
💌 : Apa kamu sudah pergi mencari Eva? Kamu telah temukan dia?
Archilles mengirim pesan pada Manuel Cesar. Menerima balasan sebuah foto. Carmelita sedang mengaduk makanan dalam mangkuk kaca. Bubur. Dinginkan. Menyamping dari posisi Manuel Cesar. Di meja kecil lain di sisi ranjang ada sup sayuran.
Kamera depan diaktifkan. Manuel Cesar terbalut perban hampir di seluruh wajah sisakan dua mata, lubang hidung untuk bernapas dan mulutnya.
Mau saja Carmelita Luisa dibodohi Manuel Cesar.
💌 : Kapan kamu akan mencari Eva?
💌 : Apa aku akan lewati kesempatan ini? Disuapi guru Carmelita, cita-cita yang akan terealisasi sempurna.
💌 : Waktumu bersenang-senang lima menit, Bocah. Aku akan kirimkan riwayat pesanmu pada Carmelita. Kita lihat nanti, apa jadinya?
Astaga.
Archilles lekas kumat kesalnya. Menggeser ke kontak lain. Satu geng Cesar semuanya bandel. Tak ada yang bisa diandalkan. Temukan seorang murid lain yang sangat berbakti.
💌 : Beltran, ini sangat mendesak. Help. Eva menghilang dari rumahnya. Dia mungkin ada di taman Nasional. Bisakah cek ke sana?
Menunggu balasan sambil kenakan kemeja. Meraih jas.
💌 : Oke, Guru Lucca. Aku pergi sekarang setelah dapatkan ijin dari wali kelasku.
💌 : Terima kasih, Beltran. Tolong cari alasan lain pada Guru Walimu. Jangan sampai buat kegaduhan.
💌 : Siap diandalkan, Sir
💌 : Kabari aku dan hati-hati. Jika ada yang bertanya siapa kamu, katakan saja namaku. Mungkin saja.
Archilles Lucca menghela napas panjang. Ada video Call masuk nyaris copot jantung berpikir dari Tatiana.
Ternyata Murid L44kN44t.
Tolak.
Panggilan masuk lagi.
Archilles menjawab sambil mengatur rambut.
"Guru Lucca? Apakah masuk akal, menyuruh Cesar mencari temannya yang kabur dari rumah sedang dirinya sendiri tak bisa melihat senduk yang hendak masuk ke dalam mulutnya?"
Raut Carmelita sangat serius dan wanita muda itu mengomel tanpa jeda.
"Apakah dia mengadu padamu, Carmelita?" Sialan Manuel Cesar. Beraninya menikam dari belakang.
"Ya. Manuel Cesar tunjukan pesan perintahmu mencari Eva Romero."
Pasti bocah ajaib itu menghapus pesan persengkokolan mereka sisakan pesan yang menyudutkannya.
"Apakah Manuel Cesar akan dimumifikasi?" tanya Archilles Lucca.
"Anda tidak sopan doakan kematian murid Anda sendiri. Bersikap tidak adil. Pertama, menontonnya dipukuli hingga babak belur. Kedua, sumpahi Cesar dengan sadis. Sekarang ini?"
"Bukankah katamu kami berkomplot? Anda akan percaya kalau kami sering jalan bareng tapi beda jalur."
Manuel Cesar meringis.
"Uhhh Uhhhh."
"Apa sakit?" tanya Carmelita perhatian.
Si mumi jejadian angguk-angguk sambil keluarkan 3r4n94n semirip sapi hendak beranak. Mata Cesar sungguhan aneh terlihat.
Archilles berdecak dalam hati. Selamatkan Carmelita dari jeratan Manuel Cesar.
"Kamu lihat sendiri kondisinya? Dia butuh ketenangan"
Beristirahatlah di dalam kuburan! Umpat Archilles dalam hati.
