My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 132. Yo te Quiero a Morir



Jangan terlalu berharap.


Kring! Terdengar di ujung tangga.


Jangan, please, Arumi.


Kring!


Setelah tujuh tahun lebih, beberapa bulan lagi delapan tahun, cintanya tidak berubah sedikitpun. Tidak usang bahkan bertambah kuat. Karena ia tak pernah membunuh.


Kring! Kring! Makin dekat.


Namun, apakah pria itu masih sendirian?


Ini adalah pertanyaan paling menakutkan?


Arumi ..., tidak masalah Sayang. Jika pria itu bersama wanita lain. Sungguh. Asalkan dia baik, sehat dan bahagia.


Begitukah? Kepalanya berputar-putar. Ia sedikit mual.


Dia tetap milikmu karena di duniamu ..., dia milikmu. Bukankah begitu konsepnya?


Tidak, Demi Tuhan, mengapa dia tidak rela?


Kkrriinnggggg!!!


"Narumi Vincenti ..., bukankah kamu harus bangun sekarang?"


Lonceng kecil berbunyi nyaring tepat di depan ruang tidur. Adik-adiknya di sini bersama Ayah Laurent dan Ibu. Setelah usia 18 tahun, Ayah Laurent bebaskan mereka dan berikan mereka pilihan. Termasuk di mana mereka ingin tinggal.


Bertepatan dengan kehamilan Salsa dan dua kehamilan dengan jarak dekat membawa perubahan luar biasa pada Ibunya. Arumi yakin, kedua orang tuanya di dapur sedang membuat sarapan sambil berciuman.


Arumi memilih tinggal di Mansion Diomanta. Ia takut kalau-kalau kekasihnya mungkin mencarinya. Sedang Ibu tak pernah benar-benar tinggal di Perkebunan Vincenti. Sepertinya sepakat di masa depan, lahan luas itu akan menjadi milik Young Ryu Vincenti sedang Aizen Ryota mungkin akan mewarisi Mansion Diomanta.


"Narumi? Apa kamu masih tidur?" tanya yang lebih muda lumayan keras. "Papa menyuruhmu bersiap-siap dan turun untuk sarapan."


Arumi Chavez segera buka pintu. Ia menguap lebar di depan wajah dua bocah. Tak puas menguap sebab ....


"NARUMI VINCENTI ...." Mereka menjerit keras seakan sepuluh tahun tak jumpa.


"Kalian di sini?"


"Sejak semalam." Aizen Ryota Vincenti menyeruduk dan memeluk erat-erat. Adik perempuan ikut di belakangnya. Hanasita Minori lingkari tangan pada salah satu pahanya kuat.


Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, beruntungnya Aizen Ryota Vincenti Diomanta tidak mirip Tuan James Chavez sama sekali. Lebih mirip Uncle H. Pertanda gen Diomanta bekerja lebih keras, sangat kuat berpengaruh. Bukti bahwa Ibunya memang sangat inginkan bayi dengan Tuan Chavez, tetapi Tuan Chavez entahlah. Segalanya berlalu, sakitnya masih sama.


Arumi Chavez belum bertemu Juan Enriques secara langsung hanya lewat video call, tetapi Aizen Ryota dan Juan Enriques tampak berbagi wajah.


Mungkin nanti akhir pekan depan mereka akan bertemu karena keluarga baru ini akan hadir dalam resepsi pernikahan Tuan Raymundo Alvaro dan istrinya yang akan berlangsung di Mansion Anthony. Ada waktu tunda resepsi karena adik Tuan Alvaro meninggal juga pernikahan yang seakan terburu-buru. Dan Nyonya Gracia inginkan syukuran di mansion Anthony untuk putera angkatnya itu.


Uncle H dan Irishak telah langsungkan pernikahan di Lembah Tena. Tidak adil karena pernikahan itu tertutup. Arumi tak tahu jelas apa yang terjadi. Tahu-tahu, Uncle H beritahu telah menikahi Irishak hanya dihadiri Adelle Diomanta dan dua sahabatnya Tuan Alvaro dan Tuan Anthony. Intinya mereka menikah, bukan?


Keluarga dan kerabat sedang nantikan kedatangan keluarga baru itu untuk diperkenalkan. Mungkin pesta akan berpindah dari Anthony Land ke Diomanta Greenfield.


