My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 130. Mi Ángel



Ritual pernikahan berakhir. Dua orang duduk menghadap halaman belakang, setelah anak-anak mereka pamitan pergi dan orang-orang rumah beristirahat.


"Kamu mungkin ingin makan sesuatu?" tanya Laurent duduk di sisi Salsa, bentangkan lengannya dan mengajak istrinya pergi ke sana.


"Tidak. Aku kekenyangan dan merasa penuh."


Laurent Vincenti tersenyum. Ia membuat istrinya sarapan dan mengunyah camilan sayur. Itu adalah kebanggaan seorang pria.


"Mari kita mengunjungi rumah pohon Puteri kita."


Bukan ide buruk. Salsa mengangguk. Mentari tidak secerah tadi sebab mendung mulai merundung. Mereka langkahkan kaki di atas rerumputan. Salsa melepas sepatunya.


"Kemarikan tanganmu, Salsa," pinta Laurent Vincenti. Tak menunggu jawaban, menggenggam tangan Salsa.


Rasanya menyenangkan dan damai. Itukah alasan Maurizio Lucca selalu menggandeng tangan istrinya? Salsa menoleh dapati suaminya sedikit sumringah. Ia tak akan bandingkan dengan Benn sebab Laurent Vincenti seakan pria yang dikirimkan Ebenn untuknya. Ia dicintai sekali lagi dan tak akan mengulang ketololannya.


Di ujung lahan, sebuah bangunan kecil berdiri kokoh di atas pohon. Menakjubkan dan seperti terdampar di tengah hutan.


"Keahlian yang hebat," puji Laurent Vincenti. "Dibuat dengan dedikasi tinggi. Arumi pasti sangat bahagia bersamanya. Aku ingat dia saat berambut gondrong dan bertampang penjahat. Bekerja dengan kecerdasan, sendirian dan tak terlihat."


"Aku pisahkan mereka. Dan tak ada yang bisa aku lakukan untuk perbaiki keadaan. Nastya menolak panggilanku. Aku hanya ingin tahu di mana Archilles dibawa. Arumi ingin menemaninya."


"Salsa, percayalah, segala hal telah ditakdirkan. Putera dan Puteri kita akan jalani takdir mereka."


Salsa berhenti sebentar, Laurent ikutan berhenti.


"Ada apa? Ini belum seberapa jauh, apakah kamu tak sanggup lagi?"


Tatapan Salsa membungkuk pada kaki Laurent Vincenti. Lalu, pada pria itu. Suaminya sejak semalam.


"Arumi menemukan keluarga seutuhnya. Anda telah mewujudkannya setelah kami berharap datang dari Ayahnya."


"Ayolah, Salsa. Aku ayahnya sekarang. Mari tinggalkan segalanya di belakang. Kamu tahu, mungkin kedengaran aneh. Aku menjamu Arumi dan teman-teman Young di rumahku. Mereka belajar kelompok. Saat Young memujinya, aku berpikir, betapa bahagianya aku andai miliki Puteri dengan banyak bakat seperti Nona Arumi. Beruntung sekali kedua orang tuanya. Terlebih Young dan Arumi sangat manis ketika saling mengusik." Laurent Vincenti menatap Salsa lembut. "Bagaimana denganmu?"


Tak ada jawaban. Bukan sedang mencari kata yang tepat. Ia hanya tak menebak Laurent Vincenti akan bertanya.


"Aku sedang melihat keajaiban," jawab Salsa. "Tidak terduga datang padaku. Caramu peduli padaku dan Puteriku, aku takut aku tidak pantas."


"Buang jauh-jauh, Salsa. Aku peduli karena kamu, Arumi dan adiknya terlalu berharga untuk disia-siakan."


Bagaimana seorang pria bisa berpikir tinggalkan Puteri dan bayinya sendiri lalu pergi mengurus wanita lain dan anaknya?


"Setahun lalu, kita masih partner kerja dalam organisasi. Aku tak benar-benar perhatikanmu. Kudengar Anda menjalin sesuatu dengan Anna."


"Anna Marylin adalah cinta pertama semua pria di Black Hole. Tapi, tak ada cukup berani karena tak ingin berurusan dengan Hellton. Aku cukup percaya diri karena Hellton dan aku, kami tidak dekat, tetapi bukan musuh. Aku dan Hedgar hampir saling ledakan kepala ketika Hedgar memaksa Anna menikahinya. Dan aku patah hati saat Anna memilihnya. Terlebih Young sangat inginkan Anna Marylin."


