
Berdiri di depan ruang kepala sekolah, Pak Guru Wilbert mengetuk pintu.
"Masuk!"
Arumi Chavez digiring masuk ke ruangan. Eve Jhoel membuntuti di belakang.
"Arumi?!"
"Arumi?!"
"Arumi Chavez?!"
Tiga suara terkejut dari empat kepala menengok padanya.
Oh ada apa ini?
Mengapa Salsa Diomanta, Nyonya Sanchez dan Ethan Sanchez berada di ruang kepala sekolah? Kapan mereka datang? Sedikit angkat pandangan, Aunty Marion Davis naikan satu alis.
Apakah ada urusan sangat penting hingga Aunty Marion dampingi Ibunya ke sekolah? Marion terhitung sepupu Ibu karena Aunty Marion adik perempuan dari Paman Hellton. Tidak mungkin keduanya datang secepat kilat karena masalahnya dan Fernanda.
Harusnya tak boleh masuk selama kepala sekolah masih menerima tamu. Namun, tamu kepala sekolah ternyata wali siswi bermasalah. Momennya tepat sekali ya? Keluh Arumi. Mood berubah tambah jelek.
"Mmmm-mom? Me-nga-pa di si-ni?" tanya Arumi gagap.
"Arumi ..., apa yang terjadi?" Ethan Sanchez lekas berdiri. Tidak buta untuk melihat Arumi Chavez baru habis berantem. Rambut Arumi awut-awutan, kulit bagian pipi tergores kuku tajam, bekas digaruk. Beralih, terlebih Eve Jhoel kentara habis dipukuli.
"Ethan Sanchez tetap tinggal di tempatmu, please," tegur Kepala Sekolah, Pak Theodor. "Maaf Nyonya-Nyonya sekalian, kita ada sedikit interupsi. Telah terjadi kegaduhan. Ini cukup penting ditangani terlebih dahulu karena akan pengaruhi murid lain." Berpaling pada Pak Guru Wilbert.
"Ada apa ini Pak Wilbert?" tanya kepala sekolah. "Evelyn? Arumi? Apakah kalian bertengkar?"
"Mereka berkelahi di toilet sekolah," sahut Pak Wilbert.
"Ya, Sir. Arumi Chavez menyerangku dan Fernanda Miller. Temanku pingsan dan sekarang dirawat di ruang kesehatan." Evelyn Jhoel melirik Arumi Chavez manfaatkan situasi. Arumi Chavez yang mirip gangster seakan tersisa gusi kosong di hadapan wali dan pacarnya.
Kepala Sekolah menghela napas panjang.
"Pak Wilbert, tolong periksa keadaan Fernanda Miller lalu hubungi wali kedua murid ini agar segera datang ke sekolah."
"Baik, Pak."
Pak Guru Wilbert lantas pergi. Sementara kepala sekolah awasi dua gadis sebelum bertanya pada tertuduh.
"Arumi Chavez?! Kamu punya pembelaan diri?"
Arumi ..., menganak mata ke arah deretan sofa di mana empat kepala sedang amati dirinya dan menunggu jawaban.
"Maafkan aku. Fernanda Miller buatku kesal. Mereka bergosip tentangku di luar toilet dan aku mendengarnya."
"Lalu, kamu marah?"
"Ya, tentu saja aku sangat marah."
"Arumi Chavez menendangku dan memukuli Fernanda lalu ...," sambar Evelyn Jhoel tak menunggu giliran. Ia ambil napas menahan mual-mual di wajahnya, "lalu em ..., ceburkan kepala Fernanda ke dalam lubang closet."
Jelas terlihat Evelyn Jhoel menahan diri agar tidak muntah. Wajah Salsabila memerah sempurna sedang Nyonya Sanchez terdiam. Marion Davis berdecak sangat pelan. Tidak ada Diomanta berperilaku lurus. Darah gangster mengalir kental di dalam pembuluh darah tak terkecuali kakak Arumi, Aruhi Durante.
Marion Davis tak tahan senyuman bayangkan ponakannya menyeret seseorang ke lubang toilet. Ia mengaruk sisi hidung pelan. Apakah mereka tidak waras? Bayangan kebrutalan itu hanya terlihat indah saja.
