My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 51. Oh My Sweet Girl



"Anda akan baik-baik saja."


"Begitukah?"


"Ya," angguk Archilles kesekian kali bangkitkan keyakinan Nona Arumi yang mudah terpuruk soal asmara belum kering.


Bukan apa-apa. Mereka berpapasan saat Ethan Sanchez datang ke sekolah. Pria itu berboncengan dengan sahabatnya, Sarah Jessica. Nona Arumi cukup terprovokasi pada sikap penuh perhatian Sarah dan kedekatan keduanya hanya menepuk-nepuk dadanya. Mendukung diri sendiri agar baik-baik saja. Kendalikan emosi ternyata butuh keahlian khusus.


"Mereka sangat cocok bersama." Mudah terintimidasi adalah sikap rendah diri lain. Nyonya Sanchez kurang lebih membunuh sebagian karakter Nona Arumi Chavez.


"Jika Tuan Ethan takdir Anda, dia tak akan pergi kemana-mana."


"Kamu benar."


"Mungkin sekarang terlihat mustahil. Namun, Anda hanya perlu berserah diri bukan?"


"Ya. Aku ingin percaya itu juga."


"Dan kemana aku dibuang setelah aku dilamar?" tanya Archilles mengangkat jarinya yang dipakaikan 'cincin' oleh Arumi. Jantung lekas berdenyut oleh cinta yang terlampau hebat sedang gadisnya belum usai dengan hari kemarin. Archilles hanya memupuk tabah.


"Jika kita berjodoh, kita akan bersama. Bukankah itu terdengar adil?"


"Tidak begitu adil," geleng Archilles. "Anda mengikatku sambil memikirkan mantan pacar Anda. Padahal, aku sengaja biarkan Anda sembuh dari kehancuran dan membuka diri. Aku ingin Anda bisa menerimaku sepenuh hati."


"Maafkan aku!"


"Tak semudah itu. Kemarikan tanganmu, Nona!" suruh Archilles.


Arumi Chavez cemberut. "Gadis sekolah dilarang pakai cincin jadi-jadian." Tahu pasti apa yang akan dilakukan pengawalnya.


"Aku akan belikan cincin sungguhan saat aku kaya." Bagaimana ia bisa kaya? Sedang ia akan tengelam dibalik tembok biara. Ia mungkin akan ucapkan tiga janji pada Tuhan, kemurnian, ketaatan dan kemiskinan?


"Upahmu kemana saja?"


"Banyak pengeluaran terlebih seseorang bersayap, tak kasat mata butuh uang untuk menjaga gadis kesayanganku."


Arumi tidak paham.


"Apa maksudmu?"


"Nanti saja Anda paham."


"Buat aku paham. Aku butuh perbaiki sikapku juga."


"Semakin Anda berulah aku semakin miskin. Pentingnya Anda hanya fokus berkarir dan belajar. Demi Tuhan. Jika Anda terus mencari perkara, aku mungkin terpaksa jual diriku suatu waktu untuk menyewa jasa seseorang." Archilles meraih tangan kiri Arumi, gantian menggambar cincin di sana gunakan pena.


"Beritahu aku lebih jelas."


"Nah, gadis ini milikku," sahut Archilles abaikan tuntutan Arumi. Meneliti cincin di jemari Nona Arumi. Mengecup perlahan. "Anda boleh pacaran sesuka hati. Nikmati masa muda Anda. Aku akan menunggu ditemukan Anda, lima atau sepuluh tahun lagi untuk menikahiku."


Arumi Chavez amati 'cincin' di jemarinya. Kisah percintaannya dengan pengawalnya akan jadi yang teraneh dalam sejarah dunia percintaan.


"Em ..., jelek sekali gambarmu," protes Arumi Chavez.


"Aku terburu-buru. Beruntung jari Anda bagus dihias apa saja. Ini baru pantas disebut keadilan bagi semua pihak terlibat. Kebebasan Anda adalah loyalitas-ku, jangan salah gunakan. Tolong jaga diri Anda. Aku harus pergi, Nona. Paman Anda hari ini akan dipindahkan ke mansion."


Dan itu berarti tugasku selesai. Aku akan pergi besok. Tambah Archilles dalam hati.


Tak ada sahutan. Sekalinya hembuskan napas keras, Arumi Chavez menatap Archilles Lucca ganti ucapan; aku tahu segalanya.


