My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 53. The Triangle Love Story



Kesadarannya kembali. Ia menggeliat sedikit. Hal pertama yang didengar oleh kupingnya adalah desah napas memburu. Napasnya sendiri. Udara sangat pengap dan panas. Ia tak bisa melihat apapun dalam ruangan gelap ini atau setidaknya itu pikiran Arumi. Ia disekap seseorang dalam ruangan sempit.


Kaki yang terkilir semakin nyeri karena ditekuk dalam satu posisi. Semakin menjadi-jadi hingga Arumi mengerang. Ia bernapas kesakitan karena aroma debu dari pel dan sesuatu yang menyiksa. Meraba-raba dalam kegelapan menyentuh sesuatu berbulu.


"Arggghhh ...."


Arumi menjerit kaget. Mendorong tubuhnya menjauh dari benda aneh itu. Arumi meraba-raba dinding. Lebih mirip lemari alumunium. Ia mulai menjerit panik, memukul-mukul dinding lemari.


Terbatuk-batuk. Ia tak tahan pada butiran debu lembab dan kejam yang menyerangnya secara brutal.


"Archilles?! Aku di sini!"


Menunggu sahutan dalam ketakutan. Tak ada apapun. Arumi pegangi tengkuk. Ada cairan di sana. Darahnya. Menit-menit menyiksa mentalnya.


"Archilles?! Aku akan mati di sini, tolong aku!"


Arumi yakin ia terjebak dalam lemari. Tangannya menggendor berkali-kali.


"Tolong aku!!! Tolong!!!"


Tak ada apapun.


"Ethan?! Ethaaannnnnn?!"


Arumi berteriak semakin kuat. Ethan Sanchez masih di sekolah, di ruangan basket. Pria itu akan datang meski hubungan mereka berakhir, pria itu setidaknya akan menolongnya demi rasa di hari kemarin.


"Ethannnnnnnn?!" pekik Arumi sekencang-kencangnya tetapi sepertinya percuma. Ethan di lantai satu dalam ruangan olahraga sedang ia di ruangan lab. Terpisah cukup jauh.


"Archilles?! Kau di mana?!"


Arumi Chavez tak mampu mengontrol diri. Pikiran negatif sangat cepat melahap dirinya. Bayangkan ia akan mati dalam lemari tanpa ada yang tahu. Bagaimana jika Archilles terlambat menemukannya? Arumi diserang panik. Sangat cepat kehabisan napas. Gadis ini hanya tak tahu bahwa semakin ia bergerak oksigen semakin menipis untuk dihirup. Arumi lepaskan jas, juga seragam sekolah karena kepanasan. Tangannya gemetaran saat lepaskan sepatu.


"Archilles?! Kamu di mana?!" Ia mulai menangis ketakutan. Ia akan mati dalam kotak ini. "Archilles?!"


Arumi bersandar ke dinding, ia menangis dalam kegelapan. Pukulannya makin lemah sebelum ia tak sadarkan diri.


Sementara, kaki-kaki panjang atletis turun dari mobil, melangkah cepat menuju kelas Nona Arumi. Sekolah sangat lengang saat ia tiba pertanda jam pelajaran telah lama selesai dan semua murid telah kembali pulang ke rumah masing-masing. Juga karena kecelakaan terjadi di jalur utama sebabkan kemacetan. Harusnya ia tak usah ikut Anna ke klinik.


Tangannya terus lakukan panggilan tetapi ponsel Nona Arumi tidak diangkat. Hati mulai gelisah tak tentu arah.


Ketika akhirnya ia sampai di kelas, ia terus terang semakin panik. Tas Nona Arumi masih di bangku tetapi gadis itu tidak ada di ruangan kelas. Ia jelas rasakan bahaya.


"Atau Nona hanya ke toilet. Cobalah tenang!"


Nadinya berdesir dengan cara aneh. Ada perasaan sangat kuat bahwa sesuatu sangat buruk pasti telah terjadi.


Memeriksa ke toilet. Nona Arumi mungkin di sana. Masuk ke dalam toilet yang menyambutnya dalam keheningan. Hanya bunyi tetesan air sesekali terdengar dari keran yang tidak ditutup rapat.


"Nona Arumi? Apa Anda di dalam?" panggil Archilles pelan.