Sedang Nyonya Sanchez tanpa ekspresi apapun, Arumi yakin, Nyonya Sanchez sedang menulis daftar panjang dosa Arumi dalam benak. Daftar yang bisa digunakan sebagai alasan menentang kedekatan Arumi dengan Ethan Sanchez. Yakinlah setelah ini Arumi langsung di black list tanpa belas kasihan.
"Sir, Arumi Chavez tidak akan berperilaku buruk tanpa sebab," kata Ethan Sanchez tiba-tiba.
"Ethan Sanchez, aku harap kamu tak mendukung Arumi hanya karena dia pacarmu," keluh Evelyn Jhoel.
"Aku mengenalnya Eve. Kalian pasti cari-cari hal dengannya," balas Ethan Sanchez menyipit pada Evelyn Jhoel.
"Ethan, tolong tenanglah!" tegur Kepala Sekolah sekali lagi. "Kamu tak boleh hakimi temanmu tanpa tahu masalahnya."
Ethan Sanchez terpekur kembali di sofa. Terlihat ingin mendukung Arumi tetapi benarkan kata Pak Kepala Sekolah. Ia harus bijak karena ia adalah ketua OSIS dan tak boleh mentolerir sikap semena-mena di sekolah. Ia berhasil menekan kasus perundungan di sekolah selama masa jabatannya.
"Arumi ...," panggil kepala sekolah lembut. "Apa yang kamu lakukan pada teman-temanmu? Masalah apakah gerangan yang bisa buatmu semarah itu dan mengambil tindakan sangat kasar. Apalagi temanmu sampai pingsan? Ini adalah bentuk kekerasan dan perundungan di sekolah yang sangat-sangat kita cekal selama ini. Eve Jhoel dan Fernanda Miller bukan gadis-gadis pembuat onar."
Jelas saja kepala sekolah hanya percaya penampilan luar.
"Sesekali Anda perlu ke toilet sekolah dan mendekam di salah satu bilik toilet, Sir. Jika bisa bicara ruangan itu akan beritahukan Anda betapa gelapnya kelakuan beberapa murid-murid sekolah ini."
Jawaban tanpa pikir panjang Arumi tak pelak buat raut kepala sekolah memerah. Marion Davis tersenyum kecil, mendapat sorotan keras dari Salsa yang tak suka Marion mendukung Arumi lewat gestur tubuhnya itu.
"Jadi, mari kita dengarkan apa yang terjadi di sana?" pinta kepala sekolah berusaha bijaksana.
"Sir ... mereka bergosip yang tidak-tidak tentangku dan ...."
"Bukan gosip Arumi Chavez!" potong Evelyn Jhoel.
"Evelyn?!" tegur kepala sekolah keras.
"Sir, Kami bicarakan kenyataan," ujar Evelyn Jhoel sedikit ngotot. Ia menarik napas panjang hembuskan perlahan. "Arumi Chavez paling akhir kumpulkan jawaban di setiap post test, try out, dan juga di waktu ujian. Kami hanya sepakat bahwa Arumi Chavez terbodoh di kelas kami, apakah kami salah?" keluh Evelyn Jhoel. "Kenyataannya nilai Arumi selalu rendah, yang paling buruk hingga aku pikir pengaruhi indeks mutu kelas kami."
"Apakah hanya aku satu-satunya yang miliki prestasi akademis rendah di kelasku hingga mutu kelas buruk?" tanya Arumi Chavez sewot. "Aku sedang berusaha keras, apa masalahmu? Apakah aku buatmu tidak nyaman belajar? Aku merundungmu sebelumnya? Lalu, mengapa kalau aku bodoh? Aku kemari untuk belajar? Apakah fungsi sekolah hanya dikhususkan bagi manusia cerdas sepertimu? Lagipula, kita berdua tahu lebih baik alasan aku marah. Kamu mau beritahu Ethan Sanchez, Evelyn Jhoel?" tantang Arumi Chavez menahan murka, malu, sedih dan seluruh emosi berkecamuk di hatinya. Kulit wajah memerah bak kepiting terkena air mendidih. "Apa masalahnya kalau aku bodoh? Aku hasilkan uang ..., banyak uang ..., lebih banyak daripada teman-teman seusiaku bahkan darimu yang berperingkat hebat. Apa masalahmu jika aku bodoh? Aku salah satu donatur termuda pembangunan kantin dan perpustakaan ideal di sekolah ini hingga murid-murid cerdas sepertimu bisa gunakan fasilitas-fasilitas dengan nyaman.""