Nyonya Salsa telah beritahu mereka semalam bahwa kedatangan Uncle Hellton ke rumah adalah kepergian Archilles. Selanjutnya, Nona Arumi menolak pengawal yang disiapkan Nyonya Salsa untuknya. Terus terang katakan akan menikahi Archilles suatu waktu di masa depan dan membawa Archilles tinggal di mansion. Angan-angan yang bikin Salsa pening.


"Kamu akan tinggalkan jas yang kamu pakai untukku," kata Arumi berusaha menekan kesedihan.


"Tentu saja. Aku akan menggantungnya di kamarku. Apakah Anda butuh foto posterku? Aku bisa datang ke studio dan bikinkan satu yang bagus."


Narsis!


"Tidak perlu! Aku punya fotomu dari Tuan Armen."


Nona Arumi bicara padanya tetapi tatapan mata hanya tertuju pada Ethan Sanchez. Nona Arumi segera merana.


"Anda akan baik-baik saja," hibur Archilles saat Sarah benarkan dasi Ethan Sanchez. Sarah melambai. Ethan tersenyum pada Sarah sepertinya janjian siang nanti dijemput. Nona Arumi menunduk, bibirnya saling menggigit. Anak mata bergerak-bergerak. Gadisnya akan menangis. Ethan Sanchez tersenyum ke arah mereka dan lanjutkan langkah.


"Begitu saja? Mudah saja berlalu?" Nona Arumi berduka.


"Anda akan mulai terima kenyataan bahwa Tuan Ethan sudah move on dari Anda."


Arumi Chavez terisak tanpa menangis. "Ya, kamu benar. Lagipula, aku akan menikahimu."


"Anda terdengar tidak ikhlas."


"Ya. Memangnya ada orang putus cinta semalam dan belum sampai 24 jam menikahi pria lain, apa lagi kalau bukan pelarian?"


"Anda adalah racun dan obat. Aku terus saja menelan kepahitan."


"Kita akan baik-baik saja."


"Dengan bayangan Tuan Ethan mengikuti di belakang Anda."


"Maafkan aku, Archilles Lucca."


"Aku menerimanya karena aku mencintai Anda."


Pintu mobil diketuk. Young Vincenti berdiri di luar seakan-akan ia pacar Arumi.


"Aku akan antarkan Anda ke dalam kelas atau Anda bisa jalan sendiri?" Archilles Lucca bertanya tetapi tak menunggu jawaban. Ia segera turun. Putari mobil lekas berhadapan dengan Young Vincenti.


"Eh, Archilles Lucca. Mengapa kamu di sini?"


"Young? Apakah kakimu sudah sembuh?" tanya Archilles Lucca balik bertanya.


"Ya, aku ingin bicara dengan Arumi Chavez. Suruh dia keluar. Aku kerjakan tugas kelompok sendirian karena dia menolak bergabung."


"Young, jaga sikapmu padanya, ya," pinta Archilles, mendorong pintu mobil dan menggendong Arumi keluar.


"Oh, kamu pengawalnya, Bung? Bagus itu, aku bisa dekat dengannya?" tanya Young Vincenti.


"Tidak. Gadis ini milikku. Kamu bisa dekati teman-teman kelasmu."


Arumi berdecak. "Katamu aku bisa pacaran sebanyak yang aku mau."


"Aku berubah pikiran," sahut Archilles tenang. Apalagi lelaki model Young Vincenti, yang benar saja?


"Gadis ini milikmu? Atau milik ketua OSIS kami? Kemarin Arumi bertengkar dengan teman sekelasnya karena berebutan ketua OSIS kami. Ia melempar ketua kelas kami ke lubang closet. Ughhh," tambah Young dengan tampang menjijikan.


Arumi Chavez lekas mencemooh. Dasar sok tahu.


"Intinya, kamu tak boleh mengganggunya. Paham?" Archilles melotot galak. Tetapi, bocah ini Young Vincenti. Nada kasar malah buat ia semakin tertantang.


"Aku hanya bicarakan masalah tugas kelompok."


"Nona Arumi sudah kerjakan tugas-tugasnya."


"Baiklah, Lucca tak perlu bersikap penuh permusuhan begitu. Bagaimanapun kami teman sekelas kini."


Persis yang diperkirakan Arumi, Archilles Lucca membuat teman-teman cewek satu kelas menganga. Beberapa dari mereka bahkan hanya melongo hingga bisa menjerat lalat ke dalamnya saat Archilles Lucca masuk ke ruangan kelas.


