
"Arumi?! Kamu di sini?!"
Ethan Sanchez tinggalkan kerjaannya bergegas datangi Arumi Chavez yang memeluk buket bunga ukuran big size dalam lengan.
"Maaf aku mengganggumu. Aku mampir sebentar dan akan langsung pergi setelah berikan ini." Arumi Chavez berkata sembari sodorkan buket bunga.
Mereka telah membuat janji untuk tidak sering bertemu.
"Tidak, mari mengobrol sebentar."
"Aku akan ke Paris dan kamu akan ikuti tes masuk universitas. Aku ..., tak bisa berikan dukunganku untukmu di hari itu."
"Begitulah?"
"Aku optimis akan keberhasilanmu, Ethan."
"Terima kasih, Arumi."
Keduanya duduk berhadapan dalam kafe tak berapa lama kemudian. Ethan Sanchez kurusan. Makannya mungkin tak begitu teratur selama tinggal di kafe. Berbeda ketika pria itu tinggal bersama Ibunya.
"Terima kasih. Mengapa hambur-hamburkan uangmu, Arumi?" Ethan Sanchez berpikir akan keringkan nanti dan ditaruh di lantai atas di ruang tidurnya.
"Aku tak keluarkan banyak uang selain membeli kembang. Aku merangkainya sendiri dibantu Leona." Arumi mengangguk keluar pada mobil dan Leona.
"Umm ...."
Walaupun Arumi tampak apa adanya, bagi Ethan, betapa spesialnya tindakan Arumi.
"Terima kasih Ethan untuk dukunganmu yang tak terhingga untukku. Semoga berhasil dengan masa depanmu, Ethan."
"Tunggu di sini, aku ambilkan minum!"
"Ethan ... tak perlu repot."
"Please, tunggu di sini sebentar."
Ethan letakan hati-hati kembang di dalam sebuah vas, amati sebentar. Ia menarik napas kuat-kuat.
Musik ringan dan lembut diputar dalam kafe. Ethan mengubah interior kafe jadi lebih sedikit segar.
Di seberang restoran beberapa pegawai bersetelan rapi sepertinya orang pemerintahan masuk, mungkin akan diadakan rapat. Luna Hugo tampak sangat cantik dengan setelan resmi menyambut mereka.
Dua tiga gadis terlihat depan kafe dan sebentar lagi masuk. Ethan Sanchez sedikit dingin bicara dalam bahasa formal pada karyawan lain.
"Kamu melayani pelanggan yang memberimu upah bulanan. Perlihatkan wajah frustasi-mu sama saja buat mereka kapok kembali kemari."
"Baiklah."
"Apa aku buatmu menderita?"
"Tidak, Ethan. Maafkan aku."
"Nah ..., bekerja dengan baik. Jika kamu bosan atau tidak suka bekerja ..., kamu bisa pulang dan tiduran! Aku tak akan mengadu."
Arumi sedikit naikan alis melihat siapa yang ada dibalik counter memakai seragam kafe dan tampak sangat tertekan berhadapan dengan Ethan Sanchez.
"Fernanda Miller?"
Ethan Sanchez bawakan dua cup capuccino dan cheesecake bertabur fresh fruit. Tak begitu menggubris pertanyaan Arumi.
"Mengapa Fernanda di sini?" tanya Arumi tak munafik bahwa ia tak suka Fernanda sama sekali.
"Abaikan dia!"
"Ethan ...."
"Fernanda bekerja di sini selepas sekolah. Sejak dari layanan sosial, Tuan Miller inginkan Fernanda bekerja mengisi shift malam sebagai hukuman."
"Tuan Miller punya banyak kafe. Mengapa harus di sini?"
"Arumi ..., lihat aku!" suruh Ethan Sanchez sebab Arumi tak sadar telah mengaum. "Jangan khawatir."
"Semoga dia tak berniat mengganggumu, Ethan."
Berdecak. "Aku baik-baik saja walaupun bebanku bertambah. Apa yang akan kamu lakukan jika Fernanda menggangguku, Nona?" tanya Ethan Sanchez tersenyum sedikit. "Minumlah, Arumi!"
"Terima kasih, Ethan. Harusnya tidak bertanya!"
