My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 117. Till Death Apart Us



"Archilles Lucca?!" Arumi Chavez separuh berlari pada Archilles dan menubruk tubuh pacarnya keras. "Apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Apa kamu terluka? Ayshe, lakukan sesuatu!"


Ayshe terpaku. Berpikir apa yang harus dia lakukan? Archilles penuh darah tapi bukan darahnya.


"Ayshe, jangan diam saja. Ambilkan aku plester!" Gadis itu menjerit lagi pada Ayshe.


Bagi Arumi Chavez satu-satunya pengobatan terbaik bagi Archilles adalah plester.


"Nona, aku baik-baik saja! Kita tak butuh plester karena aku tidak luka."


Archilles Lucca dekap Arumi Chavez erat-erat. Bagaimana bisa Abercio menantangnya ikut sertakan Arumi Chavez ke Paris ke sebuah 'pesta' yang dari caranya bicara dan bahasa tubuh mengarah pada hal gila? Harusnya ia menembak kepala pria itu agar berhenti pikirkan hal-hal liar tentang Arumi Chavez.


"Kau selalu buat aku ketakutan, Archilles Lucca? Apa Tuan Abercio mengganggumu? Bisakah kita pergi saja, Archilles Lucca?"


Mereka berpelukan. Gerimis mulai turun, Archilles membawa Arumi masuk. Dalam lima belas menit semua orang duduk kembali di tempatnya seperti semula. Tanpa ada yang bisa berkata-kata. Semua orang shock pada apa yang baru saja terjadi. Perdana Menteri mengambil inisiatif untuk tidak pergi sebelum masalah terselesaikan.


Salsa Diomanta meminta Ayshe bawakan kotak obat dan diberikan pada Nyonya Benjamin yang langsung bersihkan Abercio dari darah.


"Tuan Benjamin, Tuan Maurizio, ini sungguh situasi yang sangat canggung dan tidak begitu baik." James Chavez jelas tidak sukai perkelahian, keributan apalagi senjata. Di Chavez area, senjata api dilarang dan pembuat keonaran dengan senjata tajam akan dikirimkan ke ruang isolasi sampai mereka menyesal dan berjanji tak akan gunakan senjata lagi. "Tak ada yang boleh pergi dari sini karena menurutku masalahnya harus diselesaikan agar tak timbulkan hal serupa."


"Dengan rendah hati, aku mohon, maafkan kelakuan Puteraku, Tuan Chavez." Suara Maurizio Lucca sangat rendah. Ia lalu berpaling pada Perdana Menteri. "Maafkan sikap semena-menanya pada Tuan Abercio. Aku akan menghukum Puteraku dengan keras, Tuan Benjamin."


"Ini mungkin masalah anak muda, Tuan Maurizio. Aku yakin mereka cuma salah paham. Beberapa persahabatan dimulai dari pertarungan sengit." Benjamin Jacquemus menatap Abercio tajam sedang istrinya bersihkan darah dari wajah puteranya.


"Maaf aku tidak sopan, Tuan Chavez. Kami berpikir, sudah salah hadir di acara seseorang." Maurizio Lucca menahan getaran emosi.


"Tuan Maurizio ..., aku hanya berharap kita makan malam dengan tenang dan bertukar pikiran."


"Puteraku merusaknya. Sikap bar-bar tak bisa dibenarkan. Aku ingin dengar alasan Archilles. Hanya saja, aku sangat mengerti Puteraku. Archilles mungkin tersinggung dan terluka hatinya. Anda sekalian perlu dengarkan kenyataan ini. Kami telah lebih dahulu melamar Nona Arumi Chavez awal bulan Februari di sini untuk putera kami. Aku menyimpulkan bahwa Tuan Perdana Menteri sepertinya datang dengan maksud yang sama." Tuan Maurizio Lucca walaupun geram terlihat tenang saat berkata-kata.