Tentu saja, Archilles Lucca, tipe-tipe pria yang bisa membuat mulutmu memproduksi liur berlebihan. You know, handsome man ..., tolong garis bawahi atau dicetak tebal ..., no cute boy seperti remaja-remaja laki sekolah mereka kecuali Ethan Sanchez. Archilles Lucca adalah contoh paling nyata pria dewasa.


"Pagi Arumi ...." Seseorang memulai inisiatif menegurnya. Pertama kali terjadi, para siswi menegurnya.


"Pagi Arumi Chavez," sapa yang lain mendadak sangat ramah.


"Pagi, Arumi. Apakah kakimu terkilir?"


"Kau lihat itu! Tak bisa lihat barang bagus," sindir Arumi hanya Archilles yang dengar. "Cepat sana pergi sebelum ada yang menjilati-mu."


"Sampai jumpa, Nona."


"Kamu akan menjemputku, kan?"


"Ya. Jika Anda mau, aku bisa berjaga-jaga depan kelas Anda."


"No! Apa kamu mau pamer ketampanan dan memikat seseorang di sekolah ini? Jangan sampai kutemukan kau di depan kelasku. Okay?"


"Ya ya. Aku pergi!"


"Kemana?"


"Ingat, kamu berjanji saat kamu pergi aku harus melihatmu. Kita akan saling melambai dan mengingat perpisahan kita."


"Ya, Nona tenang saja. Aku harus pastikan Anda menangis terisak-isak saat aku keluar dari gerbang. Dengan begitu aku tak merasa sia-sia pergi. Anda akan mengisi bayang-bayangku di kepala Anda dan menyesali sikap penelantaran Anda padaku. Anda tak akan lagi temukan pria seperti aku."


"Percaya dirimu meningkat berkali lipat hanya karena aku akan menikahimu!"


Arumi ingin menimpuk kepala Archilles dengan buku alih-alih mengelus penuh rasa sayang.


"Sampai jumpa, Nona Arumi. Jangan biarkan ada video lain terekam hari ini. Kasihani aku!"


"Ya ya ya, ingat untuk datang menjemputku. Awas saja kau kalau sampai menghilang!"


Archilles melambai, memakai kaca mata gelap hanya bikin teman-temannya tambah blingsatan macam ular kepanasan.


"Dasar tukang tebar pesona!" rutuk Arumi Chavez.


"Arumi Chavez, pria itu pengawalmu?" Mula-mula satu orang lama-lama menjadi sepuluh orang. Ia kemudian dikerubuti lebih dari sepuluh orang teman perempuannya yang penasaran pada Archilles Lucca.


"Apakah dia punya akun sosial media?" tanya salah seorang yang paling gembrot.


"Ya," sahut Arumi asal. Ia akan buatkan Archilles Lucca akun sosial media dan memajang foto-foto Archilles. Ia bisa buatkan video keseharian Archilles Lucca dan dapatkan uang tanpa memberitahu pria itu. Archilles mungkin tak paham teknologi.


Kapan tepatnya Arumi Chavez? Pria itu akan segera pergi?


Selepas pulang sekolah, mungkin. Ia akan memaksa Archilles bergaya dari ruang tidur hingga ke kandang kuda mungkin juga di atas pohon atau di tepi sungai. Bagusnya kalau ada ular berjemur, ia akan menyuruh Archilles bersisian dengan ular hijau atau ular Derik biar lebih eksotis. Ia akan memanggil fotografer profesional dan ciptakan 200 foto hot Archilles Lucca. Arumi yakin ia akan dapat banyak uang. Terlebih jika ia mengekspos bagian six pack Archilles bisa jadi para wanita akan kerasukan dan pingsan.


Oh, otak Arumi hanya mulai bekerja untuk hasilkan uang? Dan dia akan mengeksploitasi Archilles Lucca. Uang yang mereka hasilkan akan dipakai untuk menyewa jet pribadi dan keliling dunia. Berdua, ditambah Leona. Oh, indahnya. Bayangkan Euro dan dollar akan berterbangan di rekeningnya. Wajahnya berseri-seri.


Oh yeah, Archilles Lucca, hidup kita akan sempurna.


"Siapa namanya?" tanya teman lain tidak sabaran agak keras hingga Arumi kaget. Lamunan buyar seketika.


