My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Ending Part 2. Llevarte Mi Felicidad



Mata masih mengantuk tetapi pemberkatan nikah akan berlangsung pukul sembilan. Ia berada di sebuah ruangan dalam pastoral Saint Nicholas.


Beruntungnya daerah mata telah selesai didandani. Xavier Moon sejak semalam tak peduli pada apapun yang ia kenakan Bukan cuma secara frontal ekspresikan suka tetapi juga bahwa ia telah jatuh cinta pada Arumi. Sedang Arumi mendorong dirinya keluar untuk imbangi Xavier. Jelas tidak mudah.


Arumi berjuang keras karena Xavier melihatnya sebagai Narumi, teman juga kadang lawan seperti tujuh tahun ini, dan kini mereka seakan sepakat tanpa kata memulai untuk satukan perasaan.


Xavier sedang bersiap songsong pernikahan mereka di sebuah hotel tak jauh dari Saint Nicholas.


Jet lag, kemarin ia mengisi banyak waktu kosong untuk ini dan itu. Aurora adalah bagian dari dirinya. Tersenyum.


"Aurora ... Aurora ... Aurora ...." Semakin diulang semakin kecanduan pada nama itu. Adakah nama seindah itu?


Kemarin sejak siang sampai menjelang sore habiskan waktu bersama. Berenang dan bermain. Berkejaran di atas rerumputan dan seluncuran. Aurora tertawa sangat bahagia. Mereka membuat foto berdua dengan gaun cream bergambar bunga sakura sedang mekar.


Arumi membuka file rekaman suara setelah gunakan ear phone di kedua kupingnya.


"Mama! Au janji akan jaga mama sampai nanti Au punya pacal."


"Sampai segitu saja?"


"Iya, kan Au juga nanti jaga pacal Au. Macam Izik tuh. Mau jaga Kei."


Mereka bergulingan di atas karpet dan berbaring terlentang setelah Arumi puaskan diri ciumi Aurora. Atau dia tak akan pernah puas. Aurora suka vanila dan aroma manis itu buat Arumi jatuh cinta lagi dan lagi, tak bosan-bosan. Ia ingin kisah ibu dan anak sesungguhnya, yang saling terbuka dan pahami. Bukan dengan banyak aturan dan saling konfrontasi sepanjang napas seperti dirinya dan Salsa Diomanta. Aurora hanya akan dapatkan cinta dan kasih sayang utuh darinya.


Tuhan beri aku kesembuhan dan usia panjang demi Aurora. Mereka terbaring saling berhadapan.


"Au ...."


"Ya, Mama."


"Mama nanti mau menikah."


"Mama sama Papa?"


"Bukan."


"No, Mama. Hanya boleh sama Papa."


"Au ...."


"Tunggu Au, ya."


Aurora pergi ke dekat vas bunga, naik ke atas kursi dan mencomot satu tangkai mawar merah. Datang pada Arumi.


"Mama ..., Izik dan Au biasa pakai ini."


Arumi menyipit. Senyuman mekar di wajahnya.


"Bagaimana caranya?"


"Papa ...," kata Aurora serius cabuti satu helaian mawar. "Papa Balu." Cabuti lagi.


Arumi terkekeh geli. Dasar Itzik Damian. Arumi penasaran masalah apa yang buat Itzik Damian dan Aurora cabuti mawar karena tampang Aurora sangat serius dan tegang seolah segala keputusan hidup bergantung pada helaian mawar.


"Papa ..., Papa Balu! Papa ..., Papa Balu."


Tersisa beberapa helaian. Aurora menangkup mawar dengan kedua tangan gemuknya. Pejamkan mata.


"Tuhan, Au maunya Mama sama Papa. Bantu Auuu ya. Nanti Auuu janji tidak cengeng lagi kalau mau bobo. Buat Mama happy."


Buka mata. "Papa ..., Papa Balu."


Hohhh?!


Ekspresi Aurora membulat. Wajahnya kemerah-merahan.


"PAPA!" Dia menjerit kegirangan dengan sisa satu helaian mawar. "Lihat Mama. Papa menang."


Arumi tertawa mengakak. Sangat terhibur.


"Lihatkan, nanti sama Papa jemput Au ya."


