dua ayunan cepat dan satu sapuan.
"Itzik, aku tidak bercanda!"
"Apa aku terlihat bercanda?"
"Die (Mati)!" sergap Itzik. Ujung tongkat di posisi siap menebas leher Arumi. "Fokus saja, Narumi!"
Arumi menggeleng. "Mana mungkin bisa? Apa yang baru saja kamu katakan?"
Itzik Damian kembali membungkuk. Memberi hormat. Arumi mengikuti.
"Aku bersamamu selama tujuh tahun dan jatuh cinta padamu sejak aku melihatmu di media. Tanya saja pada Anna."
"Itzik Damian?"
"Pikirmu ..., apa ada pria yang tetap tinggal di sisi seorang gadis sepertimu dan tidak jatuh cinta? Hanya pria bodoh."
"Kamu baru saja ungkapkan cinta padaku!"
"Ya!"
"Itzik? Bagaimana jika Aurora tahu? Kamu akan menyakitinya?"
Arumi bergerak cepat, satukan semua emosi. Gunakan kedua tangan genggam ujung stik tebas ke kiri dan ke kanan. Memukul ke tengah bahkan meruncing. Serangan penuh kekuatan dan saat Itzik kewalahan. Arumi melompat gunakan kaki menendang tajam dan terlalu bersungguh-sungguh segenap tenaga hingga buat Itzik Damian terjungkal ke belakang dan terlentang di atas rerumputan.
Argh!!!
"Die!" seru Arumi. Siku kanan Arumi menukik di leher Itzik Damian. Sedang tangan kanan menahan tongkat.
"Narumi, aku mencintaimu." Tekanan bertambah. Itzik Damian mengangkat kedua tangannya menyerah. "Sungguh. Aku berpikir bisa kalahkan Lucca asalkan aku tetap setia di sisimu. Tetapi, cintamu padanya tak bisa aku curi bahkan kamu tak mau aku sentuh dengan sengaja."
"Tuhan, pikirkan perasaan Aurora!"
"Aurora tahu, kamu adalah cinta pertamaku. Aku selalu bercerita apapun yang terjadi termasuk apa yang aku rasakan tentangmu, padanya. Duniaku dan Aurora terikat padamu."
"Itzik, aku terganggu. Apakah Aurora sungguhan ada? Ataukah dia hanya tokoh fiktif? Khayalanmu saja."
"Bertemu saja dengannya kalau tidak percaya. Dia sangat cantik, Narumi. Seperti peri klasik dari dunia Albino. Kamu akan terkejut melihatnya. Dia melampui apa yang aku gambarkan. Sangat indah dan manis." Itzik mengatakan dengan rasa cinta dan sayang yang disalurkan lewat getaran nadanya.
"Aku mencintaimu tetapi bukan cinta egois. Aku tak pernah paksakan diriku untuk memilikimu. Apa kamu dapati aku pernah menuntut dirimu untuk tahu perasaanku? Aku terluka saat kamu terluka. Aku bersedih saat kamu menangis. Aku senang saat kamu senang. Aku akan pertaruhkan hidupku untuk menjagamu hingga aku mati."
Tarikan napas panjang sebelum memulai kata-katanya lebih jelas.
"Hanya ingin melihatmu bahagia sampai akhir dengan Lucca yang kamu cintai sepenuh hati, Narumi. Dan duniaku kini hanya berpusat pada Aurora."
Mereka bertatapan. Itzik Damian tersenyum sendu. Arumi berputar mengatur napas.
"Terima kasih. Itu melegakan." Arumi percaya fakta bahwa ada cinta model begini. Cinta tanpa harapkan apapun, tanpa ingin mengikat apapun. Cinta penuh pengorbanan. Dulu, kekasihnya lakukan hal yang sama untuknya.
Hidung Arumi teteskan darah.
"Narumi?!" Itzik berdecak. "Aku pikir sekarang tak masalah mendengar namanya lagi. Kamu dan dia telah bersama."
Arumi mengangkat wajah. "Otakku terjemahkan namanya sebagai serangan luka. Aku tak pernah menyebut namanya. Namun, aku temukan keajaiban saat Aizen Ryota menyebut namanya, aku tidak berdarah. Malah buatku seakan sembuh dari sakit kepala."
"Apa ada kaitan dengan suasana hati? Mungkin saja saat kamu bahagia, namanya buatmu ikut bahagia. Aku dengar ketika Hana dan Aizen bicarakan hal-hal bahagia dengannya."
"Sepertinya begitu."
Itzik Damian merogoh gulungan kasa dari saku mantel. Selalu ada di sana dan berikan pada Arumi yang berbalik belakangi rumah. Arumi melihat sekilas bayangan pria itu di teras.
"Kekasihmu menunggu, Narumi," kata Itzik Damian.