"Nona Arumi? Apa Anda di dalam?" sekali lagi lebih keras. Tak ada sahutan. Putuskan memeriksa dari pintu ke pintu bilik ruangan toilet tersebut. Tak ada Nona Arumi.


Archilles kembali ke arah kelas, saat itulah ia mendengar sesuatu. Ada aktivitas di ruangan olahraga. Mampir ke kelas dan mengambil tas Nona Arumi. Berlarian menyusuri koridor. Apakah Nona menonton para murid bermain basket? Semoga.


Archilles kehilangan ketenangan begitu sampai di sana, tak ditemukan Nona Arumi hanya Nona Sarah Jessica satu-satunya murid perempuan.


Matanya mencari-cari pastikan penglihatannya. Kedatangan Archilles menarik perhatian semua orang terlebih Ethan Sanchez dan Young Vincenti.


"Apa sesuatu terjadi?" tanya Ethan Sanchez lepaskan bola di tangan hampiri Archilles. Tatapan mata Ethan beralih pada tas Arumi di tangan Archilles.


"Aku tak temukan Nona Arumi di manapun."


"Anak-anak telah pulang sekolah sejak tadi, Archilles. Hanya sisa kami karena ada latihan." Ethan Sanchez menahan aura gelisah di atas wajah tampannya. Ia berbalik pada Sarah seakan jadikan gadis itu patokan agar tak ekspresikan emosi lain.


Young segera berbalik dan datangi mereka.


"Arumi bersihkan laboratorium sepulang sekolah," kata Young membantu Archilles lega sedikit. "Tetapi, bukankah ini terlalu lama?" tambah Young.


"Trims Young," sahut Archilles.


"Tunggu Lucca. Ini menyedihkan, kamu perlu tahu. Gara-gara perebutkan ketua OSIS kami Arumi harus bersihkan lab tetapi Ketua OSIS tak peduli padanya hingga Arumi menangis siang tadi di mejanya. Ternyata mereka putus dan pacarnya punya gandengan baru."


Young menutup mulut rapat-rapat saat Ethan Sanchez lemparkan tatapan menukik.


"Berkomentar hanya jika kamu tahu masalahnya, Young!" tegur Ethan Sanchez.


"Trims, Young. Aku akan mencarinya di laboratorium." Kepada Ethan, Archilles mengangguk. "Aku pergi, Tuan Ethan. Maaf mengganggumu."


Ethan Sanchez tampak ingin menyusul tetapi mereka sedang dalam latihan. Memanggil Young kembali masuk dalam tim. Bermain sebentar, Ethan Sanchez akhirnya tidak tenang memilih keluar dari lapangan sedang Young Vincenti secara mengejutkan bolos dari sesi latihan terakhir setelah pamitan tak sopan.


Archilles Lucca pergi ke laboratorium. Melongok lewat kaca ke dalam ruangan yang sepi. Tak ada gadis itu!


"Nona Arumi?" panggil Archilles. Kecemasan kian menipis dan ia akan meledak oleh sesuatu yang menggerogoti dirinya.


"Apa Arumi di sana?" tanya Young keras. Kini, Ethan Sanchez juga ikut di belakang.


"Tidak! Tak ada orang di sini." Archilles membuka pintu tetapi terkunci. "Pintu ini terkunci!"


"Aku akan mencari kuncinya," seru Ethan Sanchez dari bawah melangkah ke ruangan guru.


"Dia tak ada di dalam?" tanya Young keheranan.


Archilles memeriksa ruangan yang kosong. Matanya mencari-cari. Jika gadis itu pulang tasnya tak mungkin ketinggalan.


Ethan Sanchez kembali dengan banyak kunci.


"Kunci lab, aku tak tahu bagaimana bisa terjadi, tetapi sepertinya tak ada kunci lab di sini," keluh Ethan Sanchez. "Tak ada ruangan tersembunyi di dalam lab. Semuanya seperti yang kita lihat."


"Begini saja, aku akan mencari Arumi di atap sekolah. Dia terlihat patah hati! Siapa tahu, siapa tahu!"


"Simpan omong kosongmu, Young!" bentak Ethan Sanchez menarik atas baju Young mulai gusar.


"Tapi dia terlihat sedih setelah kamu datang ke kelas kami tadi dan tidak menegurnya!" kata Young bersih keras.