Make up artist yang menghandle dirinya pagi ini adalah rekan satu perusahaan dari bagian Beauty Consultant. Kerutkan kening keheranan pada Arumi yang hanya memutar rekaman sejak kedatangannya. Terus tersenyum seakan ingin menghapal momen.


"Aku harap kamu tak sebarkan gosip di luar sana, Nona Gladys," tegur Arumi kembali pejamkan mata. Biarkan video menyala karena ia seakan kehabisan waktu.


"Walaupun aku sangat penasaran. Aku tak akan coba-coba bikin Brelda marah. Anda punya banyak anak adopsi di luar sana. Apakah gadis kecil yang cantik dalam video salah satu dari mereka?"


"Aku tak bisa beritahukanmu, Gladys."


"Siap, Nona. Maafkan aku sudah lancang bertanya."


"Tolong jangan berlebihan bubuhkan materi di sekitar mataku."


"Baik, Nona."


Arumi tinggalkan Aurora di sore hari kemarin pulang ke mansion Diomanta.


"Narumi ..., bisakah kita bicara?"


Ibunya menunggu gelisah di ruang tamu.


"Bisakah nanti saja? Aku sedang terburu-buru." Arumi tinggalkan Salsa Diomanta mengeluh di tempatnya berdiri.


Ia pergi ke ruang tidur dan meraih koper. Wujudkan niat mengisi semua kenangan mereka di dalam koper. Mengelus jas pengawalnya, juga celana. Kemudian mendekap sepatu hitam milik pria itu. Ada sebuah buku yang ditemukan di mass Archilles Lucca ketika pria itu berhenti jadi pengawalnya dan tinggalkan Mansion pertama kali. Arumi membuka perlahan. Lembaran demi lembaran. Hanya sebuah buku ekonomi dasar.


Namun, ia dapati selembar kertas terselip di sana. Arumi memeriksa.


"Nona Arumi, saat Anda temui surat ini. Aku telah berada jauh darimu sedang duduk di pagi hari sambil memikirkanmu, mengunyah sarapan sembari rindukanmu. Sejak jatuh cinta pada Anda, otakku seperti diprogram hanya untuk mengingat Anda. Bibirku selalu menyebut nama Anda di setiap helaan napasku. Nona, aku berharap takdir entah bagaimana satukan kita. Mungkin jalannya agak panjang dan berliku. Tetapi, aku yakin kita akan bersama suatu waktu. Tak akan ada yang bisa mengubah cintaku padamu. Terima kasih telah mengikat pria rendahan sepertiku dengan cinta mulia Anda. Aku sangat mencintaimu, Nona Arumi. Anda adalah satu dan hanya satu-satunya di hatiku. Dari pengawalmu, Archilles Lucca."


Dekap buku ke dadanya. Ia menggigit bibirnya kuat. Kenangan mereka menyusup ke dalam kepala. Kekasih yang terlampau dicintai sepenuh hati.


"Aku merindukanmu, Tuan Pengawal, karena aku benar-benar akan tinggalkanmu jauh di belakang. Benar-benar melupakan semua tentangmu."


Air mata putus asa meluruh turun, kaburkan pandangan. Ia putuskan meratap untuk terakhir kali. Bahu terguncang keras dan ia tengkurap di atas ranjang.


"Harusnya kita kabur saja waktu itu! Kau bisa menjagaku." Ia mulai sesak napas. Darah keluar dari hidung juga sedikit muntahan.


"Brengsek!" umpat Arumi segera bangkit, sempoyongan. Ia menahan tubuh dari serangan pusing dan mual. Pergi ke toilet dan muntah-muntah di sana.


Basuh wajah kuat dan kasar. Ia kembali ke ranjang. Lemparkan kertas dan buku ke dalam koper di atas setelan jas pengawal dan sepatu pria itu. Ia kumpulkan semua foto prewedding mereka secepat mungkin, dijejalkan satu persatu semua barang. Kemeja hitam dan putih pria itu juga rok span juga kerudung yang biasa ia pakai tiap tahun ketika menunggu kekasih di Saint Marry Capel. Kancingkan benda itu seolah takut berubah pikiran dan menyeret kopernya keluar kamar.


Mata bentrok pada piano. Arumi hentikan langkah. Ia pergi ke sana. Mengusap dan mengelus sebelum menutup piano dan menguncinya. Lepaskan pengait roda dan mendorong benda kesayangannya itu sekuat tenaga hingga sampai di pojok. Lalu, tutupi dengan kain hitam.