"Baiklah. Maafkan aku kelewatan. Lanjutkan suapi Manuel Cesar bubur, antarkan dia buang air kecil, lalu nina-bobokan Manuel Cesar, Carmelita. Buat dia senyaman mungkin. Perlakukan seperti bayi. Bila perlu pakaikan dia Pampers khusus para lanjut usia."
"Mengapa kamu terus mengoloknya, Guru Lucca? Anda sungguh tidak terpuji. Cesar sedang butuh pemulihan."
Uhhh!!! Uhhh!!!
5huck5!!! (Kampret)!!! Maki Archilles lagi ketika dengar suara Cesar dan "sakit" karangan muridnya itu.
"Tolong tunjukan sikap pedulimu sebagai seorang pendidik. Sungguh memalukan."
"Sekali lagi maafkan aku, Carmelita. Semoga Manuel Cesar lekas sembuh. Semoga otaknya semakin matang setelah sembuh."
"Aku akan mencari Eva setelah dari sini gantikan Cesar. Aku akan akhiri panggilan karena buburnya mulai dingin."
"Jangan tinggalkan Cesar, Carmelita! Dia mungkin butuh kamu mengganti perban."
"Begitukah?"
Semua guru di sekolah ini dapatkan pelatihan dasar bersihkan luka dan merawat luka.
"Ya. Aku telah minta bantuan murid teladanku untuk temukan Eva. Beltran Domingo sudah dalam perjalanan. Dia tidak pernah kecewakan aku dan selalu bisa diandalkan."
Manuel Cesar berhenti keluarkan suara mengganggu. Pria itu menggeram.
"Semoga Eva Romero berpindah menjadi pengikut Beltran Domingo," tambah Archilles Lucca. "Eva pengikut paling setia Murid Sesat. Senang rasanya Beltran bisa buat Eva kembali normal."
Manuel Cesar melompat dari ranjang. Jelas Cesar tidak mau kalah dari Beltran Domingo.
Dasar bodoh, kena kau!
"Cesar?" Carmelita terbelalak.
"Selamat Carmelita, kebenaran terbuka lebih awal."
"Aku tidak sendirian. Kami bersengkokol dengan Guru Lucca."
"Jangan dengarkan dia, Carmelita! Bocah itu adalah reinkarnasi langsung ular dari Taman Eden yang menggoda Hawa."
"Aku tak percaya ini! Kalian berdua menipuku?"
Plakk!!!
Plakk!!!
Memang enak? Cesar terima tamparan bolak-balik dari Carmelita.
"Guru Lucca, sebaiknya kita bicara segera." Napas Carmelita memburu. Dia sangat marah. "Aku tinggalkan kelasku karena permainan konyol ini?"
"Carmelita, bocah itu sungguhan sakit tetapi tidak separah yang diperlihatkan padamu."
"Anda pengkhianat," ujar Manuel Cesar jengkel.
"Aku menunggumu, Guru Lucca," balas Carmelita.
"Surat pengunduran diriku telah diproses, Carmelita. Semoga betah di sana, ya?"
Archilles Lucca bayangkan Carmelita meraih tas dan pergi dari ruang tidur Cesar sambil bersungut-sungut. Jika, bocah itu masih nekat. Mungkin ia akan mengejar Carmelita sebelum gurunya pergi. Dan mungkin memaksa mencium Carmelita.
"Archilles, siapa suara wanita yang sedang marah-marah padamu?"
Arumi Chavez muncul di ruang tidur. Archilles perlu ajarkan Arumi Chavez mengetuk pintu sebelum masuk ruang tidur orang lain.
"Teman guruku, Nona."
"Pria atau wanita?"
"Wanita."
"Lagi? Wanita? Siapa namanya?"
"Carmelita Luisa."
"Tua atau muda?"
"Muda, Nona."
"Bersuami?"
"Belum."
"Apa ada urusan mendesak?" tanya Arumi Chavez merengus sedikit.
"Em, ya. Guru Carmel mengunjungi Manuel Cesar. Dia melapor padaku."
"Memangnya kamu kepala sekolah?"