Para pria berakhir bahagia. Axel Anthony dan Queena Mendeleya. Uncle Hellton dan Irishak Bella. Tuan Raymundo Alvaro dan kekasihnya yang sangat cantik, Bellova yang punya kembaran dan ternyata, Belliza adalah desainer masih satu lingkaran dengan Brelda Laura.


Sayangnya, Arumi tak melihat dia di sana ketika Tuan Raymundo menikah. Di antara teman-temannya, tak ada kekasihnya.


"Narumi ..., kakakku tersayang."


Hanasita Minori kagetkan dirinya. Gadis ini versi perempuan dari Young Vincenti dan Tuan Vincenti. Sangat cantik seperti namanya, Mawar yang Mekar. Entah, tingkahnya semoga tak bar-bar macam Young.


"Kami merindukanmu."


"Aku juga merindukan Anda berdua, Tuan dan Nona Vincenti."


"Bolehkah kami masuk ke kamarmu, Narumi?" tanya Aizen.


"Em, silahkan."


"Iklan rambutmu sangat hebat. Aku minta Papa beli shampo itu dan ingin mencobanya. Kata Papa produk khusus orang dewasa. Benarkah?" Hanasita naik ke atas pangkuannya dan mulai berceloteh. Bicara sangat jelas di usia empat tahun. Dan Arumi melihatnya sangat cerdas dan kritis seperti kakaknya Aruhi.


"Tutup matamu!" bisik Arumi di kuping adik perempuannya. "Aku punya kejutan untukmu."


"Benarkah?" Hanasita dan dua gigi yang tanggal depan sangat menggemaskan. Arumi ciumi wajah dan rambut Hanasita sambil menggelitiknya. Gadis kecil menjerit senang.


Arumi mainkan mata pada Aizen Ryota dan beri petunjuk untuk mengambil satu paket kecil dari atas sofa dalam ruang tidurnya.


"Buka matamu, Hanasita Minori Vincenti!" Arumi sangat suka menyebut nama adiknya.


"Narumi ..., ini keren!" pekik Hanasita dapatkan hadiah tiga buah produk Aloe Vera. "Aku suka. Apakah ini sama seperti yang diiklan?"


"Sím, dulce Amor! Ini lebih mulia, khusus gadis kecil cantik sepertimu."


"Me Encanta. Te amo. Yo te Amo, Narumi Yuki."


"Mana untukku?" tagih Aizen dapati bungkusan lain di atas sofa. "Apa ini?" Aizen Ryota duduk di sisinya dengan paketan untuknya.


"Ya, Sayang. Ini versi para pria."


Aizen berbinar-binar. "Narumi, Anda kakak yang luar biasa."


"Apa kamu sudah siap, Nona Narumi Vincenti?" Itzik Damian berdiri di pintu ruang tidur. Di perbatasan, setelan hitam bermantel yang sama, necis dan wangi yang segera merebak kemana-mana. Pria ini benaran sedang jatuh cinta macamnya walaupun memakai atribut mirip malaikat maut.


"Belum mandi." Menguap sedikit. "Aku kelewatan lelap."


Jelas itu bohong dan Itzik Damian tak percaya. Ada lagi orang menguap untuk katakan ia puas tidur? Terlebih wajah gadis kusut masai.


"Tuan Damian, lihat! Kami punya ini." Hana goyangkan tas kecil di tangannya, hentikan interogasi Itzik.


"Uh, menarik. Beritahu aku hasilnya setelah rambut Anda dipakaikan shampo itu Nona Muda."


"Ah, baiklah. Aku akan minta ibu videokan hasilnya untukmu. Ngomong-ngomong, jas itu milik siapa, Narumi Vincenti? Apa kamu bersuami sekarang seperti Nyonya Salsa dan Tuan Laurent?" tanya Hanasita dengan lidah cadelnya.


"Jas pacarnya. Itu tergantung di sana sejak aku lahir." Aizen menyahut tanpa menoleh sambil membuka bungkusan.


"Oh, siapa namanya?"


"Namanya-tak-boleh-disebutkan. Dia yang buatkan Narumi rumah pohon."


"Mengapa tak boleh disebutkan? Apakah namanya bisa sebabkan magic?"


"Aku tak tahu, Young melarang kita menyebut namanya. Mungkin Narumi akan terluka. Bukan begitu, Tuan Damian?"


