
Bangun pagi oleh denting sendok dalam gelas. Adukan teratur diiring wangi cokelat dan pisang. Entahlah. Ia menggilai pagi seperti ini.
Menghitung hari yang terasa lambat berputar. Katupkan mata rapat-rapat. Secara bebas dirinya lamunkan Arumi Chavez.
Tak mencegah ingatannya kembali mengenang ketika ia menggendong gadisnya keluar dari kapel seperti pernikahan sungguhan. Berboncengan sepeda lewati sisi perbukitan indah yang damai. Nona Arumi sedikit terhibur.
"Bisakah kita tinggal di sini lebih lama?" tanya Arumi Chavez memeluk pinggangnya. Ia meremas jemari tangan mungil sebagai balasan. Dan cinta telah menyebar hingga ke seluruh tubuhnya. Tak ada alasan untuk mundur karena ia akan membuat gadisnya lebih menderita.
"Ya, Nona. Masih ada tujuh hari sebelum aku mengantarkan Anda pulang."
Langkah-langkah kaki menaiki tangga, pintu kamarnya terbuka. Aroma semakin dekat, tercium dari atas meja tak jauh dari ranjang.
"Pagi, Archilles Lucca. Aku harap kamu segera bangun." Gorden jendela kamar disingkap hingga cahaya suram masuk dan menerpa wajahnya. Ia menyipit. Kecupan di kening berikut pelukan hangat. Wangi manis permen dari pencuci rambut mampir di ujung hidungnya.
"Archilles, aku ingin bolos sekolah hari ini dan bersamamu. Tetapi, kelas prakarya jam kedua adalah kelas favoritku."
"Begitukah?"
Archilles menarik Zefanya dan memeluknya erat-erat. Ingat bagaimana ia membawa Zefanya kabur dari rumah Raul Lucca, naik bus datangi kota. Usianya enam belas tahun kala itu dan Zefanya dua tahun.
Mereka tidak lekas menemukan kediaman Grenny. Tidur di jalanan selama hari-hari panjang dan sulit. Dengan keluguan seorang yang datang dari pinggiran, memasuki kota dan berpikir mudah saja. Ia menggendong Zefanya kemana-mana. Pernah menonton orang makan dalam restoran dan meneguk liur dari luar. Tak bisa dikatakan dukanya karena merindukan Martha Via. Bahkan ia pernah menangis dalam kereta karena berharap, entah bagaimana, Martha Via tiba-tiba menemukan dan menuntunnya pergi ke rumah di mana mereka bertiga hidup bersama dan bahagia.
Archilles berpikir bisa bertahan dengan sedikit uang dan perhiasan yang ditinggalkan Martha Via. Ia hanya pemuda pemberani yang sedikit naif.
Puncaknya ia kehabisan popok Zefanya dan menggunakan popok kain bekas yang ia temukan di depan rumah seseorang.
Tak lama setelahnya Zefanya terserang demam tinggi. Seluruh kulit di area paha melepuh, berisi cairan berbau tak sedap dan memerah. Seorang petugas kesehatan keliling yang tak sengaja temukan mereka mengatakan Zefanya terkena virus. Archilles ketakutan. Ia beranikan diri pergi ke kantor polisi dan meminta bantuan untuk menemukan kakek-neneknya. Lalu, nekat mencari klinik untuk merawat Zefanya. Tuhan baik. Dalam 24 jam situasi baik berpihak padanya. Polisi berhasil mengabari Grenny dan Grandpa kondisi mereka. Dua orang tua itu buru-buru menemui mereka dan kehidupannya kemudian berubah.
"Mengapa wangimu seperti permen, Zefanya? Aku ingin memakanmu! Auuurrrggghhh!"
"Hentikan!" Zefanya tertawa kecil. "Hanya sampo ini yang bisa buat rambutku bagus."
"Ehem, baiklah, candy girl. Apa yang akan kamu dan teman-temanmu kerjakan di kelas prakarya?"
"Sesuatu yang menarik minat para gadis."
"Misal?"