"Hentikan! Please!" Archilles masih sibuk dengan kunci. Akhirnya adalah tak ada satupun yang cocok.


"Sudah periksa toilet?" tanya Ethan mengatur napasnya.


"Tak ada," jawab Archilles. "Kuncinya juga tak cocok. Mengapa aku yakin Nona Arumi di dalam lab?" tanya Archilles bicara pada dirinya sendiri.


"Ya, kamu benar, Lucca. Lihat di dekat lemari. Pelnya masih di sana!" tunjuk Young bersemangat.


"Lalu di mana Arumi?" Ethan Sanchez, goyangkan handling pintu, mendorong dengan tubuhnya tetapi pintunya terlalu kokoh.


Archilles Lucca tak punya pilihan lain, menarik pistol dari balik jas. "Menjauh dari pintu Tuan-Tuan!"


Dua kali tembakan, pintu laboratorium rusak. Asapnya berterbangan.


Pintu didorong. Ketiganya memeriksa ruangan.


"Ada darah di sini?" Ethan Sanchez berjongkok. "Masih baru! Ya Tuhan, Arumi Chavez?" panggil Ethan ke dalam lemari.


"Bagaimana cara membuka pintu lemari ini?" tanya Young menyapu keliling laboratorium. Mencari sesuatu.


Archilles hampiri lemari. Ia mengetuk pelan, tak berharap Nona Arumi di dalam tetapi semuanya tampak masuk akal. Seseorang telah berhasil mencelakai Nona Arumi. Ia menggeram.


"Nona Arumi?" panggil Archilles pelan menahan gejolak dalam suaranya agar Arumi tak panik. "Nona? Apa Nona di dalam?"


Tak ada sahutan tetapi, sesuatu terdengar dari dalam. Suara erangan.


"Sh***! Lakukan sesuatu! Aku mendengar suaranya dari dalam." Ethan Sanchez berubah panik. Dengan tangan menyusuri lemari seakan berharap ada celah, tangannya bisa masuk. Ia lantas pergi ke laci-laci lab dan memeriksa sesuatu entah plat besi atau apapun.


"Kita tak bisa gunakan pistol karena bisa mengenai Nona."


Archilles mencari-cari sesuatu dalam tas Nona Arumi. Ditemukan plester, clip kertas dan jepitan rambut kecil. Tangannya meraba-raba ring kunci, lalu pada material full brass cylinder kunci. Gunakan keahlian mencongkel lemari besi gunakan clip kertas yang besinya telah diluruskan.


Beruntung terbuka meski butuh waktu dan pemandangan selanjutnya buat ketiganya tercengang.


"Arumi?!"


"Arumi?!" Ethan Sanchez separuh menjerit. Pria itu sangat marah. Membungkuk cepat.


"Nona ...," panggil Archilles segera lepaskan jasnya dan berlutut di hadapan gadis yang lemas kehabisan oksigen. Ia membungkus tubuh polos Arumi dengan jasnya. Memeriksa tanda-tanda vital.


"Dia masih bernapas," kata Archilles pada Ethan Sanchez yang terpaku di tempat seakan kehilangan akal sehat, pegangi kaki Arumi.


"Arumi?! Ya Tuhan, apa yang terjadi?" keluh Ethan Sanchez. "Mari kita bawa dia ke rumah sakit, Archilles. Yang terdekat di sini dua blok di depan." Ethan Sanchez ulurkan tangan akan menggendong Arumi tetapi Archilles lebih cepat. Sangat hati-hati menggendong Nona Arumi.


"Arumi?!"


"Nona ..., kita akan ke rumah sakit. Aku di sini, aku di sini! Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja!" Archilles ciumi dahi Arumi.


"Katamu cinta, apanya? Aku hampir mati!" gerutu Arumi sebelum hilang sadar.


"Maafkan aku, Nona. Maafkan aku! Maafkan aku!" Archilles mendekap Arumi Chavez mencium dahi gadis itu berulang kali diterpa gelombang ketakutan.


Reaksi Archilles jelas adalah pukulan tepat di jantung Ethan Sanchez. Ia segera terluka sangat dalam tetapi enggan ditampakkan. Disimpan sangat rapi. Pengendalian yang bagus.


Young amati kedua pria putuskan tak mau ikutan rebutan Arumi Chavez sebab saingannya berat-berat.