"Nyonya Salsa beritahu kami semalam bahwa Nona Arumi sudah punya pacar dan akan segera menikah dalam waktu dekat. Aku tak menduga, Puteramu yang dimaksud Nyonya Salsa. Aku menilai undangan makan malam kemari lebih untuk menjalin kekerabatan. Bukan hanya dengan Tuan dan Nyonya Chavez juga Diomanta tetapi dengan Putera terbaik dari Càrvado. Puteraku pasti memancing amarah Putera Anda."


Abercio bendung gerangan tidak setuju dari sebelah. Archilles melipat tangan di dada. Di sana tangan kiri Arumi Chavez ia sembunyikan. Matanya awasi Abercio tanpa berkedip.


"Aku tetap akan bersama pacarku," kata Arumi Chavez tiba-tiba. "Ibuku berpikir aku tidak realistis. Berpikir aku mungkin akan menyukai Tuan Aleix atau pria lain selain Archilles. Sangat menyesal aku katakan hanya akan menikahi Archilles Lucca. Tolong hormati keputusanku."


Abercio sangat murka.


"Undangan ini pada kami sengaja untuk permalukan kami?" tanya Abercio secara langsung menyerang Salsa Diomanta. Sesekali meringis kesakitan. Abercio tak sabar, murah hati seperti Perdana Menteri atau kalem macam Aleix. Dia macam pecandu narkoba suka meledak-ledak dan mudah marah.


"Apakah penyampaian-ku semalam salah, Tuan Aleix? Atau Tuan Perdana Menteri salah menanggapi?" Salsa Diomanta keheranan. Tuan James Chavez segera sadari bahwa istrinya sengaja ingin permalukan perdana menteri. "Kita punya kesepakatan selain dekatkan diri satu dengan yang lain, Tuan Aleix akan biarkan Puteriku ingin bersama siapa?"


Percayalah, tanduk Salsa Diomanta sedang tumbuh di kepalanya, mencela dengan mata tindakan Archilles Lucca.


Apakah kau ingin membunuh orang di depan mataku? Terang-terangan? Apa kamu tak mengerti 'api dalam sekam'? Mengajaknya minum kopi di suatu tempat dan membunuhnya? Hendak menembaknya di mansion ini dan biarkan kita jadi bulan-bulanan? Mengapa lebih serampangan sekarang setelah jadi pria bermartabat dibanding dulu ketika jadi pengawal rendahan?


Archilles Lucca akui kekeliruannya. Gumpalan emosi yang buruk sejak lama dan dendam pada Abercio buatnya hilang logika.


Salsa Diomanta sepertinya tak sendirian sebab Nastya Lucca punya tanduknya sendiri. Cara pandang dari sudut pastikan akan menamparnya setelah ini. Atau bukan dirinya yang dituju tetapi Salsa Diomanta.


"Abercio, tenanglah. Kita hanya datang untuk menjalin hubungan baik," tegur Perdana Menteri.


Salsa Diomanta menatap sinis pada Abercio Jacquemus merendahkan pria itu.


"Cukup salah menyentuh Puteriku, Tuan Abercio. Bukankah harusnya kamu berlutut dan minta maaf karena rencana jahatmu pada Puteriku?"


"Anda bicara tanpa bukti! Tak ada apapun!"


"Jangan coba menantangku!" bentak Salsa marah. James Chavez menatap ke sebelah. Tak bisa meraih Salsa yang terbakar.


"Mari kita selesaikan di sini. Apa yang sedang Anda rencanakan pada Puteriku? Aku berharap Perdana Menteri bersikap layaknya seorang Ayah pada rakyatnya."


"Salsa ..., tenanglah!"


"Archilles, bisakah kita pergi?" tanya Arumi Chavez mulai gelisah.


Abercio Jacquemus bangkit berdiri.


"Mari pulang, Ayah!"


"Tidak, Abercio. Duduklah! Selesaikan masalah ini agar setiap dari kita bisa lanjutkan hidup."


"Apa yang perlu aku selesaikan?" tanya Abercio keras kepala. "Biarkan aku diliput media, dipukuli oleh tamu lainnya di sini. Kita akan lihat pada siapa media berpihak?"


