My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 134. Denso y Oscuro



Dalam seminggu Arumi paksakan diri lebih keras dari hari lain, ia utamakan pekerjaan. Kesampingkan keruwetan kisah cintanya. Peserta audisi yang berhasil lolos seleksi mengerucut sisakan 10 dari 50 orang dan dalam dua hari panelis bersiap tentukan hanya dua nama dari wilayah bagian ini yang akan ikuti masa karantina dan proses seleksi lanjutan untuk menjadi Next Top Model.


Dalam masa karantina ini, hubungan para kontestan dengan dunia luar akan benar-benar terputus. Itu berarti tidak ada akses internet, telepon, komputer, dan bahkan tidak ada televisi saat mereka berkompetisi. Semakin banyak terekspos smartphone, semakin tinggi kemungkinan bocornya spoiler, dan produsen tidak siap mengambil risiko itu.


Para kontestan terpilih akan lewati banyak tantangan demi tantangan dirangkum dalam sebuah film per episode untuk Reality Show. Run away Challenge, berbagai momentum sesi pemotretan berkonsep unik dan ini akan sangat bermanfaat sebagai bekal karir modelnya ke depan. 


Salah seorang telah amankan tempatnya. Chloé Caroline tanpa cacat bagi ketiga judges. Sisakan satu posisi, satu peserta akan segera bergabung hanya saja ada dua peserta miliki skor sama. Dua juri berbeda pendapat dan jagokan pilihan masing-masing sehingga butuh waktu bagi dua kontestan untuk yakinkan panelis terakhir yang belum jatuhkan pilihan. Dua kontestan ini adalah Zefanya Lucca dan Michelle Jolie.


Brelda Laura memilih Zefanya karena menurutnya Zefanya berhasil untuk semua tantangan padahal usianya terhitung paling muda di antara kontestan lain. Sedang Noah Miller secara spesifik melihat Michelle Jolie sebagai calon model yang siap untuk kompetisi ini.


Mereka menunggu Arumi Chavez untuk memutuskan. Kedua gadis kemudian berhadapan dengan Arumi yang memegang timbangan di tangannya. Ia akhirnya ciptakan satu challenge tambahan.


"Mengambil tantangan adalah hal biasa dalam pertunjukan ini dan aku ingin Anda berdua berpartisipasi. Apakah Anda siap?" tanya Arumi Chavez menatap bergantian pada kedua gadis yang terpaut usia empat tahun.


Zefanya Lucca 17 tahun dan Michelle Jolie 21 tahun. Jika boleh jujur, Noah benar. Michelle secara mental jauh lebih siap dibanding Zefanya. Tetapi, Arumi menilai Zefanya patut diberi kesempatan. Bukan karena kakaknya. No. Dalam ajang ini, kamu hanya dituntut profesional.


"Apakah Anda berdua miliki kekasih?" tanya Arumi Chavez. "Kita dengar dari Zefanya."


"Tidak untuk sementara waktu. Aku ingin berada di kompetisi ini dan tidak terlibat dengan pria."


"Michelle?"


"No, Judges. Aku sedang meniti karir, berpacaran merepotkan aku."


"Baiklah! Aku ganti pertanyaan. Apakah Anda memiliki saudara atau saudari? Atau kebetulan Anak tunggal?" tanya Arumi bersiap dengan jawaban. "Michelle?"


"Ya, Judges?"


"Berapa orang?"


"Satu orang bernama Grace Jolie."


"Nama yang cantik dan Zefanya?" tanya Arumi menatap gadis itu lurus.


"Ya, Judges." Zefanya Lucca menyahut pelan.


"Aku tak bisa dengar jawabanmu."


"Aku punya satu kakak laki-laki dan satu kakak perempuan."


"Baiklah. Menurut Noah Miller, ia menilai Zefanya adalah tipe insecure hingga tidak totalitas dalam pemotretan."


"Ya, Judges. Aku mudah panik."


"Dan menurut Brelda Laura, Michelle Jolie terlalu monoton dari tiap tantangan pemotretan. Dan aku mengakui pendapat kedua juri pada Anda berdua ini benar. Jadi, aku berikan Zefanya dan Michelle satu challenge lagi. Aku hanya menilai berdasarkan hasil pemotretan. Ini challenge dariku untuk Anda berdua!"


Arumi menggantung kata hingga suasana berubah tegang.


"Harmoni Keluarga. Kasih Sayang di antara Saudara. Aku ingin Anda berdua terjemahkan konsep pemotretan ini ke dalam pose bersama saudara Anda. Ekspresi berkeluarga. Anda berdua calon model masa depan. Aku tak perlu banyak berikan arahan."