"Lupakan!" ucap Ethan Sanchez pelan, memotong cake jadi beberapa bagian dan sodorkan pada Arumi. "Makanlah."
Dan perhatikan gadis itu saat makan. Mungkin Arumi akan menendang Fernanda ke toilet untuk kedua kalinya bila Fernanda masih nekat. Bukankah mereka sangat manis sebelum berpisah?
Para pengunjung kafe baru datang tertarik pada keduanya. Terlebih mengenali Arumi Chavez. Namun, ragu-ragu ingin mendekat. Akhirnya hanya mengambil foto dari jarak jauh.
"Kapan kamu pergi?"
"Beberapa jam lagi, Ethan. Dengan penerbangan malam."
"Liburan sekolah masih empat hari lagi."
"Kepala sekolah berikan dispensasi. Semua ujianku telah aku selesaikan. Sangat susah dapatkan tiket ke Paris menjelang pertengahan Desember. Kami akan berada lebih awal di sana."
"Apakah Leona ikut?"
"Ya."
"Bagaimana dengan pengawal barumu?" tanya Ethan Sanchez.
"Hanya Leona. Aku tak ingin pengawal lainnya," sahut Arumi.
Tak sulit dapati Arumi pikirkan Archilles Lucca.
"Semoga sukses, Arumi."
"Doa yang sama untukmu."
Luna Hugo terpantau keluar dari restoran menuju ke arah kafe Ethan Sanchez dengan dua lunch box terbungkus rapi dan diberi pita. Luna Hugo menarik perhatian pengunjung pria dari dalam restoran. Mereka bukan saja kagum, beberapa di antara mereka menatapnya sangat berani.
Luna Hugo, kecantikan dalam arti akan memikat tiap mata yang memandangnya. Miliki potongan tubuh 100 persen sempurna dengan b0k0ng indah dan d4d4 yang bisa bikin para pria bisa kehilangan akal sehat mereka. Sebaik apapun Luna berpakaian, ia hanya nampak sangat *3**1. Mungkin penilaian yang sama akan para wanita berikan pada kembaran Luna, Elgio Durante. Dari luar kafe, wanita muda itu "say hai" pada Ethan dan Arumi. Mendorong pintu kafe.
"Apa aku mengganggu kalian?" tanyanya ketika berada di dalam kafe.
"Tidak juga, Luna," sahut Ethan Sanchez menoleh pada Arumi minta pendapat.
"Kami hanya sedang mengobrol."
"Anda berdua sangat serasi bersama." Luna Hugo tersenyum. "Semoga berjodoh."
Arumi Chavez tanpa sengaja meraba lehernya. Dibalik syal, Ethan yakin, Arumi menyimpan sesuatu yang berharga dari pacarnya. Mungkin hadiah dari Archilles ketika pria itu datang. Arumi tidak menggebu-gebu seperti saat mengejarnya dulu. Tidak di budak cinta ingin terus melihatnya hingga mirip penguntit. Pertanda, cinta untuknya mungkin hanya sejenis obsesi.
Arumi seakan tidak terburu-buru pada Archilles, tidak tunjukan cinta mendalam seakan menyaring perasaan, berhati-hati dengan emosi, tetapi dalam pandangan Ethan itu lebih manis untuk dilihat. Gadis ini akhirnya lebih cepat dewasa.
"Terima kasih atas bantuanmu semalam, Ethan." Luna Hugo sampaikan maksud kedatangannya. "Aku bawakan makan malam untuk kalian berdua. Maaf kalau terlalu awal."
"Tak perlu repot, Luna," balas Ethan Sanchez ragu. "Arumi mungkin akan segera pergi."
"Bantuanmu sangat berarti buatku, Ethan." Menoleh pada Arumi. "Kamu akan temani Ethan makan malam sebelum pergi."
"Luna ..., aku ada jadwal pertemuan setengah jam lagi."
"Sayang sekali."
"Mau bergabung minum kopi?" tawar Ethan Sanchez tak suka berutang budi."
"Mungkin lain kali."
"Ayolah, Luna," ajak Arumi.
"Em, baiklah."
Ethan Sanchez segera pergi dan kembali dengan cangkir berisi cappucino. Ia abaikan Fernanda Miller yang bekerja keras layani beberapa pelanggan.
