
Meminjam motor antik Grandpa, Archilles butuh lima menit hidupkan benda itu. Zefanya mengerutkan dahi heran.
"Kamu mau kemana Archilles Lucca, malam-malam begini?
"Bertemu Arumi Chavez."
"Hah?" Zefanya menganga. "Arumi Chavez, lagi?"
"Pacarku marah karena aku mengantarkan gurumu pulang!" jawab Archilles Lucca memakai helm. "Zefanya Lucca, tadi yang terakhir yang boleh kamu lakukan."
"Aku peduli padamu."
"Sudah kubilang aku akan menikahi Arumi Chavez tanggal 20 Maret nanti. Mengapa tak mengerti?"
Zefanya cuma bisa diam.
"Tidurlah tanpa aku!"
Zefanya masih tertegun di tempat termasuk ketika bunyi motor menghilang dibalik pagar.
"Oh ya Tuhan, selamatkan kakakku dari khayalannya yang semakin menggila. Sekarang dia pergi mencari Arumi Chavez dengan motor berusia ratusan tahun? Cari kemana memangnya? Arumi Chavez punya banyak bodyguard. Apa tak takut digebukin?"
Masuk ke dalam rumah.
"Nek, Anda akan lakukan sesuatu."
Lucia yang baru habis beres-beres menoleh.
"Ada apa lagi sekarang?"
"Kakakku semakin tidak masuk akal. Dia bilang Arumi Chavez marah karena dia antarkan Guruku pulang. Bisakah kita hubungi dokter kejiwaan untuk memperbaiki Archilles Lucca sebelum dia semakin kronis?"
Lucia tersenyum. "Biarkan saja dia!"
"Grenny? Ini masalah serius. Demi Tuhan, dia sangat berlebihan. Menikahi Arumi Chavez di bulan Maret? Siapa dia? Pengangguran dan tanpa pekerjaan. Satu-satunya yang Archilles miliki mungkin wajah tampannya. Tetapi, jika jadi Arumi Chavez aku akan terpesona hanya pada aktor tampan yang berkeliaran di dunia perfilman. Oh ya Tuhan, Archilles, apa isi pikirannya coba?"
"Pergi tidur sana, Zefanya. Pikirkan pelajaran sekolahmu. Ini sudah pukul berapa?"
"Oh, Grenny, bagaimana kalau Archilles dipukuli bodyguard Arumi Chavez?"
"Zefanya ...."
"Tetapi, Nek...."
"Archilles mungkin sungguh-sungguh tentang pernikahannya dengan Arumi Chavez."
"Oh yang benar saja, Anda juga akhirnya percaya pada Archilles?"
"Kita lihat saja nanti. Nah sekarang, maukah kamu pergi tidur dan bangun pagi-pagi untuk membantuku di dapur?"
"Baiklah. Selamat malam, Nek." Mengecup Grenny sebelum pergi ke kamarnya dengan banyak susunan pertanyaan di benak.
Sedangkan Archilles Lucca nyaman - nyamankan diri di atas motor tua rendah. Kaki panjang segera tersiksa padahal belum seberapa jauh perjalanan. Ia memikirkan alasan agar bisa masuk ke mansion dan bertemu Arumi Chavez.
Nyonya Salsa Diomanta tak akan suka ia melanggar teks perjanjian, terlebih berkunjung tengah malam. Mulai akan mencari-cari kata tajam untuk menyerangnya lagi.
Sejak penembakan dua hari lalu, berita tentang Leonardo Pirlow mengisi setiap inci rubrik kabar. Terlebih yang berkaitan dengan investigasi kriminal. Polisi dan pihak terkait bekerja keras. Membentuk tim investigasi khusus untuk menemukan pelaku, mengungkap motif dan lainnya.
Dari berita ..., Archilles tahu bahwa tujuh belas kamera di lokasi kejadian sengaja dirusak hingga pihak berwajib kesulitan menemukan pelaku. Polisi akan kesulitan sebab lawan mereka adalah Tatiana Sangdeto. Wanita ini licin seperti hewan rawa enguia.
Hedgar Sangdeto ikut terseret sebab kejadian berlangsung di Old Harbour Pub walau hanya untuk dimintai keterangan. Pria itu terlihat di televisi. Jika bukan karena Tatiana, Archilles Lucca berencana menemui Hedgar dan membunuhnya. Namun, ia yakin Tuan Hellton dan komplotan akan segera berhadapan dengan Hedgar untuk memperingatinya. Ia tak akan ikut karena Tatiana.
Sampai di gerbang rumah Mansion Diomanta.
