My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 50. Married My Bodyguard



"Apa yang barusan kamu katakan?"


Arumi Chavez menengok ke samping, tak cukup sendi memutar.


"Apakah aku mengatakan sesuatu?" Archilles bertanya keheranan. "Apa Anda dengar aku katakan sesuatu?" Kaget sendiri, panik sendiri di antara ketukan tapak kaki kuda di atas bebatuan.


"Kamu baru saja bilang; Nona ..., aku jatuh cinta padamu!" sahut Arumi lurus ke depan.


"Apa?!" Archilles kelabakan. Bagaimana bisa gadis ini mendengar hatinya bicara?


Tidak mungkin! Tidak mungkin! Tidak mungkin!


Jangan-jangan Nona Arumi punya indera keenam?


Tidak masuk akal!


Apakah aku tidak sengaja mengatakannya?


Baguslah! Kamu kebablasan. Bukankah kamu perlu jujur?


Jangan konyol!


Oh ayolah, kita bisa pergi mengetuk pintu surga dengannya alih-alih biarkan jiwamu terjebak di awan!


"Anda sungguhan dengar aku bicara begitu?"


"Ya," angguk Arumi yakin. "Oh Archilles, aku merasa sangat buruk. Kupingku mungkin menangkap angin sembarangan bermulut? Aku mungkin berhalusinasi? Mungkin juga ..., yang aku dengar suara Ethan Sanchez." Raut Nona Arumi Chavez lekas muram.


"Tidak," sanggah Archilles cepat. "Kurasa itu aku. Benar aku baru saja katakan, aku jatuh cinta pada Anda!"


Tak ada sahutan untuk waktu yang lama. Aorta hanya terus berderap. Dua orang hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku tak percaya padamu!"


"Ya. Aku juga tak percaya pada diriku sendiri," angguk Archilles hembuskan napas kuat.


Aku mungkin akan berubah pikiran dan tinggal lebih lama lagi di sisimu.


Nona, tahukah Anda ..., baru saja Anda dengar hatiku bicara? Demi Tuhan, i**ni gila. Kita gila.


Oh, apa ini?


"Apakah aku tampak menyedihkan? Kamu katakan itu karena kasihani aku? Kamu ingin menghibur aku?" tanya Arumi Chavez mulai lagi dengan air mata yang seakan punya banyak stok. "Duniaku tampak tipis, aku sulit bernapas. Terima kasih telah jatuh cinta padaku, Archilles Lucca. Aku tahu, kamu sangat mencintaiku dan menyayangiku."


"Maukah kita tinggal lebih lama dan menonton pertunjukan senja?" tanya Archilles Lucca coba menghibur hati Nona Arumi.


Menarik tali kekang, Aorta berhenti. Mereka di atas puncak bukit. Langit di ujung sana tampilkan pertunjukan warna-warna cantik. Matahari bergulir turun sangat anggun, perlahan seakan pastikan momen ketika ia kembali ke peraduan adalah hal terbaik yang harus disaksikan dengan penuh khidmat.


"Indahnya," puji Nona Arumi. Sisi wajah keemasan tertimpa mentari, pancarkan kecantikan paling hakiki, bikin Archilles mati lemas. Arumi sibuk pada permainan langit sedang Archilles hanya memuja wajah belia jelmaan Dewi keindahan. Disfungsional, dan ia adalah seorang pecandu.


"Ternyata matahari tenggelam jauh lebih menakjubkan di kaki bukit daripada di tepi pantai."


"Anda tak pernah tahu bahwa tak jauh dari mansion Anda sunset sangat memikat. Ia bertanya-tanya, maukah Anda kemari? Jiwa Anda akan terhibur."


"Aku menontonnya bersama pengawalku yang akan segera pergi!"


"Pengawalmu terkena kutukan Anda. Aku akan rindukan Anda dari suatu tempat sampai jantungku kempis." Archilles Lucca tak sadar eratkan pelukan pada pinggang Arumi. Gadis belia ini adalah kegilaan tanpa ujung pangkal. Berkelana dalam tengkorak kepalanya.


"Baguslah."


"Anda sangat kejam, Nona! Belum dikutuk saja aku sudah sekarat."