"Tetapi bukan berarti ...."
"Tutup mulutmu!" bentak Arumi kasar. "Apakah kamu sangat sempurna hingga pantas menginjak-injak orang lain?" kritik pedas Arumi sekali ini membungkam mulut Evelyn Jhoel.
"Tenangkan dirimu, Arumi," ujar Pak Theodor.
"Arumi ..., oh Sayangku." Marion Davis berkaca-kaca hampiri Arumi Chavez tetapi Ethan Sanchez telah lebih dulu di sisi Arumi, abaikan tatapan tajam Nyonya Sanchez, bergerak memeluk Arumi Chavez yang bernapas satu-satu karena terlalu berapi-api luapkan emosi.
"Arumi ..., tenangkan dirimu!" Ethan Sanchez, kehilangan kata. Ethan meraih Arumi dan mendekapnya erat. Mengusap kepala Arumi pelan. Ia kemudian lepaskan ikatan rambut, rapikan helaian semerawut dan mengikat ulang rambut Arumi.
"Cool," bisik Marion Davis tanpa sadar manggut-manggut.
Telepon Kepala Sekolah berdering nyaring. Beliau menerima panggilan. "Ya ya ya, maafkan kami, Sir. Ya ya. Baik, Sir." Bernapas Berta setelah ponsel dimatikan. Kabari semua orang. "Wali Fernanda Miller akan segera tiba."
"Semuanya akan baik-baik saja, okay?" Ethan Sanchez yakinkan Arumi, memeriksa bengkak di kening Arumi, bertambah parah saja.
"Aku akan mencari sesuatu di ruang kesehatan untuk kening Arumi," pamit Ethan Sanchez pada semua orang.
Marion Davis datangi Arumi dan memeluk ponakannya. "Oh, Sayangku. Kamu hebat, tak peduli prestasimu jelek di sekolah, kamu terbaik yang kami miliki," hibur Marion Davis.
"Mengapa Mom dan Aunty di sini?" tanya Arumi Chavez pelan.
"Pacarmu tadi ..., em ..., kami datang untuk Ethan Sanchez."
"Ethan Sanchez?"
"Ya, Diomanta Grenfield sepakati akan berikan beasiswa bagi Ethan Sanchez lanjutkan studinya. Kamu tahu ..., um ..., maksud Ibumu?"
"No," sahut Arumi menggeleng.
"Selamat Arumi Sayang, Ethan Sanchez dipersiapkan untukmu di masa depan. Ibumu sangat antusias pada Ethan Sanchez dan kami mendukungmu dengannya."
Arumi Chavez segera melirik ke sofa.
"Aunty ..., apakah sudah ada pembicaraan dengan orang tua Ethan?" tanya Arumi Chavez. Nyonya Sanchez duduk tenang di seberang Ibunya sebelum berdiri. Arumi berlebih gugup dari sebelumya bahkan hadapi wali Fernanda Miller sekalipun tak seseram berhadapan dengan Nyonya Sanchez.
"Aku permisi, Nyonya Chavez. Aku akan kembali setelah perkara Puteri Anda selesai," pamit Nyonya Sanchez kaku.
"Maafkan kami untuk keadaan ini," sahut Nyonya Salsa tidak enak sama kikuknya. "Kita bisa pergi bersama," ajak Nyonya Salsa hingga timbulkan kerutan di kening Nyonya Sanchez.
"Anda ..., tak mengurus Puteri Anda?"
"Arumi Chavez akan bertanggung jawab atas semua sikap buruknya. Aku tak bisa mendukungnya jika Arumi bersalah," jawab Salsa menatap Arumi Chavez.
"Anda ikut bertanggung jawab pada karakter anak Anda, Nyonya. Jangan tinggalkan Puteri Anda!"
"Induk elang akan merusak sarang nyaman yang dibangun susah payah bagi anak-anaknya lalu mendorong mereka dari ketinggian yang amat sangat mengerikan bagi anak-anak elang pemula, agar mereka bisa belajar bagaimana cara terbang, Nyonya Sanchez. Aku akan lakukan hal yang sama." Salsa Diomanta menatap Nyonya Andreia Sanchez tersenyum. "Aku mengangumi Ethan Sanchez."