"Bunga dari cutting kertas. Mawar putih dari gulungan tisu, sedikit perona pipi untuk menjadikannya peach dan beberapa butir mutiara. Kami menjualnya di bazar sekolah untuk anak-anak panti asuhan."
"Mulia sekali."
"Sampai kamu melihat Guru Scolastika, kamu akan sepakat denganku beliau seperti malaikat, Archilles Lucca."
"Oh ayolah," keluh Archilles sedang Zefanya segera bangun.
"Baiklah. Aku tak ingin terlambat ke sekolah. Kakak laki-lakiku tersayang ..., pertama-tama tolong segera bangun. Sarapanmu telah aku siapkan. Roti buatan Grenny akan membuatmu kenyang dalam empat gigitan."
"Terima kasih, Zefanya Lucca. Kamu persis Martha Via."
Zefanya tersenyum cerah.
"Lalu, kamu akan bantu aku bersihkan halaman depan juga belakang dari daun. Betapa angin telah porak porandakan halaman kita. Tebang saja pohon di depan kamarmu sebab semalam aku melihat bayangan kucing besar melompat dan berayun di sana. Aku pikir aku bermimpi buruk. Aku ingin berlari padamu dan tidur denganmu tetapi aku telah jadi gadis dewasa sekarang Archilles Lucca. Tak perlu takut pada apapun."
Archilles Lucca nikmati celotehan Zefanya sepenuh hati.
"Oh ya?"
Zefanya bahkan melihat Tatiana datang. Bagaimana bisa ia malah teledor?
"Tolong jangan hanya berbaring saja."
"Siap, Yang Mulia Tuan Puteri."
"Karyawan kita libur hari ini. Kamu akan gantikan Grandpa Zevas menjaga minimarket sampai aku kembali untuk membantumu. Ada pemesanan ulang beberapa produk ke pabrik. Tolong bekerja dengan keras, ya!"
Archilles Lucca terpesona penuh pada kedewasaan Zefanya.
"Memangnya berapa usiamu, Zefanya?"
"Sepuluh tahun. Bukan? Jika kamu sendiri bingung dengan angka kelahiran ku, apa jadinya aku?" keluh Zefanya sambil melipat selimut.
"Maksudku memang kamu mengerti soal sistem kerja minimarket?"
"Tidak juga, Archilles. Stephen meninggalkan pesan untukmu. Aku menyambungkan informasi kalau-kalau Tuan Zevas lupa."
"Maksudku ...."
"Oh, aku belajar jadi kasir sudah hampir sepuluh bulan, Archilles. Dan Grenny bilang aku dapat dana training dan akan diangkat jadi karyawan tetap setelah 24 bulan."
"Hebat sekali."
"Em, aku belajar sedikit demi sedikit. Misalkan, produk pertama sampai di minimarket akan dipajang di bagian depan etalase. Walaupun kebanyakan aku cuma menyusun snack." Tertawa macam gadis dewasa. "Pengetahuanku tentang uang lumayan baik, Archilles."
"Zefanya?" panggil Archilles pelan.
"Hm?!" Zefanya menoleh.
"Maafkan aku. Harusnya kamu hanya perlu bermain sepulang sekolah seperti anak-anak lain."
"Jangan kuatir, Archilles. Adikmu ..., ketua geng di sekolah. Jangan takut aku tak punya teman."
"Eh, yang benar saja?"
"Ya. Kau tak percaya? Aku yang terbaik di kelasku. Tak berteman denganku akan rugi besar."
Archilles Lucca berdecak.
"Apa cita-citamu?"
"Model, artis, dancer, singer."
"Apa tak ada yang lain?"
"Hu-uh. Kamu tahu artis muda kita Arumi Chavez?"
"Oh ya?"
"Semua buku agenda dan binderku bahkan bersampul fotonya. Aku ingin sepertinya."
"Kamu menyukainya?"
"Uhum, sangat mengidolakannya. Kamu akan tahu aku fans fanatik Arumi Chavez, kamu perlu melihat isi kamarku."