"Lalu, mengapa kamu menyiksa dirimu? Kamu pria aneh. Kamu bisa tinggal di sini, melihatku setiap hari. Aku akan membawamu ke Paris. Kita akan jelajahi Pantheon melihat cermin raksasa dan kubah yang indah. Kita akan belikan-mu sepasang setelan mahal dan nikmati hidup. Kamu tahu, kota itu sangat romantis."


Archilles Lucca tersenyum. "Ya, aku tahu. Aku sering ke Paris, sayangnya aku tak begitu suka pergi ke sana. Kehidupannya tidak cocok untukku, pikiran manusia hanya dipenuhi kepuasan duniawi. Tak akan bisa menolongku yang sedang butuh penyelamatan."


"Owh. Baiklah. Aku akan bawa kamu ke kepulauan Faroe karena akhir dari Bittersweet Married adalah Serena akan menyendiri ke kepulauan Faroe. Setelah syuting, kita akan bersenang-senang, makan Salmon segar dan menginap di rumah beratapkan rumput. Kita akan menggiring domba dan bermain di angin dingin. Kamu pasti belum pernah pergi ke sana, kan? Jalanannya sangat indah persis di negeri dongeng."


Tangan Archilles lekas ditangkup oleh tangan halus dan lembut. Gadis ini pelajari trik menguasai dirinya, pikir Archilles rumit. Ia kuat-kuatkan iman.


"Terima kasih telah berikan aku bayangan sangat indah itu, Nona." Archilles pejamkan mata melayang di atas rambut cokelat yang ia kepang, memuji hasil tangannya. Aroma shampo dan rumput hasilkan sesuatu cukup mengganggu saraf-saraf otaknya. Ia mengisi bayangan Nona Arumi dan dirinya. Apakah mereka akan baik-baik saja di cuaca dingin dalam rumah beratapkan rerumputan?


(So Gorgeous)! Begitu indah!


"Tidak tergiur?" tanya Arumi menengok ke belakang saat tak dapat tanggapan. Tindakan spontan cukup kagetkan Archilles. Tak lagi hindari sentuhan tanpa sengaja. Bukan apa-apa bagi Arumi tetapi Archilles telah tersengat hingga ia merinding. Kini, Nona Arumi mengusap punggung tangannya.


"Anda merayuku?" tanya pria itu payah sendiri. Bagaimana bisa gadis ini bertingkah biasa saja setelah buatnya panas dingin, gemetaran?


Tuhan selamatkan aku dari kegilaan ini!


"Menurutmu begitu? Aku hanya tawarkan pengalaman yang tak akan kamu lupakan seumur hidupmu!"


Archilles berpikir sejenak. Mata Nona Arumi paling sempurna dari keseluruhan yang gadis ini miliki. Archilles telah terbenam di dalamnya.


"Ayolah. Kamu akan menyukainya. Aku dan Faroe. Di sana selalu musim dingin."


"Sebaiknya kita pulang!" putus Archilles Lucca sebelum ia menyerah pada tawaran yang akan mengacaukan mereka nanti.



Apakah Salsa Diomanta bisa berkata-kata? Puterinya di dalam pelukan Archilles Lucca. Pria itu membantu Arumi turun dari kuda dan tak menunggu untuk menggendong Arumi berjalan pulang ke rumah. Bagaimana Archilles Lucca terlihat akan remukan dunia demi Arumi? Dan gadis kecilnya seakan temukan tempat terbaik di alam semesta untuk bersandar.


Dua tangan Salsa bergantian saling meremas. Ekspresi wajah turun manakala ia terus melihat dirinya yang manja, trouble maker dan rapuh bersama Ebenn, pengawalnya, dalam rupa dua orang yang sedang melangkah padanya. Ebenn pernah menggendongnya lintasi jalanan yang sama setelah ia nekat berkuda karena termakan hasutan salah seorang teman sekolahnya bahwa ia tak bisa menunggang kuda.


Ebenn tidak pernah sekalipun mengeluh hadapi sikap kekanak-kanakannya. Ebenn hanya betah di sisinya dan jalankan tugasnya. Pria itu menyelamatkannya berulang kali dari situasi buruk dan menjaganya dari segala macam gangguan. Sikap pengasih Ebenn buat ia luluh. Ebenn kemudian akan pergi suatu waktu setelah tahu rencana pembunuhan yang akan menimpanya. Salsa ketakutan kehilangan pria itu. Atas kemauan sendiri menyusul Benn saat pria itu pergi. Ia sangat keras kepala inginkan Benn dan Benn terlalu lembut untuk mendorongnya menjauh. Mereka kemudian mulai berlari. Akhirnya buruk terlebih bagi Benn dan puterinya. Kini, meskipun ia berjuang menebus rasa bersalah pada Benn ..., bagaimanapun telah menjadi part tersulit.