Michelle Jolie begitu bersemangat. Ia tersenyum cerah berbanding dengan Zefanya yang seakan ingin protes.


"Nyatakan kesanggupan Anda sekarang atau Anda dapat menolak untuk berpartisipasi dalam tantangan ini. Karena itu berarti tidak ada penilaian lagi, silahkan berhenti dan berikan kesempatan pada yang lain untuk lolos."


"Aku siap Judges." Michelle Jolie menyahut tegas.


"Bagaimana denganmu, Zefanya Lucca?" tanya Arumi.


Hening.


"Apakah keluargamu semua sehat?" tanya Arumi lagi.


Butuh waktu lama hingga Arumi berpikir, apakah kondisi kekasihnya buruk?


"Ya," angguk Zefanya ragu.


"Di mana saudara-saudaramu?"


"Di sini bersamaku. Hanya saja, kakak laki-lakiku tidak suka diekspose."


"Kamu bisa menyerah, Zefanya," usul Arumi bahwa yang ia lihat kemarin adalah kekasihnya. "Aku tak perlu memilih karena Michelle akan otomatis pergi bersama Chloé." Suara Arumi agak bergetar.


Menunggu jawaban. Zefanya Lucca pandangi dirinya.


"Baiklah, aku akan menerima tantangan." Zefanya Lucca sanggupi.


Arumi menoleh pada dua temannya yang bertanya-tanya. Noah Miller jelas menentang idenya.


"Kamu bisa buatkan runaway challenge dalam studio ini, sekarang, tanpa harus membuang waktu kita, Nona Arumi." Noah Miller ajukan keberatan setelah mereka beralih ke ruang rehat. "Kamu bisa berikan mereka runaway circuit girl, natural girl atau Queen of City. Dan putuskan hasilnya saat ini."


"Ingat bahwa ini bukan tentang runaway. Dua-duanya kurang bisa terjemahkan konsep pemotretan, Tuan Miller," bantah Arumi tegas. "Aku berikan mereka challenge paling simple. Harmoni keluarga. Di mana media fundamental bagi setiap manusia adalah keluarga. Hubungan romantis kakak dan adik."


"Nona Arumi, Anda akan kesulitan nanti karena challenge paling sederhana akan per-keruh bagimu berikan keputusan."


"Ini masalahku, Tuan Miller. Aku akan putuskan. Anda berdua tak akan mengintervensi aku. Kita akan lihat hasilnya."


"Aku setuju dengan Arumi. Anda berdua akan berhenti berdebat sebab Anda berdua akan perform show talent sebelum acara final berlangsung."


"Kami telah latihan," sahut Noah Miller. "Mau makan siang denganku, Nona Arumi?"


Arumi menggeleng. "Tidak, Tuan Miller. Aku akan bersama asistenku. Mari bertemu sore nanti."


Itzik Damian butuh perhatian dan ia akan lakukan yang terbaik bagi sahabatnya itu termasuk minta Brelda Laura maklumi dirinya. Ketika Arumi keluar dari ruangan rehat, pria itu sedang menelpon.


"Ya. Secepatnya aku kembali. Apa Aurora ingin sesuatu?" tanyanya penuh kasih sayang. Berbeda saat bersamanya sering menghardiknya dan mengatainya culas.


Itzik Damian manggut-manggut.


"Baiklah, Sayang. Sampai jumpa."


Arumi berdiri dekat pria itu.


"Berapa usia, Aurora?"


"Dia sangat cengeng padaku. Sama seperti kamu suka merengek padanya." Itzik Damian memang jago untuk bikin ia kesal.


"Jangan bilang kamu tidur dengan gadis belasan tahun. Ya Tuhan."


"Apa dia melakukannya padamu? Kamu sulit melepaskannya. Apakah karena kalian pernah bersama suatu malam? Aha ... mungkin beberapa malam?" tanya Itzik Damian entah apa masalah pria ini. Cari-cari hal buat ia menangis lalu pontang panting menghiburnya.


Suatu waktu di rumah pohon. Mereka hampir saja bersama. Ada begitu banyak kesempatan dan tak pernah ada yang terjadi. Karena pria itu menjaganya dengan baik.


"Lupakan! Mari kita berkeliling sebentar, makan siang dan kembali untuk beristirahat."


Arumi menggeleng. "Aku ada latihan terakhir dengan Noah Miller dan kru untuk final besok."


"Di mana?"