"Terima kasih. Aku mendidik Ethan dengan disiplin tinggi karena Ethan adalah figur ayah bagi adik-adiknya. Mendorong mereka dari ketinggian terdengar kejam bagiku."
"Setiap orang tua punya cara masing-masing mendidik anak mereka."
"Anda tak akan lepaskan Nona Arumi saat ini. Tolong tetap tinggal di sini bersama Nona Arumi. Aku akan kembali setelah menghirup udara segar."
"Aku kemari ingin bertemu dengan Anda juga Ethan Sanchez. Marion akan mengurus Arumi karena aku yakin Puteriku tidak bersalah. Mari kita pergi bersama."
Tingkah keduanya dapatkan pengawasan penuh Arumi. Keduanya berpamitan pada kepala sekolah. Salsa menepuk bahu Arumi pelan berikan kekuatan sedang Arumi menggeleng agar ibunya tak pergi bersama Nyonya Sanchez. Salsa tersenyum lembut sebelum berlalu.
"Belum, kami baru saja akan utarakan niat sewaktu kamu datang."
"Oh, Aunty Marion, bawa saja Ibuku pulang. Jangan biarkan mereka bersama." Arumi tak bisa sembunyikan wajah paniknya, memutar kepala ikuti dua wanita yang berjalan bersama.
"Mengapa berpikir demikian?" tanya Marion keheranan, segera mendekap Arumi dan menenangkannya. "Semuanya akan baik-baik saja. Betapa beruntungnya kamu, Arumi, temukan jodohmu di usia belia ini. Aku tak seberuntung dirimu."
Pintu ruang kepala sekolah diketuk dan seorang pria berkaca mata gelap berdiri diambang. Ia kemudian melangkah masuk bersama gadis lain seumuran Arumi yang tampak masih pucat.
"Tuan Allain Miller?" Marion Davis menyebut nama pria itu yang berjalan di atas kaki-kaki panjang, tegas, angkuh dan tak ingin kompromi dari mimik raut tak bersahabat.
"Nona Marion Davis?" Allain Miller sama herannya.
"Tuan Allain Miler selamat datang," sapa kepala Sekolah tergopoh-gopoh persilahkan Tuan Miller duduk.
Dalam menit-menit cepat, semua orang duduk di sofa. Kepala sekolah di bagian kepala jelaskan situasi sangat hati-hati.
"Fe, apa aku mengirimmu ke sekolah untuk adu otot?" tanya Allain Miller pada ponakannya yang menunduk takut. "Berapa peringkatmu semester ini?"
"Tiga, Uncle."
"Berapa peringkat gadis yang berseteru denganmu?" tanya Allain lagi. Dibalik kaca mata sepertinya menilai Arumi Chavez.
"Terakhir Uncle!"
Allain Miller bangun berdiri. "Ini terakhir kali aku datang ke sekolahmu karena perkelahian tidak penting dengan murid lain yang tak punya peringkat, Fernanda Miller. Jika, aku datang lagi, kau tahu akibatnya Fe." Berpaling pada Kepala Sekolah. "Aku akan menuntut gadis yang memukuli Fernanda hingga pingsan. Kami tak akan berdamai."
"Anda belum tahu letak masalahnya, Tuan Allain. Oh tolonglah." Marion Davis mencela ucapan Allain Miller ikutan berdiri.
"Apakah gadis peringkat akhir ini, adikmu?"
"Ponakanku."
"Look, Nona Davis. Fernanda mungkin bandel tetapi ia tak pandai berkelahi seperti keluarga gangster-mu, Nona Marion Davis. Aku tak heran gadis ini ponakanmu."
"Akupun demikian. Aku tak heran gadis di sisimu ponakanmu, Tuan Allain Miller," balas Marion Davis. "Tampak ber-attitude, bermartabat dan sopan. Tutupan yang terlihat elegan." Telapak tangan Marion bergerak dari atas ke bawah. "Tetapi apa orang-orang tahu perilaku asli mereka?"
Allain Miller tekukan wajah ingin menyanggah. Namun, Marion lebih dulu lanjutkan.
"Mereka pandai gunakan kecerdasan memanipulasi pihak lain, mengambil keuntungan dari situasi malang seseorang. Fernanda Miller setipe denganmu Tuan Allain Miller."
Ketegangan terjadi di antara keduanya.
