My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 52. Inevitable



Seorang pria sungguh-sungguh jatuh cinta pada seorang wanita akan korbankan apa saja demi wanita yang ia cintai. Tanpa perhitungan tanpa banyak rumusan tanpa imbalan. Menjunjung martabat wanitanya tanpa banyak bicara. Tak perlu wanitanya tahu.


"Dia tidak melakukannya semata-mata demi tugas," kata Sunny Diomanta berikan pendapat dari sudut pandang pribadinya mengenai fenomena Arumi dan Archilles. "Aku menemukan konsep cinta sejati yang buatku, arggggh, berpihak pada Archilles."


"Apa maksudmu?" Salsa menjadi gelisah. Gagasan Archilles Lucca jatuh cinta pada Arumi membuat Salsa tidak bisa pejamkan mata di waktu malam. Tatapan lembut Archilles pada Arumi, berhasil menggiring Salsa pada kenangan masa lampau. Tidak buat Salsa lega hanya karena Archilles tetap akan pergi. Cinta pria itu pada puterinya menakuti Salsa.


Sunny sodorkan beberapa berkas.


"Apa ini?"


"Aku diam-diam menyelidiki Archilles Lucca. Ada transaksi di rekening Archilles dengan seorang hacker. Axel Anthony konfirmasi bahwa ini adalah seorang hacker yang sering membantu mereka lakukan beberapa tugas. Archilles selalu pastikan tidak ada berita miring atau scandal Arumi terpublikasi termasuk foto-foto Arumi yang pernah dikuasai oleh beberapa musuh kita. Wajah Arumi bahkan tak bisa muncul ke permukaan tanpa persetujuannya. Itulah mengapa hampir tidak ada berita miring tentang Arumi kecuali dari media-media terpercaya. Kita tak bisa menutup mata bahwa pria ini mencintai Arumi."


"Sunny ...."


"Kak, terimalah kenyataan pahit ini! Ethan Sanchez cocok bagi Arumi dari versi kita. Keluarganya tak bisa menerima Arumi. Apakah Ethan akan korbankan ibunya dan datangi Arumi?"


"Aku masih berharap."


"Tidak akan terjadi. Puteri kita disakiti, Kak. Cukup sudah!"


"Sunny ..., Puteriku tak terlibat dengan kekacauan yang kita buat?"


Dan mereka berdebat berulang kali tegal kasus ini.


"Puteri kita kena getahnya. Itu yang sedang terjadi."


"Aku akan memohon dan berlutut pada Nyonya Sanchez jika dibutuhkan."


"Kakak, hentikan!"


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Berhenti inginkan Ethan Sanchez. Kakak juga tak akan berlebihan kejam pada Archilles hanya karena Arumi berjanji akan menikahinya di masa depan. Pria itu telah putuskan pergi besok atau lusa. Aku rasa, tak ada yang sebaik Archilles untuk menjaga Arumi. Archilles peka pada Arumi. Itu yang gadis kita butuhkan, Kak. Arumi tak bisa membeli rasa nyaman. Ia dapatkan cuma-cuma dari Archilles. Kita melihatnya kemarin."


Iring-iringan kontainer datang.


"Akhirnya aku bisa melihat saudaraku, Sunny," ujar Salsa alihkan topik yang mengganggu. Lekas meraung. "Aku tak mungkin lakukan hal buruk pada Archilles. Pria ini ingatkan aku pada Benn. Aku tak mau menambah daftar kejahatan."


"Lalu, biarkan pria itu bernapas dan pergi. Jika mereka berjodoh, kita akan biarkan."


"Tidak!" geleng Salsa. "Arumi katakan akan menikahinya, kamu lihat? Gadis kita bahkan tak sungguh-sungguh. Arumi hanya putus asa. Arumi akan tinggalkan Archilles suatu waktu dan mengikuti jalanku. Betapa aku benci perasaan ini."


"Ya Tuhan, keluar dari pergumulanmu, Kak! Benn bahagia entah di mana dan kamu korbankan Tuan Chavez karena penyesalan tanpa ujung. Please, akhiri ini."


"Mari kita lihat Hellton, Sunny. Aku berharap semuanya baik-baik saja untuk kita."


Dengan cepat, Hellton Pascalito dipindahkan ke dalam ruangan dekat ruang tidur Salsa dan Sunny. Adelle Diomanta dan Marion setia di sisi pria itu termasuk Axel Anthony.