"Wanita kami ini mudah cintai."


"Aku tahu alasannya kini. Em, takdir tidak pernah salah mendarat."


"Apakah kamu akan mulai lagi terbangkan istrimu?"


"Aku punya dua sayap. Anda akan melihatnya nanti malam, Nyonya Vincenti." Pria itu tertawa lebar. "Anna bukan untukku karena bukan takdirku. Sederhana, bukan?"


"Aku tak bisa berkata-kata."


"Di forum saat kita bicarakan rencana integrasi dana ilegal yang diperoleh organisasi, kamu mengatakan dengan lantang bahwa kita butuh membeli pesawat terbang sendiri untuk kepentingan perdagangan. Aku pikir Valerie Aldes adalah dewi di sini. Tetapi, aku salah. Dia berada dalam bayanganmu dan menganggap dirinya lebih nyata. Semua orang tak bisa menolak idemu, termasuk aku."


"Kamu tak tertarik padaku, Laurent!"


"Pikirmu ..., siapa dari antara kami berani menggapai-mu, Salsa? Atau coba-coba memikat-mu? Di mata hampir semua pria dalam rantai ini, kamu adalah definisi terbaik dari alpha woman. 'Jangan main-main denganku! Kamu akan tahu akibatnya'. Kamu menempatkan dirimu di tahta tertinggi hingga tak ada yang akan sanggup menyentuhmu. Cukup beruntung bisa berteman dekat denganmu. Juga H alasan lain, para pria tak akan berani coba-coba padamu, Sunny dan kini pada Marion."


"Sekarang kamu tahu, itu tidak benar. Aku hanya terlalu kaku dan kikuk karena aku telah bersuami. Aku pikir sekali ini berhasil setelah dia kembali."


"Mari lupakan, Salsa. Bicarakan hal yang buatmu nyaman. Lupakan kepahitan."


Salsa mengangguk. Mereka kembali melangkah. Masih berpegangan tangan.


"Aku bangun tidur tadi pagi. Seperti sedang bermimpi. Wanita luar biasa ini ada di sebelahku dan aku bersamanya lalui malam sebagai suaminya. Terlebih, kita bicarakan banyak hal semalam. Just, out of my mind."


Salsa berdecak. "Berhenti berlebihan. Kamu melakukannya sepanjang satu Minggu."


"Young menentangku ketika aku mengatakan akan menikahimu, Salsa. Dia ingin serius pacaran dengan Arumi suatu waktu setelah satu dua pria yang mencintai Arumi saling menyingkirkan. Dia menunggu. Puteraku punya tongkat percaya diri di atas rata-rata. Dia selalu babak belur di akhir chapter. Entah tubuhnya atau hatinya tetapi masih tak kapok."


"Aku pikir dia kelihatan lebih tenang. Arumi, adiknya. Itu lebih menguntungkan baginya."


"Kamu benar."


Salsa agak gelisah. Laurent Vincenti amati istrinya.


"Apa sesuatu mengganggumu? Apakah ini mungkin tentang Arumi?"


"Ya. Aku curiga pada maksud Alana."


"Mari kita dengar keadaan Arumi setelah kembali dari rumah pohon. Arumi bersama Young dan Itzik. Mereka akan menjaganya."


Mereka sampai di sana, menatap rumah pohon dan bukti cinta yang tak bisa dituangkan dalam kata. Warna cat lembut juga bunga-bunga yang masih tersisa di sana mulai mengering tetapi malah menambah kesan keindahan. Mereka hanya menghirup udara segar dan mengobrol sedikit tentang bisnis juga masa depan anak-anak. Sampai Laurent Vincenti berubah lebih cemas dari istrinya.


"Kurasa sudah cukup, Salsa. Mari kita kembali dan hubungi Itzik."


Sementara itu. Tak jauh dari para orang tua, Arumi Chavez menyandera teman Alana yang mencoba lecehkan dirinya. Beruntung Alana di sofa, jauh dari jangkauannya. Jika tidak ia mungkin akan pukuli kepala saudara tirinya itu dengan botol minuman keras.