"Media hanya akan berpihak padaku bukan padamu, Abercio! Aku selalu meneriakimu soal moral orang muda di negeri ini yang perlu dibenarkan. Minta maaf pada siapapun di mana kamu berutang kesalahan!"


"Ayah tak akan lakukan itu, buat aku berlutut di rumah orang lain?"


"Sayang, kendalikan dirimu!"


Perdana Menteri melihat kekerasan hati puteranya. Wajahnya berubah sedih. Pria itu membuat keputusan yang mencengangkan semua orang. Berlutut menghadap Arumi Chavez.


"Ayah?" keluh Abercio gusar.


"Ayah?" Aleix pergi ke sisi Ayahnya. "Ayah, aku akan gantikanmu. Jangan lakukan ini!"


"Nona Arumi Chavez ..., puteraku tersesat oleh keserakahan. Aku bisa mengatasi masalah jutaan penduduk negara ini, tetapi tak bisa kendalikan puteraku sendiri. Anda pasti telah banyak lalui kesulitan karena keterlibatan puteraku. Anda dan orang tua Anda, aku percaya miliki hati, kasihani aku yang lelah. Beri aku kesempatan untuk mendidiknya. Mengirimnya ke penjara atau neraka tak akan mengubah kejahatannya. Aku mengutik tiap perbuatan yang sebabkan kesakitan di hati Anda, namun tak cukup berani mengutuknya karena dia puteraku sendiri."


Dan itu bukan drama. Semua orang bisa melihat ketulusan hati Benjamin dan niat perbaiki hubungan.


"Tuan Benjamin, tolong bangunlah!" James Chavez membantu pria itu berdiri.


Pada akhirnya tak ada makan malam. Siapa yang bisa menelan makanan dengan aman setelah pertikaian terjadi.


"Archilles minta maaf pada Tuan Abercio!" Suruh Tuan Maurizio keras tak ingin dibantah.


"Ya, Abercio akan lakukan hal yang sama," sahut Perdana Menteri.


Kedua pria itu berdiri hadap-hadapan. Mata kiri Abercio bengkak. Hidung bengkok dan ada lebam trauma pasca terkena tinju Archilles Lucca.


"Maafkan aku, Teman," kata Archilles Lucca penuh cemoohan. "Biasanya aku membunuh setiap pria yang inginkan milikku! Ledakan otak bagi yang memikirkan kekasihku! Aku baru bikin pengecualian."


"Pria sangat hebat. Maafkan aku, juga. Pacarmu sangat beruntung ya, miliki kekasih protektif macam dirimu. Caramu menutupi dosa perlu dijadikan pedoman."


Archilles Lucca menegang. Hari ini sangat na'as. Tangan mengepal.


"Andai Arumi Chavez tahu seorang p3l4kcur naik ke tubuhmu di Darling Island dan mencium pipimu di suitemu? Apa dia akan biasa saja? Oh, aku lupa. Gadismu mana mengerti hasrat pria dewasa?"


Bug!!!


Bug!!!


Bug!!!


Dua tiga tinju kekuatan penuh ditumbukan pada bibir Abercio. Terakhir dagu Abercio hingga pria itu semburkan darah.


"Archilles?!"


"Harusnya kutembak mati saja tadi!"


Perdana Menteri pergi tak lagi pamitan menyeret Abercio sangat kesal. Mendorong puteranya ke dalam mobil. Mengatur mobil pergi lewat depan untuk alihkan perhatian agar mobil mereka bisa lolos lewat belakang.


Tak ada yang berniat bicara setelah kepergian keluarga Benjamin Jacquemus.


"Arumi pergilah ke atas!"


Arumi Chavez menarik napas panjang. Benarkan? Archilles Lucca bersama seorang wanita malam itu? Tuan Abercio tahu dan mengancam Archilles makanya ia dipukuli karena ketahuan Abercio.


Begitukah?


Apa selera Archilles serendah itu? Arumi pikir lagi? Menyipit pada kekasihnya! Mereka bisa bersama semalam. Tapi, Archilles sama sekali tak mengambil kesempatan.