"Restorannya selalu ramai, ya," kata Arumi Chavez.
"Em, ya. Syukurlah. Di sini juga."
Luna adalah karyawan terbaik dan paling berdedikasi juga sangat cerdas ketika mengabdi di Durante Company. Mereka terlibat banyak kesalah-pahaman diawal termasuk tak menerima pengakuan Elgio Durante. Segala hal akhirnya berjalan baik. Kini, Elgio Durante punya dua adik perempuan ditambah Aruhi, kakaknya, segala jadi sempurna bagi pria itu.
"Aku penasaran pada kepala koki di restoran yang bisa penuhi standar Aunty Marion."
"Mereka diseleksi langsung oleh Maribella Williams selama dua Minggu panjang," sahut Luna Hugo.
"Kita tak akan ragukan keahliannya." Ethan Sanchez berkata. Maribella sering kirimkan bekal makanan untuk dirinya.
"Tepat sekali."
"Maribella memujamu!" kata Arumi Chavez tersenyum geli.
"Em, ya. Aku sungguh sangat tersanjung."
Baru habis setengah cangkir, Young Vincenti memarkir kendaraannya di muka kafe. Sedikit mengatur gaya rambut sebelum masuk ke dalam kafe.
"Mau apa lagi dia?" Arumi berguman pelan, miringkan sudut bibir.
Darimana Young tahu dia ada di kafe? Karena tak mungkin Young mencari Ethan Sanchez. Atau dua pria ini punya urusan.
Sedang Luna Hugo bangkit berdiri.
"Trims untuk kopinya, aku harus kembali."
"Sampai jumpa."
Luna Hugo melangkah pergi berpapasan dengan Young dan sama seperti pria normal kebanyakan sedikit bersiul nakal ketika Luna lewat di dekatnya.
Arumi Chavez mencibir pada tingkah laku urakan Young Vincenti. Dasar mata keranjang. Young memesan minuman, sangat bossy perintahkan Fernanda antarkan secangkir kopi ke mejanya.
Young sering menyiksa Fernanda di kelas. Arumi tak ambil pusing. Pertama kali, Young menarik bangku duduk Fernanda saat gadis itu kembali ke kelas setelah sekian lama, sebabkan Fernanda terjatuh dan dipermalukan.
Young datangi Ethan dan Arumi, duduk di sisi Ethan Sanchez. Tak sia-siakan kesempatan memuja wajah cantik Arumi. Sedang Arumi dan Ethan mengerut di bangku mereka. Wajah Young babak belur bahkan ada beberapa luka masih baru. Matanya bengkak. Pria itu seakan tak sadar.
"Nona cantik barusan tadi pacarmu, Ethan?" tanya Young arahkan pandangan ke restoran sebelah. "Ugh ..., cantik terlebih aku tiba-tiba meriang saat dia lewat. Kamu pasti betah kencan di rumah ketimbang pergi ke luar!"
"Bukan!" sahut Ethan Sanchez berpikir Young mengada-ada.
Ethan tak mengerti mengapa mereka akhirnya berteman sementara Ethan tak sukai karakter Young sama sekali terlebih pria ini terang-terang saja jatuh cinta pada Arumi.
"Auramu sangat cocok dengannya, Bung. Feminim dan cool. Anggun dan kalem. Harmoni percintaan orang dewasa. Aku yakin tak akan ada perpecahan. Kamu bisa tinggalkan Arumi Chavez denganku! Aku tak keberatan."
"Apakah itu luka lama dari kemarin?" tanya Arumi keheranan. "Tapi mengapa bekas darahnya masih ada?"
"Aku dapatkan ini barusan," sahut Young santai.
"Apa kamu berkelahi lagi?"
"Ya, Sayang. Polisi sampai kehabisan akal denganku, jadi ia lepaskan aku di tengah jalan setelah memukuliku dengan tongkatnya." Seakan bercerita proses terjadinya hujan.
"Menakjubkan."
"Terima kasih, Sayangku! Tadinya ada banyak darah tapi sudah ku-hapus agar kamu bisa melihat wajah tampanku tanpa kendala," goda Young sedikit beri kecupan jenaka jarak jauh lalu segera menyipit pada kedatangan Fernanda Miller.