Tak ada sahutan dan si bocah tak peduli kecuali adik perempuannya.


"Di mana dia? Aku penasaran."


"Pergi berperang." Aizen Ryota menyahut. Adiknya sok tahu.


"Oh, berperang dengan siapa? Apa negara kita sedang berperang?" Melompat turun dan berlari ke jendela. Memeriksa langit juga landasan. "Aku tak melihat serdadu."


Aizen Ryota terkekeh. "Kamu tahu, Hanasita, saat kita seusia Narumi, kau dan aku miliki peperangan dalam diri kita."


"Haruskah?"


"Ya. Namanya peperangan batin orang dewasa."


Arumi berdecak keras. "Dari mana kata-kata itu?"


"Young Vincenti," sahut Aizen anteng. Adiknya berguru pada Young Vincenti. "Kemarin dia beritahu aku, sedang perang batin. Jadi, tak ada serdadu. Hanya seluruh organ tubuhmu saling serang. Jantungmu dan hatimu melawan otakmu. Kadang-kadang air matamu beri tanda bahwa perang batin sebabkan luka."


"Siapa yang kalah?"


"Aku tak tahu. Saat kita dewasa kita akan mengerti dengan sendirinya." Okay, pria kecil ini juga jenius macam Aruhi.


"Mengapa Papa dan Mama tak terlibat perang batin?"


"Menurut Young, Tuan Laurent dan Nyonya Salsa telah menangkan pertarungan."


"Em, Pantasan mereka terus tertawa dan tak ada air mata. Bukankah kita perlu bersiap-siap untuk perang batin? Walaupun masih kecil."


"Kau benar. Young bilang kita perlu banyak latihan mental, makan sayur dan ikan agar nanti selalu menang. Jangan terlalu mengunyah permen dan rajin menyikat gigi agar tidak diserang bakteri."


Young Vincenti memang luar biasa mendidik. Penasaran ..., peperangan batin apa yang terjadi pada Young? Apakah masalah gadis?


Kerjaan?


Pria itu lulus dari fakultas hukum dan sekarang bekerja sebagai pengacara. Sesuai dengan karakternya yang miliki percaya diri tinggi, kuat dalam argumentasi dan kecerdasan di atas rata-rata. Ketika kuliah, Young Vincenti benar-benar disiplin. Selesai belajar tidak sampai 4 tahun, lulusan terbaik. Saudara tirinya tumbuh dewasa dan menjalin hubungan harmonis dengan saudara-saudara lainnya.


"Nah, kalian puaskan sudah menyapa Nona Narumi. Please, kemarilah! Biarkan kakakmu mandi dan bersiap."


Kedua bocah segera berhamburan pergi setelah mengecup pipi Arumi.


"Tunggu aku di sofa, anak-anak! Lain kali tak boleh bawa adikmu mendaki ke sini, Tuan Aizen Ryota! Nona Hanasita bisa tersandung dan jatuh. Atau Anda boleh kemari berdua bersama orang dewasa."


Aizen manggut menurut. "Maafkan aku, Tuan Damian. Aku tak berpikir sampai ke sana karena aku cukup dewasa dan bisa menjaga adikku."


Pria kecil yang manis.


"Aku tak meragukanmu, Tuan Muda. Hanya saja, kita perlu berjaga-jaga."


"Baiklah."


Itzik Damian berpaling pada Arumi setelah pastikan dua bocah duduk tenang di sofa depan piano. Bercakak pinggang. Ingin lanjutkan interogasi. Tetapi, nada getir bikin ia tak tega.


"Aku sulit tidur." Mengakui kebohongan.


"Aku tahu. Matamu bengkak, wajahmu aneh. Setelah bertahun-tahun, kamu akan hancurkan dirimu sendiri dari dalam."


Arumi mengangkat bahu. "Itu berlebihan, Itzik Damian."


"Biarkan aku bawa kamu ke terapis. Dan hilangkan cinta beracun itu, Narumi. Atau mari temui hipnoterapi. Hilangkan dia dari sana."


"Tidak! Aku pikir dia alasan aku hidup."


"Ini tidak benar. Kamu terlihat bersinar tetapi tanpa cahaya di dalam dirimu. Kamu hebat di luar tetapi bunuh diri dalam kesepian. Cinta bukan petualangan penuh badai." Itzik Damian bersandar di pintu. "Kamu seperti kapal di laut lepas yang tak temukan pelabuhan dalam gelombang besar dan terombang ambing."