"Bagaimana kalau aku bilang ..., aku akan menikahi Arumi Chavez di bulan Maret nanti?" tanya Archilles Lucca serius.
"Aku tidak heran," jawab Zefanya santai letakan selimut yang rapi di atas lemari kecil. Keluarkan kaos dan celana Archilles juga kimono mandi bersih dari rak. Letakan di ranjang hati-hati. "Stephen mengatakan hal yang sama. Setiap remaja di lingkungan ini bercita-cita menikahi Arumi Chavez suatu hari."
"Apa Stephen lebih tampan dariku?"
"No, Arumi Chavez akan memilihmu dibandingnya, tetapi Stephen lebih waras darimu karena dia bilang 'suatu hari nanti' dan dia sedang mengumpulkan uang untuk belikan Arumi Chavez cincin mewah."
"Mengapa aku tidak waras?" Archilles berdecak.
Nona Arumi akan menyukai Zefanya.
"Kamu mengatakan akan menikahi Arumi Chavez di bulan Maret nanti." Zefanya berhenti di pinggir ranjang, sangat serius ketika berikan peringatan. "Tolong jangan beritahu orang lain tentang impian konyolmu ya. Orang akan berpikir yang tidak-tidak tentangmu. Aku akan sakit hati."
"Kau tak percaya padaku?"
"Tak apa punya khayalan tinggi, Archilles. Semua berawal dari angan, kata guruku. Aku juga bermimpi menikahi Taehyung saat aku dewasa. Aku memikirkan bagaimana cara menggapainya? Aku di sini dan dia di sana. Dulunya aku ingin Jungkook tetapi sainganku terlalu banyak di kelas."
"Taehyung? Jungkook? Seperti orang Asia."
"Ya, kau benar. Korea Selatan, BTS," jawab Zefanya langsung menyanyi dan bikin gerakan dance.
Oh my my my, oh my my my
You got me high so fast
Be jon burul ham ke ha go si po
Oh my my my, oh my my my
You got me fly so fast
I've Jo gu mun na al get so
Archilles Lucca tertawa keras, terhibur dengan tingkah Zefanya. Ingatkan Archilles pada Arumi Chavez. Suatu waktu, tingkah mereka mirip.
"Ah ..., jadi BTS ini saudaranya Blackpink?"
"Astaga, Archilles Lucca. Seriously?"
"Apanya?"
"Kamu Blinks?" Zefanya pelototi kakaknya sangat-sangat terkejut.
"Ehm," angguk Archilles Lucca hingga Zefanya semakin menganga lebar seakan Archilles Lucca seorang Blink adalah keajabaian dunia yang terbaru.
"Oh-My-God." Terperanjat sempurna hingga ekspresinya sangat menggemaskan.
"Nona Arumi Chavez menyukai Blackpink. Jadi, aku Blink sama seperti Arumi Chavez."
"Oh ya?" Entah mana yang lebih menakjubkan bagi Zefanya, Arumi Chavez menyukai Blackpink atau Archilles Lucca yang jadi Blinks. "Aku tak pernah tahu itu."
"Katamu kamu fans garis keras."
"Nona Arumi sering gunakan lagu Kill this Love untuk selebrasi saat ia berhasil kalahkan aku di lapangan basket."
Zefanya berubah prihatin. Rautnya dengan cepat iba.
"Oh Archilles Lucca, aku tahu rasanya."
"Apanya?"
"Mengidolakan seseorang sampai mengkhayal yang tidak-tidak." Zefanya berdecak. "Dari semua fandom Arumi Chavez, kamu yang paling tak tertolong. Ceritakan semuanya hanya padaku. Aku akan memahamimu, Sayang."
"Hei ..., aku selalu bersama Arumi Chavez tiap hari Zefanya."
"Jangan bilang kau memeluknya juga. Ya Tuhan, Archilles. Apa yang telah terjadi padamu? Itulah mengapa kamu harus punya pekerjaan yang jelas agar pikiranmu normal."
"Kamu terus saja mengatai kakakmu kurang waras, tak tertolong dan sekarang tak normal, Zefanya?"
