My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 23. Lovey - Dovey



"Apa kamu dan Ethan Sanchez berantem?"


Arumi Chavez tak tanggapi pertanyaan Marya Corazon, kakaknya. Mata Arumi tak fokus pada makanan dalam kotak bekal seberapa menggiurkannya terlihat. Tangannya mengaduk-aduk, sesekali ekor mata sibuk awasi Ethan Sanchez di meja lain kantin dikerubuti beberapa siswa kelas satu yang minta bimbingan untuk soal matematika. Mereka tampak bersemangat pada Ethan.


Jika cara terangkan materi sama seperti yang pria itu lakukan padanya kemarin, Arumi Chavez yakin setiap murid di sekolah ini akan jatuh cinta. Lihat saja di sana, Arumi yakin banyak otot jantung dan otot polos siswi perempuan sedang bekerja keras karena karisma pacarnya.


Cemburu tetapi tak berdaya.


"Ada apa denganmu, Arumi?" tanya Reinha Durante dari sebelah Marya Corazon. Sikap Arumi juga menarik perhatian Claire Luciano yang muncul belakangan sedang Abram Hartley menempel di belakang Claire seperti pekerja bututi ratu lebah.


"Abram ..., berhenti mengekor aku! Ya Tuhan aku berasa reinkarnasi rubah berekor sembilan," tegur Claire Luciano kesal pada sahabatnya.


"Mengapa tak boleh? Kita selalu saling menempel sejak di tingkat satu? Mengapa sekarang kamu ingin bangun tembok?"


"Itu karena kamu seperti lalat buah, ya Tuhan." Claire Luciano memutar bola matanya. "Bergabung bersama Ethan Sanchez sana!"


"Aku akan berada di sisi gadis-gadis ini dan diberkati," sahut Abram Hartley menarik Claire Luciano duduk.


"Kalian selalu berisik tanpa batas," keluh Reinha Durante. "Nah, Arumi Chavez ada apa dengan wajahmu?"


"Aku terjatuh kemarin."


"Luka lecet juga yang lain lagi. Wajahmu terus ditekuk pada satu sudut," tambah Reinha Durante ikuti ekor mata Arumi.


"Oh, apakah pria di sana itu?!" tanya Claire Luciano mengangguk ke arah Ethan Sanchez.


"Dia jadi asisten guru Ibu Anastasia, guru matematika kita. Trik yang bagus untuk menarik minat anak-anak agar suka matematika."


"Ajarkan murid-murid lain dan abaikan pacarnya," tambah Claire Luciano pukuli tangan Abram keras saat pria itu sodorkan tangan pada kotak bekalnya. "Ambil makan siangmu di sana dan jangan jadi benalu, please, Mr. Hartley."


"Apakah salah satu di antara kalian bisa bantu aku untuk tugas matematika setelah makan siang?!" tanya Arumi pada keempat seniornya gundah gulana.


"Tunjuk salah satu di antara kami dan anggap saja semua beres kecuali kamu inginkan pacarmu," jawab Reinha Durante.


"Owh, ada apa denganmu dan Ethan? Kamu tak minta Ethan membantumu?"


Arumi Chavez menggeleng, paham apa yang sedang terjadi. Ethan Sanchez sedang penuhi nazar jaga jarak, sebisa mungkin menghindar. Kata-kata Arumi soal berlebihan dan over protektif memicu situasi siang ini.


"Biarkan Ethan Sanchez menolong teman-temanmu, Arumi. Dia akan bergabung setelah selesai. Nah, habiskan makananmu!" bujuk Marya Corazon.


"Bagaimana drama-mu?" tanya Claire Luciano penasaran alihkan topik. Wajah Arumi yang cantik jelita macam peri menarik disimak saat jatuh cinta pada Ethan Sanchez.


"Lancar," sahut Arumi semakin murung. Apa ia akhiri saja dan undurkan diri


"Aku menyukai karakter Serena, Arumi Chavez, kamu sungguh berbakat perankan gadis sensasional itu. Drama ini sungguh gila." Reinha Durante menyambung.


"Sayangnya Ethan tidak sukai Serena dan Bittersweet Married."


