
Sedikit mengandung adegan plus. Please pilihkan waktu yang tepat untuk membaca.
***
"Narumi Vincenti!" Edgar Junior Sangdeto lebih tertarik pada Arumi ketimbang Tatiana yang adalah Aunty-nya.
Pria kecil turun tinggalkan kursi dan datang padanya. Lebarkan tangan. Berpelukan. Arumi kagumi bagaimana Tuhan ciptakan pria kecil yang manis ini. Miniatur ayahnya, Edgar selalu masam pada semua orang. Terlihat seperti introvert sejati yang tak suka keramaian. Namun, di sini daya tarik sangat kuat.
"Mengapa kamu tak bergabung dengan teman-teman lain, Edgar?"
Arumi mengatur rambut Edgar berbentuk koma dengan telunjuk. Perasaan bersalah telusup ke dalam hati karena tak sadari ada pria kecil di sini yang tak boleh dengarkan perselisihan orang dewasa.
"Mood-ku cukup buruk."
"Mengapa?"
"Kareniña selalu jahili aku! Sungguh menguji kesabaranku. Kamu tahu, aku takut kasar padanya karena Anna bilang tak boleh ada perselisihan dengan Kareniña dan Juan Enriques."
"Sayang, Anna benar. Permusuhan itu tidak penting."
"Aku tak menyukai Juan Enriques."
"Aku tidak heran, tetapi Anda berdua bisa mencoba permainan yang disukai bersama-sama."
"Kami tidak cocok. Juan Enriques selalu ingin jadi bos dan Kareniña mendukungnya. Aku tak suka itu!"
"Baiklah. Nah, dengan siapa kamu merasa cocok?"
"Yang lain asalkan jangan Juan Enriques dan Kareniña Luciano."
"Oh, Sayang. Aku akan bicara pada mereka berdua!"
"Tidak! Aku bisa atasi masalahku sendiri, Narumi. Jangan ikut campur urusan kami," geleng Edgar Sangdeto tegas. "Anak-anak tidak akan libatkan orang dewasa dalam ketegangan mereka."
"Ya ya ya, baiklah." Arumi tersenyum. Ia sebenarnya sedang sedih, marah, cemburu tetapi selalu berwarna jika berurusan dengan para bocah. "Tetapi, saranku, duduk di sisi bersama orang tuamu akan membuatmu terlihat sedikit ..., kau tahu kan maksudku?"
"Ya, aku pikirkan tadi. Aku akan bergabung bersama yang lainnya dan coba kendalikan diri."
"Hebat!" sahut Arumi. "Nah, beri salam pada Tatia. Dia juga merindukanmu."
Butuh ketegaran dan kekuatan untuk menyapa semua orang yang dianggap khianati dirinya. Okay, setia kawan tidak mudah dibeli bahkan meskipun itu dirinya. Orang-orang terus tidak menganggapnya dan ia tidak ingin berada dalam lingkungan yang kampanyekan peduli padanya tetapi menikamnya dari belakang.
Ia tersenyum pada Archilles Lucca. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat.
"Apa kabarmu, Tuan?"
"Baik. Bagaimana denganmu?"
"Ya," angguk Arumi. "Baik."
Arumi miliki cinta besar pada pria itu dan kini, ia telah lelah jalani.
Apakah cinta mereka akan pergi begitu saja? Menguap begitu saja?
"Arumi Chavez, mari bergabung. Duduk di sini dekatku," pinta Lucky Luciano setelah Edgar Junior pergi dan Arumi perhatikan tiap langkah Edgar sampai bocah itu hilang ke dalam mansion. Sedang Tatiana satu langkah di belakangnya.
Palingkan wajah ke arah meja Xavier Seth Moon, temukan pria itu tak berhenti awasi dirinya. Kegirangan, mungkin lihat raut tertekannya. Jelas pria itu sedang tertawakan dirinya.
Brengsek! Umpat Arumi menelan semua emosi bulat-bulat.
Ketika ia kembali, matanya tanpa sengaja temukan Alana Chavez tertarik pada gerak-geriknya.
Arumi tak punya pilihan. Tak ijinkan Alana tahu bahwa pria yang ia cintai hingga berdarah-darah adalah Archilles Lucca. Xavier Moon lambaikan tangan dan dibalas Arumi dengan senyuman.