Lupakan, Arumi Chavez. Tuan Abercio orang asing, bisa saja mengada-ada untuk pisahkan mereka agar Arumi memilih bersama Aleix.


Ini macam di serial-serial murahan.


Dari pernyataan Tuan Benjamin, Abercio rencanakan kejahatan padanya. Archilles dan Ibunya tahu. Alasan keduanya bertengkar tadi pagi.


Jadi, Archilles dan Ibunya satu tim sekarang? Lalu, apa yang dua orang ini perdebatkan?


Mereka sengaja mainkan drama 'undangan makan malam dan Arumi Chavez memilih' untuk peringati keluarga Tuan Benjamin agar tak mengganggunya. Tuan Abercio juga terlibat sekte sesat?


Apakah Ibunya sengaja menyuruh Archilles memukuli Abercio?


Bukankah itu tindakan bodoh?


"Ini semua salahmu, Ibu! Anda selalu ingin Archilles lakukan sesuatu yang berbahaya!"


"Itu tidak benar."


"Berhenti memanipulasi Archilles atas namakan aku dan mendorongnya bertambah buas."


Arumi Chavez menatap Ibunya jengkel.


"Pergi ke atas, please!"


"Salsa ... beraninya kamu? Mainkan drama tolol ini dan libatkan kami? Apa ini? Mendorong Puteraku lakukan kejahatan?" tegur Nastya Lucca baru sekali ini terlihat marah dan terluka.


"Archilles tentukan nasibnya sendiri, Nastya. Keputusannya datang dari dirinya sendiri."


"Ini tidak benar Salsa." James Chavez mengkritik keras istrinya.


"Kamu tak akan tahu rasanya ketika Puterimu diculik oleh sekawanan orang gila."


"Itulah mengapa, menjauh saja dari dunia gelap itu Salsa! Jika kamu tidak menarik perhatian, mereka tak akan berani dekatimu!"


"Apakah aku bicarakan sesuatu yang lain, Tuan Chavez?"


"Tuan Perdana Menteri bukan sembarang orang yang bisa kamu serang, Salsa."


"Apa aku harus peduli?"


"Caramu salah, Salsa."


"Tunjukan aku jalan yang benar menurutmu, Tuan?"


"Alih-alih dapatkan maumu, kamu bisa dalam masalah karena berhadapan dengan seseorang yang sangat dicintai negara ini. Bukan dari Perdana Menteri, fans fanatiknya yang tak akan terima, pria idola mereka dipermalukan atau disepelekan. Kamu terlalu ekspresif hingga bahayakan dirimu sendiri." Berpaling pada Archilles Lucca. "Anak Muda ..., yang tadi itu sangat mengerikan. Tak boleh terulang seberapa marahnya kamu."


"Maafkan aku, Tuan Chavez."


"Bagaimana jika, kamu dituntut karena penganiayaan? Kita bisa dituding berkomplot untuk sebuah kasus pelenyapan. Jaman sekarang, memulai konspirasi sangat mudah. Terlebih mansion Diomanta sedikit tinggalkan perspektif 'negatif'. Benjamin adalah orang penting. Sadarkah situasi ini?"


"Ikut dengan kami, Archilles. Kita perlu bicara."


"Salsa, jangan pengaruhi puteraku lagi. Tolong, jangan lakukan ini!" Nastya Lucca mengelus dadanya. "Aku akan kehilangan Chaterine sesewaktu dan Archilles tersisa bagiku. Bayangkan jika kamu miliki seorang putera? Dan seseorang menaruh kalung di lehernya untuk mengekangnya berbuat jahat?"


"Archilles, pulang bersama Ayah dan Ibumu! Sejak hari ini, kamu tak akan aku ijinkan lakukan hal-hal yang bisa membuat kami kehilanganmu. Pergilah keluar negeri dan belajar!"


"Ayah ...."


"Hubungan ini tidak sehat, Archilles Lucca."


"Kami saling mencintai."