Salsa akan mencegah Arumi ciptakan kehidupan yang sama. Walaupun, untuk beberapa hal karakter Archilles berbeda dari Benn.


Sementara Archilles Lucca menahan sakit di punggung dan lengan. Jahitannya mungkin robek lagi dan Nona Arumi tak berhenti cari gara-gara. Nasihati Arumi yang hanya bersandar padanya.


"Nyonya Salsa dan Nona Sunny sangat cemas pada perilaku Anda. Tolong jangan ulangi hal ini lagi. Aku mohon, Nona."


"Aku tak ingin bertemu Ibuku!"


"Sikap Anda sangat buruk, Nona," kritik Archilles. "Sebaliknya minta maaf pada Nyonya Salsa. Anda menghardiknya sangat kasar tadi."


"Tidak mau!" Arumi bersungut-sungut. Sifat childish-nya terbit.


"Anda bisa beritahu Nyonya Salsa apa yang Anda inginkan? Bukan salahnya Nyonya Sanchez membenci keluarga Anda," bujuk Archilles.


"Ya ya ya, kamu bawel sekali Archilles Lucca!" keluh Arumi.


"Usiaku 16 tahun. Dua tahun setelah Ibuku meninggal, Ayahku menikah lagi. Anda tahu, karena tidak nyaman aku membawa adikku yang berusia dua tahun, naik bis dan pergi ke distrik lain mencari kakek nenek yang bahkan tak pernah kulihat seumur hidupku. Selama tiga hari, kami mencari kesana-kemari. Aku di usia Anda saat itu. Aku menangis di gerbong kereta karena sangat inginkan Ibuku ..., entah bagaimana caranya kembali hidup dan datang pada kami. Aku akhirnya sadar semua hanya kesia-siaan. Seberapa banyak aku ucapkan janji, menyesal karena sikap burukku, Ibuku tak pernah terlihat lagi. Kehidupan tanpa Ibu sangat susah dijalani. Aku rindukan ibuku sampai detik ini. Anda perlu beryukur dilimpahi banyak cinta dan kasih sayang, Nona. Hargailah yang Anda miliki."


"Apakah Zefanya baik-baik saja?" tanya Arumi ketularan sedih lekas berganti empati, tengadahkan kepalanya. Rahang Archilles berderak menahan emosi. Itu adalah kepedihan.


Bayangkan gadis berusia dua tahun tanpa ibu hanya bersama kakak laki-lakinya. Arumi menggeleng, ia tak akan sanggup. Aruhi, pernah alami hal mengerikan itu sepanjang 17 tahun.


"Ya," angguk Archilles. "Beruntung ia hidup dengan baik. Aku bersyukur. Dia tumbuh sangat cantik tanpa ibu kami."


"Aku akan minta maaf pada ibuku nanti. Bisakah bawa aku ke kamarku, Archilles?" Bersandar kembali pada Archilles. "Jangan bersedih, kamu bisa menganggap ibuku seperti ibumu."


Archilles tersenyum oleh gagasan aneh Arumi. Salsa Diomanta selalu ingin mengusirnya. Tak sabar ingin lihat ia pergi segera angkat kaki. Terlebih jika Salsa tahu, dirinya menyimpan cinta mendalam pada Arumi, Archilles tak ingin pikirkan apa yang akan ia alami.


Mereka sampai di teras. Salsa sangat cemas.


"Archilles ..., apakah Arumi baik-baik saja?" Nyonya Salsa bertanya pelan.


"Aku belum yakin, Nyonya. Akan aku periksa."


"Aku menelpon dokter," kata Salsa cepat.


"Tak perlu, Mom. Aku baik-baik saja," sahut Arumi. "Maafkan aku buatmu cemas," tambah Arumi lagi.


Salsa hendak bicara tetapi Sunny beri tanda bahwa ada baiknya Salsa diam saja sebab situasi Arumi terpantau buruk.


"Apa Anda ingin kembali ke kamar Anda, Nona? Atau Anda bisa di sini sambil menunggu dokter?"