Tak percaya ia mungkin akan berakhir dengan adik laki-laki sahabatnya. Xavier Moon hanya pria 27 tahun yang suka berpetualang. Menjunjung tinggi sensasi. Pria ini cepat bosan, tidak heran ia punya kisah cinta dari jenis-jenis genre. Pria yang tidak bisa dipercaya soal stabilitas emosionalnya juga perilaku dan orientasi.
Xavier menurut Brelda menganggap dirinya terlalu sempurna bagi seorang wanita. Xavier bukan sebuah pelabuhan. Hanya kapal yang selalu ingin taklukan macam-macam samudera.
"Mari berbincang sebentar." Elgio Durante tambahkan, kembalikan kesadarannya, memaksa Arumi berpaling dari Xavier.
"Kemarilah, Sayang!" panggil Aruhi pelan.
"Apa dia akan segera bergabung?" tanya Lucky Luciano mengangguk penasaran pada Xavier Moon.
Arumi menatap pada kakak angkat yang sering habiskan waktu bersamanya di masa kecil lalu pada Elgio Durante. Dua pria ini ia anggap paling dekat dengannya. Belakangan, ia terus ingatkan dirinya bahwa orang terdekat adalah yang paling tahu cara terbaik meruntuhkanmu.
"Sebelum aku lupa, aku sungguh minta maaf tentang kejadian di masa lampau yang sebabkan Anda berdua sakit hati, marah dan kesal padaku, Tuan Elgio Durante dan Tuan Lucky Luciano. Maafkan aku."
Tanpa diduga ia membungkuk pada keduanya.
"Arumi?" Dua pria itu berdiri nyaris bersamaan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Elgio Durante.
"Arumi? Ada apa?" Aruhi selalu lemah lembut dan cemas. Aruhi menderita 17 tahun tetapi kini berakhir bahagia. Sedang dirinya bahagia sampai usianya menjelang enam belas tahun dan tragis setelahnya. Ini seperti, harusnya ia mati di lemari besi. Namun, ia diberi satu nyawa lagi cuma saja ia tak akan pernah temukan kebahagiaan.
"Aku ..., hanya muda, bodoh dan cepat dipengaruhi. Aku berani menipu di muka Tuhan dan permalukan Elgio Durante di hari pernikahan. Aku lakukan kejahatan pada Aruhi dan Reinha Durante sedang Lucky Luciano selamatkan nyawaku." Ketika tegak ia menahan tangis.
"Tidak ada yang ingin melihat ke belakang, Arumi Chavez!"
"Arumi ..., semuanya telah berlalu." Aruhi berdiri dan putari meja. Hendak meraihnya. Arumi mundur hindari kakaknya hingga tubuhnya lebih dekat pada Tatiana.
"Tidak," geleng Arumi lemah. "Suamimu dan Tuan Luciano masih marah padaku sejak tujuh tahun lalu hingga hari ini."
"Itu tidak benar," bantah Aruhi ulurkan tangan. Tetapi, Arumi menatap tangan kakaknya. Ia dipenuhi balada kesedihan yang lambat dan menyayat hati.
"Sejak hari ini, kecuali Jeze dan Eben, aku tak akan pernah menganggap Anda semua kerabatku lagi. Terima kasih untuk semua cinta dan perhatian padaku."
"Tidak! Arumi! Apa yang terjadi? Katakan padaku!" Aruhi gelisah. "Mungkin terjadi kesalah-pahaman."
"Hei ..., Arumi Chavez," panggil Lucky Luciano.
"Aku benci nama itu. Sungguh!" serunya ingin muntah. "Namaku bukan Arumi Chavez dan tak akan pernah lagi."
"Arumi ..., " panggil Anna pelan.
"Narumi!" sambarnya dingin. "Atau jangan pernah sebut namaku lagi, please. Lupakan bahwa Anda pernah mengenal aku!"
"Sayang ...." Anna Marylin menggigit ujung bibirnya. M3nd3s4h.
Arumi menahan tangisan di tenggorokan. Jika mereka beritahu ia kejadian tujuh tahun lalu, akhirnya mungkin beda. Oh, sudahlah! Semua orang lanjutkan hidup mereka dan bahagia?
Mengapa ia terus terperangkap?
"Terima kasih untukmu juga Anna dan Pamanku karena telah kirimkan Itzik Damian padaku. Sungguh sempurna karena Itzik sebabkan bencana yang tidak akan pernah aku bayangkan sebelumnya."
"Beritahu padaku, ada apa?" tanya Uncle H keheranan.