Kembali untuk bawa koper turun. Salsa Diomanta masih di bawah. Gigih tidak mau beranjak mungkin sampai Arumi mau bicara.


"Narumi ..., mau kemana?"


"Oh, ini. Beberapa barang-barangku perlu dibuang, Mama," sahutnya sambil tersenyum. "Aku akan menikah. Jadi, kupikir suamiku tak akan suka aku masih miliki semua ini di kamarku."


Arumi menengok ke lantai atas. Kembali pada koper. Pandangannya berkunang-kunang dan kepalanya nyeri.


"Anda bisa gunakan kamarku untuk saudaraku yang lain, Mama." Arumi tak mau kembali ke mansion setelah menikah. Lagipula, ia akan kehilangan memorinya termasuk tempat ini. Ia akan terlahir kembali di rumah Xavier Moon.


"Sayang ..., kamarmu akan tetap jadi milikmu sampai kapanpun."


"Casandra Moon tampaknya akan keberatan dan tak akan suka aku sering kembali kemari, Mama." Arumi angkat kedua bahunya. "Aku tak punya pilihan lain. Mama bisa melelang pianoku atau sumbangkan pada yang lebih butuhkan. Hanasita dan Aizen tak tertarik pada musik."


"Narumi ..., kamu tak perlu menikah. Kami tak akan keberatan pada apapun keputusanmu." Salsa Diomanta gerah dan akhirnya bicara.


Arumi menatap Salsa yang gundah gulana. "Jadi, harusnya mama juga tak keberatan aku bersama Xavier, Mama. Dia pria yang hebat di usia 27 tahun bahkan setara Elgio Durante. Mama akan bahagia miliki dua orang menantu hebat. Xavier hanya akan buatmu bangga."


"Narumi ... maafkan aku."


"Jangan bersedih, kami akan baik-baik saja." Arumi kembali menyeret benda di tangannya.


"Butuh bantuan, Narumi Vincenti?" Young Vincenti muncul dari arah belakang. Klimis dan tampan. Dengan kacamata, Arumi pikir Young berubah dari kepompong menjadi kupu-kupu jantan dewasa yang memikat.


"Em, kurasa tidak perlu. Ini tak seberat koper berisi file perkara di kejaksaan. Aku bisa membawanya sendiri. Sampai nanti ya. Brelda akan datang sebentar lagi."


Arumi menarik koper tergesa-gesa. Ia berpapasan dengan Ayshe yang semuram langit di puncak musim hujan. Tanpa kata mengekornya. Arumi melirik kandang kuda pada teman-temannya. Bayangan pengawalnya selalu di sana. Tinggi, tampan, dewasa dan matang. Dalam lengan pria itu banyak kasih sayang dan cinta.


"Oh, Ayshe ..., mari kita tutup cerita. Aku perlu tunggangi Aorta dan membawanya menonton senja sebelum kami berpisah. Minta Tuan Armen ikut dengan kita."


Arumi telah resmi menarik diri dari perlombaan balap kuda.


"Nona, hanya karena Anda menikah bukan berarti Anda tak bisa pulang kemari, bukan?"


"Aku akan merindukanmu, Ayshe. Aku berharap bisa melihatmu di rumah suamiku."


"Walaupun aku menyayangi Anda, tetapi Nona Hana dan Tuan Aizen butuhkan aku di sini. Aku tak bisa jauh-jauh dari mereka."


"Ya, kamu benar. Terima kasih telah mengurus adik-adikku dengan sangat baik, Ayshe. Bisa tolong ambilkan aku gembok dan kunci?"


"Baik, Nona."


Arumi lebih dahulu naik ke truck kecil dan mulai mengemudi. Sementara Ayshe duduk di sisi sebelahnya. Mereka menuju ke rumah pohon.


"Masih sangat kokoh. Gambaran sempurna cinta Anda berdua. Tak mudah roboh," pancing Ayshe.


"Cinta saja tidak cukup, Ayshe." Arumi berhenti setelah sampai. Turun dari mobil dan menarik koper turun.


Roda-roda menggelinding dan ia mulai panjati rumah pohon.


"Aku punya kenangan indah tentang tujuh tahun lalu di tempat ini. Sekarang aku akan menutupnya mungkin untuk selamanya."