"Buka pintumu, sekarang!" ulang Arumi Chavez memaksa para pengawal ikuti maunya. Alana berikan kode, 'biarkan dia pergi'.


Bodyguard bersiap bukakan pintu. Ponsel Arumi berdering. Berikut bunyi pintu dipukuli dari luar. Dalam sini tak kedengaran apapun karena tempat ini, kedap suara.


Namun, gebrakan tubuh terpental ke pintu beritahu semua orang ada perkelahian di depan. Itu mengganggu konsentrasi, Arumi. Bodyguard melihat peluang dan sangat cepat ayunkan tangan ke arah tangan Arumi yang memegang botol hingga ia menjerit kesakitan.


Arrgggh....


Botol terlepas dari tangannya jauh ke atas karpet.


Bodyguard berbadan tegap menangkap tubuh Arumi. Ia meronta. Alana tertawa senang.


"Aku lupa kalau j4I4n9 ini gangster. Walaupun masih balita."


Pelukan pada Arumi berubah penuh kekuatan. Ia seakan hampir remuk. Alana bangun dari duduknya, memungut botol bergerigi tajam di karangan kiri. Alana datangi Arumi dan menampar wajah Arumi keras.


"Ini untuk Ibuku." Tambahkan sekali lagi. "Untukku!" Alana berpaling ke botol. Bergantian menatap pecahan botol tajam di tangan lalu pada cincin di jari manis Arumi.


"Menarik." Alana menyeringai senang. "Ayah bilang, kamu punya kekasih bernama Archilles Lucca. Dan aku penasaran. Apakah ..., dia akan menerimamu kalau jarimu hilang satu? Terlebih aku suka cincinmu. Apakah aku bisa memilikinya? Kedengarannya menarik kalau aku mengambil Archilles darimu."


Arumi Chavez terpaku. Menatap nanar pada kakaknya yang berubah seperti kerasukan iblis.


"Pegang dia! Kakinya! Tangannya!" Suruh Alana.


Entah mengapa, Arumi Chavez tiba-tiba merasa Deja Vu.


Apakah Archilles dalam posisi seperti ini ketika cincin dan jarinya dipotong? Mungkin lebih tidak berdaya dari ini?


Pria itu katakan tangannya tak sengaja terpotong pisau pemotong kaca. Arumi tak percaya. Mengapa kebetulan di jari manis? Pada cincin yang ia gambar untuk mengikat pria itu? Mengapa perasaan sangat kuat bahwa jari kekasihnya dipotong paksa?


Alana pegangi pergelangan tangannya, targetkan jarinya. Arumi Chavez tak bisa gunakan kaki untuk menendang Alana. Dalam keadaan tertekan ketika benda tajam itu datang padanya.


"Alana, sadarlah. Kamu tidak waras!" kata Arumi Chavez.


"Begitukah?" tanya Alana senang melihat kemarahan di wajah Arumi. Sisi paling bergerigi dicobakan pada kulit jari Arumi, sedikit mengoyak kulit di jari manis. "Kau akan suka."


Hal yang tak Arumi duga sama sekali terjadi. Si pelayan bangkit dari duduknya dan bergerak cepat jatuhkan dua pria sekaligus di atas sofa. Dia menggeram hingga Alana berpaling karena keheranan.


Bodyguard lain lepaskan pegangan pada kaki Arumi untuk pergi ladeni si pelayan yang segera meraih senjata entah dari mana, tanpa aba-aba menembak tepat pada tubuh si bodyguard. Dua tiga kali bahkan. Hingga si pria jatuh terkapar. Alana menjerit.


Arumi menekuk lutut dan menendang Alana kuat hingga kakak tirinya terlempar ke atas sofa. Ia menunduk dan menggigit tangan bodyguard sekuat tenaga.


Pria itu sedikit kesakitan lepaskan pelukan. Sangat sial sebab ia dapatkan satu tinju keras di kepala hingga ia terjatuh dan tak sengaja telapak tangan tertancap pecahan beling.


Tak ada pria tersisa kecuali yang sedang mendekat padanya. Tetapi, si gadis pelayan menembak si pria sebelummelompat pada si pria dan menanduk wajah besar itu hingga si pria berputar karena pening. Gunakan kedua kaki ramping menendang si pria yang belum selesai berpusing. Dalam sekali tebasan si pria bertekuk lutut di hadapannya.