Atau untuk saat ini, ia akan menonton Ethan Sanchez dan Archilles Lucca sampai lelah lalu akan mencuri Arumi Chavez saat kedua pria ini lengah. Ide yang bagus Young. Ia akan berhenti bertarung dan sibuk menarik perhatian Arumi.


Mereka kemudian tinggalkan laboratorium menuju parkiran. Sarah menunggu di depan tampak gelisah.


"Kamu akan menyetir dan aku akan bersama Arumi," pinta Ethan Sanchez setelah bicara pada Sarah. Archilles lebih baik dalam menyetir.


Jadilah, Archilles dengan berat hati serahkan Nona Arumi dijaga Ethan Sanchez yang segera memeluk Arumi. Ia segera menyetir sambil menelpon rumah sakit untuk keadaan darurat.


"Siapa yang lakukan ini padamu?" tanya Ethan Sanchez singkirkan semua helaian rambut dari wajah Arumi. Tak ada tanggapan, Arumi telah pingsan lagi.


"Maafkan aku, Arumi," bisik Ethan Sanchez. "Maafkan aku harus begini akhirnya untuk kita."


Dari kaca spion semuanya tampak menyedihkan bagi Archilles. Ethan Sanchez, Nona Arumi dan dirinya sendiri. Berada dalam lingkaran saling menyakiti tanpa dikehendaki. Tetapi, dirinya yang terparah sebab Nona Arumi bisa tinggalkan dirinya sewaktu-waktu. Cintanya sangat nyata tetapi tak akan cukup menahan Arumi Chavez meskipun gadis itu mengikatnya. Ethan Sanchez butuh katakan sepatah dua kata, keduanya akan kembali bersama. Dan Archilles akan kembali mencintai dalam diam agar segala hal baik-baik saja.


Ia adalah pria yang diam-diam selalu perhatikan Nona Arumi, mendoakan gadis itu setiap hari dan mencintai secara rahasia meskipun kini Nona Arumi tahu perasaannya.


Mereka sampai di rumah sakit lekas disambut dokter dan perawat.


Tiga puluh menit kemudian, semua orang berkumpul di luar ruangan Nona Arumi sedang gadis itu di dalam, terbaring dengan banyak selang.


Archilles hanya mematung di depan kaca yang pisahkan bagian dalam dan luar. Nyonya Salsa, Marya Corazon dan Ethan Sanchez akhirnya pergi ke dalam ruangan. Nona Sunny berdiri tak jauh dari Nona Arumi setelah kedatangannya. Tak ada yang bicara hanya heningkan cipta. Tangan Nona Arumi digenggam erat oleh Ethan Sanchez. Tidak ada cinta yang mudah pergi hanya karena kata putus. Archilles masukan tangannya ke dalam saku celana, mengepal.


"Bagaimana semua bisa terjadi?" tanya Elgio Durante dari sisi kanannya bantu dirinya kurangi rasa nyeri di dada.


"Semua ini salahku," sahut Archilles. "Aku terlambat datang menjemput Nona. Harusnya aku berdiri depan kelasnya tadi pagi dan tak pergi kemana-mana sekalipun Nona Arumi mengusirku!"


"Kejahatan bak pencuri, bisa terjadi kapan saja. Jangan salahkan dirimu!" hibur Elgio Durante menepuk pundaknya.


"Aku lengah dan berikan kesempatan pada kejahatan. Apa yang menimpa Nona Arumi karena kelalaianku, Tuan."


"Dia akan baik-baik saja, Archilles. Terlebih Ethan Sanchez ada di sisinya."


Archilles mengangguk mengiyakan. Bola matanya menangkap cincin buatan Nona Arumi di jemari tangan kirinya. Ia mandi tadi pagi tapi menjaga cincin pernikahannya tak terkena air. Jangan sampai pudar. Ia akan tebalkan lagi nanti. Ia pria dewasa ikuti kekonyolan Nona Arumi, karena baginya gadis belia ini sangat manis.


Jika Nona Arumi tidak ditakdirkan menjadi miliknya, mungkin ia hanya ditakdirkan untuk mencintai Nona Arumi. Sesederhana itu walaupun di kedalaman sana perasaannya sungguh rumit.