"Archilles?!" Kepala pengawal Alfredo Alvares sepertinya baru sampai dari luar mansion bersama Nyonya Salsa.
"Alfred ...."
"Ada apa berkunjung malam-malam begini? Nyonya Salsa sedang dalam mood buruk dua harian ini. Kamu mungkin bisa kena murkanya."
"Sangat sulit untukku juga Alfred. Aku harus berada di depan wajah Nona Arumi secepat mungkin sebelum Nona mendatangiku dan mungkin memancing kemarahan Nyonya Salsa."
Alfredo melihat sepertinya ini sungguh serius.
"Masuklah!"
Archilles Lucca pergi ke mansion bersama Alfredo.
"Apakah halaman akan direnovasi total?" tanya Archilles Lucca sapukan pandangan pada kumpulan material yang bersusun di depan mansion.
"Ya. Nona Aruhi selalu murung tiap melihat bagian depan mansion ini. Nyonya Salsa putuskan merombak secara keseluruhan untuk hilangkan trauma buruk Aruhi."
"Mungkin masih tentang Tuan Ebenn."
"Ya, kamu benar. Dan Nyonya Salsa telah instruksikan para pekerja musnahkan balkon depan." Alfredo arahkan pandangan ke atas.
Archilles hempaskan napas berat. Istri Elgio Durante menderita masalah sosiophobia akibat kelakuan keluarga ibunya di masa lalu. Meskipun kini berbahagia dengan Elgio Durante dan menerima Ibunya sepenuh hati, persisnya Aruhi mungkin masih mengingat kemalangan Ayahnya. Mata rantai ini tidak berkesudahan dan menyeret semua orang ke dalam cerita termasuk kini, Archilles dan Arumi.
Ruang tidur Nona Arumi tak bisa terlihat dari depan sebab menghadap ke taman belakang mansion. Dari luar ia mendengar denting piano terputus-putus, sangat ringan dan cepat.
"Nada yang akan diperdengarkan saat Nona Arumi kesal," kata Alfredo melihat Archilles prihatin. "Apa yang terjadi?"
"Salah paham. Aku harus segera perbaiki. Sampai nanti, Alfredo."
"Good luck, Lucca."
Nyonya Salsa dan Nona Sunny sedang perdebatkan sesuatu. Berhenti saat ia datang.
"Archilles Lucca?" Salsa Diomanta mengangkat satu alis tinggi.
"Maaf aku bertamu malam-malam."
"Urusanmu pasti tak bisa ditunda sampai besok pagi," kata Sunny Diomanta.
Archilles tak bisa menahan lirikan mata ke lantai atas. Kode Arumi Chavez untuknya makin jelas saja. Nada piano semakin rapat. Ibarat bicara, nadanya cepat, tanpa istirahat, tak ada koma dan tajam. Archilles Lucca pikir ia harus terbiasa. Mereka akan menikah. Nona Arumi mungkin akan sangat ekspresif saat kesal padanya, bukan secara langsung tetapi Archilles akan dengar protes Arumi Chavez lewat jalur tuts-tuts piano. Walaupun demikian ia telah meremang bayangkan akan bersama Arumi di depan piano.
"Kebetulan kamu di sini, mari kita bicara sebelum kamu bertemu Arumi." Salsa Diomanta berbalik pergi tak beri waktu bagi Archilles untuk berpikir. Menuju ke ruang baca. Archilles ikut dari belakang.
"Aku tak berharap melihatmu di sini, Archilles. Setelah ultimatum untukmu sangat jelas."
"Maafkan aku, Nyonya. Situasiku sedikit mendesak."
Hening.
"Terlebih jangan sampai mansion dikaitkan dengan kematian Pirlow."
Archilles Lucca hembuskan napas pelan-pelan.
"Archilles Lucca?!" tegur Salsa keras.
"Nyonya mungkin menganggap aku tidak sopan, tetapi Nyonya telah membuka akses masuk bagi Leonardo Pirlow. Ia telah mengincar nona Arumi sejak Nona Arumi memulai karir keartisan. Pirlow mengatur segalanya termasuk drama Bittersweet Married. Anda mempermudah jalannya hingga ia tak segan menggiring Nona Arumi ke perkebunan Tuan Hernandez yang juga atas persetujuan Anda."
"Archilles?!"
"Nyonya, aku tak bisa bicara begini terakhir kali karena situasi rumit di antara kita. Tetapi, perkebunan Hernandez tak lebih bagus dari Mansion Diomanta. Nona Arumi bisa pulang dan beristirahat di sini atau pergi ke Braga bukan malah habiskan waktu libur di tempat asing jauh dari pengawasan Anda. Dan ini adalah masalah yang paling mengganggu, jika saja Nyonya lebih sibuk mengurusi Pirlow dibanding kirimkan aku ke penjara, Nona Arumi tak perlu sampai alami kejadian buruk."