"Biarkan aku. Kamu akan tahu rasanya saat sangat mencintai seseorang."


"Aku tahu rasanya, Narumi Vincenti. Aku juga jatuh cinta."


"Jika, kamu di posisinya, apa yang akan kamu lakukan padaku?" tanya Arumi tanpa kedip.


"Mandi dan adu argumen nanti, Nona. Aku belikan-mu parfum. Ini dipakai Aurora dan aromanya sangat menggemaskan." Itzik Damian menerima kotak dari Ayshe. "Trims Ayshe. Bisakah bantu aku urus pakaian gadis ini?"


"Baik, Tuan." Asyhe pergi ke walk in closet. Memakai sarung tangan dan mengambil nampan gold untuk menaruh perhiasan dan accecories yang dibutuhkan Arumi.


"Mengapa tak menikahi Aurora?" tanya Arumi menyikat rambut.


"Tak bisa. Aku akan segera mati."


Arumi mencibir. "Kau mengatakan 6000 kali sepanjang tujuh tahun dan aku tidak percaya. Kau tidak mati-mati juga."


Arumi mengangkat wajah. Melihat mata Itzik dan ia berpikir sesuatu salah pada Itzik Damian tapi tak ia temukan apapun. Selain sedikit bungkuk, pria ini baik-baik saja.


Itzik Damian bukan tipe perhatian atau penyayang seperti prianya. Namun, dalam tujuh tahun, Itzik habiskan waktu mengurusnya, ladeni moodnya dan tak pergi dari sisinya meskipun ia kasar dan berubah aneh. Pria putih ini mengatur jadwal dan mengawasinya bahkan ketika ia kuliah, Itzik ikut dengannya. Hanya pulang ketika ia mendapat kabar Aurora sakit.


"Kau tahu aku akan menangisimu kalau kau mati. Beritahu aku, kapan itu terjadi."


"Aku sanksi. Kamu pikirkan dia sepanjang tujuh tahun berharap melihatnya di seberang jalan dan bisa berlari padanya, abaikan aku yang setia padamu siang dan malam."


Arumi bersihkan wajah dengan cairan jeruk nipis segar yang dituangkan ke kapas.


"Aurora akan cemburu. Jika, kamu di posisi pria itu dengan luka bakar hebat di seluruh tubuhmu, apa yang akan kamu lakukan padaku?"


Berdecak. "Umpama kau sangat mencintaiku dan aku akan mati besok, apa yang akan kau lakukan?" Itzik Damian balik bertanya.


"Aku akan tetap tinggal di sisimu karena aku mencintaimu."


"Lalu?" Itzik Damian melangkah masuk menaruh parfum di atas meja lalu pergi keluar, berdiri di batas pintu lagi. "Kau tak lari dari penderita kutil di seluruh wajah padahal kau bukan pacarnya. Bahkan dari penjahat buruk rupa yang telah pisahkan-mu dari kekasihmu."


Arumi awalnya ingin balas dendam pada Raul Lucca. Tetapi, melihat pria itu terima hukuman yang tidak main-main langsung dari Tuhan. Arumi berubah iba.


"Aku melakukan kesalahan, pingsan saat bertemu dengannya pertama kali, Itzik."


"Kau hanya anak-anak, Narumi. Apakah kita perlu batal pergi ke San Pedro."


"Jangan main-main."


"Dengar, tak ada untungnya juga ke sana. Kamu menggali lukamu."


"Bedakan pekerjaan dan kunjungan pribadi, Tuan Damian. Kita menerima bayaran fantastis. Anda bahkan menolak tawaran lain agar aku bisa bekerja selama seminggu di sana."


"Kalau begitu mari fokus, Nona. Kamu mungkin akan kecewa jika coba mencari tahu."


Arumi Chavez menoleh pada asistennya. Mengernyih. Bersuara lirih.


"Apa kamu tahu sesuatu dan khianati aku? Jangan lakukan itu, Itzik Damian. Kamu akan tetap bersamaku sampai kamu mati dan tak akan berpaling."


Itzik Damian menahan kata yang akan keluar dari bibir pucatnya. Arumi tak bisa menangkap makna tatapan itu. Tak bisa menarik kesimpulan.