"Kita akan bahas nanti, Archilles Lucca. Oh, rasanya aku ingin tinggal dan mengurusmu dengan baik sambil kita nonton tayangan ulang konser Blackpink di New York. Aku bisa telat ke sekolah. Sampai nanti sore. Aku menyayangimu."
Archilles Lucca tersenyum geli di atas ranjang. Zefanya sangat ceria persis Nona Arumi Chavez. Mereka mirip selain adiknya semangat pergi ke sekolah sedangkan pacarnya akan memulai hari dengan mengeluh tentang sekolah dan pelajaran yang tidak ia sukai terlebih Matematika.
Apa reaksi Zefanya saat ia menikahi Arumi Chavez? Adiknya mungkin bisa pingsan. Pejamkan mata.
"Kamu tahu arti dari cinta sejati Archilles Lucca?"
Lengan mereka bergandengan dalam tenda sementara di atas kompor portable ada panggangan berisi daging dan sosis berbaur keluarkan aroma yang mengguncang perut.
Apa yang mereka lakukan menjelang tahun baru?
Tak ada kembang api atau sesuatu yang meriah. Salju turun sangat lebat. Menyusuri hutan perbukitan Pinus, enam orang mainkan game aneh. Mendirikan tiga tenda darurat di tengah hutan. Sementara riuh angin dan badai bergemuruh. Arumi ketakutan sekaligus bersemangat. Meniru cara berani Reinha Durante dan Claire Luciano menerobos salju.
"Aku tidak tahu, Nona."
"Memprioritaskan kepentingan orang yang kamu cintai di atas kepentinganmu sendiri."
"Begitukah?"
"Ini ada dalam naskah drama walaupun cuma narasi. Aku pikir aku terlalu muda untuk mengerti. Ternyata, aku menemukan cinta sejati di usia lima belas tahun."
"Senang mengetahuinya bahwa aku adalah cinta sejati Anda. Selamat tahun baru Nona Arumi Chavez. Anda akan berusia enam belas di tahun ini dan menjadi istri Archilles Lucca."
"Selamat tahun baru, Tuan Lucca. Aku berharap kita akan merayakan tahun baru di sini lagi tahun depan. Aku akan mengucapkan selamat menyongsong tahun baru, Mr. Mrs. Lucca."
Malas-malasan bangun dan bersila. Apakah ia perlu mengunjungi Arumi Chavez. Ia merindukannya. Ingin tahu keadaan gadisnya? Ia bisa membuat alasan bertemu Nyonya Salsa.
Tidak!
Mari selesaikan ini sebelum 13 Januari sebab 16 Januari ia harus kembali mengajar dan akan kerjakan tugas sisa dari Nyonya Salsa hanya selama akhir pekan. Mari bertemu untuk pernikahan.
Ponselnya berdering beberapa pesan beruntun.
💌 : Kecupanku mengandung racun. Kamu pasti tidur lelap.
Archilles berdecak.
💌 : Aku ingin menjadi vacuum cleaner, menyedot-mu dan menghirup debu-mu.
Mengangkat satu alis. Tak merespon atau Tatiana akan menjadi-jadi.
💌 : Aku berharap aku adalah cokelat panas dalam cangkirmu yang melumer dalam mulutmu.
💌 : Have a nice day, Baby Lucca.
Lalu, wanita itu mengirimkannya sebuah video. Archilles memeriksa isinya. Mengerut. Wanita itu mendokumentasikan adventure-nya menangkap beberapa pria. Archilles tidak heran mudah saja bagi Tatiana dapatkan keinginannya.
Ingat bahwa, Rosemary berisi Egiana dan Tatiana dengan komposisi yang menurut Archilles meskipun Egiana tampak seperti fisik luar, sangat hebat dalam bertindak, Tatiana adalah perangkat halus yang mengendalikan Rosemary. Tatiana mengetahui musuhnya dengan baik sebelum mengambil sikap. Berbeda dengan Egiana yang hanya dapatkan instruksi dari Hedgar atau Tatiana.