"Baiklah," angguk Archilles. "Apa kami boleh pergi, Nyonya?"


"Ya, Archilles. Dokter akan segera tiba."


Keduanya pergi sisakan dua wanita saling pandang.


"Jantungmu berdetak kencang," kata Arumi Chavez tempelkan kuping di dada kiri Archilles. Ia bisa dengar detakan tak beraturan dari balik tulang rusuk pria itu.


"Bobot tubuh Anda bertambah berat saat patah hati. Jantungku bekerja keras. Harusnya aku dapat traktiran." Archilles mengelak.


"Apa yang ingin kamu makan? Aku belikan."


"Apa ya? Permen kapas mungkin."


"Aku benci permen kapas," gerutu Arumi. "Saat kamu pergi, aku akan melihat permen kapas dan mengingatmu."


"Aku tersanjung. Owh, tangga ini curamnya. Apakah kaki Anda masih sakit? Aku tak sanggup naik tangga ke kamar Anda."


"Lalu, untuk apa otot paha-mu seperti atlit basket?" keluh Arumi Chavez. "Percuma saja punya tubuh tegap. Hanya menggendongku saja kamu kesusahan."


Archilles hela napas panjang dan hembuskan perlahan. Ia kumpulkan kekuatan.


"Apa kita perlu membangun lift?" tanya Arumi mendongak pada Archilles.


"Maka otot kaki Anda akan sangat dimanjakan."


"Ya. Aku bisa menendang tungkai Evelyn Jhoel dengan keras berkat naik turun tangga rumah ini tiap hari."


"Anda tidak takut video Anda tersebar? Berhenti terpancing saat Anda di sekolah. Itu ..., tidak menguntungkan Anda sama sekali." Archilles mengatur napas. Akhirnya sampai juga di pertengahan. Berhenti sejenak. Melirik kaki Nona Arumi, sepertinya gadis ini baik-baik saja.


"Siswa baru di kelasku katakan aku dilindungi seseorang hingga videoku tidak bisa terunggah ke media sosialnya."


"Mengapa dia ingin mengunggah video Anda? Apa dia memusuhi Anda juga?"


"Ya, aku heran. Namanya Young Vincenti. Dia telah mengekor tepat di belakangku dan buatku tidak nyaman. Oh sangat sial sebab aku dan dia, satu kelompok belajar."


"Aish, berandalan itu!" keluh Archilles Lucca.


"Kamu kenal dengannya?" tanya Arumi.


"Ya, remaja lain habiskan waktu mereka buat belajar. Young gunakan untuk bertarung dengan anggota geng lain. Ayahnya Laurent Vincenti, menguasai daerah pelabuhan baru."


"Oh, dia tertarik padaku! Matanya tak bisa berbohong."


"Banyak sekali yang tertarik pada Anda, ya?"


"Mereka tertarik karena aku cantik," jawab Arumi mendorong pintu ruang tidurnya. "Dia manis, cute, tampan, menurut teman-temanku. Mereka hanya belum melihatmu saja! Aku yakin mereka akan pura-pura baik denganku agar bisa minta nomer pribadimu."


"Aku akan cari-cari alasan ke kelas Anda sejak besok. Siapa tahu calon istri masa depanku ada di kelas Anda," sahut Archilles sumringah.


"Aish ... aku tak akan ijinkan. Aku akan menutup mata semua gadis dengan dasi."


"Anda sangat egois." Letakan hati-hati Nona Arumi di ranjang dan mulai mengecek satu persatu. "Apa ini sakit?" tanyanya menekan pergelangan kaki Nona Arumi. Cidera lama mungkin saja bertambah parah.


"Mengapa aku sangat egois?" tanya Arumi sewot. "Sedikit sakit di sana."


"Kalau begitu biarkan aku pacari salah satu di antara teman Anda."


"Oh pria nakal ini! Tadi, katamu kamu jatuh cinta padaku!"


"Anda menganggapku tidak serius."


"Apa kamu serius?" tanya Nona Arumi Chavez. Archilles berhenti, mengangkat dagunya. Nona Arumi menyentuh matanya, mengusap alisnya, membelai pucuk hidungnya. Archilles terkena mantra, berubah jadi patung hidup.Ia tak bernapas untuk beberapa waktu.