"Oh ayolah, itu cuma imajinasi yang dituangkan dalam roman. Bukan berarti kamu benaran penggoda-kan?"


"Ethan Sanchez sedang lovey - dovey (kasmaran berat) padamu, wajar saja kalau dia macam habis kebakaran. Ais ais, lihat dia! Aku tak percaya dia berkomitmen untuk tak pacaran." Claire Luciano mencibir.


"Jadi itu masalahnya?" tanya Marya lembut pada adiknya. Mereka abaikan makan siang kini dan dengarkan curahan hati Arumi.


"Ya, Kak."


"Aku akan bicara padanya dan dengar apa maunya darimu."


"No! Cukup buruk aku dikatai idiot dan bodoh. Jangan buatnya berpikir aku mengadu pada kalian."


"Baiklah."


"Jika kamu tak tahu cara hadapi Ethan Sanchez tanya padaku!" Abram Hartley bicara setelah mengunyah bola daging. "Aku punya solusi."


"Aku meragukanmu, Abram. Sebaiknya kau mulai merajut benang cintamu sendiri, jangan ikut campur masalah percintaan orang lain."


Abram Hartley mancungkan bibir. "Ya ya tahu. Gaji seorang tentara kecil, kamu mungkin akan menderita nanti. Pikirkan baik-baik saat Tuan Adelberth melamarmu!"


Claire berdecak. "Apa aku akan terlihat menikah besok lusa?" Berpaling pada Arumi. "Bagaimana kalau kita bekerja sama, Arumi." Claire Luciano bergairah. "Ijinkan CL jadi penyedia wardrobe untukmu. Aku bisa buat kontrak sekarang."


"Jangan menggunting aku Claire Luciano!" potong Reinha Durante cepat. "Aku lebih dulu mengirim proposal endorsement pada Arumi saat Bittersweet Married dimulai."


"Jangan pengaruhi Arumi, Reinha Durante. Biarkan Arumi memilih antara CL atau Dream Fashion bahkan malah Double L (LL)."


"Aku yakin Arumi Chavez akan memilih Lucky Luciano." Reinha Durante pasrah tahu dengan baik seberapa dekat Lucky Luciano dan Arumi Chavez.


"Teman-teman ...," keluh Arumi. "Kalian tahu bahwa Nyonya Brelda Laura Moon tangani masalah wardrobe dan style-ku. Please jangan berebutan."


Kedua gadis yang mengelola outlet masing-masing itu langsung terdiam. Brelda Laura Moon susah dilawan oleh gadis seumuran mereka karena wanita itu sangat matang dalam mengelola bisnis. Brelda juga di-backing oleh suaminya King Deon Ehren yang sangat berpengalaman.


"Bahkan jika CL, LL dan Dream Fashion bergabung tak akan sanggup melawan Brelda Laura."


"Kita akan berpikir kreatif nanti."


Ethan Sanchez akhiri kelas private-nya segera mampir bergabung.


"Pacarmu butuh bantuan!" sambut Reinha Durante raih makanannya dan mengerling pada yang lain untuk pergi.


Abram Hartley belum paham, punggungnya lantas ditepok kuat oleh Claire hingga tersedak. Kerusuhan itu berakhir sisakan Ethan Sanchez dan Arumi Chavez di meja.


"Sudah makan siang?" tanya Ethan Sanchez datar. Sikapnya ingatkan Arumi pada sosok Ethan Sanchez sebelum jadi pacarnya, sedikit kejam padanya.


"Ya," angguk Arumi tak sepenuhnya bohong. Dua tiga suap cukup disebut sebagai makan siang.


"Mana tugas matematikamu?"


"Belum selesai."


"Bagian mana yang tak begitu kamu pahami, Arumi Chavez?"


"Banyak," sahut Arumi.


"Biar kulihat." Ethan Sanchez menggeser tempat duduk pada Arumi. Baru saja buka buku.


"Ini ...."


Seorang gadis hampiri mereka. Norah Milan.


"Ethan Sanchez, maaf aku mengganggu. Aku rasa kamu lupa telah berjanji pagi tadi untuk memeriksa rancangan kalender kerja OSIS yang kamu minta dariku, juga tentang sosialisasi sampah oleh Trash Hero pekan depan."