"Nona ..., aku berdoa Anda dan dia bersama kembali."


"Lupakan! Kamu harus bertemu Tuan Moon. Seperti bulan, dia bisa buatmu terus tersenyum."


Apanya? Rutuk Arumi setelah yakinkan Ayshe. Xavier suka buat ia makan hati. Mereka hanya terus saling mengejek tanpa henti.


Arumi sampai di puncak tertinggi. Ia butuh waktu, mengunyah gigi kuat. Lalu, buka pintu rumah pohon.


Foto-foto prewedding mereka terpajang hampir di setiap jengkal dinding. Berbagai ukuran, berbagai pose bahkan yang eror semisal blur atau kabur tak dihilangkan. Saat mereka belum siap, saat mereka makan siang. Segalanya begitu natural.


Arumi pergi ke sudut rumah pohon sandarkan koper di sana. Berbaring sebentar di ranjang, nyalakan lampu yang masih bagus. Memeluk dirinya sendiri. Mereka berciuman di sini. Dan hampir saja berserah satu pada yang lain.


Tour singkat ini adalah yang terakhir. Besok ia menikah dan lusa ia akan mulai persiapan operasi. Ia tak akan pernah ingat pada rumah pohon ini.


Bangun dan keluar dari sana. Menutup pintu dan menggemboknya.


Turun dari sana dan Tuan Armen terlihat bersama Aorta Tua yang tujuh tahun lalu berusia 2 tahun.


"Aorta **. sedang dimandikan," lapor Tuan Armen. "Anda mungkin ingin bersama sahabat lama Anda."


Arumi ulurkan tangan dan membelai kening Aorta kemudian satukan dengan keningnya.


Pemandangan sore di musim panas, langit terang dan bersih. Aroma rumput kering terbawa angin. Daun Pinus tertiup angin. Di sisi lain sungai kecil mengalir. Tak banyak air seperti ketika musim hujan.


Aorta membungkuk dan Arumi turun dari atas punggung Aorta.


"Terima kasih." Keluarkan ponsel dan selfie bersama Aorta. "Aku mungkin tak akan kembali kemari. Kuharap kau tak mencariku, Aorta. Jika kita mungkin bertemu dan aku tak mengingatmu, kau akan maafkan aku. Makan kudapan-mu dan hiduplah dengan baik, ya."


Menonton mentari bergulir turun sebelum kembali pulang. Kini, ia mulai rasakan tiap langkah Aorta berikan semacam guncangan di kepala. Arumi melata pada tengkuk Aorta sementara Aorta berlari pulang. Ia memeluk pengawalnya suatu pagi karena takut pada Aorta.


Lalu, derap kaki Aorta menyerang tepat di suatu tempat hingga ia rasakan kesakitan.


Arumi melompat turun dan berlari menjauh dari kandang kuda dengan napas kejar-kejaran. Pergi ke ruang tidur, abaikan semua orang di ruang tamu termasuk Elgio Durante dan Lucky Luciano. Mengambil waktunya sendiri sampai ia benar siap.


Lamaran berlangsung, Xavier berikan pidato singkat. Cukup menyentuh dan pria itu berubah sangat serius sewaktu ungkapkan tentang kesulitannya menggeser masa lalu Arumi tetapi ia miliki kepercayaan diri tinggi akan bisa bahagiakan Arumi.


Malam berakhir dengan dua adik kecil di kedua sisi. Berebutan perhatian.


"Narumi, semoga pernikahanmu bahagia." Aizen memeluknya dan berkata serak.


"Aku masih berharap Pangeran datang dan membawamu kabur." Hanasita tak mau ketinggalan. Mereka menonton langit penuh bintang buatan di kamarnya. Arumi merekam suara Aizen dan Hana, menyimpannya dalam sebuah pulpen canggih yang ia beli dari sebuah toko elektronik.


"Aku akan merindukan Anda berdua, Tuan dan Nona Vincenti."


"Tolong sering makan malam kemari."


"Mungkin sulit. Terlebih aku ada syuting selama tiga bulan lebih. Kita tak akan bertemu untuk waktu itu."


"Benarkah?"


"Ya. Dan jangan percaya pada apapun yang dikatakan orang tentangku sampai waktu kita bertemu kembali."