"Kamu menyalahkan aku kini, Archilles? Lupakah kamu mengapa aku mengambil tindakan keras padamu?"
"Aku memang tanpa status sosial yang bagus dan bekas penjahat, tetapi aku mencintai Nona Arumi Chavez dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku tidak akan menyakitinya untuk memenuhi egoku apalagi sampai lumpuhkan masa depannya. Tidak benar aku telah mengeksploitasi Nona Arumi seperti tuduhan Anda. Kami hanya sedang jatuh cinta dan Anda berlebihan bersikap."
"Kamu mengkritikku sekarang, Archilles Lucca!"
"Ya, Anda tidak salah dengar. Anda mungkin belum pernah dikritik oleh bawahan Anda. Aku sedang melakukannya kini. Terlebih, pria yang Anda kirimkan untuk mengawasi Nona Arumi Chavez sangat tidak kompeten. Aku hanya butuh tiga menit untuk menjatuhkannya. Kita bisa mencegah segala hal terjadi andaikan Anda keluarkan aku lebih cepat dari penjara. Jika Anda ingin mengambil alih keamanan pada Nona Arumi bahkan untuk Anda sendiri, mungkin, Anda perlu meminta bantuan Tuan Elgio Durante."
"Terima kasih atas masukan-mu." Salsa Diomanta kehilangan ketenangannya. Rahangnya berderak. Ia sama sekali tidak suka diceramahi. "Aku dan Sunny abaikan Leonardo Pirlow karena latar belakangnya yang bersih." Salsa hapus sedikit keras kepala sebab Archilles Lucca benar. "Bagaimana sisanya?"
"Sedang aku urus, Nyonya."
"Jangan sampai terlalu terang-terangan."
"Akan aku usahakan. Tetapi, aku akan lakukan cara yang sama seperti yang mereka lakukan pada Nona Arumi."
Hening. Salsa Diomanta tampak sangat lelah untuk sebuah konflik. Terlihat dari raut yang dibebani sesuatu.
"Apakah kamu telah pergi ke Carvedo pada Tuan Maurizio Lucca?" tanya Salsa lagi. "Dokumennya telah dilegalkan. Orangtuamu menunggu terlebih Ibu angkatmu."
"Kami berencana berkunjung di akhir pekan ini, Nyonya."
"Baiklah," angguk Salsa Diomanta.
"Bolehkah aku tahu bagaimana perkembangan terapi Nona Arumi?"
"Beruntungnya mental Arumi lebih kuat dari kakaknya. Ia tak mudah tertekan tetapi mood-nya berubah-ubah tanpa bisa diprediksi."
"Aku akan menemui Nona sebentar dan langsung pergi. Tentang uang yang Anda berikan pada Ayahku, aku akan gantikan kembali."
"Tidak perlu," jawab Salsa cepat. "Raul Lucca juga bukan Ayahmu lagi. Saat kamu menikahi Arumi, aku harap kamu menjauhkannya dari Raul Lucca meskipun kamu mungkin sangat mencintai Ayahmu itu."
"Nyonya ...."
"Selesaikan semua urusanmu!" Salsa tak ingin kompromi soal Raul Lucca. "Tak perlu melapor padaku."
"Baik, Nyonya." Archilles mengalah dan tak ada untung perkenalkan Arumi pada Raul. Pria itu mungkin akan mulai pikirkan ide untuk memeras mereka. Archilles perlu datangi Raul Lucca untuk peringati Ayahnya dengan sangat keras.
Pintu terbuka. Arumi Chavez di ambang pintu hingga baik Archilles maupun Nyonya Salsa terperanjat kaget.
Arumi Chavez lantas bersungut-sungut.
"Apa ibu mulai mengganggunya lagi?" tanya Arumi Chavez langsung menuding.
Salsa Diomanta memijat kening kuat.
"Tak perlu pindahkan perang dari negara tetangga ke mansion ini, Arumi. Aku hanya bicarakan pernikahan kalian, jika itu yang ingin kamu ketahui. Aku bahkan tak bertanya, mengapa Archilles Lucca berkunjung tengah malam?"
Salsa Diomanta menyahut dengan artikulasi yang dieja jelas dan lambat. Tidak terburu-buru agar Arumi dapat pahami ucapannya.
"Maafkan aku buatmu kesal, Mom."
"Tentu saja di maafkan, Sayang."
"Ini lebih dari lima belas menit, Archilles Lucca."