"Tuan Allain, Nona Marion ...," panggil Pak Theodor pelan ingin dua orang tua wali segera sadar. Kepala mereka telah mondar mandir dari kiri ke kanan oleh pertengkaran yang menjurus ke arah lain.
"Apakah Anda akan bicarakan masalah pribadi di sini?" tanya Allain Miller menatap tajam ke seberang pada Marion. "Well, aku tak peduli apapun pendapatmu tentangku. Aku akan menuntut ponakan-mu atas kasus kekerasan dan penyerangan."
"Gadismu lakukan serangan verbal pada ponakanku."
"Serangan verbal akan dibalas dengan serangan verbal, Nona Marion!"
"Beritahu Tuan Allain Miller, apa yang terjadi Arumi Chavez! Mengapa serangan verbal kemudian dibalas dengan serangan fisik! Jangan takut! Aku bersamamu, tak peduli meski seluruh Miller di dunia ini berkumpul untuk mendukung sikap kurang ajar 'bayi' mereka!"
"Nona Marion Davis, Anda sangat tidak sopan. Anda yakin ponakan Anda benar?" Allain Miller bersuara keras.
"Yang benar saja? Anda baru saja katakan keluargaku gangster. Apa menurut Anda kalimat Anda sopan?"
"Faktanya ...."
"Tidak ada fakta seperti itu!" potong Marion tajam. "Diomanta Greenfield memasok banyak susu untuk kedai-kedai hebat saingan Anda, Tuan Miller. Kami bukan gangster!"
"Lalu, mengapa ponakan-mu seperti preman?"
"Anda menghakimi tanpa tahu apapun! Mari kita dengar asal muasal masalah ini sebelum menuntut ponakanku! Juga ponakanku bukan preman Tuan!" jawab Marion Davis.
"Tenanglah kalian berdua!" hardik Pak Theodor tak punya cara lain selain bernada tinggi.
Hening.
"Tak akan ada penyelesaian jika kedua pihak saling menyerang," tambah Pak Theodor lagi.
"Maafkan aku," ujar Allain Miller pada Kepala Sekolah. "Jadi, Nona Arumi Chavez, apa yang terjadi? Bisa beritahu aku?" tanya Allain Miller pada Arumi. Mengalah dan kembali duduk.
"Fernanda Miller mengatai aku bodoh!" sahut Arumi Chavez saking gugup terima tatapan tajam Allain. Meski dibalik kaca mata gelap, Arumi seakan yakin, Tuan Allain Miller seakan menguliti dirinya.
"Apakah Fernanda salah?"
"Tidak. Aku memang paling bodoh di kelasku, tak sepintar Fernanda. Tetapi bukan itu yang buat aku marah. Asal Anda tahu saja, aku memang peringkat terakhir di kelasku tetapi aku tak pacaran dengan pria dan hampir 'begituan' seperti yang dilakukan Fernanda."
"Dia bohong Uncle Allain!" seru Fernanda tak menduga Arumi Chavez akan membongkar rahasianya.
Arumi tak peduli pada Fernanda. "Aku juga tak berniat melepas kancing kemejaku untuk merayu Ethan Sanchez."
"Anda tak akan dengarkan gadis ini, Uncle Allain." Fernanda bertambah panik tinggikan suaranya. Sempat bulatkan mata pada Arumi. Namun, bertemu bola mata Marion segera redup-kan pupil mata.
"Fe, apa aku bertanya padamu?" tanya Allain geram ke arah Fernanda Miller sedangkan Evelyn Jhoel terdiam.
"Fernanda akan bersenang-senang dengan Julian Moreno kemudian Anda menelpon dan menyuruhnya bekerja di kafe di akhir pekan. Fernanda berniat merayu manajer kafe, Ethan Sanchez."
"Nona Arumi! Jangan berputar-putar dan buatku pening. Mengapa merayu Ethan Sanchez buatmu marah dan bertingkah kasar? Apakah Ethan Sanchez kebetulan pacar Anda?" tanya Allain Miller menganalisa. Amarahnya muncul terlebih pada Fernanda.
"Pelankan suara Anda. Aku tak suka nada interogasi Anda pada ponakanku, Tuan Allain Miller."
Yang sedang dibahas muncul di ruangan kepala sekolah bersama dengan sesuatu di tangannya.