"Studio."


"Masih ada beberapa jam." Mereka di lobi. Menunggu jemputan mobil perusahaan untuk kembali ke hotel. Para peserta telah pulang sejak satu jam yang lalu termasuk Zefanya dan Michelle yang harus kerjakan tugas mereka bersama kru yang telah dipersiapkan.


Keluar menuju teras karena mobil terlihat. Namun, keduanya segera membeku. Mobil hitam berhenti tepat di belakang mobil jemputan mereka. Pintu mobil terbuka. Agathias Altair buru-buru turun dari sana. Pria itu hampiri mereka.


"Nona Zefanya kabari aku, Anda masih di sini, Nona. Aku menjemput Anda. Nyonya Nastya ingin melihat Anda di Càrvado."


Arumi mematung. Masukan tangan ke saku mantel. Ia suka gugup. Tak ada nada antusias pada suara Agathias Altair. Ia curigai pertanda ini.


"Juri tidak boleh bertamu ke rumah kontestan sebab akan sebabkan kesalah-pahaman." Itzik Damian mengingatkan.


"Nona Arumi ..., Càrvado adalah rumah kerabat Anda."


"Maafkan aku, Tuan Agathias. Aku tak bisa pergi ke sana karena Zefanya Lucca dan Michelle Jolie sedang berkompetisi untuk lolos seleksi awal."


"Nyonya tak akan menyinggung soal kompetisi. Aku pikir, Tuan Muda ingin bicara pada Anda."


Arumi Chavez menatap pada Agathias Altair yang tak bisa tampilkan raut apapun. Berpaling pada Itzik Damian yang sama sepertinya menegang. Tampak pasrah pada keputusan.


"Pergilah Narumi! Aku akan menjemputmu nanti sebelum latihan terakhir." Itzik Damian berkata-kata.


"Mari pergi bersama." Arumi ketakutan.


"Tidak, aku perlu membeli oleh-oleh untuk Aurora." Itzik Damian menoleh pada Agathias Altair. "Beritahu Tuan Muda-mu untuk tidak menyakitinya. Lakukan hal sama, seperti ketika aku hendak membunuhnya di rumah sakit, lalu rumah pantai dan gadis ini melindunginya."


Agathias Altair tak membalas. Mana pria ini mengerti yang terjadi saat Lucca adalah pengawal gadis culas ini. Itzik Damian memeriksa ponsel Arumi. Dua berfungsi dengan baik karena ia kini ada di urutan kedua setelah Lucca menggeser Nyonya Salsa dan Ethan Sanchez.


Arumi Chavez naik ke mobil di bawah tatapan sendu Itzik Damian. Pria itu membungkuk di sisi mobil ulurkan dua saputangan. Itzik Damian gelisah tetapi tak kuasa menyela.


"Minum pilmu! Jangan bersedih, terluka apalagi sampai pingsan, Narumi Vincenti. Kerjaanmu belum selesai"


"Kamu seakan tahu sesuatu?"


"Mana ada pertemuan bertahun-tahun tak bikin haru? Gadis culas ini terkadang masih saja bodoh."


"Hanya itu?"


Itzik Damian mengangkat bahu.


Begitulah akhirnya Arumi Chavez dibawa pergi ke Càrvado. Ia tak bisa gambarkan apapun yang berkecamuk dalam dirinya. Pejamkan mata dan mencoba tenangkan dirinya sendiri. Ia tak berani melihat jalanan tempat ia berlari tanpa alas kaki.


Bukankah rencananya memang seperti ini? Pergi ke Càrvado dan berkunjung. Melihatnya dan bertanya? Beritahu dia perasaannya.


Jelaskan, mengapa ia ketakutan?


"Apakah Anda sudah makan siang?"


Arumi tak menyahut. Mengapa ia perlu baik-baik pada Agathias yang jelas-jelas tidak menyukainya?


"Absen makan siang satu kali tidak membunuhku. Tetapi, Anda halangi aku suatu waktu dan membunuhku. Aku mati sejak itu."


"Maafkan aku."


"Semoga Anda merasakannya suatu waktu."


Mereka sampai di Càrvado, Arumi membuka matanya. Pintu mobil terbuka. Arumi lepaskan kaca mata hitam dan masker. Turun dari sana.