"Itzik Damian?!" Suara Arumi nyaris tak terdengar. Itu terdengar pilu.


"Maka beritahu aku, mengapa dia tak menghubungimu sama sekali?"


Bingo. Itu pertanyaan yang paling sering muncul sepanjang malam.


"Apa dia ada di Càrvado?"


Itzik Damian tidak menyahut. Pria itu hanya diam. Masukan tangan ke dalam kantong celana. Berdiri di tempat yang sama hanya serius memantau Arumi tanpa kedip.


"Sejak kapan?" tanya Arumi lagi.


"Dua tahun lalu."


"Dia mungkin punya alasan." Mereka kembali lagi ke sini.


"Atau dia memang tak ingin mengingat apapun termasuk tentangmu. Mengakhiri segalanya di antara kalian."


Kata-kata Itzik Damian hentikan gerakan tangannya. Menatap di cermin. Ia sembunyikan wajah dibalik topeng selama bertahun-tahun, berpura-pura kuat. Namun, ia tak bisa bohongi Itzik Damian. Ia merana.


"Mengapa baru beritahu aku sekarang?"


"Aku pikir dia akan menghubungimu. Dan aku tak ingin menginterupsi. Kita di New York dan belajar. Kamu hanya harus waras bahwa mimpimu sebagai Drama Queen baru saja dimulai, Nona."


"Apakah kamu pernah bertemu dengannya?"


"Tidak. Alfredo Alvarez pernah bertemu Agathias Altair."


"Baiklah. Apa dia baik-baik saja?" tanya Arumi lagi. "Apa dia sehat? Cukup itu saja."


"Aku tak tahu pasti."


"Tunggu aku di bawah, Itzik Damian. Aku akan segera turun setelah bersiap."


Arumi langkahkan kaki ling lung ke bathroom. Menghilang di bawah rintik shower. Uap panas lingkupi dirinya. Ia kehabisan air mata. Menghapus kaca beruap dengan punggung tangan. Melihat wajah dan hidung yang teteskan darah.


"Konsep Barbie dan Ken. Mari kita pikirkan pada kerjaan. Tolong kerja samanya, Nona!" Ia bicara pada kaca. "Tidak, Arumi. Mari pergi ke sana. Percaya pada transparasi cinta yang kamu miliki dan katakan padanya aku mencintaimu sampai mati. Tolong lihat aku, please. Apa salahku padamu?"


Arumi melihat tekad dan cinta di matanya diselingi sejenis kesakitan menjalar di sana.


Arumi Chavez keluar dari ruang tidur setelah memakai riasan tipis-tipis. Ayshe menunggu dengan koper. Entah kebetulan atau sesuatu, koper itu berisi surat dari Aunty Nastya.


"Oh, Nona. Apakah Anda tak suka koper ini? Kita bisa ganti."


"Tidak masalah, Ayshe."


"Pergilah sarapan, Sayang."


"Kamu sudah sarapan?"


"Belum. Aku akan sarapan nanti setelah Anda berangkat. Semoga sukses di sana."


Arumi menghela napas panjang. "Terima kasih."


"Setelah Anda kembali, mari kita mengecat dinding rumah pohon. Catnya mulai pudar."


"Baiklah," angguk Arumi.


"Dengar, jika ingin bicarakan sesuatu, aku selalu ada untuk Nona. Jangan takut berbagi perasaan."


"Ya, aku tahu. Jadi, apakah menurutmu, aku perlu menemuinya?" tanya Arumi getir.


"Ya. Cinta perlu diperjuangkan. Anda mencintainya dan jangan takut beritahu dia perasaan Anda."


"Bagaimana jika ...."


"Jika dan mungkin adalah andai-andai. Anda perlu melihatnya secara langsung. Bertatapan wajah dan minta penjelasan. Anda berhak dapatkan kesempatan itu. Ya Tuhan, betapa tak adil. Apakah dia satu-satunya yang menderita?"


"Mengapa tak ikut saja denganku, Ayshe?"


"Nona ..., aku mengurus adik-adik Anda."


"Baiklah. Sampai jumpa Asyhe."


"Apa yang ingin Anda makan setelah kembali?"


"Apa saja."


"Baiklah, Sayang."


Arumi Chavez turuni tangga dan pergi ke ruang makan.


"Oh, akhirnya kakakmu datang. Pagi, Sayang." Salsa Diomanta di meja bersama suaminya.