Kini, gadis pelayan pergi ke leher si pria. Arumi Chavez melotot, ia kenali gadis pelayan ini.


Apa yang akan dilakukannya? Mengendus leher manusia macam begitu? Terakhir, ketika sedang video call dengan Manuel Cesar, murid kekasihnya itu beri kabar, Eva Romero alami kekerasan. Dan Cesar menuduhnya terlibat.


Apakah ... dia? Meringkus Eva karena berani menggoda Archilles Lucca?


Cinta model apa ini? Jenis yang mana?


Beritahu aku!


"Ta ... Ti ... ana?!" panggil Arumi pelan saat gadis itu menjambak rambut si pria dan periksa leher si pria.


Gadis itu mengangkat wajah.


"Tutup matamu, Nona!" sahutnya kerlingkan mata.


Tatiana membuka mulutnya.


Okay, ini mirip drama-drama serial vampire. Persis. Pemeran utama dapatkan mangsa. Menganga, keluarkan taring untuk mengh115ap d4124h dari korbannya. Arumi Chavez merinding. Dia bahkan tak punya taring.


"No! Jangan lakukan itu, Tatiana!" geleng Arumi Chavez pelan hentikan gerakan Tatiana.


"Mengapa?" tanya Tatiana. "Ini akan selesaikan masalahmu. Lebih ampuh. Em, pria ini akan mengingatku."


"Kecoa?" Tatiana bingung. Melirik pada pria yang pasrah terlebih karena tembakan di lengan. Bagaimana bisa pria selebar dan seluas ini disebutnya kecoa?


"Mereka menjijikan! Kau tahukan maksudku?" Arumi Chavez ingin muntah. Sebenarnya bayangkan Tatiana akan menggigit manusia Arumi duluan mual. Bukan soal kecoa.


Bukk!!!


Tatiana menebas leher pengawal Alana dengan sisi telapak tangan hingga pria itu tersungkur.


Hebat.


"Mengapa di sini?" tanya Arumi. "Em, terima kasih!"


"Itzik mengirim pesan, akan temani kamu kemari. Tadinya aku mau ke mansion untuk ucapkan selamat atas pernikahan Ibumu."


"Tetapi itu tidak masuk akal. Jadi pelayan?"


Tatiana menyeringai pada Alana. "Aku mengikutinya."


"Mengapa?"


"Itzik di rumah sakit seminggu lalu. Aku datang menjengukmu tetapi ada drama lamaran Laurent Vincenti pada Ibumu. Lalu, Itzik beritahu aku soal kakakmu ini. Aku sedang galau. Aku butuh salurkan emosi."


Tetap saja susah dicerna Arumi Chavez. Dia tak akan paham cara kerja Tatiana.


"Aku menguntit beberapa hari ini. Kecuali semalam karena aku punya urusan mendesak lain."


Tatiana datangi Arumi Chavez yang terlalu terkejut jadi hanya terpaku. Meraih tangan Arumi yang terluka. Memeriksa.


"Mungkin agak sakit sedikit. Tapi kita punya plester." Tatiana mencabut beling.


"Auhh!!!"


Tatiana keluarkan plester dari balik b3hh4. Arumi Chavez takjub. Melilit di dekat cincin tempat tergores botol. Lalu, telapak tangan.


"Mengapa plester?"


"Aku temukan di tubuhnya pertama kali suatu waktu. Ada pertukaran. Aku ingin makan malam romantis dengannya. Dia menolak awalnya tetapi datang juga karena aku katakan aku punya foto dan videomu dari studio yang didapatkan dari seseorang. Aku menyuruhnya pergi ke bathup. Dia mau saja karena aku mengancamnya akan mengunggah video dan fotomu. Dia tertembak malam itu. Kamu tahu akhirnya. Di saku jasnya ada plester dan dia ..., di hari-hari berikutnya selalu tersenyum pada plester."


Cukup gila. Entah siapa yang gila. Dirinya, Archilles Lucca atau Tatiana. Tegal plester.


Arumi menatap plester di tangan. Ia mengenang segalanya.


"Apa mereka mati?" tanya Arumi anggukan pada si pengawal yang tertembak lekas gelisah. Lekas ngeri.