"Tak ada yang ragukan cintamu dan Nona Arumi. Masalahnya ada pada Salsa. Sepertinya tidak ikhlas menerimamu."


"Kesimpulan yang menyudutkan aku!" balas Salsa berdecak.


"Aku akan bersama Nona Arumi dan menikahinya di hari ulang tahunnya yang ke 16."


Semua ini akan berakhir dengan pernikahannya pada Arumi. Soal pengorbanan yang ia lakukan, ia tak akan menghitung satupun. Tetapi, semua yang ia perjuangkan adalah agar bisa bersama Arumi Chavez.


"Apakah kami menentang? Anda berdua akan menikah sesuai rencana. Namun, aku tak akan biarkan Puteraku tinggal di sini kecuali Salsa mengubah pandangannya padamu dan tidak perlakukan mu dengan seenak hati."


"Apakah, puteraku tampak bagai boneka bagimu, Salsa?" tanya Nastya Lucca gusar. "Apakah kamu berencana singkirkan puteraku pelan-pelan? Aku pikir kamu berubah, Salsa."


"Bagaimana kalau kita dengar pendapat Arumi Chavez? Bagaimanapun ini berkaitan dengan Arumi." Tuan James Chavez berusaha memahami Salsa. Namun, mereka selalu berselisih tiap saat. Salsa selalu ingin menguasai semua orang.


Terkejut ketika namanya disebut, Arumi mengangkat kepala. Bengong untuk beberapa saat.


Archilles Lucca dan Ibunya punya cara masing-masing melindunginya. Archilles hanya terlalu patuh pada Salsa Diomanta. Ada sesuatu di antara keduanya yang tidak diketahui Arumi Chavez. Ibunya memang suka mengintimidasi Archilles. Mungkin ini lebih buruk dari itu.


Ibunya seperti, "Kamu boleh menikahi Arumi Chavez asalkan ...." Ibunya adalah karakter antagonis yang selalu mengganggu ketenangan pemain utama. Awalnya Arumi paham ibunya tak suka Archilles karena ingatkan Salsa pada Ebenn.


Semakin lama, semakin tidak masuk akal saja. Sampai ia tahu apa yang terjadi sebenarnya, Arumi punya keyakinan, Ibunya telah berulang kali menyakiti Archilles. Hanya saja, Archilles tak bicarakan satu katapun asal bisa bersamanya.


Bukan tidak mungkin suatu waktu Archilles akan terluka dan mati bila terus hidup dekat dengan Ibunya?


Archilles Lucca perlu mengambil waktu tinggal bersama Nyonya Nastya dan Tuan Maurizio agar bisa belajar cara hidup yang benar dan baik. Lupakan dan tinggalkan kejahatan di belakangnya. Tetapi, pria itu tidak akan pergi selama Arumi adalah pengikat.


No! Aku tak bisa kehilangannya!


"Archilles, mari kita berpisah untuk sementara waktu."


Tentu saja Archilles Lucca sangat terperanjat.


"Aku rasa ini akan jadi permulaan bagus bagi semua orang tetapi bukan akhir dari kita."


Terlalu tiba-tiba. Apakah Arumi Chavez marah. Merasa dibohongi?


"Nona ..., Abercio bohong soal yang terjadi di Darling Island. Dia hanya ingin Anda marah padaku. Hanya ingin kita berpisah."


"Archilles ..., aku tak tahu apa yang kamu lakukan di belakangku."


"Tak ada yang aku sembunyikan darimu, Nona."


"Kamu dan Ibuku punya rahasia yang tidak aku ketahui. Menjengkelkan karena Anda berdua terus menganggapku anak-anak."


Andaikan Arumi tahu bahwa kedua orang itu menjaga mentalnya. Pikirkan kondisi psikologis.


"Karena, aku tak ingin bebani Anda dengan masalah kami."


"Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Archilles? Kamu mengejar semua orang dari hari itu?" tanya Arumi Chavez.


"Ya."


"Aku tidak ingin kamu mati terbunuh, Archilles."


"Nona ...."