"Bukankah Anda tahu segalanya? Sungguhan tak tahu, Uncle Hellton. Aku pikir Anda menyayangiku. Tetapi, aku sadar kini bahwa aku menyayangimu hanya dongeng yang indah sebelum mereka mencekikmu. Semoga Anda semua selalu berbahagia."
"Arumi ...."
"Aku tak tahu salahku pada Anda, tetapi tolong maafkan aku, Uncle." Matanya kabur. Ia akan menangis. Ini buruk.
"Aku juga ..., Tuan Enrique Diomanta," tambah seseorang di sebelahnya.
Arumi menoleh. Xavier Seth Moon menyeringai senang padanya, "kamu terlihat menyedihkan. Aku senang, Brelda tak akan suka."
Dasar apes.
Pria itu menarik tangannya untuk tegak. Lingkari pinggang. Satu tarikan, tubuh mereka rapat. Pria itu berbalik dan mencium sisi kepala Arumi..
"Tolong maafkan aku juga karena tidak perkenalkan diriku pada kerabat Narumi. Aku Xavier Seth Moon. Kami bersama selama tujuh tahun. Aku menunggunya karena dia menunggu seseorang. Menjengkelkan. Kami akhirnya bisa kencan dan bebas berekspresi sekarang. Mohon restui kami."
Tidak ada satupun dari mereka yang percaya. Xavier Moon tidak begitu peduli.
"Terima kasih untuk cinta semua orang pada Narumi Vincenti. Selamat nikmati pesta, Tuan dan Nyonya."
Xavier Seth Moon bawa ia pergi dari sana.
"Sampai jumpa. Natalie, tolong jangan tidur terlalu nyenyak. Seekor kucing baru saja terpanggil jiwanya untuk memburu tikus."
Arumi dengar warning Tatiana. Arumi menahan tangannya. Tetapi, Xavier tanpa basa-basi berikan dekapan.
"Kamu butuh aku!"
"Menyingkir dariku!"
"Kita boleh berantem di dalam lift atau di ruanganmu atau Brelda, tapi di luar kita harus mesra. Tolong kita ini best friend forever, Narumi Vincenti!"
Arumi berdecak. Sisa-sisa air mata bergulir turun. Bisakah ia tak menangis lagi sejak ini?
"Sahabatku hanya Brelda."
"Dan aku sahabat Brelda," tambah Xavier. "Aku kerenkan?" puji Xavier pada dirinya sendiri. Sipitkan mata hingga kerutan muncul di ujung mata. "Hei, cukup terharu saja padaku tak perlu sampai menangis."
"Para kerabatku bukan orang bodoh. Kamu juga payah. Memang benar kata Brelda kamu hanya pria tidak berguna."
"Tajam sekali mulutmu, Narumi."
Xavier Seth Moon pegangi pergelangan tangannya lewat di hadapan para jompo yang terpana. Tujuannya bukan ke sana tetapi meja sebelah.
"Tuan dan Nyonya Vincenti, selamat malam. Aku dan Narumi sedang berkencan. Kami akan pergi ke tahap yang lebih serius!"
Pria ini berkata dengan suara rendah hati dan tegas. Berhenti bercanda. Saat serius, Xavier Seth Moon tampilkan sisi lainnya yang menarik.
Untuk beberapa waktu tak ada yang bicara.
"Tuan Moon ..., kita perlu bicara di ruang yang lebih privasi setelah malam ini." Tuan Laurent Vincenti bersuara pada akhirnya.
"Maafkan aku, karena tidak sopan. Aku hanya terlalu bersemangat."
Arumi tak ingin menatap ibunya. Ia ingin berlari menjauh. Menikahi Xavier dan pergi dari rumah adalah cara paling mulia.
"Hebat," puji Alana Chavez berikan tepuk tangan. "Selamat untukmu Arumi Chavez."
"Namaku Narumi Yuki Vincenti, Alana Chavez. Pemberian dari seorang pria yang aku panggil Ayah. Dan beliau adalah Tuan Laurent Vincenti. Kamu bisa gunakan nama idiot itu untuk dirimu sendiri, ibu tirimu atau keluargamu. Aku bukan bagian dari keluargamu dan tak akan pernah." Taring Arumi keluar juga. Bukan hanya Alana Chavez yang tercengang di buatnya tetapi semua orang yang ada di meja itu.
"Nona Arumi ..., apakah Anda harus sekasar begini?" tegur Nyonya Andreia dengan raut kemerahan. Ini adalah penghinaan paling frontal yang pernah ia dengar dan dilontarkan oleh Puteri dari suaminya.