"Anna ...," sapa Salsa berseri-seri lihat wanita berambut pirang. Sedikit mengerut, Anna tampak agak berbeda. Atau perasaannya saja.


"Apa yang membuatmu naikan alismu, Nyonya Salsa?" tanya Anna keheranan. Mereka berpelukan.


"Aku jarang melihatmu dengan dress dan selalu rapi. Astaga, cantik sekali."


Anna tersenyum lebar. "Oh, aku terinspirasi dari gadis-gadis Diomanta." Terkekeh.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tegur Sunny gantian berpelukan.


"Ya, selalu."


"Aku merindukanmu."


Tak ada yang ingin menyinggung masalah pernikahan Anna dan Hedgar. Oh ayolah, semua orang geram pada Hedgar dan pria itu bisa merusak mood.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Salsa sambil melangkah sekarang ke ruang tidur Hellton.


"Aku adalah malaikatnya. Selama ada aku, pria ini dan yang satunya akan baik-baik saja," angguk Anna pada Axel Anthony yang hanya pandangi Hellton dengan banyak beban. "Dia harus bangun. Irishak hamil besar. Piglet akan kehilangan momen melihat puteranya lahir."


"Putera?" Salsa Diomanta nyaris memekik karena gembira datangi Adelle Diomanta dan mereka berpelukan.


"Ya, Sayangku. Kita akan miliki seorang pria kecil dalam keluarga kita," sambut Adelle berkaca-kaca. "Aku menyesal biarkan Irishak pergi, Salsa. Aku ingin merangkak padanya dan memohon padanya kembali." Akhirnya terisak-isak.


"Ya Tuhan, aku ingin rayakan kehadirannya dengan meriah." Segera murung mengingat Irishak pasti menolak saudaranya. "Oh, ini berita bahagia yang tak bisa dibagikan."


"Itulah pentingnya pria ini harus bangun dan berada di sisi Irishak."


"Anna, apa kamu yakin Irishak tak akan menendangnya jauh-jauh?" tanya Salsa.


"Ia akan kembali lagi menggelinding pada Irishak meskipun ditendang. Bukankah semua ini salahnya hingga Irishak marah?"


Anna Marylin duduk di sisi Hellton sementara Axel Anthony seakan bicara dari hati ke hati dengan pria yang terbaring tak sadarkan diri.


"Setiap melihat H aku membenci Hedgar. Aku ingin membunuhnya dan mencincang pria gila itu," keluh Axel Anthony.


"Ya, kalian akan terus saling menyerang sampai salah seorang di antara kalian mati," sahut Anna Marylin datar mengangkat bahu dan memeriksa denyut nadi Hellton. Mengelus wajah sahabatnya.


"Bangunlah, H. Repotkan aku seperti yang sudah-sudah daripada tiduran macam begini," keluh Anna singkirkan untaian rambut yang mulai panjang dari kening Hellton. Mengusap tangan Hellton.


"Pria ini bisa lekas bangun jika Irishak datang kemari," saran Anna.


"Itu mustahil. Irish tak ingin ditemukan."


"Pria yang malang," keluh Anna Marylin. "Kamu juga biarkan Romeo menjaga istrimu? Tak takut Queena akan berlari padanya."


Anna Marylin tahu, Axel Anthony pernah perintahkan seseorang membunuh Raymundo Alvaro karena Axel cemburu Raymundo jatuh cinta pada Queena. Kini, Axel menjerat leher Raymundo agar tak bisa mati tetapi tak bisa hidup karena mencintai istrinya.


Mereka adalah pria-pria bengkok termasuk Hedgar Sangdeto kecuali Archilles Lucca. Pikir Anna Marylin muram.


"Kamu akan tinggal di sini atau tinggal denganku, Anna."


Bukan kalimat tanya tetapi pernyataan.


"Aku baik-baik saja bahkan di black hole."


Axel Anthony mengerang. "Jangan keras kepala, Sayang. Please. Kamu sepertinya mulai jatuh cinta pada musuh kita." Menyipit penuh curiga pada Anna.


"Apakah kamu tak punya hal lain lebih penting, Ax?"