"Kami partner, Nona. Guru Carmel akan gantikan aku jadi wali kelas."
"Oh. Apa dia cantik?"
"Ya."
"Dia punya pacar?"
"Punya Nona. Carmelita sama sepertiku punya tunangan dan akan menikah."
Arumi Chavez bernapas lega. "Mengapa tidak menjawab dengan jelas sejak tadi?"
"Aku hanya menjawab apa yang ditanyakan." Archilles Lucca tersenyum geli. "Apakah Anda sudah siap?" Ia menyukai apa yang dilihat matanya. "Anda cantik sekali, Nona!"
Arumi majukan bibirnya. Haruskah merajuk lagi? Apa tidak bosan?
"Dengar Nona. Manuel Cesar menyukai Carmelita. Jadi, dia minta tolong aku kirimkan pesan bahwa dia sakit dan ingin Guru Carmel menjenguk. Tetapi, Cesar berlebihan akting. Guru Carmel marah besar padaku dan Cesar."
"Apa aku bertanya?"
"Aku jelaskan. Cara Anda ngambek menyiksaku, Nona. Bukankah kita akan keluar dan dapatkan foto-foto yang bagus."
Archilles Lucca sampai pada Arumi Chavez. Masukan tangan dalam saku karena keinginannya kuat untuk memeluk gadisnya.
"Kamu berbeda sekali hari ini, Mr. Bodyguard." Arumi Chavez mengendus tak ada apapun antara Archilles dan Carmelita.
Inikah alasan para gadis mengejar Archilles Lucca? Tidak setampan Elgio Durante, atau semenarik Lucky Luciano. Tidak pula se-karismatik Ethan Sanchez, tetapi tiap gadis yang melihat Archilles akan berpikir satu saja; bisakah aku memilikimu?
Archilles, konsep pria dewasa. Tipe mudah disukai. Pupil mata bagus berwarna kehijauan. Warna yang sangat langka sama seperti milik Aunty Nastya.
"Berkat Anda, Nona. Andalah pencetus tren gaya rambutku."
Foto mereka diambil gunakan tema, "My Bodyguard and Me".
Memulai segalanya dari dapur. Salsa Diomanta telah pusing dibuat Arumi Chavez.
"Arumi ..., Perdana Menteri akan datang sebentar lagi."
"Mom, mengapa repot-repotkan satu lingkungan hidup? Bisakah order makanan dari restoran Aunty Marion?"
"Hari ini mereka libur."
"Restoran Tuan Hansel Adelio juga yang terbaik di kota ini. Kakak punya nomer kontak Tuan Hansel."
Setelah perdebatan panjang. Akhirnya adalah ancaman, Arumi Chavez berhasil kuasai dapur. Keluarkan semua orang dari sana.
Mereka kembali ke malam pernikahan Tuan Abner Luiz dan Maribella Williams. Persis ketika Arumi Chavez kelaparan dan Archilles Lucca masak spaghetti untuk mereka berdua.
"Setelah menikah, aku akan membuat siaran memasak."
"Anda cukup bermain musik dan ciptakan lagu, Nona. Aku bersedia buatkanmu hidangan setiap hari. Lagipula, Anda mungkin akan sangat sibuk."
Achilles mengatur dasinya, periksa gulungan kemeja. Fotografer mereka, Sandra, baru kembali dari petualang dokumentasi animal di Afrika. Rela habiskan waktu istirahat untuk memotret Arumi Chavez dan pacar pengawalnya. Dan mereka take foto dari kisah nyata. Archilles berkubang pada rahang Arumi.
"Kamu marah waktu itu!" kata Arumi menangkup pipi Archilles dan suka pada pacarnya yang mudah gugup.
"Aku takut jatuh cinta padamu, Nona. Kurasa malam setelahnya aku mimpikan Anda."
"Apa di sini semuanya bermula?"
"Tidak! Lapangan basket. Anda memelukku lalu aku menggendongmu di lenganku. Anda goreskan kesan mendalam di hatiku. Aku terus mengulang misi masuk ke Mansion ini dan jadi pengawal Anda, aku hanyalah pria rendahan. Tak cukup soal status sosial, aku penjahat."