"Aku punya masalah lain, Itzik."
"Beritahu aku! Soal Natalie, aku akan mengurusnya."
"Tidak, aku telah singkirkan Natalie dan Agathias."
"Aku ragu usahamu berhasil." Itzik Damian menoleh ke arah rumah. Archilles Lucca jelas ingin bicara. Natalie dan Agathias di belakang pria itu.
"Jika dia memilih pertahankan teman-temannya, aku hanya akan mundur."
Itzik Damian terkejut mendengar pernyataan itu. Tatapan mata Arumi sayu menembus ujung langit.
"Setelah capek-capek meratapinya selama tujuh tahun? Menunggunya dan kini bersama dengannya. Mengapa kamu mudah menyerah? Ayolah, jangan konyol. Aku akan coba pahami dirimu. Kamu tahu aku senang mendengarnya. Walaupun aku yakin, itu tak akan terjadi."
"Maka, dia harus mendukung keputusanku."
"Aku percaya dia akan memilihmu. Dilihat bagaimana dia kelihatan macam jiwa tak bernyawa tanpamu. Dua orang di belakangnya bahkan satu Càrvado tak sebanding denganmu, Narumi Vincenti."
"Mari kita buktikan!"
"Beritahu aku, apalagi ketakutanmu?"
"Kutukan Alana ...."
Arumi bersihkan hidungnya dengan gerakan yang tidak ingin dilihat oleh kekasihnya dari jauh.
"Itu sangat menggangguku, Itzik."
"Kutukan Alana akan pergi pada tempatnya, Narumi. Kamu didoakan banyak orang yang menyayangimu bahkan oleh pengikut iblis macam aku serahkanmu pada Penciptamu. Dan kurasa itu bukan lagi poin penting karena semua orang telah alami penderitaan panjang. Alana juga sebabkan kamu terluka secara fisik. Bahkan berencana sangat kejam untuk menodai dirimu. Aku akan mengikut Tuhan, jika kutukan Alana kembali padanya." Itzik menangkap angin dekat Arumi dengan tangan putihnya, memilin dan tiupkan jauh-jauh dari Arumi. Bacakan mantra dalam bahasa Tibet untuk menjaga gadis itu.
Arumi berbalik setelah menyimpan kasa ke dalam saku celana jeans-nya.
"Kamu tahu di mana Alana berada?"
"Amerika."
Mereka berjalan pulang.
"Aku tetap saja gelisah, Itzik."
"Alana tak akan tertarik pada pria setengah lumpuh."
"Alana tertarik padanya karena dia milikku. Alana mungkin tak akan peduli dia lumpuh. Asalkan bisa menyakitimu."
"Kamu berlebihan negatif. Menikahlah di sini. Lalu, tinggalkan suamimu sementara kamu menerima perawatan."
"Apakah aku perlu beritahu dia?"
"Tidak perlu."
"Bagaimana caranya?"
"Ada banyak cara. Aku akan mengaturnya untukmu. Bila perlu tinggalkan dia dengan cara yang ekstrim sama seperti yang ia lakukan padamu. Kalian tak akan bisa bercerai setelah pernikahan resmi. Biarkan dia rasakan sakit yang sama ditinggal olehmu." Itzik Damian menyeringai suka pada ide itu.
"Kamu jahat, Itzik! Aku tak tega padanya. Matanya seperti mata bayi saat menatapku."
"Pria yang malang."
"Tentang Alana ..."
"Aku punya rencana sekaligus untuk pastikan apakah Alana masih dendam padamu?"
"Beritahu aku!"
"Kita lihat hasil dari sini! Keputusan kekasihmu. Apakah cintanya padamu lebih kuat? Lalu, mari tentukan langkah selanjutnya."
Arumi menoleh. Menatap pria putih pucat di sisinya.
"Itzik, terima kasih telah mendukungku."
"Sudah ku bilang aku akan lakukan apapun agar kamu bahagia, Narumi Vincenti. Saat aku mati, Aurora akan gantikan aku di sisimu."
"Kita akan menerima perawatan bersama, ingat?"
Itzik Damian menoleh. Ia tertarik pada lantai atas, pada ruang tidur Chaterine Lucca yang tertutup.
"Usiaku memang tak panjang, Narumi. Aku akan segera turun ke neraka dan menjagamu dari sana."
"Kamu tak bisa pergi tanpa ijin dariku."
"Aku akan pastikan kamu menghirup napas terakhirku, Sayang." Pria itu berdecak. Mereka naiki undakan tangga.
"Itzik, kamu kembali lebih cepat?" tegur Archilles.
"Ya. Anda menggemparkan Mansion Diomanta karena melamar Narumi dan akan menikahinya lusa pagi. Aku harus menunda banyak kerjaanku dan datang kemari agar bisa bantu Anda berdua mengurus keperluan pernikahan."