Arumi tersenyum. "Jauh lebih kasar mana, Nyonya Andreia? Menghina Puteri seorang pria dan menikahi Ayahnya? Atau yang barusan ini?" serang Arumi lupakan sopan santun.
"Sayang ...." Salsa Diomanta sangat terkejut.
"Narumi Vincenti, bisakah kendalikan dirimu?" tanya Ayah Laurent.
"Maafkan aku, Papa." Arumi lekas merasa bersalah. Sikap buruknya akan buat Ayah Laurent bersedih.
"Biarkan saja Arumi, Tuan Laurent." Tuan James Chavez lepaskan tatapan penuh penyesalan yang sudah terlalu terlambat.
"Mari lupakan, aku tak mau punya ayah yang tidak bertanggung jawab. Maafkan aku mengacau. Ini ..., Tuan Xavier Moon. Bukankah kamu sangat penasaran padanya dan ingin berkenalan, Alana Chavez?" Arumi bertanya.
Arumi tak menanggapi.
"Xavier ..., ini Tuan James Chavez dan Nyonya Andreia Chavez. Puteri mereka Alana Chavez."
"Malam Tuan Chavez, aku Xavier. Senang bertemu Anda." Xavier menoleh pada Arumi. Jelas gadis ini tak ingin menganggap orang-orang yang baru ia perkenalkan sebagai keluarganya. Arumi kedapatan murka pada semua orang.
"Bisa kita berdansa, Narumi? Lagunya hebat."
Casandra Moon sama seperti Brelda Laura bersemangat pada Arumi Chavez setelah melihat sendiri bagaimana Xavier dan Arumi bersama.
"Kabar terbaik tahun ini, ya Tuhan, Xavier Moon berkencan dengan Narumi Vincenti. Sebenarnya, aku tahu sejak kemarin. Asam uratku langsung sembuh saat dengar kabar ini dari Brelda. Nyonya Adelle bukankah ini keajaiban? Kita tidak hanya akan bersahabat, besanan. Oh Meu Deus, kita adalah keluarga yang solid. Bangun Adelle mari menari, Sayang dan rayakan kebahagiaan ini. Ayo Tuan Martin!"
Yo te miro y se me corta la respiración
Cuando tú me miras, se me sube el corazón
Ikuti lagu, menarik Tuan Martin berdansa. Mereka berputar di dekat Salsa.
"Oh, Salsa, kami menangkap bulan dan akan menjaganya tetap purnama. Aku tak sabaran menimang cucu dan akhirnya akan menutup mata dengan tenang."
Salsa Diomanta tersedak minuman dan terbatuk-batuk keras hingga Tuan Laurent Vincenti sembunyikan istrinya di dada. Tepuk belakang Salsa perlahan. Dilihat oleh pasangan lain.
"Salsa?!"
"Aku baik-baik saja, Sayang. Aku hanya terlalu kaget. Lamaran saja belum, Nyonya Casandra singgung soal cucu?"
Mata Laurent Vincenti berubah sendu. Mengecup kening Salsa lembut dan terus berada di sana.
"Aku ingin Tuhan dengarkan aku sekali ini. Biarkan Narumi bahagia," bisik Laurent pelan. "Kesedihannya sampai padaku."
Salsa Diomanta berkaca-kaca. "Ini semua salahku. Aku terlalu takut pada masa laluku dan korbankan dirinya. Apa yang harus aku lakukan? Narumi sangat mencintai Archilles dan ia tampaknya putus asa sekarang. Narumi hindari aku dan menolak bicara padaku. Puteriku marah pada semua orang. Apa kita kehilangannya, Laurent?"
"Sssshhh ..., Salsa. Selama ada Aizen dan Hanasita di sisinya, semua akan baik-baik saja. Perbaiki dirimu dan lebih perhatian padanya. Kamu akan dapatkan cintanya kembali."
Laurent Vincenti mendekap istrinya semakin erat dan tenangkan Salsa yang akhirnya menangis. Dunia sakiti Arumi dan di atas semuanya dialah yang paling bertanggung jawab.
Nyonya Andreia berbagi pandang dengan Tuan James Chavez. Menghela napas panjang.
Dan di depan sana, semua orang hanya akan percaya pada penglihatan mereka termasuk Alana Chavez. Xavier Seth Moon memeluk pinggang Arumi Chavez dan mereka berdansa.
"Kamu butuh aku, Narumi Vincenti!"