"Archilles Lucca."


"Nama yang keren. Berapa usianya, Arumi?"


"Ya, sangat keren dan jantan."


"24 tahun, mungkin."


"Matang secara fisik dan emosional," timpa yang lain berbinar-binar.


"Oh, bagaimana tipe gadis idealnya?" tanya yang lain. Akhirnya hampir semua berkumpul di mejanya kecuali Fernanda Miller dan Evelyn Jhoel. Terlihat jelas menaruh sikap permusuhan.


"Siapa namamu?" tanya Arumi Chavez pada temannya yang berbadan sedikit gembul.


"Aku Lea, Arumi."


"Aku Lana."


"Lea, Lana, kriteria cewek idaman Archilles Lucca sangat tinggi."


"Oh ya?"


"Apa saja?" Yang lain tak mau ketinggalan. Archilles Lucca benar-benar bikin teman-temannya bergejolak. Dasar gadis-gadis puber.


"Ya, apa saja?"


"Cantik!" sahut Arumi keluarkan buku.


"Ya?!"


"Cantik!" sahutnya lagi keluarkan pena.


"Lagi?"


"Cantik!" sahut Arumi sambil anggukan kepala.


"Cantik! Cantik! Cantik!" ulang seseorang dan yang lain membeo, saling pandang.


"Ya, kalau kamu merasa lebih cantik dariku, coba saja melamar jadi pacarnya. Siapa tahu beruntung," tukas Arumi Chavez.


"Lebih cantik dari Arumi Chavez?" keluh mereka down hingga ke perut bumi.


Satu persatu pergi. Jawaban Arumi adalah jawaban paling rasional tetapi paling susah terealisasi. Standar kecantikan seorang pengawal yang sangat -sangat tinggi. Siapa yang bisa saingi kecantikan Arumi Chavez? Di kelas mereka bahkan di sekolah ini, Arumi Chavez paling cantik.


Sedang Young terkekeh dari belakang melihat tingkah laku Arumi. Ia tak tertarik pada gadis lain kecuali pada Arumi. Mainkan pena dan melukis wajah imut Arumi Chavez.


"Kamu hanya berikan harapan palsu pada temanmu," decak Young dari belakang menendang kaki bangkunya. "Pengawalmu juga berlebihan."


"Berhenti sok tahu tentang kami, Young! Aku juga tak ingin bicara denganmu! Urus masalahmu sendiri!"


"Bolehkah kita belajar bersama?"


"Tidak!" balas Arumi Chavez.


"Ayolah, Arumi. Aku akan bantu kamu bersihkan laboratorium."


"Berhenti menganggu-ku!"


"Atau apa? Pengawalmu akan menembakku? Atau pacarmu yang ketua OSIS itu?" ledek Young Vincenti dari belakang bikin Arumi gusar. "Ooopss!!!" gerutu Young.


Di depan kelas Ethan Sanchez berdiri menjulang tinggi dengan kertas di tangannya. Abram Hartley di sisinya. Arumi Chavez mengatur posisi duduk, matanya tak bisa beralih dari Ethan Sanchez saat pria itu menatap ke arahnya, atau itu yang ditangkap indera penglihatan Arumi. Ethan kemudian melangkah pasti dan panjang kepadanya hingga Arumi Chavez tanpa sadar berhenti bernapas. Langkah Ethan akan sampai padanya, mereka putus. Apakah Ethan ingin mengajaknya backstreet?


Dag Dig Dug!


Jantung Arumi bertalu-talu lalu Ethan Sanchez sampai padanya. Bukan dirinya tujuan pria itu tetapi orang di belakangnya. Arumi menelan kekecewaan hingga hatinya menjerit-jerit sakit. Ia meremas pena di tangannya sedang Ethan bicara pada Young Vincenti. Arumi menggigit satu sudut bibirnya kuat.


Ya Tuhan, beritahu Ethan. Ini sangat mengerikan. Apa yang aku rasakan ini sangat menyedihkan.


"Young Vincenti, Pak Guru Wilbert masukan namamu sebagai salah satu pemain basket untuk mengisi tim. Kita akan latihan selepas pulang sekolah selama satu jam." Suara Ethan Sanchez yang sangat Arumi sukai. "Tolong isi formulir ini dan bawa nanti saat sesi latihan dimulai."


"Baiklah," sahut Young terdengar enggan tetapi tetap sepakat.