Mereka bergabung di meja.
"Gerakan yang bagus. Aku kenali gaya-gaya itu, Nona."
"Akh, aku tidak heran," sahut Arumi berseri-seri. "Kamu ingin minum sesuatu? Aku akan siapkan. Apakah ada sesuatu mendesak? Bukankah kita perlu sarapan?"
"Nanti saja sarapannya, Nona. Apakah Anda meminta Natalie dan Agathias pergi?" tanya Archilles pelan.
"Em, aku tak meminta. Aku mengusir mereka pergi!" sahut Arumi tersenyum lebih lebar merasa tak perlu ada yang harus diperhalus.
"Haruskah?"
"Apa kamu keberatan? Semalam kita sepakat, aku bisa lakukan apa saja yang aku kehendaki."
"Apakah tidak masalah andaikan aku lakukan hal serupa pada Itzik Damian. Singkirkan dia dari sisimu?"
Arumi menatap kekasihnya yang ingin berdiri di tengah dan selesaikan permasalahan saling tidak menyukai. Namun, Arumi mencium gelagat tidak beres. Sesuatu yang berbahaya. Dia mengenali firasat ini. Senyumnya seketika hilang.
"Aku tak keberatan."
Itzik Damian menyeringai.
"Begitukah?"
"Jika Itzik mengganggumu dan berencana miliki aku serta ingin pisahkan aku darimu, aku ijinkan kamu menembak kepalanya. Kamu dapatkan dukunganku tanpa keraguan. Ia akan mati di depan kakiku dan darahnya akan mengalir hingga aku bisa mencium aromanya."
Archilles Lucca terpaku sejenak sedang Agathias tersenyum miris.
"Aku lebih takut pada ular berkepala dua ketimbang seekor harimau lapar."
"Nona ..., Anda akan menyesalinya." Agathias menatapnya dengan senyuman teraneh yang pernah dilihat Arumi datang dari pria itu.
Arumi menatap Archilles tepat di matanya. Ia tersenyum lembut.
"Anda bisa memilih, Tuan. Ingin bersamaku atau bersama pengawal dan perawat Anda. Mereka lalui duka bersamamu. Aku pikirkan sepanjang pagi ini. Aku pasrah. Dan aku belajar dari seseorang untuk tidak jadi egois. Asalkan kamu bahagia."
Arumi kenali sifat dan karakternya yang satu ini. Ia pernah tergila-gila pada seniornya. Membuntuti dan menguntit persis lebah pekerja mengekor ratu. Sampai-sampai ia kehilangan akal sehat. Ketika akhirnya Ethan Sanchez sadari keberadaannya, Arumi merasa tidak begitu bergairah lagi. Ia kehilangan semangat macam senjata tanpa amunisi.
Kini, ia rasakan hal sama. Jika, kekasihnya pertahankan orang-orang yang nyata buatnya tidak nyaman. Maka, ia hanya perlu pergi.
Apakah semudah ini?
"Bukan masalah bagimu lepaskan kekasihmu sekali lagi. Anda pernah melakukannya."
Archilles Lucca meraih Arumi ke dalam pelukan. Bernapas berat di di sisi rambut Arumi. Lalu, pria itu lepaskan pelukan. Wajahnya berubah sedih, kelam berganti dingin.
"Anda dan Itzik Damian menipuku, Nona."
Arumi menyipit.
"A ... pa?!"
"Siapa gadis kecil bernama Aurora?!"
Agathias Altair seakan menang lotre, maju ke depan dan hamparkan foto-foto di atas meja.
Arumi mengernyit.
"Agathias ..., berani-beraninya mencuri foto puteriku!" seru Itzik Damian mengunyah rahang.
Arumi meraih foto-foto amati seksama.
"Aurora, Puteri Nona Arumi dan Itzik Damian. Usianya 1 tahun 8 bulan lahir di New York saat Nona sedang kuliah. Anda akan menutupinya sekarang, Nona?" Agathias bicara datar.
Arumi tercengang. Ia perhatikan gadis kecil yang terlalu cantik untuk diuraikan dengan kata-kata. Terlebih warna kulit Albino Itzik. Arumi hanya punya satu kesimpulan bahwa Aurora memang puterinya. Wajah Aurora tak bisa sembunyikan apapun. Terlalu mirip dirinya.
Arumi menjadi kelu. Pegangi foto di tangannya kuat sedang Archilles Lucca bangkit dan pergi tanpa kata tanpa ekspresi. Natalie ikut di belakangnya.
"Agathias, kamu akan menyesalinya."
"Itzik, sebelum semua terlambat."
"Narumi, tak pernah tahu apapun! Aurora lahir dari Ibu pengganti! Aku mencuri sel telur Nona. Kamu baru saja memfitnahnya."
***