"Percaya dirimu sungguh luar biasa Young," balas Arumi menatap temannya berdecak panjang.
"Ethan Sanchez akan pergi dengan Nona pemilik resto sebelah dan mantan pacarmu ini akan lupakan rumus matematika saat berlari bersamanya," angguk Young ke seberang. "Kamu ..., berhenti melihat pada Lucca! Aku lebih tampan dari keduanya."
"Aku tak ingin mati muda," sahut Arumi.
"Saat kamu jadi kekasihku, aku akan pensiun dini dari dunia indahku."
"Aku tak tertarik denganmu. Cari gadis yang se-frekuensi denganmu!"
Fernanda letakan cangkir kopi hitam pekat di hadapan Young.
"Pesananmu, Young!"
"Apa ini?"
"Iced Latte!"
"Kurasa telingamu terganggu Fernanda Miller. Aku minta secangkir kopi hitam. Ganti sana!"
Fernanda merengus tipis ingin berdebat kemudian panjangkan sabar. Mengambil cangkir dan pergi.
"Eh, gadis ini tak tahu caranya minta maaf," keluh Young Vincenti. "Bagaimana cara kerja staf di sini? Sama sekali tidak sopan."
"Mengapa kamu kemari?" tanya Arumi Chavez awasi Young. Tak percaya di dunia ini ada berandalan macam Young Vincenti yang suka berkelahi padahal selalu berakhir babak belur.
"Aku tak percaya kebetulan. Aku mencarimu untuk sebuah urusan, Nona. Kalau-kalau kamu tertarik."
"Aku sangat sibuk dan akan pergi sebentar lagi."
"Oh ya, kamu akan suka berita yang kubawa."
"Tidak penting. Aku tak ingin terlibat denganmu!"
"Tandai aku!" potong Young. "Aku tahu di mana Lucca berada. Aku bisa berbagi denganmu!"
Bukan hanya Arumi Chavez, Ethan Sanchez menengok pada pria di sebelahnya.
Arumi Chavez kendalikan diri, tak mau terhasut Young.
"Apakah aku terlihat ingin mencarinya?"
"Ops, bukankah kamu mungkin ingin tahu?"
"Tidak."
"Wow, kejutan menarik! Aku tahu kini, kamu akan pacari Lucca dan bermain hati dengan mantan pacarmu. Sangat taktis."
"Berhenti konyol, Young!" tegur Ethan Sanchez.
Fernanda kembali bawakan secangkir kopi. Tampak pusara berbusa putih di atas permukaan kopi membentuk lingkaran.
"Kau tidak meludah ke dalamnya, kan?" Young Vincenti curiga pada Fernanda.
"Tidak. Tetapi jika kau mau, aku bisa ludahi kopimu sekarang juga," sahut Fernanda.
"Aku tak akan minum, ganti yang lain."
Fernanda berubah kesal.
"Pria bodoh ini bahkan tak bisa bedakan mana kopi baru habis digiling dan mana busa dari liur seseorang. Stok kopi habis khusus untukmu. Mau air keran? Akan aku siapkan satu ember."
Fernanda pergi dari sana setelah merengut pada Young.
"Kesombonganmu akan berakhir semester depan, Fernanda Miller," seru Young kesal.
Seakan sadari sesuatu, Young kembali pada Arumi. "Beritahu aku jika kamu ingin tahu di mana dia!"
"Young, aku mengerti tujuanmu!"
"Pintar. Aku hanya mengajakmu makan malam."
"Maafkan aku!"
Ponsel Ethan berdering di atas meja. Ethan abaikan dan matikan ponselnya.
"Ethan, aku harus pergi." Arumi memeriksa jam.
"Bagaimana makan malamnya?" tanya Ethan Sanchez.
"Aku ada rapat dengan orang wardrobe, setengah jam lagi. Kamu dan Young bisa makan malam bersama."
"Sayang sekali."
"Ish, gadis ini. Semakin menolakku aku semakin menyukainya!"
Ethan Sanchez ingin meninju kepala Young Vincenti hingga pria itu gagu. Namun, yang dilakukannya hanyalah antarkan Arumi keluar kafe.