"Tidak! Kamu yang butuh aku untuk bersihkan dirimu dari skandalmu!"
"Kekasihmu yang kamu tunggu selama tujuh tahun pergi dengan wanita lain. Betapa malangnya nasibmu, Narumi!"
"Pantas para pria menyukaimu. Mulutmu persis wanita, Xavi!"
"Matamu bengkak. Akh, cinta sangat dalam ya ternyata," balas Xavier Seth Moon tak mau kalah.
Berputar dan berdansa. Pria itu sengaja membungkuk dan berlabuh di pundak Arumi.
"Kamu larikan diri denganku."
"Dari awal sudah kukatakan aku akan menikahi mu jika dia tidak datang. Dia di sini bersama gadis lain dan itu pertanda hubungan kami telah berakhir. Aku ingin tetap p3r4w4n, kamu lebih suka pedang-pedangan, aku akan aman bersamamu. Kamu tak akan menyentuhku."
"Bagaimana jika Casandra ingin menggendong cucu?"
"Ada banyak cara. Kau tidak bodoh, bukan?"
"Aku normal, Narumi. Kamu tawarkan dirimu pada serigala."
"Tentu saja kamu manusia normal karena miliki pistol di antara k3du4 pahamu. Selebihnya fungsinya di salah gunakan."
Xavier Moon menyeringai. Ia merengkuh Arumi lebih rapat padanya. Dekatkan wajah mereka.
"Kita bisa bersama sehabis ini, Narumi Vincenti sebagai pembuktian. Brelda akan dapat kabar gembira besok pagi."
"Aku bukan tipemu, ingat?"
"Soal ranjang, kamu mungkin tipeku. Aksimu cukup panas di drama serialmu. Aku sampai-sampai mendidih."
Arumi menginjak kaki Xavier kuat. Pria itu meringis tetapi malah semakin berani. Lepaskan Arumi tiba-tiba lalu buat tubuh Arumi berputar sebelum kembali menarik Arumi ke dalam pelukannya.
"Mau coba?"
Arumi mendongak pada Xavier Set Moon. Pria itu menunduk dan sampai pada bibirnya. Ia pejamkan mata.
Ciuman yang indah suatu waktu delapan belas meter di atas air. Dibawa berputar-putar lalu terbang. Jantung berdetak kencang bersama keinginan memiliki yang besar. Dan ia bisa rasakan rahang kekasihnya ketika bergesekan dengan kulit lembutnya. Usianya lima belas tahun, ia jatuh cinta pada pengawalnya entah sejak kapan hingga detik ini.
Ciuman itu terpisah. Matanya terbuka. Siluet Xavier telah berubah. Mata kehijauan yang indah dan cinta sakral yang tak bisa diutarakan. Arumi menyentuh wajah itu dengan jari-jari dingin. Pergi ke bibir pria itu.
"Aku bisa mencium lukamu."
Arumi sinis. "Omong kosong."
"Apa kamu ingin buat dia cemburu?"
"Kekanak-kanakan!"
Xavier Moon sekali lagi tekukan kepala hendak menyentuhnya lagi tetapi Arumi sedikit palingkan wajah. Tatapannya membentur pada Archilles Lucca. Arumi kesakitan.
"Mau pergi denganku?" Ia mendengar bisikan di kupingnya. "Siapa tahu setelah bersama, aku bisa berhenti nakal dan kamu bisa lupakan dia!"
Arumi mengangguk. Biarkan Xavier Moon menuntunnya setelah lambaian singkat pada semua orang. Tinggalkan semua kepahitan di belakang termasuk Archilles Lucca.
Mereka bersama pergi ke sebuah hotel. Masuk ke dalam sebuah suite. Berciuman ciptakan gairah dan panas.
Tangannya lepaskan jas Xavier dan kemeja pria itu sementara mereka berciuman. Xavier singkirkan jepitan rambut hingga rambut Arumi terurai.
"Aku belum bertemu gadis yang sempurna karena ternyata aku mengabaikannya."
Mereka di atas ranjang dan Xavier hanya tersisa celana jas. Ia membelai wajah Arumi.
"Apa kamu pernah bersama seorang pria?" tanya Xavier penasaran.
"Tidak! Aku hanya mencintai kekasihku!" sahut Arumi. Ia pejamkan mata dan pasrah ketika Xavier pergi ke belakang gaun, mulai membukanya.
Arumi menggigil. Kulitnya menolak sentuhan Xavier dari cara mereka tidak nyaman dan gelisah.