"Jangan jatuh cinta padanya! Kamu bisa lihat akhir dari dirimu. Pria itu tanpa belas kasihan, ya Tuhan. Dia mencekikmu Anna."


"Ayolah Ax, kamu tak perlu terus ingatkan aku. Hmm?!"


"Nyeri pertahankan memori, Anna. Ingat bahwa kamu mungkin saja mati jika kami tak datang."


"Terima kasih, Ax. Aku dan Hedgar akan berakhir. Apa kamu senang mendengarnya?" tanya Anna Marylin tajam. "Mari kita bangunkan pria ini lalu pergilah pada wanita kalian dan bebas tugaskan aku!"


"Tinggalkan H di sini. Suster Emma akan di sini mengurusnya, Anna."


"Baiklah. Aku perlu kembali ke klinik dan carikan pengganti Emma. Archilles akan ikut denganku. Pria itu luka di mana-mana!"


"Karena anak buah bedebah itu menyerang bunker saat Archilles meronda. Jika kami tak datang, Archilles mungkin juga sekarat kini. Demi Tuhan, ini buatku gila. Satu-satunya jalan agar masalah ini terselesaikan adalah kematian Hedgar."


Axel Anthony berapi-api. Anna menghela napas panjang, hempaskan kasar.


"Di mana Itzik Damian, Ax?"


"Di tempat Lucky Luciano."


"Itzik akan jadi pengawal pribadiku!"


"Jangan gila, Anna. Pria itu musuh kita."


"Itzik tak akan menyerangku dan menggangguku. Serahkan pria itu padaku. Aku akan mengubahnya menjadi teman kita."


Anna Marylin pamit dari mansion menolak argumen Axel Anthony. Archilles Lucca menyusul. Suasana sedikit canggung setelah Arumi Chavez beritahu semua orang niatnya menikahi Archilles kecuali Sunny yang tidak berhenti tersenyum.


Lebih bagus Arumi jadian dengan sesama gangster daripada harus rendahkan diri menggapai pria-pria terhormat dengan keluarga yang berat sebelah. Pria terhormat terbaik di dunia ini hanya Elgio Durante, sayangnya pria itu tak punya saudara untuk dijodohkan dengan Arumi.


Menggiring Anna kembali ke klinik, Archilles Lucca dirawat Anna.


"Kemana kamu akan pergi?"


"Semua orang ajukan pertanyaan yang sama."


"Arumi melamarmu! Bukankah ada baiknya kamu tinggal dan melihatnya tumbuh menjadi wanita sejati?" tanya Anna mulai bersihkan luka di punggung Archilles.


"Kekeliruan Anna. Jika aku tinggal, kami mungkin akan berbagi hasrat tidak penting dan berlari menuju kehancuran. Nona akan belajar dan mengejar karir. Aku akan mengajar di suatu tempat, Anna. Hanya kamu kini yang tahu apa yang akan aku lakukan."


"Well, good luck, Bung. Aku tersanjung kamu beritahukan rahasiamu padaku." Anna mulai menjahit luka di punggung Archilles dan lengan pria itu. "Apa bosmu tahu?"


"Carlos? Atau Elgio Durante?"


"Carlos."


"Tidak sulit menemukanku baginya."


"Aku akan merindukan pria baik sepertimu," kata Anna beralih ke lengan.


"Dunia sangat tenang dan damai denganmu di sini, Anna."


"Terima kasih."


Archilles pergi dari klinik menjelang Nona Arumi pulang ke sekolah. Ingin cepat-cepat sampai di sekolah sebelum gadis itu keluar dari kelas dan mengomel. Meskipun, Archilles kecanduan dengan gadisnya saat sedang kesal. Ia akan mengingat momen mereka sementara ia membaca buku pelajaran di dalam ruangan kosong dan lengang. Ia akan mendengar lonceng biara pukul tiga sore dan membayangkan Nona Arumi berseragam sekolah berlari menuju parkiran. Hanya sampai di situ selepasnya ia akan merindukan gadis itu hingga tercabik-cabik.


Sementara Anna kembali dengan banyak pasien. Mereka tak kenal jam setelah tahu ia berada di klinik.


"Ya, Anna. Sabar."


Kartu pasien dibawa masuk. Isinya kosong. Emma tersenyum misterius ketika Anna bertanya lewat gestur tubuhnya. Anna tahu bahwa ia dikunjungi suaminya.