Archilles bangkit pergi ke kamar mandi dan bersihkan diri. Membawa sarapan turun, ternyata Grenny menunggunya sarapan sedang Grandpa di minimarket. Archilles menyesap susu cokelat dan croissant pisang. Menatapi perkebunan milik Grenny lalu beralih pada neneknya yang duduk di ujung sofa dengan sekotak urusan wanita tua yang lembut. Merajut.
"Kapan kalian akan pergi?" tanya Grenny berhenti sebentar untuk menatap Archilles Lucca.
Lalu ....
Pen kayu dan benang wol kembali bermain. Sangat lincah merajut sarung tangan. Dari warna-warna cerah, Archilles tahu, neneknya buatkan untuk Zefanya.
"Anda mengijinkan Zefanya?"
Grenny tanpa sahutan. Terus merajut. Kerutan di kening makin banyak. Wanita ini menyimpan kesedihan sendiri.
"Lucia ...." Archilles mendekat hingga sampai di sisi Grenny.
"Apakah kamu sungguh-sungguh mencintai gadis itu, Archilles?"
"Ya."
Lucia tinggalkan pekerjaannya. Ia pegangi tangan Archilles menepuk pelan, menangkap tangan kiri Archilles yang tidak lengkap. Menghela napas panjang.
"Jika terlalu banyak menuntut pengorbanan, aku pikir, ini bukan pernikahan Archilles. Kamu mungkin tak temukan bahagia sampai kapanpun."
"Aku tak memikirkan diriku, Lucia," sahut Archilles menggeleng kecil. "Gadis itu ..., dia mungkin akan sangat menderita jika aku lepaskan dirinya. Dia ..., hanya seseorang yang sangat rapuh dan tak bisa lindungi dirinya sendiri. Aku tak bisa menyerah padanya. Kami saling mencintai. Itu, meneguhkan kami."
Grenny menatap Archilles Lucca temukan pria muda di depannya benar-benar miliki ketulusan dan cinta yang sangat besar.
"Baiklah, Tuhan akan berikanmu kebahagiaan. Kamu dapatkan dukungan dariku dan Zevas, Archilles Lucca. Hanya itu yang bisa kami lakukan sebagai orang terdekatmu."
"Terima kasih, Lucia."
Hening. Grenny kembali merajut.
"Aku tak pernah menyalahkan Raul Lucca lagi karena pisahkan aku dari puteriku. Lebih ikhlas menerima karena aku percaya Martha dan aku akan bertemu di keabadian. Namun, aku menyayangkan sikap acuh Raul Lucca pada Zefanya."
"Mereka tak pernah berkunjung?"
"Sekali dua kali. Paula sangat baik dan bijak. membujuk Raul untuk besarkan Zefanya. Aku rasa tak perlu kini."
"Anda ijinkan aku membawa Zefanya?"
"Aku semakin tua, Archilles. Zefanya adalah sumber kebahagiaanku tetapi aku pikir Tuan Maurizio Lucca dan istrinya tawarkan banyak hal baik untuk masa depanmu dan Zefanya. Mereka keluarga yang hangat. Aku ingin kamu dan Zefanya miliki keluarga utuh yang menginginkan keberadaan kalian meskipun cukup terlambat."
"Lucia ...."
"Pernahkah berpikir ..., mengapa Raul Lucca tak menyukaimu sama sekali?"
"Kehidupan sosial Raul sangat buruk, Lucia. Dia tak menyukai siapapun termasuk aku dan Zefanya. Lagipula, aku terlalu bandel."
"Kamu tak mirip Raul. Sama sekali tidak. Entah fisik atau lainnya."
"Aku mirip Martha," sanggah Archilles cepat. Mencintai ide itu segenap jiwa.
"Sifat dan karaktermu mirip Martha karena Puteriku mengasuhmu."
"Anda cukup ganjil, Lucia."