"Pria jahat berakhir dengan gadis jahat. Andai kamu tahu, aku akan dapatkan Elgio Durante, racuni kakakku dan Reinha Durante. Aku gantikan kakakku melangkah pergi ke altar. Oh astaga, Archilles, aku memang bodoh. Bagaimana bisa aku terpedaya Valerie? Aku benci Ibuku dan Aunty Sunny karena berlebih sayang pada Aruhi. Gara-gara kejahatanku ..., kakakku dan Reinha Durante hampir kehilangan kesucian."
"Aku melihat Anda di waktu itu. Dengan nampan teh. Akulah pria yang membawa Nona Aruhi dan Nona Reinha ke Black hole."
"Tuhan ..., benarkah?"
"Aku hadapi tiga pria sekaligus. Elgio Durante, Lucky Luciano dan Ethan Sanchez."
"Masalah kita di waktu itu sama. Elgio Durante mengikatku di sebuah kursi dan Lucky Luciano memukuliku tanpa ampun."
Arumi Chavez meringis. "Betapa Ethan Sanchez telah menyiksaku."
"Cintanya pada Anda mungkin tumbuh di sana. Aku penggemar Ethan - Arumi. Anda berdua sangat serasi dan sangat manis."
"Ethan Sanchez akan temukan gadis selevel dengannya. Mungkin lebih sesuai karakteristik Nyonya Sanchez. Gadis sempurna. Aunty Nastya tak peduli aku tak pandai apapun."
"Nyonya Nastya dan Tuan Maurizio menyukai Anda."
"Karena aku, ponakannya?"
"Aku rasa lebih dari itu."
"Dua orang itu sangat penyayang."
"Anda benar."
"Beruntungnya kamu, Archilles Lucca. Aku tak heran kini kamu putera pasangan suami istri ini."
Tak ingin bayangkan. Archilles mengangkat Arumi ke atas meja. Tepung bertebaran dan mereka seperti pasangan yang lambangkan kehidupan percintaan setelah menikah. Habiskan waktu berharga di dapur. Memakai topi koki sedang di atas meja, hamparan wortel, kentang dan telur dalam mangkok kaca menambah kesan hidup.
Arumi meniup tepung sedang Archilles mengaduk adonan dan Sandra Bianca mengambil gambar.
Mereka berpindah lokasi.
"Archilles bolehkah kita kabur saja dari acara aneh nanti sore?"
Arumi Chavez menatap padanya di bawah rumah pohon mereka. Gadisnya kenakan gaun dikirimkan oleh Moon Collection. Brelda Laura seolah sangat sayang pada Arumi Chavez. Gaun pink penuh bunga mawar dan di taman mereka yang penuh bunga segar, juga riasan mata agak orange; Arumi Chavez kelihatan tidak nyata.
"Hadapi saja, Nona."
"Apa yang terjadi, Archilles? Mengapa Ibuku ingin aku memilih sedang Ibuku tahu aku akan memilihmu?"
"Nona, aku tak bisa beritahu Anda apapun. Ikuti saja mau Nyonya Salsa."
"Bagaimana jika aku kesurupan sesuatu dan memilih Aleix?" tanya Arumi lagi cobai kekasihnya.
"Memang Anda bisa kerasukan sesuatu?"
"Eva baru saja mati. Eva terbunuh. Dia mungkin masih di sini untuk balas dendam."
"Maka sasarannya adalah Tatiana."
"Eva pasti benci aku juga karena aku pilih kasih."
Archilles Lucca me-ngakak sejadi-jadinya. Betapa konyolnya isi pikiran Nona Arumi. Sedang Arumi menonton pacarnya tertawa.
"Apa boleh buat? Jika Anda memilih Tuan Aleix aku patah hati dan kembali ke Biara."
"Meragukan. Tatiana dan Eva akan berebutan kekasihku?" Arumi menggeleng.