Ethan Sanchez berlalu di sisi Arumi tanpa sepatah katapun. Kemarin mereka berciuman di kamar pria itu. Kemarin pagi, Arumi masih pacar Ethan Sanchez. Hari ini semuanya telah berubah. Arumi menatap kosong pada buku ekonomi. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak menangis.


"Apakah kalian putus?" tanya Young dari belakang.


Arumi Chavez tenggelam dalam pikirannya. Baiklah. Mari kita move on! Lupakan Ethan Sanchez, demi Tuhan. Mari lupakan Ethan.


Arumi Chavez tengkurap di atas meja, mengusap luka. Ia sekarat.


Semuanya berakhir. Semuanya berakhir. Terimalah kenyataan. Bicara pahit pada diri sendiri.


Pelajaran dimulai. Agar tak lagi dikatakan bodoh, Arumi berkonsentrasi. Hasil post test bagus, ia tak lagi di belakang kini meski telah kerahkan semua usaha. Jam istirahat ia duduk di kelas sendirian, membuka kotak bekal dan makan. Tahu saja Archilles, pria itu video call.


"Aku merindukanmu, Nona. Apakah Anda makan siang kini?" tanya pria itu tersenyum lebar, mengatur rambutnya. Arumi berdecak, tetapi harus akui pria itu sangat tampan.


"Ya."


"Apa kaki Anda membaik?"


"Aku tak tahu, aku belum pakai kakiku berjalan."


"Selama ada aku, Anda tak perlu berjalan. Aku akan senang menggendong Nona." Tersenyum lebih lebar. "Makanlah dengan tenang dan ikuti pelajaran Anda. Jangan membuat keributan, okay?"


"Ya, berisik! Aku hanya duduk di kelas makan ditemani hantu kelas ini."


"Sampai nanti," lambai Archilles Lucca terkekeh.


Akhirnya kelas selesai. Arumi Chavez harus ke laboratorium dan bersihkan ruangan itu. Ia menghindari hari yang sama berinteraksi dengan Fernanda juga Evelyn.


Bunyi bola basket yang di-drible terpantul dari stadion basket tertangkap kuping Arumi. Bayangan Ethan Sanchez yang tinggi, tampan dan lincah bermain basket bikin Arumi lekas kesambet patah hati. Terlebih ia melihat Sarah berlarian di koridor dengan botol air minum di tangan menuju stadion.


Kepala Arumi tertunduk lunglai, melangkah ke laboratorium. Kakinya tak begitu sakit tetapi sesuatu dalam dirinya kesakitan. Ia pelan-pelan belajar menerima kenyataan bahwa hubungannya dan Ethan Sanchez telah berakhir. Ia akan menikahi pengawalnya suatu waktu. Hanya Archilles tujuan di masa mendatang. Pria itu tak peduli pada kekurangannya dan mencintainya. Itu saja cukup. Saat ini, ia akan belajar dan berkarir. Archilles akan menempuh jalan panjang juga. Mereka akan bertemu kembali, entah kapan.


Arumi mulai bersihkan lab sementara sekolah mulai kosong. Satu persatu siswa pulang ke rumah kecuali kelas-kelas ekskul masih terus berjalan. Ia menggosok lantai, bersihkan meja, rapikan peralatan praktikum dan melap kaca jendela. Ia bereskan lemari penyimpanan perkakas lantai ketika tiba-tiba saja bagian belakang kepalanya dipukul sesuatu. Arumi terkejut, ia jatuh terduduk di lantai. Hendak menoleh tetapi ia kehilangan kesadaran dengan cepat. Pingsan.


Tangan-tangan menyeret Arumi ke depan almari penyimpanan sapu-sapu dan pel dari bahan besi, masukan tubuh Arumi ke dalamnya dan menutup pintu, memutar kunci. Memeriksa pintu lemari sekali lagi.


Langkah-langkah kaki keluar dari laboratorium, pintu lab di kunci. Sekolah sunyi senyap sesekali bunyi bola terdengar mengisi kekosongan. Seseorang bernapas dalam kegelapan, kehilangan kesadaran terlebih ia sedang menuju ambang kematian.


Siapa yang lakukan tindakan kriminal ini padanya? Oh, apakah ia akan jadi hantu sekolah berikutnya?


***


Tinggalkan komentarmu di bawah ini, komentar paragraf, komentar keseluruhan, komentar di komentar readers. like, vote. Wajib! Wajib!