"Itu cuma bius. Dia akan bermimpi indah selagi tubuhnya digotong ke kantor polisi." Tatiana menengok ke sofa. Pada Alana yang meringkuk karena shock. "Apa yang harus aku lakukan padanya?" tanya Tatiana berdecak. "Berani sekali inginkan, My Baby."


"Biarkan saja dia." Arumi duduk di sofa sedang para pria bergelimpangan tak sadarkan diri. Arumi cukup cemburu dengar panggilan sayang itu. Ia saja tak berani panggil Archilles, Sayang. "Bagaimanapun dia kakakku."


"Aku tak percaya ini. Kakak yang hampir putuskan jari adiknya? Hedgar kejam padaku tapi tak akan berani memotong tubuhku."


"Apa kau tahu di mana dia?" Arumi Chavez takut ia lupa jadi buru-buru bertanya.


Tatiana memangku satu kaki. Satunya bertumpu di atas kepala pengawal Alana.


"Mengapa menekuk seperti tikus basah di sana?" hardik Tatiana pada Alana. "Ambilkan aku minum!"


Alana diam di tempat.


"Cepat! Apa kau mau aku minum langsung dari lehermu? Pasti lebih menyenangkan."


Alana Chavez melompat turun. Ia gemetaran mengambil gelas berisi minuman. Berikan pada Tatiana.


"Lihat wajahku baik-baik! Saat kau berencana jahat pada Nona Arumi, pikirkan apa yang akan aku lakukan padamu! Apalagi sampai ingin menggoda Archilles Lucca?! Gadis terakhir yang melakukan itu, berakhir di rumah sakit. Aku mengikatnya sepanjang malam di pohon oak." Tatiana mengetuk kepala Alana keras-keras. "Berlutut di sana! Angkat dua tanganmu!" perintahnya pada Alana yang menurut. Arumi Chavez menggaruk pelipisnya. Tatiana bersandar mulai minum. Gerakannya anggun.


"Apa kamu tahu di mana dia?" ulang Arumi dengan harapan tinggi.


"Tidak." Goyangkan gelas di tangan. "Dia tinggalkan pesan. Jika aku mencintainya, aku tak akan menemukannya. Dia akan tinggalkan masa lalu kotor, lupakan semua. Dan aku termasuk di dalamnya. Dia akan memulai hidup baru dan tak akan kembali. Dia minta aku menghormatinya. Jika aku coba-coba ia minta aku lebih baik membunuhnya." Minum lagi. Meneguk sampai tandas bersama air mata. Arumi melihat wanita itu bersedih.


Arumi Chavez melirik tangannya.


"Hari yang buruk."


"Ikuti konsep aku mencintainya. Itu tak akan menyakitimu lebih jauh." Tatiana bangkit, rapikan rok. "Aku menelpon polisi. Biarkan gadis ini dalam sel dan direndam seharian. Ia tak akan menyentuhmu lagi."


"Aku tak ingin berurusan dengan Tuan James Chavez."


"Kalau begitu, lihat apa yang akan dilakukan Laurent Vincenti. Dia tak akan tinggal diam. Semua kami tahu, betapa loyalnya pria itu pada anaknya. Aku yakin dia akan lakukan hal yang sama padamu."


"Aku punya kucing, namanya Tatiana." Arumi berkata tiba-tiba.


"Aku tidak heran." Tatiana berpaling. "Tak masalah bagiku selama dia semirip aku. Tidak lemah dan kau tahu sedikit ekstrim. Kebetulan aku suka mencakar seseorang."


Tatiana pergi ke arah pintu. Mengancam Alana dengan dua cakaran hingga kakak tirinya pejamkan mata ketakutan.


"Jangan sampai kita bertemu lagi. Aku akan memakanmu hidup-hidup."


"Tatiana ..., please!" Arumi Chavez berdecak sebab Alana sampai mengompol kena gertakan Tatiana. Astaga.


Setengah jam berlalu, mereka berada di kantor polisi. Tatiana lebih dahulu berikan keterangan sebagai pelayan tempat hiburan.


James Chavez dan Laurent Vincenti datang bersamaan.


"Alana? Arumi?"


"Arumi?!"


Dua-duanya memanggil namanya. Walaupun James Chavez terlambat beberapa detik. Itzik Damian dan Young Vincenti di dalam sel bersama berdampingan dengan sel berisi teman-teman Alana termasuk dua pengawal dan beberapa preman. Alana duduk dengan wajah pucat pasi.