Makan siang mereka habiskan di rumah pohon. Tak satupun luput dari kamera Sandra.
"Anda bisa mencetaknya dan tempelkan di setiap sisi dinding rumah pohon Anda, Nona Arumi Chavez," saran Sandra Bianca. "Tak ada yang aku kirimkan ke tempat sampah karena Anda berdua sangat alami."
"Aku akan menyimpan yang terbaik dan terburuk dari kami, Sandra."
Mereka kembali ke mansion. Archilles yakinkan Arumi bahwa gadisnya hanya perlu patuhi perintah Ibunya dan mengulang hal yang sama, "jangan bahas tikus"! Tidak lucu nantinya malah seperti senjata makan tuan ketika Salsa Diomanta mulai berlari ke toilet.
"Ya, baiklah."
Sore akhirnya tiba. Rombongan Perdana Menteri sampai di Mansion Diomanta. Perdana Menteri tak berhasil menjaga kerahasiaan kunjungan mereka meskipun telah menyamar dengan menaiki mobil biasa.
Awalnya cuma satu wartawan menunggui gerbang Mansion. Lalu, berubah jadi beberapa orang dari beberapa media datang seakan siap berburu.
Archilles Lucca agak gelisah. Dipengaruhi rasa bersalah karena libatkan kedua orang tuanya. Ia tak punya kesempatan untuk mengubah keadaan lagi.
Nyonya Salsa Diomanta memakai topeng terbaik yang pernah dilihat Archilles berdiri di sisi Tuan James Chavez. Bersentuhan kaku. Berbanding terbalik dengan kedua orang tuanya. Perkenalkan kedua orang tuanya setelah basa basi dengan seluruh keluarga perdana menteri yang datang.
"Kerabat Diomanta. "
"Maurizio Lucca. Istriku, Nastya. Puteraku, Archilles Lucca. Kami datang untuk kunjungi Putera kami. Adik iparku beri kabar bahwa Anda akan berkunjung. Tuan dan Nyonya Chavez mengundang kami bergabung. Senang bertemu Anda sekeluarga."
"Oh, Tuan Maurizio Lucca, sungguh kejutan berjumpa Anda di sini. Stafku mengatakan padaku; Walikota San Pedro datang dan pergi, perkenalkan diri dan tinggalkan jejak, tak ada benar-benar membekas karena San Pedro miliki pria bernama Maurizio Lucca dari CÃ rvado, walikota abadi. Betapa luar biasa Anda dicintai di sana. Bahkan dinding-dinding rumah warga dipenuhi foto keluarga Anda."
"Akh ini berlebihan, Tuan Jacquemus. Aku hanya petani biasa ikuti jejak leluhurku."
"Rendah hati yang perlu ditiru. Anda bisa menjadi walikota sesungguhnya bahkan akan disambut Parlemen dengan tangan terbuka."
"Politik melelahkan. Aku menyukai kedamaian dan apa yang aku kerjakan, Tuan. Membangun rakyat tidak harus masuk kepalai suatu sistem pemerintahan tertentu. Sekalipun, berada langsung dalam sebuah kabinet berstruktur mempermudah kita selesaikan misi. Aku kebetulan tidak miliki passion di bidang politik."
"Anda sungguh luar biasa. Suatu kehormatan mengobrol dengan Anda, Tuan Maurizio Lucca. Ini istriku dan Puteraku Aleix dan Abercio. Anak-anak, Tuan Maurizio Lucca pernah secara besar-besaran mendukung program tingkatkan kesejahteraan masyarakat."
"Selamat untuk penghargaannya, Tuan Aleix."
"Aku melihat profil Anda dan berpikir untuk mengajak Anda bergabung bersama kami. Sayang sekali, Anda tidak tertarik." Tuan Benjamin berkata lagi.
"Aku akan minta pendapat istri dan anak-anakku. Tetapi, jangan terlalu berharap."