"Apa Arumi baik-baik saja?" Marion Davis datang tergesa-gesa. "Oh Archilles, kamu tahu yang terburuk dari semua ini? Aku menduga ponakan Tuan Sombong itu yang melakukannya pada ponakanku. Awas saja, aku akan menuntut keluarga Miller dan mencabut mereka sampai ke akar-akar."


Elgio Durante mengernyit pada wanita muda yang baru datang membawa bongkahan lahar panas di wajah cantiknya.


"Marion? Aku harap aku tahu apa yang kamu bicarakan?"


"Kami akan ke sekolah Arumi dan memeriksa CCTV. Aku akan beritahu kamu detilnya, Elgio Durante. Archilles, mari bergerak sekarang sebelum seseorang menghapus kamera pengawas di sekolah Arumi," ajak Marion. "Aku akan melihat kondisinya dulu. Oh malang sekali bayiku yang manis."


Marion masuk ke dalam, membungkuk di sisi Arumi yang lelap, mengecup keningnya. Ucapkan janji sebelum kembali keluar.


"Mari kita pergi!"


Archilles hanya ingin berdiri di sana dan menunggu Nona Arumi bangun. Ia ingin minta maaf karena terlambat datang hingga sebabkan gadis itu terluka. Namun, masalah lainnya juga penting.


"Ini adalah tindakan kriminal! Penjahatnya telah lakukan perencanaan pembunuhan pada Nona Arumi," kata Archilles berbagi kemarahan yang sama dengan Marion.


"Ya, mari temukan siapa orangnya. Aku tak berharap Fernanda Miller lakukan hal kejam sebab Allain Miller meskipun tak berperasaan dan sangat angkuh bukan seorang penjahat. Tetapi, jika ini ulah ponakannnya, aku bersumpah mereka akan hancur dalam satu hari." Marion Davis menggebu-gebu, menelpon kepala sekolah. Ia memaksa Pak Theodor kembali ke sekolah dan mereka akan melihat rekaman kamera pengawas.


Archilles Lucca hanya menahan geram dan perasaan campur aduk menjadi satu. Tidak sulit melihat siapa penjahat di kamera yang merekam aktivitas dari dua sisi yang sama-sama mengarah ke koridor sekolah dan depan laboratorium.


Jam sekolah usai, Nona Arumi sedikit pincang pergi ke ruangan laboratorium. Gadis itu berhenti sejenak di tengah jalan, menengok ke arah lantai satu. Di sana seorang gadis berpakaian seragam sekolah lain berlari-lari menuju ruangan olahraga. Gadis itu bengong untuk beberapa waktu. Archilles rasakan denyutan di hati gadisnya.


"Mengapa jalannya pincang?"


"Nona jatuh dari kuda."


"Aku dengar kejadian kemarin sore. Gadis ini. Lalu, mengapa Arumi bersedih?" tanya Marion. "Siapa gadis itu?"


"Em, yang barusan lewat sahabat Tuan Ethan. Nona Sarah Jessica yang selalu bersama Tuan Ethan. Nona Arumi selalu ingin diterima seperti Nona Sarah," jelas Archilles.


"Oh," angguk Marion.


"Ada latihan basket dan Nona Sarah menemani Ethan Sanchez," tambah Archilles.


"I am so sad for you, Babe," keluh Marion Davis turut berduka cita.


Nona Arumi kembali langkahkan kakinya menuju laboratorium. Sepuluh menit berlalu, nona Arumi bersihkan kaca. Serius bekerja sesekali tempelkan keningnya di kaca. Sedikit bermain-main dengan jemarinya di kaca. Menit ke 20 selepas pulang sekolah, Nona Arumi tak kelihatan.


"CCTV bagian dalam laboratorium rusak. Belum diganti."


"Sekolah sebagus ini?" cela Marion Davis.


"Akan segera diperbaiki," tambah Pak Theodor.


"Nah, lihat ini siapa yang mengendap-endap?" tunjuk Marion Davis awasi layar seksama.


Fernanda Miller dan Evelyn Jhoel datangi laboratorium, perlahan-lahan. Masuk ke dalam ruangan laboratorium.


Keluar dari sana sepuluh menit setelahnya. Mereka mengintip kiri kanan dan mengunci pintu.


"Pintu lab tak bisa dibuka karena kuncinya hilang," kata Archilles Lucca.