Sedang Young tak berminat pada kopi, putuskan tak percaya pada Fernanda. Memilih minum bekas kopi dari cangkir Arumi yang masih setengah. Bersenang-senang. Amati dua orang yang barusan pergi. Menggaruk ujung hidung. Minum kopi lagi.
"Sampai jumpa, Ethan."
Mengangguk, masukan tangan dalam kantong celana, Ethan Sanchez hindari dirinya dari keinginan untuk memeluk Arumi. Ia pikirkan satu narasi ini; betapa berharganya seseorang setelah dia bukan lagi milikmu.
Arumi baru saja masuk ke dalam mobil saat Fernanda Miller tergesa-gesa membawa ponsel.
"Ethan, Uncle Miller menelpon."
Fernanda tampaknya sangat takut pada Tuan Miller. Mungkin persis dirinya takut pada Uncle Hellton. Itu dulu.
Ethan Sanchez menyipit pada Fernanda. Raut dingin Ethan berhasil bikin Fernanda menunduk gelisah.
"Ponselmu mati. Ibumu menelpon uncle Miller," jelas Fernanda.
Ethan Sanchez menerima ponsel dan menjawab panggilan. Sedang satu tangan melambai pada Arumi.
"Nona ..., sepertinya Ethan menerima kabar buruk."
"Ya, aku lihat."
Ponsel Leona kemudian dihubungi Nyonya Salsa.
"Nona ..., Nyonya ingin bicara."
"Arumi ..., apakah kebetulan kamu mungkin bersama Ethan?" tanya Nyonya Salsa dari sebelah.
"Mom?!" Heran. "Ya, ada apa?"
"Bisakah beritahukan Ethan bahwa Dandia di-opname di rumah sakit Gratias?"
Arumi putuskan turun dari mobil sedang panggilan Tuan Miller minta Ethan hidupkan ponselnya sendiri telah berakhir.
"Apa sesuatu terjadi?" tanya Ethan Sanchez.
"Ya. Ibuku menelpon, Dandia dibawa ke rumah sakit, pingsan dan mimisan. Ibumu menunggumu, Ethan."
"Aku akan ke sana, Arumi. Terima kasih banyak."
"Mau aku antar?"
"Pergilah! Aku bawa motor."
"Baiklah. Semoga Dandia baik-baik saja."
Arumi tak berani tawarkan diri mengunjungi Dandia sedang ia tak ingin berhadapan dengan Nyonya Sanchez. Namun, Ethan segera berpaling padanya, seakan baru sadari keganjilan yang tengah berlangsung.
"Ibumu di rumah sakit?" Dua alis terangkat tinggi.
"Ya."
"Bersama Ibuku?"
Arumi Chavez mengangguk sekali lagi antara yakin dan tidak. Dirinya sendiri bingung, sama terkejutnya seperti Ethan Sanchez.
Arumi berpikir ia salah dengar tadinya. Lalu, ia kenal karakter menonjol Ibunya. Bahwa Nyonya Salsa selalu dapatkan semua keinginannya, keheranan Arumi lenyap seketika.
"Ethan ..., kamu akan kabari aku keadaan Dandia."
Ethan Sanchez mengangguk.
"Jaga dirimu, Arumi!"
Mereka berpisah. Arumi penasaran, apa yang Ibunya lakukan di rumah sakit. Ia berusaha keras untuk tidak mencari tahu. Hanya berdoa setulus hati semoga Dandia baik-baik saja.
Menatap jalanan, menyerah pada cahaya-cahaya lampu. Ketika pikirannya kembali pada Ibunya. Arumi mengerang.
Salsa Diomanta akan penuhi setiap ambisi. Saat layarnya mengembang, tak akan ada yang bisa menghalau Salsa Diomanta bahkan gulungan ombak besar sekalipun. Arumi tahu lebih dari siapapun bahwa di pandangan Ibunya hanya ada Ethan Sanchez untuk dirinya.
Apakah Nyonya Sanchez menyerah?
Tidak, Arumi yakin tidak. Nyonya Sanchez sulit diruntuhkan semacam tembok cina.
Lalu ....
Apa yang terjadi?!
***
Double up tonight. Tiga chapter berikutnya kita sedang menuju jalanan tragis, lumayan mengerikan. Boleh menebak. Taruh komentarmu di bawah.
Hanya cintai aku....