"Mengapa terdengar sedih, ya?"


"Karena kita tak akan bisa sarapan bersama lagi."


Hanasita mudah terisak. Lingkari lengan Arumi.


"Aku akan merindukanmu, Narumi Vincenti."


"Tidur saja di sini jika rindukan aku, Hana."


Arumi merayu Hanasita.


"Hidup kami pasti hampa tanpamu."


"Jangan menangis, kamu akan pegangi keranjang besok pagi. Dan Aizen pegangi kotak cincin. Tolong jangan macam-macam di hari pentingku ya."


"Tuan Xavier memang tampan dan menyenangkan, tetapi mengapa kamu lebih cocok dengan sepupu dari Càrvado?" keluh Hanasita. Kecil-kecil Hana sudah pandai menilai ketampanan seorang pria dan tidak ada yang meleset.


"Em, Sepupu Archilles punya pacar. Kurasa sepupu Archilles tak benar-benar sukai gadis yang dia bawa. Mereka saling menatap dengan kikuk. Tersenyum seperti disetel." Aizen m3nd3s4h.


Arumi memeluk kedua adiknya bersisian.


"Selamat malam, Hanasita dan Aizen. Aku butuh tidur dan bangun pagi di hari penting."


Pura-pura menguap dan tutup mata.


Apa Aurora sudah tidur?!


Apa yang sedang Aurora lakukan?!


"Nona ..., Anda sudah siap."


Suara-suara terdengar di sekelilingnya. Arumi menguap sedikit. Ia telah bergaun indah. Sejak kapan? Ia tak cukup sadar ternyata. Veil masih tergantung di patung. Ia menggigil.


"Anda gugup? Aku bisa panggilkan salah seorang keluarga Anda untuk datang."


"Tidak perlu. Aku ingin sendiri," tolak Arumi. Di luar sana, keluarganya berkumpul. Ia tak ingin temui satupun di antara mereka mungkin Ayshe. Tetapi, Ayshe pasti awasi kedua adiknya. "Jangan biarkan siapapun masuk ke sini."


"Tuan Xavier sudah sampai, Nona. Beliau akan langsung menunggu Anda di altar. Anda mungkin ingin sesuatu?" tanya Gladys dapati Arumi cemas dan takut setelah ia beri kabar yang disampaikan Brelda lewat ponsel. Arumi meremas jemari sendiri.


"Teh," kata Arumi nyaris tercekik lehernya karena terserang demam pernikahan. Ia menarik napas berulang kali dan hembuskan. Ia bahkan tak ingin melihat dirinya di cermin atau ia bertambah gugup. Duduk di sofa akhirnya dalam kesendirian mengatur diri. Bersandar hati-hati dan pejamkan mata.


Pintu terbuka.


"Aku temani Anda minum, Nona."


Gladys berikan ia teh. "Terima kasih."


Arumi meneguk teh. Ia diliputi deja Vu, ini mirip sebuah kejadian di masa lampau.


"Apakah Anda merasa lebih baik, Nona?" tanya Gladys.


"Hhhmmm...."


"Biarkan aku selesaikan kerudung Anda."


Gladys bangkit setelah teguk teh lagi. Ia meraih slayer bunga itu dan Arumi mengatur posisi duduk. Gladys pasangkan pada kepalanya.


"Anda adalah pengantin terhebat yang pernah aku lihat."


"Terima kasih."


Gladys kembali duduk, ia meraih ponsel baru saja bersiap memotret. Wanita itu menguap.


"Oh, mengapa rasanya mengantuk?"


"Benarkah?" Arumi amati teh yang masih mengepul. "Mungkin karena kamu bangun pagi buta untuk dandani aku."


"Ya. Tetapi, ini tak tertahankan." Gladys bersandar di sofa seperti mabuk tidur. Matanya bergerak.


Pintu ruangan terbuka. Haruskah ia heran lihat siapa yang datang? Menatap cangkir teh lalu pada kakak tiri yang berdandan nyaris serupa dengannya. Dua orang wanita di belakang. Dua pengawal menjaga pintu.


Bahkan hanya untuk pelarian pada sebuah kebahagiaan semu saja ia tak diijinkan. Entah nasib buruk apalagi ini.


"Halo, Sayang. Kamu kelewatan cantik hari ini."