Arumi Chavez menghela napas panjang. Tak mendongak pada Norah Milan atau ia akan kesal. Bukan karena gadis itu mengganggu mereka karena Norah Milan ..., gadis cantik dan berprestasi lainnya di sekolah ini dari tingkat dua. Dan Norah pernah mengajak pacarnya kencan. Arumi Chavez menutup buku lalu bangkit.


"Aku harus kembali ke kelas, Ethan."


Tergesa-gesa pergi. Berjalan menuju kelas lalu masuk ke dalam dan duduk di bangku.


"Apa tugas matematikamu sudah selesai, Arumi?"


Seseorang bertanya dari bangku belakang. Arumi pikir ia sendiri, segera berbalik temukan siswa berkaca mata, gaya rambut tempo dulu tegaskan seseorang pintar yang agak kuper sedang menatap ragu padanya.


Arumi menggeleng lesu.


"Aku juga belum," sambar siswa itu lagi cepat. "Ma ... u selesaikan bersamaku?" tanyanya lagi.


Arumi Chavez menoleh keluar kelas, tak ada tanda-tanda Ethan datang padanya. Berbalik pada teman baru-nya dan mengangguk. Arumi kemudian pergi ke belakang dan menarik bangku.


"Hai Emilio," sapa Arumi hingga Emilio Chan. Ini teman sekelas pertama Arumi Chavez. "Terima kasih sudah ajak aku bergabung."


Emilio Chan mengangguk antusias. Mereka mulai belajar bersama.


"Aku tak pernah melihatmu sebelumnya," ujar Arumi. Betapa buruk sikapnya karena tak hapal teman-teman sekelasnya.


"Aku di shuffle dari kelas A ke kelas ini."


Anak-anak kelas A terkenal cerdas dan pintar-pintar. Alasan Emilio datangi kelas mereka bisa jadi untuk jadi pedoman.


"Lima menit lagi pelajaran akan dimulai, Arumi. Kamu hanya perlu mencatat jawabanku sebelum anak-anak lain datang. Ngomong-ngomong, nomer satu jawabanmu salah, Arumi."


"Terima kasih. Aku tak bisa perbaiki sekarang. Apa kamu tahu, aku yang terbodoh di kelas ini?"


"Ya, teman-teman sering bicarakanmu dan mereka terdengar irihati padamu."


"Tak masuk akal. Mengapa irihati pada gadis bodoh sepertiku?"


"Mungkin karena kamu sangat cantik, Arumi."


"Trims, aku lebih memilih jelek tetapi pintar."


"Kamu tahu, bodoh dipakai untuk 'tidak pintar'. Bagiku, bodoh sebenarnya tak ada."


"Jangan menghiburku!"


"Semangat belajar Arumi!"


Ekor mata Arumi menangkap bayangan pacar tampannya di kaca jendela. Ia terus menulis.


Ethan Sanchez masuk ke kelas, berdiri sejenak di ambang pintu.


"Ethan Sanchez mencarimu, Arumi."


Arumi tak berbalik sibuk mencatat jawaban.


"Arumi?! Apakah kamu baru saja menyontek jawaban temanmu?" tanya Ethan Sanchez menjulang di sisi bangku Arumi. Di dunia Ethan Sanchez ..., meniru jawaban orang lain adalah aib memalukan penuh noda dosa. Arumi Chavez tanpa malu-malu menjiblak tugas temannya.


"Ya, seperti yang kamu lihat. Saat tugasku tak selesai, teman-teman akan berdecak, betapa aku hanya sibuk pacaran dengan siswa paling jenius di sekolah ini tanpa mau belajar banyak darinya. Aku bisa belajar nanti setelah kelas usai bersama Emilio. Oh ya, ini teman pertamaku, Emilio Chan."


"Gadis ini benar-benar," keluh Ethan Sanchez mencabut pena dari tangan Arumi hingga Arumi berhenti menulis dan mendongak pada pacarnya.


"Apa yang kamu lakukan? Sebentar lagi kelas dimulai?"


"Kembali ke tempatmu, Arumi!"


"Ethan?!"