"Tuan Allain Miller?"
"Ethan Sanchez ..., aku tak menyangka dunia sesempit ini. Lihatlah aku! Datang kemari oleh ulah ponakanku."
"Aku ikut menyesal, Tuan Allain. Bukannya aku mendukung Arumi. Hanya saja, Arumi Chavez pacarku dan aku mengenalnya sangat baik. Ia tak mudah berkelahi kecuali seseorang memancing kemarahannya."
"Ya, bisa aku lihat. Nona Arumi marah karena Fernanda berniat datang ke kafe kita dan merayumu."
Ethan Sanchez cukup terkejut, menyipit pada Fernanda. Lalu, pada Arumi. Hhhh, gadis ini.
Apakah pikir Arumi, Ethan mudah dirayu?
"Fernanda, minta maaf pada temanmu sekarang!"
Marion terpesona pada Ethan Sanchez. Ia berdebat panjang lebar dan Ethan Sanchez hanya butuh empat kalimat pendek yakinkan Allain Miller.
"Uncle?!" protes Fernanda keberatan.
"Fernanda Miller? Karena ibumu aku kemari, jangan buatku bertambah marah! Mulai hari ini, aku akan mengirim seseorang mengawasimu dan kamu dilarang berpergian kecuali datang ke sekolah. Uang bulanan-mu akan dipangkas setengah. Jika kamu terus berperilaku ganjil, kamu sebaiknya keluar dari sekolah dan bekerja di kedai."
"Uncle ..., tolonglah!" Fernanda merengek.
"Minta maaf pada temanmu, sekarang!" hardik Allain gusar. "Evelyn Jhoel, kamu juga! Aku tak suka kalian berdua berteman! Cenderung berpengaruh buruk."
Fernanda Miller dan Evelyn Jhoel tak punya pilihan lain.
"Maafkan kami, Arumi Chavez!" Fernanda berengut.
"Begitukah caramu minta maaf?" sergah Allain. "Ulangi!"
"Maafkan aku, Arumi Chavez," kata Fernanda berusaha lebih tulus.
"Ya, aku juga minta maaf karena kasar padamu."
"Minta maaf juga pada Ethan Sanchez!" perintah Allain lagi. Jelas pria itu akan menghukum Fernanda nanti di rumah. Terlihat ia menahan diri untuk tidak menyemprot Fernanda saat ini. Ngomong-ngomong berapa usia anak-anak ini? Mengapa mereka pacaran dengan serius di bangku sekolah?
"Jika suatu waktu Fernanda buatmu kesal, Anda akan laporkan padaku, Nona Arumi alih-alih memukulinya! Kamu bisa minta nomerku pada Marion!"
"Aku tak simpan nomer ponselmu, Tuan!" jawab Marion Davis cepat. "Aku hanya menyimpan nomer orang-orang terpenting bagiku."
Rahang Allain bergerak. Keningnya seakan bertulis, "tepat sekali, Anda tak akan repot-repot mengingat cinta satu malam Anda, Nona Marion."
Fernanda Miller ikut Tuan Miller pulang setelah menerima sanksi dari kepala sekolah. Ketiga gadis yang berseteru akan bersihkan laboratorium setiap kamis sepanjang semester ini.
Nyonya Sanchez dan Nyonya Salsa berada di kantin sekolah yang sepi sebab jam pelajaran siang telah dimulai kembali. Hanya minum dari cangkir tanpa banyak bicara.
"Arumi, jangan pukuli siswi lain tegal aku," keluh Ethan Sanchez. "Apa Pikirmu aku mudah dirayu?"
"Fernanda sangat licik."
"Terima kasih, Arumi, telah peringatkan aku lebih awal."
Arumi Chavez dan Ethan Sanchez menyusul ke sana, bergabung bersama para Ibu. Sedangkan Marion masih bersama kepala sekolah, usulkan beasiswa untuk Ethan. Suasana sepertinya tidak begitu bagus. Arumi telah prediksikan hal ini. Meng3r4ng penuh dalam genggaman tangan Ethan Sanchez.
"Apa masalahnya teratasi?" tanya Salsa pada Ethan Sanchez.
"Ya, Nyonya."
"Kami datang akan membahas masalah beasiswa untukmu, Ethan."
"Ya, Nyonya. Aku dengar dari Marya."