Dan lima menit kemudian, ia bersama Aunty Nastya. Duduk di ruang santai. Teh disajikan. Di hadapan mereka padang rumput terbentang luas. Di ujungnya rumah-rumah merpati berjejer. Setapak tracking membentuk jalur jogging. Tak ada sebelumnya. Pohon apel masih di tempat tetapi tak ada ayunan lagi. Arumi memandang ke satu titik pada siluet yang sedang melempari merpati makanan. Berdiri tegap, memakai kaca mata gelap dan berambut gondrong. Ada Natalie di sisinya pegangi kursi roda. Betapa ia mudah terluka. Seeprti menulis lirik lagu sedih dan ia menangis sejak awal lirik.


"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Arumi akhirnya. Pria itu kembali berjalan pulang. Tanpa kursi roda. Terlihat tanpa masalah.


Gadis di sisi mungkin yang diramalkan Aunty Nastya dalam surat pria itu padanya. Jauh lebih beruntung darinya karena bisa bersama bertahun-tahun. Ia masukan tangan ke kantong mantel. Mencari-cari kekuatan.


"Ini sangat berat untuk dilalui." Aunty Nastya Lucca ikuti pandangannya. "Hal-hal buruk mencekam dan ia kesulitan tidur. Beruntung, tim dokter yang menanganinya bekerja sangat luar biasa. Mereka mengambil kulit di bagian tubuh lainnya dan lakukan pembedahan ini itu pada wajahnya agar kembali normal."


Dan Arumi tak di sana untuk menemani. Betapa tak adil untuknya. Tetapi, semua orang sepelekan hal ini.


"Aku hanya gadis lima belas tahun yang tidak bisa diandalkan. Alasan aku tidak dilibatkan."


"Sayang ..., jangan tempatkan aku di posisi yang rumit. Saudaramu ...."


"Kami bahkan sepasang kekasih, Aunty. Jauh sebelum sepupu diketahui, aku dan dia saling mencintai." Arumi luapkan kekecewaannya.


"Pahamilah bahwa ia sangat menderita, Sayang." Aunty Nastya datang padanya dan mengelus punggung tangannya. "Sayang, ini sungguh berat bagi semua orang. Maafkan aku."


Arumi tak tega pada Aunty Nastya.


"Maafkan aku, Aunty."


"Kita akan makan siang dan mengobrol setelahnya."


Apa ia bisa? tanya Arumi pada hatinya.


Langkah kaki pria itu berhenti sejenak. Pandangi dirinya. Sebelum pegangi Natalie ketika akan menaiki tangga. Menuju tempat mereka duduk.


Dia adalah jawaban untuk setiap mimpi buruk. Atau ia sedang membuat mimpi buruk lain. Wajahnya tak berubah. Keajaiban operasi bedah. Kecuali bertambah matang. Ya, 31 tahun dengan rambut ikal panjang dan sedikit janggut hitam di sepanjang rahangnya. Pertanda tak ada plastik di sana.


"Archilles sangat bergantung pada Perawat Natalie untuk hidupnya."


Dan ini jawaban lain. Arumi tak tahan mendengar nama pria itu disebut. Ia selalu terluka dan semakin menganga. Ia hanya butuh lima belas detik untuk berdarah. Ia telah mengantisipasi, minum obat pereda nyeri sebelum turun dari mobil. Dua pil sekaligus. Ia akan mati ov33r dosis setelah ini.


Tak ada yang bicara saat mereka bertatapan. Lalu, pria itu memulai percakapan kaku. Lebih kaku bahkan dibanding awal pertemuan mereka.


"Kamu di sini, Arumi?"


Dia duduk di seberangnya sedang Natalie tak jauh dari mereka. Bawakan untuknya minum.


Setelah tujuh tahun Arumi macam pintu tanpa kunci, pertanyaan ini bukan yang ingin ia dengar ketika ia berhasil temukan kunci.


Arumi tak menyahut hanya perhatikan dalam diam. Pada mata almond berwarna kehijauan, suara berubah jauh lebih dewasa. Ia berkaca-kaca karena dia baik-baik saja.


Abaikan panggilan berbeda untuknya. Ya, mereka sepupuan bukan? Ia rindukan pria yang memanggilnya Nona Arumi. Dan pria itu tak lagi ada.


Tidak ingin benarkan dugaannya bahwa pria ini tak sama lagi dengan kekasihnya atau Itzik Damian benar bahwa hidup pria ini berlanjut. Sedang ia masih terkungkung di tujuh tahun lalu.


Pria ini bukan cinta pertama gadis belia Arumi Chavez. Tetapi, setelah ia jatuh cinta pada pengawalnya, ia berubah jadi cinta mati.


"Um, ya," angguk Arumi akhirnya. "Apakah kamu baik-baik saja?"