"Emilio Chan?! Trims Sobat, telah berikan tumpangan pada gadis ini," ujar Ethan Sanchez pada Emilio Chan. "Tolong jangan lakukan lagi lain kali."


Emilio Chan menatap Ethan Sanchez tak suka tetapi mengangguk patuh.


Arumi dituntun kembali ke bangkunya. Ethan menarik bangku lain dan duduk di meja Arumi.


"Ethan Sanchez kelas akan dimulai," usir Arumi.


"Lalu?!"


"Kamu berada di kelas satu."


"Mana buku tugasmu, Arumi? Mengapa tak beritahu aku semalam bahwa kamu punya tugas?"


"Aku ingat setelah kamu pergi! Tolong kembali ke kelasmu, Ethan Sanchez. Aku bisa kerjakan sendiri."


"Ini maksudmu?" tanya Ethan Sanchez dan mencoret hampir semua pekerjaan Arumi.


"Ethan?!"


Tak hiraukan Arumi malah semakin berdempetan dengan Arumi sambil perbaiki pekerjaan Arumi.


"Perhatikan aku! Ada aturan dalam hitung campur, Arumi. Angka dalam tanda kurung harus diselesaikan terlebih dahulu, baru dikalikan atau dibagikan. Ini adalah dasar-dasar Matematika, Arumi!"


Keberadaan Ethan Sanchez menyita perhatian teman-teman yang baru masuk.


Ibu Anastasia masuk ke kelas setelah dering bel masuk, baru saja mengangkat wajah segera keheranan.


"Ethan Sanchez?! Apakah kamu tak dengar dering bel?"


"Maafkan aku, Mam, buat Anda terkejut. Aku akan ikut kelas Anda, Mam."


Ibu Anastasia bertambah heran.


"Apa tak ada pelajaran di kelasmu? Bukankah akan ada kelas persiapan ujian dan masuk universitas?"


Ethan Sanchez tersenyum pada guru pembimbing Olimpiade Matematikanya itu, menjalin tangan Arumi di bawah kolong meja.


"Maafkan aku, Mam. Aku bolos kelas persiapan dan ikut kelas Anda karena ingin temani pacarku belajar Matematika."


Tentu saja kelas langsung gempar. Ethan Sanchez mendapat sorakan teman-teman Arumi. Beberapa dari mereka memukul-mukul meja.


Beberapa siswi malah meleyot di bangku mereka meleleh oleh sikap Ethan Sanchez berharap bertukar posisi dengan Arumi.


Sementara Arumi Chavez cuma bengong, menoleh ke samping pada Ethan Sanchez yang serius ditiap kata. Tak pergi dari raut tampan Ethan karena terpesona.


"Mohon diijinkan, Mam."


"Ethan Sanchez ..., bimbingan di kelas persiapan sangat penting untukmu."


"Aku akan baik-baik saja, Mam."


Ibu Anastasia kehilangan kata.


"Selama aku jadi pendidik, tak pernah lihat seseorang dari kelas tiga pergi ke kelas satu untuk ikuti mata pelajaran bersama pacarnya."


"Maafkan aku. Mungkin ..., jika aku didekatnya, pacarku akan lebih bersemangat." Menyahut sangat serius.


Mulut Arumi Chavez membulat. Seniornya ini pernah bersumpah sekalipun dunia kehabisan cewek tak akan jatuh cinta padanya. Bahkan sepanjang hari ..., Ethan Sanchez ..., terlihat ingin berlari menjauh darinya.


"Ethan Sanchez ...," Ibu Anastasia bicara setelah hura-hura reda, menarik napas panjang-panjang sebab murid kebanggaannya itu tampak tidak biasa. Tatapan mata juga physical touch Ethan Sanchez pada Arumi Chavez di sebelahnya benar-benar tunjukan bahwa Ethan Sanchez sedang kesetrum cinta tegangan tinggi.


"Yes, Mam?!"


"Aku berharap kamu tidak mengajak Arumi Chavez menikah muda seperti yang dilakukan teman-temanmu."


***


Lovey - Dovey (English)


Istilah untuk remaja yang miliki gejala kasmaran berat....


Ini masih bagiannya Ethan, ya, karena yang satunya masih teler.