"Jadi, kamu sudah tahu?" tanya Arumi semakin gelisah.
"Ya," angguk Ethan. "Aku hanya belum beritahu ibuku karena banyak pertimbangan."
Ethan Sanchez dalam posisi tak bagus. Pria itu bekerja keras agar semua baik-baik saja. Ia ingin tepati janji pada Arumi tetapi Nyonya Sanchez tak mudah dibujuk.
"Ada apa, Ethan?" tanya Nyonya Sanchez.
"Maafkan situasinya seperti ini, Nyonya Sanchez," kata Nyonya Salsa. "Kami mengajukan diri sebagai pemberi beasiswa bagi Ethan untuk pergi ke Universitas."
Nyonya Sanchez terdiam, menoleh pada Ethan Sanchez.
"Harusnya beritahu aku terlebih dahulu Ethan Sanchez, agar aku tak tinggalkan pekerjaanku dan repot-repot kemari!"
"Mom ...."
"Apakah kamu mulai menikmati dihina orang lain Ethan?" tanya Nyonya Sanchez.
"Nyonya Sanchez?! Bukan itu maksudku. Aku tahu Anda sangat bertanggung jawab. Ethan selalu mendukung kebaikan Arumi. Aku sangat berterima kasih dan aku sangat menyukai sikap dewasa juga bijaksana Ethan. Mereka kini sedang pacaran. Aku pikir ..., Ethan sangat cocok untuk Arumi."
Nyonya Sanchez tersenyum tipis. Wajahnya kemudian sangat sinis.
"Anda melamar Puteraku untuk Nona Arumi? Mereka bahkan belum 20 tahun. Apakah Anda tahu, aku salah satu wali yang menentang pernikahan usia dini? Ethan tidak akan menikah dalam tahun ke depan."
"Anda salah paham lagi, Nyonya Sanchez."
"Tidak. Aku mengerti maksud Anda, Nyonya Chavez. Anda akan berikan beasiswa pada Puteraku. Secara tidak langsung jodohkan Ethan dengan Nona Arumi. Perlu aku tegaskan satu hal, Ethan Sanchez tak cocok bersama Nona Arumi. Aku ijinkan mereka pacaran tetapi tidak bergerak untuk sesuatu yang lebih besar dari itu. Kami tidak sekaya Anda tetapi Puterimu tidak pantas bersama Puteraku. Maafkan aku tak sependapat dengan Anda."
Arumi Chavez pejamkan mata. Hari ini sungguh buruk. Sejak pagi ia telah menderita, marah, minder, sakit hati dan kepercayaan dirinya terus dikikis.
Wajah bersemangat Salsa segera murung. Hari ini ia mendengar banyak hal tentang puterinya. Betapa orang-orang hanya menghina Arumi. Menahan nyeri di dalam diri. Tak bisa membela karena Arumi memang tak berprestasi kecuali jadi aktris.
"Mom?" tegur Ethan pelan mengeluh.
"Ethan ..., kembalikan semua uang yang kamu dapat dari keluarga Nona Arumi. Aku bisa bekerja seumur hidupku untuk membiayaimu. Kita tak tak tahu darimana uang mereka berasal?"
"Mom, please!"
Abaikan nada memelas Ethan, tatapan Nyonya Andreia terarah pada Arumi Chavez. Menggeleng seakan menolak bayangan Arumi menikahi Ethan.
"Tingkahmu hari ini sangat bar-bar. Aku bersyukur datang dan melihat langsung. Keputusanku tidak salah. Ethan sangat mencintaimu. Jangan tulari kejahatanmu pada Puteraku, Nona Arumi."
Andreia Sanchez pergi dari sana. Ethan Sanchez tergopoh-gopoh ikut dari belakang setelah minta maaf pada kedua wanita yang hanya terpaku di tempat mereka duduk.
Arumi Chavez bersandar di bahu Salsa.
"Mom, Nyonya Andreia benar. Ethan terlalu sempurna untukku." Bangkit berdiri. "Pulanglah, Mom. Aku akan kembali ke kelas dan belajar."
***
Tinggalkan Komentarmu. Pendapatmu. Dukunganmu. Aku jarang update karena sibuk. Maaf banget ya.
Chapter-chapter penuh ketegangan ada di belakang ini sebelum segalanya berakhir.
Aku mencintaimu....