"Ya," angguk Archilles kelu. Nona Arumi membungkuk di atas wajahnya, hampir menyentuhnya. Bibir mungil Nona Arumi bersungguh-sungguh akan sampai padanya.


"Maukah kamu tinggal selamanya di sampingku?" tanya Arumi keluarkan kalimat pamungkas.


Archilles Lucca segera bangun, susah payah kibaskan abu-abu sihir.


Arumi Chavez mencibir. "Jatuh cinta apanya? Kulihat kamu mudah lari terbirit-birit."


"Anda tidak begitu jelas soal perasaan Anda," bela Archilles. "Jika disuruh memilih, siapa yang paling Anda inginkan Aku atau Ethan Sanchez? Apa jawaban Anda?" tanya Archilles.


"Oh, aku akan memilihmu." Tanpa capek-capek berpikir.


"Anda yakin? Baru saja Anda menangisi Tuan Ethan hingga air mata Anda bisa jadi sungai buatan."


Arumi berengut. "Sebelum putus aku akan memilih Ethan Sanchez, dia pacarku. Aku mencintainya, dia mencintaiku. Tetapi, kami sudah putus. Aku sudah selesai dengan bagian diriku yang mencintai Ethan Sanchez terlebih Nyonya Sanchez tidak menyukai aku sama sekali."


"Yakin?" Archilles menyipit.


Hening.


"Aku tidak yakin," geleng Arumi Chavez. "Kami akan bertemu di sekolah. Apakah aku pura-pura saja lupa bahwa aku mencintainya? Ini sulit."


"Nah, dan Anda akan jadikan aku tempat pelarian. Malangnya nasib seorang pria bernama Archilles Lucca."


"Salahmu sendiri jatuh cinta padaku di waktu yang tidak tepat. Kemarikan tanganmu!" minta Arumi.


"Untuk apa?"


"Jangan banyak tanya! Kemarikan saja tanganmu!"


Langkah-langkah kaki pelan menaiki tangga. Sepertinya dokter datang dan dibawa langsung entah oleh Nyonya Salsa atau Sunny.


"Apa yang buatmu keras kepala ingin berlari dariku sedang kamu sungguhan jatuh cinta padaku?" tanya Nona Arumi.


"Ada banyak pertimbangan."


"Terlalu banyak hingga buatmu ragu."


"Maafkan aku."


"Ibuku salah satunya."


Mata Nona Arumi menatap Archilles Lucca sedalam Palung Mariana juga sendu. Tangan Nona Arumi meraih tangannya. Archilles hanya perhatikan termasuk ketika Nona Arumi merogoh sesuatu dari bawah bantal. Spidol. Tutupan dibuka, Nona Arumi menggambar cincin di jari manisnya. Sesuatu yang polos.


"Apa yang sedang Anda lakukan?"


"Mentraktir-mu! Maaf ya bukan permen kapas!" Kembali sibuk sedang Archilles cuma menonton. Senang karena kesedihan Nona Arumi berangsur-angsur pergi.


Gadismu tak mudah ditebak, Lucca!


"Nah, jadi!"


"Apa ini?"


"Pergilah! Berlarilah! Bentangkan kedua sayapmu dan terbang-lah sejauh mungkin!" Mengecup punggung tangan Archilles alam gerakan lambat sebelum tersenyum. Ia mengelus gambar cincin di jari Archilles.


"Nona ..., apa ini?"


"Aku akan menemukanmu lima atau sepuluh tahun lagi dan menikahimu! Aku mengikatmu! Jaga dirimu baik-baik ya!"


"Arumi Chavez?!" Suara Salsa.


"Lupakan soal ingin memikat gadis lain. Kamu hanya boleh pikirkan aku! Di keningmu, di otakmu, di hatimu! Selamanya!" Telunjuk Arumi dipakai menunjuk kening dan dada Archilles. Sementara Archilles Lucca ling lung.


Salsa Diomanta yang baru sampai di ambang pintu gagu macam habis disambar guntur, kilat, tornado, ****** beliung, banjir bandang. Sunny butuh menyokong tubuh kakaknya yang shock.


"Pastikan kamu jadi seorang pria hebat di waktu itu, Archilles Lucca, agar kamu mudah yakinkan Ibuku."


***


Aku malas mau mikir pas bikin chapter ini. Hanya tiduran aja karena sakit yang sangat mengganggu. Tinggalkan komentar Anda.