"Aku butuh dokter."


Anna Marylin mengangkat wajah. Untuk menit-menit panjang ia tak bicara. Suaminya yang brengsek berdiri di pintu. Bersandar di sana. Wajah sangat-sangat kacau balau atau pria itu sedang berakting. Anna memilih percaya opsi terakhir.


"Anda punya banyak cara pengobatan bar-bar yang lebih ampuh."


"Seseorang merubah prinsipku."


"Buruk bagi Anda," sahut Anna mengangkat bahu.


"Aku butuh dokter dengarkan keluhanku."


"Masuklah!" angguk Anna ke arah bangku. Hedgar melangkah masuk bawa serta dosa-dosanya. "Duduklah!" suruh Anna lagi. "Apa keluhanmu?"


"Banyak!" sahut Hedgar menatap Anna tanpa kedip.


"Ya, silahkan, beritahu aku!"


"Aku susah tidur, susah menelan makanan, susah bernapas. Tenggorokanku sakit, lidahku tak mampu rasakan makanan, indera penciumanku mati dan aku merana."


"Anda mungkin terserang virus Corona."


"No! No! Ini lebih buruk dari virus."


"Anda tak butuh dokter. Anda tahu riwayat sakit Anda."


"Istriku pergi. Aku mencekiknya dan aku menyesali semua sikap burukku padanya. Tolong beritahu dia, aku sangat-sangat berdosa."


Yang benar saja, apa pria ini tahu apa artinya dosa kini?


"Baiklah, akan aku sampaikan. Pasien banyak mengantri. Keluar segera setelah keluhan Anda selesai. Obatnya ambil di loket depan."


"Bisakah tanya padanya, apa yang bisa aku lakukan untuk redakan kemarahan di hatinya? Aku sungguh idiot."


Anna Marylin berhenti menulis dan menatap Hedgar tersenyum sedikit.


"Silahkan kembali ke rumah dan banyak istirahat. Jangan lewatkan waktu makan. Berhenti menginjeksi otak Anda dengan kejahatan. Aku akan berikan Anda vitamin."


"Anna, jangan lakukan ini padaku."


"Menghilang saja dari pandangan Anna. Anda dapatkan pengampunan dan maaf Anna tetapi sangat menyesal aku katakan, Anna menolak bersama Anda. Aku mohon Anda harus pergi!"


"Anna?!"


Hedgar menghadang di jalan keluar, bertekuk lutut depan Anna.


"Maafkan aku! Betapa pagi tanpamu sangat menyiksaku. Aku menemukan kedamaian sejati dalam lenganmu."


Anna Marylin berdecak hampir muntahkan isi sarapannya. Ia tak percaya sedikitpun pada sikap Hedgar. Pria ini hanya merasa tergores harga dirinya karena ditinggal Anna. Baginya Anna adalah sebuah piala yang perlu dimenangkan.


"Dengar! Temui salah satu wanita di klub dan bersenang-senang. Kita sudah selesai."


"Aku menolak ide kita telah usai," geleng Hedgar kuat.


"Kamu perintahkan orang-orang mu menyerbu bunker Hellton sementara temanku sekarat. Kamu secara munafik tak lakukan apapun seolah-olah kamu hanya bersamaku. Kamu menipuku."


"Anna?!"


"Kamu tak tepati janjimu!"


"Aku ...."


"Pergi dari sini!"


"Anna?!"


"Kamu tak dengar katanya, pergi dari sini!"


Axel Anthony berdiri di pintu klinik. Anna Marylin terpaku. Dua pria ini selalu ingin saling melindas. Axel Anthony tak punya banyak kesabaran sedang Hedgar tak bisa ditebak.


"Kamu di sini?" tanya Anna tajam pada temannya.


"Aku curiga pria ini kemari!" angguk Axel pada Hedgar sedang Hedgar mengunyah rahang.


"Anna, beri aku kesempatan. Aku mohon."


"Anna, kamu belum makan siang. Mari kita pergi!"


Hedgar menjadi marah. Ia bangkit berdiri kepalkan tangannya. Selanjutnya berbalik datangi Axel Anthony dengan sangat cepat. Tak bisa hindari perkelahian.


"Urus wanitamu, Axel Anthony!" seru Hedgar marah dan mulai ayunkan kakinya.