Lima belas menit kemudian dirinya terlihat di layar berikut Young Vincenti dan Ethan Sanchez. Mereka mencoba kunci, tak ada yang cocok lalu ia gunakan pistol membuka ruangan lab.


"Aku akan menuntut dua gadis itu, Tuan Theodor. Aku akan serahkan bukti rekaman pada pihak berwajib. Mohon untuk tidak mencegah kami bertindak."


"Bagaimana keadaan Nona Arumi?" tanya kepala Sekolah sangat marah dan kecewa.


"Belum sadarkan diri. Ya Tuhan, Arumi bisa mati. Mereka menguncinya dalam lemari sempit, Pak Theodor. Ini tindakan kriminal. Rencana pembunuhan." Marion Davis marah. "Terjadi di lingkungan sekolah di mana harusnya bisa lindungi anak-anak kami."


Begitulah akhirnya, Marion Davis dan Archilles Lucca pergi ke pihak berwajib dan laporkan Fernanda Miller dan Evelyn Jhoel. Petugas mengetik laporan.


"Kamu bisa kembali ke rumah sakit," kata Marion. "Aku akan menelponmu. Biar aku urus masalah ini. Kamu akan kabari aku kondisi Arumi."


Archilles mengambang di jalanan. Tak habis pikir bagaimana ia bisa menyetir sedang pikiran berkecamuk. Ia hanya ingin melihat Nona Arumi.


Tersisa Nyonya Salsa dan Ethan Sanchez..l Juga seorang perawat dengan monitor kesehatan. Archilles menatap kosong pada gadis yang tertidur dari luar ruangan. Ia hanya bisa masuk jika Nyonya Salsa menyuruhnya masuk.


Ya Tuhan, apa yang telah ia lakukan pada gadis ini? Bisakah ia memutar waktu ke pagi tadi?


Archilles ingin menjerit, mengapa Anda tertidur begitu lama? Mari bangun. Aku akan ikut Anda pergi ke Paris jika diijinkan. Mari kunjungi situs wisata itu, Nona. Pantheon. Lalu aku akan mengajak Anda pergi ke Victory Gate.


Aku hapal jalannya. Aku akan memandu-mu ke sana. Mari naik metro. Kita akan turun di stasiun Charles de Gaulle, keluar di Carnot Avenue. Ada terowongan di sana antara Carnot Avenue dan Avenue de Grande Arme. Kita akan menyeberang aku akan memegang tanganmu, menuntunmu ke sana. Anda akan berdiri di depan monumen yang indah itu dan aku akan mengambil fotomu. Anda akan terpesona pada kecantikan Paris. Bukit Montmartre dan Sacre Coeur, menara Eiffel, menara Montparnasse, Champ Elysee, Place de la Concorde, mereka menakjubkan dari atas teras Arch de Triomphe.


Aku akan membawa Anda ke suatu tempat, makan siput Burgundy di atas roti baguette. Aku akan tambahkan bawang merah ke dalam rumah siput. Nona akan menyukai rasanya. Anda hanya perlu bangun dan kita bisa pergi bersama.


Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Maafkan aku!


Arumi Chavez bergerak pelan. Perawat segera mendekat.


"Arumi?!" Ethan bangkit berdiri. Salsa Diomanta ikutan hampiri Arumi, menekan kening dengan jemarinya. Mengelus wajah puterinya. Ia sangat marah tapi tak berdaya.


Seketika Salsa menoleh, temukan wajah Archilles Lucca di luar kaca. Pria itu tak berbentuk, sayu dan lara. Hanya terpaku pada Arumi seakan bacakan mantra pemanggil jiwa. Salsa tinggalkan Arumi yang kembali tenang, melangkah keluar. Archilles menunduk pasrah.


"Ini semua salahku, aku sungguh menyesal. Maafkan aku!" katanya sebelum Nyonya Salsa mendampratnya. "Jangan usir aku, Nyonya. Setidaknya sampai Nona bangun! Aku janji akan pergi!"


Salsa Diomanta menatapnya beberapa saat. Menarik napas kuat.


"Apakah kamu hanya akan membeku macam pria bodoh di luar sini dan mengutuki hari burukmu, Archilles Lucca?"


"Nyonya ...."


"Masuklah!"


***


Uggghhh .....