Sementara yang sebaya mengobrol dan bertukar bicara, Abercio Jacquemus kerutkan kening.
"Anda juga di sini, Tuan Muda CÃ rvado?"
"Halo. Senang melihatmu juga, Teman," balas Archilles Lucca. Abercio menangkap tangan kiri Archilles tanpa jari. Otak menganalisa sesuatu.
"Ya. Dan di mana, calon adik ipar kami?" tanya Abercio bersemangat.
Arumi Chavez dibawa turun. Syukurlah gadis itu tak mengendong Tatiana. Nyonya Salsa telah waspada sejak tadi. Archilles Lucca amati Aleix lalu teralihkan pada Abercio. Mata pria itu seakan hendak melompat dari rongga.
Jelas, Aleix cuma alibi sempurna. Tidak hanya untuk menutupi kasus-kasusnya, Abercio inginkan Arumi Chavez. Archilles Lucca menegang. Ibunya sampai-sampai tersentil dan menegok padanya. Nastya berpikir Archilles sedang menderita jatuh cinta hingga sedikit kena setrum. Nastya Lucca tersenyum. Lekas pudar ketika Archilles Lucca mengunyah rahang menatap tajam pada Abercio.
"Sangat cantik, Aleix. Sempurna untuk kita," bisik yang dipantau Archilles. "Tunjukan medalimu dan bawa dia pulang bersama kita."
"Abercio, jaga sikapmu, please. Pacarnya di depan sana."
"Aku akan mengurusnya untukmu, Adikku. Serahkan padaku. Ambil waktumu dengan Nona Arumi dapatkan hatinya."
"Jangan ciptakan masalah."
"Oh, kamu tidak tertarik pada kecantikannya?"
Tuan Maurizio Lucca menggeleng pada Nastya Lucca berbagi pandangan, "ini tidak benar".
"Archilles Lucca, ada apa ini?" tanya Tuan Maurizio miring ke sebelah.
Archilles menarik napas kuat-kuat.
"Maafkan aku berperilaku sangat buruk pada Anda berdua. Harusnya aku tak biarkan Anda datang dan melihat semua ini. Aku sungguh sangat menyesal, Ayah."
Nastya Lucca geleng-gelengkan kepalanya.
"Manfaatkan Puteraku? Aku pikir dia setidaknya berubah lebih baik," keluh Nastya Lucca. "Berani sekali. Bagaimana bisa?"
"Ibu, tolong tenanglah. Aku ikut bersama Nyonya Salsa."
"Nastya ..., semuanya akan baik-baik saja." Maurizio Lucca tenangkan istrinya.
Arumi Chavez bersalaman dengan semua orang.
"Mari kita mengobrol di luar, Teman? Tuan Aleix bisa tinggal dan berkenalan dengan Nona Arumi." Archilles Lucca bicara sambil bangkit berdiri.
Abercio juga ikut kendati tidak lepaskan mata dari Arumi Chavez. Bedebah ini inginkan kekasihnya dalam ruangan dengan borgol. Archilles mudah tersulut. Ditahan.
"Merokok?"
"Ya."
Mereka berbagi rokok. Ngobrol di halaman belakang. Mendung tetapi tidak ada tanda akan hujan.
"Siapa yang paling inginkan Nona Arumi Chavez, Teman? Adikmu atau kamu?" tanya Archilles setelah menyesap rokok tiga empat kali.
Abercio terperanjat.
"Aku ketahuan, ya?" Menyahut tenang.
"Andai kamu tidak terus-terusan menatapnya. Aku akan percaya adikmu inginkan Nona Arumi."
"Kamu pasti tidak menduga."
"Aku pikir lamaran Tuan Aleix hanya agar menutupi skandal perampasan hak asasi manusia yang kamu kerjakan di suatu tempat. Juga, permintaan maaf karena hal buruk yang kamu rencanakan pada gadis berusia belasan."
Abercio berhenti merokok. Jepit benda itu di tangannya.