Arumi menatap nanar. Ia tak ingin ladeni Alana. "Keluar dari sini!"


Alana Chavez mendekat. "Sayangnya kamu baru saja minum teh beracun. Aku menaruh obat tidur di dalamnya."


"Aku tahu."


"Kamu tahu?" Alana keheranan.


"Aku pernah melakukannya tujuh tahun lalu. Racuni teh kakak perempuanku di hari dia akan menikahi Elgio Durante karena aku kesal padanya."


Arumi menyahut.


"Aku melangkah di altar dengan kerudung bertingkat. Elgio Durante hampir tertipu."


Alana Chavez menatap Arumi mengernyih.


"Alana, pertama kamu perlu pastikan, tak ada anjing penjaga atau kamu akan ketahuan."


Arumi menguap. Mata mulai berair. Ia sandarkan kepala pada sofa karena mulai mabuk.


"Omong kosong."


"Saranku, jangan menipu sesamamu di Kediaman Tuhan. Hidupmu mungkin akan buruk bertahun-tahun."


"Hidupku berlangsung buruk sejak kamu datang. Tuhan berpihak padaku kali ini. Tuhan tak akan muncul untuk selamatkan dirimu."


"Semoga." Arumi mulai rasakan berat di pelupuk mata seolah memakai bulu mata palsu lima layer. Kepalanya berdenging nyaring.


Dua orang datangi Arumi, paksa ia yang mulai keracunan teh berdiri dan lepaskan gaun.


"Alana, jangan lakukan ini!" Arumi berkata lemah. "Kamu akan menyesal nanti."


"Mengapa tidak? Apakah kamu rasakan sakitnya? Seseorang yang kamu cintai direbut darimu."


"Brelda Laura akan membunuhmu, Alana. Terlebih Xavier ..., dia akan menyakitimu."


"Pikirkan nasib dirimu sendiri kemana kamu akan berakhir, Arumi!"


"Maafkan Ibuku dan aku karena menyakitimu."


Wedding dress berpindah pada Alana Chavez berikut semua accecories. Alana menyipit pada Arumi. Gladys menggerutu tak berdaya.


"Buka kalungnya!" suruh Alana.


"Tidak, jangan! Ini punya Casandra." Arumi hendak lindungi benda di lehernya tetapi tenaganya telah terkuras entah kemana. Setidaknya biarkan ia punya seseorang di sisinya bahkan meskipun itu Xavier Moon.


Kalung itu melayang. Alana tersenyum senang. Berbalik pergi setelah kerudungnya ditutup dipegang oleh orang-orangnya.


"Bawa saja dia kemanapun yang kalian suka!"


Alana Chavez melangkah keluar dari pintu setelah beri perintah pada pengawalnya. Kelopak mata Arumi semakin mengecil. Alana Chavez hanya bayang-bayang.


"Alana ..., setelah tujuh tahun akhirnya Ethan Sanchez akan pindahkan piagam kebodohan dariku padamu." Arumi tersungkur di atas sofa.


Tangan masih sempat meraih ponsel men-dial angka '1' yang tak pernah beralih fungsi saat para bodyguard akan datang dan menyentuh tubuhnya yang polos yang mulai kedinginan.


Sebelum mata terkatup, pintu terbuka dan ia melihat pria itu datang bersama seorang lain berambut cepak. Tak ada perkelahian bisa dihindarkan. Tetapi, pria itu hanya bergerak cepat padanya.


"Nona ...."


Arumi tertawa geli. Ia tidak hanya kena kanker otak, ia juga mulai gila.


Apakah ia terlempar ke masa lalu? Sebab pria itu hanya terlihat seperti tujuh tahun lalu. Suka panik dan ketakutan saat ia dalam masalah. Terlebih, setelan jas hitam, man in black seorang pengawal dan earphone. Model rambut ciptaannya. Wajah pria itu penuh lebam di sekitar bibir.


Apakah ia bermimpi?


Tidak!


Tubuhnya diselimuti. Kulitnya kenali tiap sentuhan. Terlebih irama napas yang tak mudah dienyahkan begitu saja. Terlalu nyata untuk disebut mimpi.


"Lucca, biar aku saja yang bawa dia."


"Aku bisa sendiri! Tutup saja matamu!"


"Jangan keras kepala! Aku hanya mencintai Bellova, tidak pada yang lain!"


***