"Kamu tak akan berani menyentuh Anna atau teman-temanku yang lain, Brengsek."


Mereka mulai saling mencekik dan beradu kekuatan. Anna memijat keningnya. Tidak ada yang beres.


Satu pukulan, Axel Anthony terlempar ke ranjang pasien. Hedgar datang dipenuhi murka menyala-nyala, terhempas kena tendangan kaki Axel Anthony. Pria itu bangkit, mereka bertemu di tengah ruangan klinik. Bergumul dan saling menjatuhkan.


"Anna masih istriku! Aku bicara dengan istriku!"


"Pernikahanmu palsu dan tidak sah, Brengsek! Kamu menipu Anna. Menjauh saja dari Anna."


"Urus saja istrimu sendiri! Brengsek kau! Aku akan membunuhmu!"


Oh ya Tuhan. Anna Marylin mengambil tabung kebakaran.


"Apa perlu aku menyemprot kalian berdua dengan benda ini?" hardik Anna Marylin pisahkan keduanya.


"Kau terlalu banyak ikut campur urusan rumah tangga orang lain, Axel. Sedang istrimu berlari menjauhi-mu," semprot Hedgar, bibirnya pecah dan keluarkan darah. Dia akan mulai lagi ketika Anna Marylin menatap Hedgar tajam hingga pria itu katupkan mulutnya.


Anna tak tahu bagaimana bersikap!


"Jika saja aku tak datang tepat waktu, rumah tanggamu hanya berisi dirimu yang idiot dan arwah Anna Marylin."


"Diam kau, Brengsek! Aku tak akan bertengkar dengan istriku kalau saja teman-temannya berhenti memprovokasi aku!"


"Kamu pikir kami akan biarkanmu sembunyikan Anna dari kami? Bedebah kau, berani sekali manipulasi Anna dengan pernikahan konyol. Kau tak akan lolos sekali ini."


Mereka saling mengumpat dan memaki.


"F*** with you, aku menikahi Anna, Bangsat! Tak ada yang menipunya. Aku menikahinya, aku ingin bersamanya!"


"Stop it! Stop it!" hardik Anna keras. "Pulanglah dan jangan kemari!" kata Anna pada Hedgar.


"Kau dengar dia?" Axel membeo.


"AX! Kamu juga. Tolong jangan bikin kepalaku sakit," keluh Anna pegangi kepalanya.


"Anna.


"Please, Ax!"


"Aku cemaskan-mu."


"Aku tahu cara menghajarnya di sini!" jawab Anna Marylin.


"Aku akan tinggal dengan istriku!"


"Tak ada istrimu di sini!" bentak Anna jengkel pada Hedgar. "Setelah kamu mencekiknya sampai koma, tak ada lagi istrimu!"


"Anna!"


"Tak ada istrimu, tak ada pernikahan!"


"Lalu, mengapa masih memakai cincin pernikahan kita?" sergah Hedgar gigih.


Anna berusaha keluarkan cincin dari jarinya hendak lemparkan pada Hedgar. Sangat sial sebab tubuhnya mendadak gemuk dan cincin itu terjebak di sana. Hedgar merasa menang. Ia nyaris bersorak.


"Kamu lihatkan? Cincinnya saja tak mau pergi!" Mengejek Axel Anthony.


"Aku akan bantu Anna menggergaji benda konyol itu nanti," sambar Axel Anthony menyeringai penuh tekad.


"Jangan coba-coba, aku akan mencincangmu!" balas Hedgar mendengus kasar. Matanya membara.


"Coba saja!" tantang Axel Anthony mencemooh.


"Ya Tuhan. Keluar dari sini!"


"Anna! Mari keluar dan pergi makan siang!"


"Anna!" Hedgar mengemis. "Oh Brengsek kau, Axel Anthony! Enyahlah dari sini! Aku sedang membujuk istriku pulang denganku!"


"Anna tak akan kemana-mana!" balas Axel Anthony.


"Keluar dari sini!" Anna benar-benar kesal. "Aku menjadi muak dan sebelum aku menyuntik kalian berdua dengan sesuatu, to-lo-ng ti-nggal-kan a-ku sen-di-ri!"


***


Ini akan sulit ya untuk mereka. Namun, sesuatu akan terjadi. Aku menulis dua chapter. Tinggalkan komentar di chapter masing-masing.