"Ayah ...." Arumi Chavez berlari ke arah dua pria dan memeluk Laurent Vincenti biarkan James Chavez memeluk angin. Apa yang pria itu harapkan darinya?


"Arumi ..., harusnya tak aku biarkan kamu pergi tadi. Apa kamu baik-baik saja, Nak?"


"Kepalaku sakit. Pengawal Alana meninju kepalaku." Arumi mengadu. "Dan petugas di sana terus bertanya hingga aku semakin sakit kepala. Dia terus membentakku. Bisakah kita pergi?"


Laurent Vincenti berpaling pada James Chavez yang menatap mereka dengan pandangan kosong.


" Baiklah. Sebelumnya, tunjuk yang mana pria itu! aku akan patahkan tangannya!"


"Dia pingsan."


"Baik, Arumi, mari buat dia tak pernah bangun lagi dari pingsan. Di mana dia?" Laurent Vincenti pegangi tangan Arumi. Wajahnya menyeramkan semakin buat Alana ketakutan sedang Ayahnya tak berikan dukungan sama sekali. Laurent Vincenti menghadap opsir. "Di mana pria yang lakukan kekerasan pada Puteriku?"


Laurent Vincenti tak berniat membalas Alana. Gadis itu punya luka batin mendalam. Tetapi ia perlu bertindak agar Alana tidak berani lagi menyentuh Arumi. Apalagi sampai terobsesi sakiti Arumi.


"Dia dalam sel. Kami akan mengurusnya, Tuan!"


"Kami tak akan menuntut! Bebaskan saja dia dan semua yang terlibat!"


"Tidak bisa begitu, Tuan! Kami butuh mencatat keterangan terlebih dahulu."


Laurent Vincenti menarik kerah baju petugas.


"Sementara Puteriku kesakitan, kau terus ajukan pertanyaan bodohmu padanya. Dan membuatnya tambah tertekan. Apakah ... kalian manusia?"


"Sir, ini prosedurnya!"


"Per-se-tan dengan prosedur. Pertama, kasusnya aku tutup. Beritahu pemilik tempat hiburan, kami akan ganti rugi dua kali lipat. Kirimkan tagihannya padaku. Kedua, bebaskan semua yang terlibat. Kami tidak menuntut. Masalahmu selesai. Aku akan bawa Puteriku ke rumah sakit sekarang."


"Tuan ...."


"Apa masalahmu?"


Laurent Vincenti melangkah bawa Arumi bersamanya. Sampai di depan Tuan James Chavez.


"Bawa Puteri Anda pulang dan nasihati Puterimu untuk tidak coba-coba mengganggu Puteriku lagi, Tuan Chavez. Ayah gadis ini seorang gangster yang tidak sabaran. Jangan mengujinya. Dan tolong, kirimkan semua pria brengsek itu padaku."


"Tuan Vincenti kecuali dua pengawal, aku tidak tahu siapa mereka."


"Tanya pada puterimu. Dia lebih tahu. Jangan sampai aku bertanya sendiri pada Puterimu!"


"Aku akan mengurus mereka karena Arumi juga Puteriku."


"Maafkan aku mengkritik sikapmu, Tuan Chavez. Jika kamu lebih perhatikan Alana, mungkin, Alana akan hentikan dendamnya pada Arumi. Perhatikan hal ini saja dulu."


Arumi Chavez berbaring malamnya di atas tempat tidurnya setelah minum obat. Kepalanya dibebat. Tatiana mendengkur ringan di sampingnya. Setiap kejadian hari ini berputar kembali.


Tatiana dan Tuan Laurent Vincenti, Alana dan Tuan James Chavez.


Dan kembali pada Archilles Lucca. Selalu berpusat pada pria itu.


Malam ini, ia hanya akan bawa Archilles Lucca menyeberang ke dalam dunianya. Ia akhirnya melakukan yang dilakukan Tatiana.


Dalam dunianya, Archilles Lucca miliknya sampai kapanpun. Ia tak akan peduli sisanya.


Pejamkan mata ....


***


Ini banyak sekali yang aku cut takut panjang dan ditolak review-nya. Maafkan aku ya kalau agak gimana bacanya. Serius, maunya gak up hari ini. Tetapi, aku yakin kalian yang mencintaiku pasti nunggu.