"Aku tak yakin." Grenny menarik napas kuat. "Aku hanya akan mengurus Kakekmu dan habiskan hari tua bersama. Kalian akan berkunjung kemari kapan-kapan. Nyonya Nastya berjanji akan menjagamu dan Zefanya dengan baik. Namun, kamu tak akan memaksa cucuku jika Zefanya tak ingin ikut denganmu."
"Mengapa Anda berpikir aku akan pergi sendiri tanpa Zefanya?"
Lucia balik menatap Archilles. "Di sana mungkin saja rumahmu yang sebenarnya."
"Lucia?!"
"Mereka datang kemari. Aku telah dirundung duka jika kenyataannya kamu mungkin bukan cucuku. Tetapi, lebih dari itu aku akan berbahagia untukmu sebab Raul Lucca sama sekali tak pantas untukmu."
"Apa yang ingin kamu sampaikan padaku, Lucia? Bicaralah. Jangan katakan hal yang tidak-tidak." Archilles Lucca merasa Lucia berputar-putar menuju ke suatu tempat rahasia tetapi takut pada kenyataan.
Apa yang neneknya pikirkan? Mereka di adopsi, hanya anak angkat untuk sebuah status sosial. Tak ada hubungan darah sama sekali.
"Oh Archilles ..., aku sangat bersedih."
"Aku hanya akan jadi putera angkat seseorang, kebetulan nama family sama dengan Raul Lucca. Dan hanya karena mertuaku yang perfeksionis inginkan aku dan Zefanya ada di sana. Terlebih putera Tuan dan Nyonya Lucca meninggal karena terserang penyakit tertentu bukan hilang. Aku akan memikirkan ulang jika Anda menentang ide ini, Lucia. Apa yang Anda bayangkan?"
"Aku pikir tak ada yang kebetulan di dunia ini. Terlebih kebetulan ini lebih dari satu," sahut Grenny berhenti merajut. Letakan kerjaan di meja dan kemudian lepaskan kaca mata. "Dua-puluh-empat tahun lalu, Nastya Lucca lahirkan puteranya di rumah sakit yang sama dengan Martha Via Lucca. Harinya bahkan sama. Aku menolak datang karena sakit hati. Tetapi, aku ingat waktu kejadiannya sebab aku dapatkan berita dari Martha dan diam-diam mengiriminya uang."
Nada Lucia bergetar. Pasti sangat sulit. Archilles Lucca menatap neneknya. Ingin menyanggah tetapi ....
"Di Braga," tambah Grenny seakan ungkapkan hal lain lebih dari sekedar firasat. Sebuah fakta yang harus Archilles perhatikan.
"Lucia, tidak. Mungkin hanya kebetulan saja. Banyak bayi lahir di rumah sakit yang sama dari nama klan yang mirip, bukan? Darimana Anda dapatkan hal-hal konyol ini?"
Archilles telah melihat berkas keluarga angkatnya. Berpikir tak ada yang ganjil. Lebih tepat ia tidak meneliti karena tidak begitu penting baginya.
"Sungguh mengejutkan temukan matamu sama persis seperti mata Tuan Maurizio. Aku seakan mengenali rupamu saat melihatnya. Menyedihkan jika putera mereka, Glacio Lucca, yang telah meninggal ternyata cucuku walaupun aku terharu. Itu berarti, Martha Via telah bersama puteranya. Lebih menyakitiku lagi, kamu lewati hal-hal buruk bersama orang tua yang keliru."
"Lucia ..., itu tidak benar. Oh ya Tuhan. Tolong hentikan! Martha Via adalah Ibuku. Aku bisa merasakannya dengan hatiku," kata Archilles lagi.
"Menurut Nyonya Nastya, Glacio Lucca, meninggal akibat Thalassemia. Kamu tahu apa yang membuatku sampai berpikir bahwa Glacio Lucca cucuku dan bukan Archilles Lucca?"
Archilles terdiam.
"Bayiku juga meninggal karena Thalasemia."
Tatapan mereka bertemu.
"Penyakit itu berasal dari keturunan kami, Archilles. Ibuku, aku dan aku yakin Martha juga ..., kami telah menderita kehilangan bayi pertama kami karena penyakit ini."
***