"Ya." Dengan segenap keraguan.


"Aku mencarimu kemana-mana dan menunggumu selama tujuh tahun. Aku tidak pernah coba melupakanmu. Walaupun mungkin sekarang kamu berubah. Aku tidak begitu peduli, aku mencintaimu selamanya." Arumi ungkapkan segalanya. Ia tak peduli sisanya. "Aku hanya mencintaimu sampai aku mati."


Sebelum ia lupa, ia perlu beritahukan padanya. Suasana berubah dingin.


"Kamu tak akan pernah sanggup mengatasiku, Arumi. Mungkin keadaanku akan lebih menyakitimu."


"Aku mengatakan pada Aunty Nastya. Aku hanya gadis lima belas tahun yang tak bisa diandalkan. Tujuh tahun lalu. Apa yang aku miliki?"


"Kamu berhak marah." Pria itu bicara pelan. "Aku tak bisa biarkanmu tinggal di sisiku tujuh tahun lalu dan sekarang. Tidak ada yang akan berubah."


"Begitukah? Berikan aku alasan! Apa kamu akan mati besok?" tanya Arumi sarkas. "Kamu bahkan tak berikan aku kesempatan."


"Bukankah kamu ketakutan padaku?"


"Ya, kau benar. Aku hanya terlalu terkejut. Berbahagialah mereka yang menemukanmu pertama kali dan berekpresi biasa saja. Aku iri pada mereka. Lalu, mengapa sekarang?"


"Aku mungkin akan menghancurkanmu juga."


Arumi berdecak. "Aku terus bertemu dengan keegoisan orang dewasa. Mereka mengatakan ini yang terbaik untukmu, aku mencoba melindungimu, tak menyakitimu dan akhirnya aku rasakan pahitnya. Ditinggal tanpa kabar jauh lebih tak bisa diatasi. Jika bisa mengulang waktu, pindahkan kehancuran darimu padaku. Aku akan menanggungnya untukmu."


"Kamu tak akan paksakan dirimu, Arumi. Lagipula, aku akan bersama seseorang yang menemaniku di masa sulitku."


Arumi bisa rasakan kesakitannya juga tetapi apakah mereka akan lanjutkan penderitaan ini?


"Kamu bahkan tak berikan aku kesempatan." Arumi tak tahan. "Kamu berbohong kembali ke Càrvado dan menghilang. Aku menunggumu menikahiku tetapi di hari itu, kamu putuskan ikatanmu. Tak ada yang kabari aku, sekalipun semua orang tahu. Apakah pikirmu aku akan berlari darimu? Betapa piciknya pikiran itu! Apakah pertama kali aku menyukaimu karena wajahmu?"


"Nona ..., tolong berhenti menjerit padanya, aku mohon." Perawat Natalie berkata lirih dari sebelah. Mata gadis itu bergerak-gerak dan awasi pria di sofa tanpa kedip. Seakan mendeteksi sebuah gejala. Mungkin hindari tekanan berlebihan.


"Baiklah," angguk Arumi turunkan volume suaranya. Arumi heran mengapa ia tak menangis? Kendati sesak di dada hingga ia kedinginan. Dan ia tak bisa lukiskan dirinya yang tercabik-cabik. "Maafkan aku. Lakukan apapun maumu, Tuan. Kamu bisa bersama seseorang di masa sulitmu tanpa sisakan keadilan bagi yang lain. Aku akan pengertian padamu. Terpenting bagiku kamu hidup, sehat dan bahagia." Arumi jauh berubah menjadi lebih merana dari sebelum-sebelumnya. "Hanya saja, setelah beri aku waktu tujuh hari bersamamu. Hanya aku dan kamu tanpa yang lain."


"Itu tidak mungkin." Menggeleng tanpa daya. Rahang pria itu berderak di balik kulitnya.


"Dua hari. Setelah kompetisi berakhir besok. Aku akan berada di sini. Anggap saja penebusanmu karena sebabkan kesakitan padaku selama tujuh tahun. Kamu, bukan satu-satunya yang menderita, Tuan. Dua hari, hanya aku dan kamu tanpa siapapun."


"Arumi ...."


Kini ia sungguh sangat benci namanya 'Arumi'. Terdengar seperti seseorang sedang mengutuki-nya.


Arumi menatap putus asa. Ia telah menunggu tujuh tahun. Bernapas pelan-pelan. Menelan setiap kegetiran dalam jiwa.


"Aku akan pergi setelah dua hari dan kamu tak akan pernah melihatku lagi."


***