"Aku tak bisa tinggalkan ibuku karena sikapnya akan membuatnya kehilangan semua orang. Bisakah tinggalkan Soria dan pergi bersama kedua orang tuamu? Bisakah tinggalkan dunia kelam-mu, dendam untukku dan mulai hidup yang baru?"


Archilles Lucca miliki kebaikan, kelembutan, tanggung jawab, penyayang seakan diwariskan langsung dari Tuan Maurizio Lucca. Tetapi, akan semakin sempurna jika kekasihnya tinggal dalam lingkungan dan cinta kedua orang tuanya agar bisa menerima lebih banyak kasih sayang mendalam dari keduanya. Di bawah pengaruh Salsa Diomanta, Archilles memang putera Tuan Maurizio Lucca tetapi tanpa martabat dan harga diri karena bagi Ibunya, Archilles Lucca hanyalah bekas penjahat yang menjadi pengawal. Ibunya selalu ingin Archilles salah langkah agar bisa menendangnya sampai pincang.


"Nona ..., kita akan lakukan itu setelah menikah."


"Lalu, mau beritahu aku, apa yang kamu lakukan agar bisa menikahi aku, Archilles Lucca? Apakah membunuh semua orang yang menyakitiku sesuai keinginan Ibuku?"


Archilles Lucca terperangah. Matanya mengecil. Ia meraih tangan Arumi Chavez. Mengecup perlahan.


"Aku tak butuh perintah siapapun, Nona. Aku, penjagamu dan akan melindungimu sampai kapanpun."


"Apa jadinya jika kamu terbunuh? Apakah masih bisa menjagaku?"


"Mari kita pergi dan bicarakan semuanya."


"Tidak! Aku akan serahkanmu pada Tuan Maurizio dan Aunty Nastya. Percayakan mereka menjagamu untukku. Aunty Nastya tak akan khianati aku bahkan dibanding Ibuku sendiri. Kita mungkin akan menderita setelah ini. Kita akan bertahan. Saling menunggu dengan sabar hingga kita bersama suatu waktu. Aku bisa pergi keluar negeri dan belajar akting."


Archilles Lucca terlalu cinta dan mulai ketakutan saat Arumi Chavez tiba-tiba menjelma menjadi gadis dewasa.


"Tidak, Nona Arumi Chavez," geleng Archilles Lucca. "Jangan lakukan ini padaku! Di luar terlalu berbahaya. Aku tak bisa biarkan Anda sendirian."


"Ibuku bisa temukan seseorang yang kompeten untuk lindungi aku!"


"Tak pernah ada yang seperti itu untuk menjaga Anda kecuali aku, Nona! Semua yang disiapkan Nyonya Salsa tidak cukup baik menjaga Anda. Alasan Anda diculik dan aku nyaris kehilangan Anda." Archilles Lucca menggenggam tangan Arumi Chavez. "Kami butuh udara segar! Tolong makan malam dengan damai karena Nyonya Salsa bekerja keras siapkan makan malam."


Membawa Arumi Chavez menaiki mobil dan tinggalkan Mansion. Keluar lewat jalan belakang. Dua mobil lain ikut dari belakang atas perintah Tuan Maurizio Lucca. Agathias Altair dan Reynaldo Santos. Di belakangnya Alfredo Alvarez dan seorang lagi buntuti. Archilles m3nd3s4h. Pengamannya berlapis.


Sepuluh menit berlalu, masuki jalanan tol R. de São Geraldo menuju Av. da Imac Conceiçao, mobil melaju menuju pantai Sao Jacinto. Archilles kirimkan pesan pada Mr. H bahwa ia akan gunakan vila itu. Archilles pernah ke sana antarkan Mr. H dan Irish Bella.


"Kemana kita pergi?"


Archilles Lucca tidak menyahut. Diam saja sambil mengemudi.


"Kamu kesal padaku?"


"Apa aku bisa kesal padamu, Nona?" tanya Archilles lagi. "Mari kita menghirup udara pantai sambil pikirkan segala hal. Jika Anda masih ingin aku menjauh. Maka aku akan ikuti maumu."


***