Berganti haluan menyerang Archilles Lucca. Betapa imutnya Arumi Chavez saat marah. Jangan sampai Nona Arumi tahu Tatiana diam-diam menyelinap ke dalam kamar tidurnya dan m3ngg3r4y4ng1nya? Efeknya bisa lebih dahsyat dari perang nuklir.
"Maafkan aku, Nona. Jarak dari rumah nenekku ke mansion hampir tiga puluh menit."
"Arumi?!" Salsa menatap puterinya. "Apakah tindakanmu bisa dibenarkan?"
"Aku tak bisa tidur, Mom. Aku ingin pergi dengan Archilles," jawab Arumi Chavez pada ibunya.
"Nona ..., Anda bisa masuk angin. Di luar sangat dingin."
Arumi mengawasi Archilles Lucca.
"Kalau begitu kita bisa mengobrol di ruang baca sampai pagi atau duduk di halaman belakang mengunyah gerimis."
"Nona ...."
"Kalau aku tak salah lihat, kamu lumayan berbunga-bunga setengah jam yang lalu, Archilles Lucca?"
Level cemburu meningkat drastis pada kejadian tadi dan sepertinya Arumi Chavez tak berupaya kendalikan dirinya sendiri. Itu sangat buruk terlihat bagi Archilles karena Arumi Chavez akan lampiaskan isi hati padanya.
"Aku pikir karena panggilan video Anda, Nona Arumi. Aku melihat dan mendengar suara Nona setelah lama puasa. Tidak ada hal lain yang bisa buatku berbunga-bunga selain Anda," jawab Archilles Lucca tidak berniat menggombal hanya berharap laksana air dingin kata-katanya bisa mengguyur panas di hati Arumi Chavez untuk lupakan segalanya.
Mereka bertatapan. Saling membaca dan mencari-cari emosi. Mengisi debaran demi debaran ke dalam jantung tanpa kata. Tahu bahwa nyaris tidak ada masalah. Mereka hanya merindukan satu sama lain dan cari-cari masalah sampai ketemu alasan agar bisa berjumpa.
Akhirnya kontak mata terlampau sangat dalam hingga bisa-bisa tenggelamkan keduanya termasuk Salsa Diomanta yang perhatikan dua orang yang kesurupan cinta. Mulai pening.
Jika ia mencoba pisahkan keduanya sekarang, percayalah Arumi Chavez akan menyewa tank lapis baja dan mulai hancurkan mansion ini mungkin tenggelamkannya ke dalam perut bumi.
"Arumi, bawa pacarmu pergi. Tinggalkan aku sendiri!" keluh Salsa Diomanta berdecak, segera berbalik pada malam kelam. Di kaca bayangan puterinya menunggu kekasih tampak jelas terpantul.
"Nyonya, kami pergi." Archilles Lucca lebih dahulu sadar. Walau demikian, pria itu pamitan padanya tanpa alihkan pandangan pada Arumi.
"Tidak ada bayi sekarang dan sampai Arumi berumur 20 tahun, Please. Aku sendiri yang akan menembak kepalamu kalau sampai terjadi, Archilles Lucca."
"Aku mengerti, Nyonya."
Tangan masih di kening jauh setelah keduanya berlalu. Di atas meja dokumen perceraian menunggu. Ia akan mengisi bagiannya dan menandatangi perpisahan dengan James Chavez. Tak bisa dilakukan sekarang sebab ia menunggu Tuan Chavez datang dan mereka akan bicarakan bersama Arumi Chavez.
Menghela napas kuat. Tatapannya menembus jendela.
Suatu waktu saat ia dalam masalah, tertekan, tidak bahagia, Benn akan menggendongnya pergi ke ranjang dan memutar sebuah lagu penghantar tidur sambil menepuk bahunya pelan. Ia malah semakin marah setelahnya. Kini, ia merasa bahwa perlakuan Ebenn padanya adalah hal terbaik yang dimilikinya. Lebih berharga dari apapun termasuk semua harta ini. Kamu menyadarinya setelah menyia-nyiakan pria penyanyang itu.
Terimalah kutukan-mu, Salsabila.
Bersama James Chavez, ia tak ingat apa yang mereka lakukan sepanjang pernikahan setahun. Mereka asing satu sama lain. Arumi satu-satunya alasan. Tidak mungkin karena dirinya James Chavez tinggalkan istri pertamanya dan Puteri mereka yang berusia empat tahun lebih tua dari Arumi.
Besok suaminya akan datang dan meminta ijin bercerai pada Arumi. Ia tak akan bisa pertahankan lagi. Hanya berharap James Chavez tidak mengikut sertakan orang lain ke dalam masalah ini.
***