"Ayahku mengatakan bahwa Nona Arumi Chavez sudah punya pacar. Tuan Elgio Durante katakan Anda adalah saudara iparnya. Jika istri Elgio Durante adalah kakak ipar Nona Arumi Chavez. Bukankah, itu berarti saudara iparnya adalah Anda, Teman?"
"Ya."
"Lalu, mengapa kita di sini?"
"Bukankah kita perlu menjalin hubungan baik?"
"Caramu menebar teror di internet sangat berdampak."
"Yakin, itu aku?"
"Dan j4l4n9 yang memaksaku foto tanpa dalaman di tepi lautan Pasifik adalah wanitamu, bukan?"
"Anggap saja aku dibuntuti Iblis penjaga."
"Kamu orangnya yang tebarkan ancaman bagi yang berani menyentuh Arumi Chavez? Kamu bedebah sialan yang habisi teman-temanku?"
"Giliranmu mungkin akan segera tiba."
Tanpa aba-aba keduanya lemparkan rokok dan sangat cepat meraih senjata masing-masing. Arahkan berlawanan arah. Lepaskan pengaman.
"Apa pendapat Arumi Chavez jika aku beritahu dirinya bahwa di Darling Island, kamu bersama simpananmu dalam suite? Aku punya video-mu dari ruang itu."
"Aku tak masalah, asalkan jangan editan."
"Pasti seru. Gadismu akan berlari pada Aleix."
"Lalu, mari kita kirimkan lokasi penyanderaan para wanita di Rumania dan semua bukti video penyiksaan terhadap mereka pada pemerintahan? Mari kita ke dalam dan mengaku dosa orang lain pada keluarga kita? Ayahmu tahu skandal gelap-mu dan menutupinya. Aku yakin sekali ini akan gemparkan dunia."
Abercio menimang, Archilles Lucca tidak bercanda.
"Atau lupakan segalanya. Bawa pacarmu berpesta bersama kami nanti di Paris, Tuan Muda CÃ rvado."
Archilles Lucca memutar pistol dan lemparkan ke tanah. Abercio mengikuti. Mereka berhadapan.
"Kalahkan aku, Teman! Aku bisa kabulkan keinginanmu."
Archilles Lucca lepaskan jas tak menunda untuk segera patahkan tangan Abercio. Mereka berduel. Abercio tidak punya kemampuan bertarung sebagus Archilles. Jatuhkan Abercio dalam dua belas gerakan. Dan ia tak berhenti meninju Abercio dengan segala kebrutalan. Korbannya berdarah-darah.
"Abercio?!" Pekikan dari dalam berikut langkah-langkah kaki berlari pada mereka.
"ARCHILLES!!!" hardik Tuan Maurizio keras. Dia masih terus meninju Abercio sampai Nastya Lucca memanggilnya pelan. "Archilles Lucca ...."
Ia segera sadar. Hentikan pukulan. Menoleh. Temukan Ibunya gemetaran dalam pelukan Ayahnya seakan baru melihat monster.
Tuan Maurizio tinggalkan Nyonya Nastya datangi kedua orang yang berseteru.
Agak kuat menarik Archilles Lucca untuk segera bangun dari tubuh Abercio. Lalu, memeriksa Abercio.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Tuan Maurizio lembut pada Abercio.
"Putera Anda, iblis yang membunuh banyak orang. Dia melakukannya di internet dan disiarkan langsung. Terakhir dia membakar 8 orang setelah tancapkan moncong botol pada 4nu55 seseorang." Abercio masih bicara sedang wajahnya berlumuran darah.
Tuan Perdana Menteri dan Istrinya hanya melihat segala hal yang terjadi. Tidak menolong.
"Mari ke dalam dan obati wajahmu." Tuan Maurizio hendak memapah Abercio, tetapi ditepis Abercio.
"Aku bisa sendiri."
"Aku akan lakukan hal yang sama jika seseorang berani mengusik orang-orang yang kucintai. Aku yakin Archilles punya alasan dan aku percaya pada Puteraku."
***