"Mari kita sarapan dan doakan saudaramu yang akan pergi keluar kota hari ini untuk pekerjaannya." Laurent Vincenti tersenyum bangga padanya. Tak dikatakan tetapi pria itu apresiasikan dengan begitu banyak jenis sarapan.


Mereka kemudian sarapan dalam diam.


"Sebelum kamu pergi, Narumi Vincenti. Aku ingin bertanya. Bolehkah?"


Hanasita Minori menahannya di meja makan.


"Baiklah Hanasita."


"Mengapa di iklan kamu berkata, Hai, namaku Arumi Chavez? Aku artis, penulis lagu dan model. Bukankah namamu Narumi Yuki Vincenti? Aku tak suka kakakku punya nama berbeda."


Okay, cerdas.


"Kamu habiskan hari menonton iklan?" tanya Arumi sedikit tersenyum.


"Tidak juga."


"Kami menonton iklanmu setiap kali muncul. Papa akan berkata, lihat kakakmu. Dia keren bukan?" Aizen menyahut dari sebelah.


"Em, Ayah. Apa yang harus aku lakukan? Aku tak punya jawaban." Arumi Chavez bergantung pada Tuan Laurent untuk tangani masalah ini. "Aku sangat menyukai Narumi Vincenti."


"Anak-anak. Itu Arumi Chavez adalah nama panggung. Anda tahukan, setiap artis kadang punya nama di dunia hiburan."


"Narumi Vincenti lebih bagus dari Arumi Chavez. Siapa itu Chavez? Apa Ayahmu?" Aizen ajukan protes. Nah, sekarang kita tahu siapa dalang dibalik konspirasi. Aizen sodorkan pertanyaan untuk dibacakan Hanasita. Pikir Arumi muram atau geli.


"Aizen Vincenti?"


"Bukankah sangat aneh, Papa? Young, Aizen dan Hanasita Vincenti. Mengapa Narumi Yuki di rumah dan di luar bernama Arumi Chavez? Teman sekolahku ada bernama Chavez. Orang mengira, Narumi kakaknya. Padahal jelas kakakku. Dia sengaja biarkan semua temanku berpikir begitu dan mengejek aku pembohong. Aku meninju mulutnya hingga berdarah dan dihukum ibu guru."


"Aizen? Kapan itu terjadi?" Salsa dan Laurent berpandangan sedang Hanasita kecekikan. "Mengapa kami tak diberitahu. Hana, apa meninju wajah temanmu menurutmu lucu?" keluh Laurent keheranan pada Hana.


"Maaf, Papa."


"Aizen Ryota Vincenti?!"


"Aku berjanji tak akan lakukan lagi, Ibu guru setuju. Dan tak laporkan padamu, Papa."


Semua orang terdiam. "Aizen Vincenti. Mari kita bicara setelah ini." Laurent berkata pelan.


"Baiklah."


"Harusnya kau diam saja tadi!" bisik Hanasita dari sebelah.


"Ini semua salahku. Aku tak sering mengantarmu ke sekolah. Aku janji akan cepat pulang dan sering temanimu. Tolong jangan berkelahi di sekolah." Arumi nasihati adik lelakinya. "Nanti aku akan tampil diiklan fashion. Anda berdua harus menonton launching-nya. Aku akan menyapa Anda berdua. Hai namaku Narumi Vincenti. Adikku, Aizen Vincenti dan Hanasita Vincenti. Apa kalian suka?"


Wajah mendung Aizen dan Hanasita berubah riang.


"Sekarang, aku harus pergi," tambah Arumi. "Jaga orang tua kita, ya."


"Jangan lama-lama. Pekan depan, kita akan bertemu sepupu Juan Enriques."


"Iyah, aku sudah kembali waktu itu."


Mereka berada di atas pesawat lintasi angkasa murung satu jam kemudian.


"Kamu serius akan pergi ke Càrvado?" Itzik bertanya dari sebelah. Arumi mainkan tangan di leher di balik turtle neck. Pada kalungnya.


"Ya. Di waktu kosong."


"Bagaimana jika dia menolakmu?"


Arumi pejamkan mata. "Aku tidak tahu. Aku hanya perlu melihatnya dan bilang padanya, aku mencintaimu selamanya."


***


Yo te quiero a morir : Aku mencintaimu selamanya.