Bukankah ini yang pria itu inginkan?
Jari-jari Xavier berlari di permukaan tubuhnya. Pria itu sampai di kaitan pelindung dada. Dalam satu tarikan, ia akan terbuka.
Kepala Arumi berdenyut antara nyeri dan takut. Ini bukan syuting drama. Rahangnya berderak. Xavier membaca kegelisahan. Membungkuk di atasnya dan menciumnya untuk tenangkan dirinya. Arumi berhenti pikirkan apapun, hanya pejamkan mata.
"Nona Arumi ..., jangan menyerah hanya karena dia berubah-ubah."
Dan bayangan indah mereka di rumah pohon, merasukinya. Bayangan mereka di pondokan saat ia bangun dan pria itu menjaganya dari kantong tidur berbeda.
"Nona ..., aku sangat mencintaimu."
Tidak lagi, Narumi! Mari keluar dari cinta beracun ini. Dunia gelap ini. Terbanglah bersama Xavier.
"Selama tujuh tahun duniaku hanya kamu, Nona."
Suara pria itu terngiang di kepala.
"Na-ru-mi ...." Xavier Moon mengeja namanya.
Arumi pegangi tangan Xavier tepat sebelum pria itu melihat tubuhnya. Buru-buru berguling ke sisi ranjang dan duduk di pinggir. Kaitkan dress. Mengatur rambutnya.
"Apa dia mengganggumu?"
"Aku terlalu suci untukmu yang penuh skandal, Xavier."
Tubuh Xavier jatuh di atas ranjang.
"Akh, pria brengsek itu sangat beruntung." Xavier Moon mengintip Arumi dari balik bantal. "Aku tak pernah ditolak seorang wanita. Kamu yang pertama."
Arumi Chavez memakai heels-nya lagi.
"Pasti lukai harga dirimu."
"Sangat. Mari menikah lusa pagi. Besok sore, aku akan melamarmu, Narumi."
"Aku dua kali gagal menikah."
"Tiga adalah angka keramat, kamu akan berhasil di kali ketiga. Cinta bisa datang belakangan."
Arumi beranjak pergi tanpa sepatah kata. Ia membuka pintu dan terpaku di ambang. Ia menghela napas panjang.
"Kamu tak bisa berakhir dengan pria lain karena kamu hanya mencintainya."
Arumi tak menyahut.
"Aurora menunggumu." Tatiana Sangdeto bersandar di dinding sambil perhatikan menit. Berdiri tegak ketika dia langkahkan kaki keluar.
Arumi cuma diam. Hatinya penuh debaran aneh setiap menyebut nama Aurora. Bulu kuduknya meremang. Sangat-sangat mistis.
Mereka keluar dari hotel. Tatiana mengemudi. Berputar-putar entah beberapa kali sambil awasi spion. Lalu, perjalanan menembus gelap dimulai. Lumayan panjang.
"Archilles Lucca sedang rencanakan sesuatu."
Arumi acuh tak acuh menatap lurus ke depan. Ia mulai bosan.
"Menurutku ..., Archilles Lucca mendorong semua orang untuk percaya bahwa ia tak berdaya dan lemah. Dia tak bisa pulih hingga pihak tertentu berpikir tujuan segera berhasil. Ada perangkap sedang dipasang. Archilles kirimkan aku pesan. Ia gunakan 3 titik, strep, titik dan kurung penutup. Itu adalah darurat untuk melindungimu."
"Aku tak ingin peduli lagi padanya dan pada apapun yang dilakukannya. Aku dan Xavier Moon akan menikah lusa pagi. Di batas hari aku beri dia kesempatan."
"Dia masih punya waktu."
"Tidak. Aku mungkin mencintainya sampai aku mati tetapi aku telah berhenti ingin bersamanya."
Mobil pergi ke kawasan yang sepi dan masuk ke dalam sebuah gerbang besar. Arumi turun dari mobil. Ia agak goyah.
"Harusnya aku bawakan Aurora sesuatu, bukan?" Arumi gugup.
"Sudah kusiapkan." Tatiana ambilkan bungkusan.
"Terima kasih. Aku mungkin tidak begitu siap."
"Sangat manis saat Aurora menunjuk foto prewed-mu dan Archilles Lucca. Ia memanggilmu Mama."
"Dan Itzik Damian, Papa ... menggelikan."
Tatiana menggeleng. "Tidak. Aurora hanya memanggil Papa pada Archilles Lucca."
***