
***
I will fight
(Aku akan berjuang)
I will fight for you
(Aku akan berjuang untukmu)
I always do until my heart
(Aku selalu melakukannya sampai
Is black and blue
(Hatiku babak belur)
Ethan Sanchez meraih tangan kiri Arumi letakan di bahunya sedang tangan kanannya pergi ke belikat Arumi. Satu hentakan halus Arumi telah sangat dekat di jantungnya, sisakan sedikit ruang bagi Arumi bernapas. Mereka mulai berdansa.
And I will stay
(Aku akan tetap tinggal)
I will stay with you
(Aku akan tetap tinggal bersamamu)
We'll make it to the other side
(Kita akan membuatnya ke sisi lain)
Like lovers do
(Seperti pasangan kekasih lakukan)
I'll reach my hands out in the dark
(Aku akan mengulurkan tangan dalam gelap)
And wait for yours to interlock
(Dan menunggumu untuk menggenggamnya)
I'll wait for you
(Aku akan menunggumu)
Delapan langkah ketika Ethan Sanchez pejamkan mata satukan kening mereka. Tak peduli sekeliling, seakan restoran hanya tersisa mereka berdua.
Sementara musik mainkan melody dari lagu pantang menyerah, bibir-bibir terkunci rapat cuma terbawa arus, biarkan alunan lembut menghibur jiwa lelah. Suara jernih sang penyanyi tenggelamkan dua orang patah hati.
"Nyonya Sanchez akan menggaruk wajah tampanku dengan garfu , Arumi Chavez. Dandia Sanchez akan jahili aku nanti malam. Sementara aku berdansa denganmu aku harus mengatur strategi pertahanan," ujar Ethan Sanchez.
"Aku pikir kamulah paling jahil."
"Dandia Sanchez gurunya. Aku belajar darinya. Lihat saja mata Dandia, seakan dua matahari dari galaksi lain pindah ke sana."
"Kamu bisa membela diri Ethan hingga wajahmu tetap utuh. Katakan ini dansa kita yang pertama dan terakhir kali," sahut Arumi Chavez mendongak lebih tinggi agar dapat melihat Ethan Sanchez.
Gerakan refleks Arumi tanpa sengaja membuat bibir mereka bertemu. Keduanya tak bergerak selama sedetik, sama-sama tertegun.
Ethan Sanchez lebih dulu bangun segera selipkan tangannya di tengkuk Arumi, menekan dengan tepat sebabkan Arumi dicambuk rasa; antara cinta dan sakit. Ini ciuman pertama mereka setelah mereka pacaran.
I'll wait for you
(Aku akan menunggumu)
'Cause I'm not givin' up
(Karena aku tak menyerah)
I'm not givin' up, givin' up, no, not yet
(Aku tak akan menyerah, tidak, belum menyerah)
Ketika mereka terpisah. Mata saling memandang, air mata tergenang dalam bola mata Arumi.
Mencium Miguel Paulo dengan seluruh perasaan dan totalitas serta durasi panjang tak ber-damage seperti saat Ethan Sanchez menyentuhnya singkat.
Sudut-sudut mata bergerak. Akhirnya air mata tanpa dapat dicegah, mengalir turun. Ethan Sanchez mengusap perlahan dengan jemari dan mendekap Arumi, membujuknya agar berhenti terisak.
"Berita bagus bagi Ibuku, tetapi Dandia akan sedih. Dandia menyukaimu, Arumi. Aku mencintaimu, Arumi." Nada suara Ethan lebih merana daripada tangisan.
Even when I'm down to my last breath
(Bahkan ketika aku sekarat hingga napas terakhir)
Even when they say there's nothin' left
(Bahkan ketika mereka katakan tak ada lagi yang tersisa)
So don't give up on
(Jadi jangan menyerah)
I'm not givin' up
(Aku tidak menyerah)
"Apakah kamu mungkin ingat momen-momen di mana kita bersama?" tanya Ethan Sanchez setelah Arumi tenang.
"Ada banyak," sahut Arumi murung.
"Kamu masih setengah mabuk dan aku akan tinggalkanmu sendirian di flat karena tak ada yang bisa kuhubungi. Aku ingin segera angkat kaki, kamu mengemis padaku, 'Ethan jangan pergi'!" ulang Ethan meniru ucapan cengeng Arumi Chavez hingga senyum Arumi merekah meski hanya sedikit.
Arumi Chavez kembali tengadah menatap Ethan Sanchez. Ia ingat kejadian, di mana Ethan Sanchez menyamar jadi pegawai kafe, delivery order ke studio dan selamatkannya. Andai, Ethan tak datang, ia mungkin telah kehilangan kesuciannya.
"Aku .. em ..., aku masih malu hingga detik ini," keluh Arumi Chavez bersemu merah.
"Pertama kali bagiku melihat seorang gadis tanpa busana. Di kemudian hari, aku ternyata telah menjaga kehormatan pacarku."
"Aku menyukaimu sejak itu, Ethan!" kata Arumi Chavez ungkapkan lebih banyak emosi.
"Em ..., aku ingat seorang gadis yang tak mempan aku suruh pergi meski aku gunakan kata-kata kasar mengusirnya. Dia terus saja menguntitku. Ekor mata selalu menangkap bayangan sebuah paras mengintai dari balik rak buku perpustakaan, sudut lapangan basket, di ruang lab bahkan dari balik loker di ruang ganti olahraga. Gadis ini mengekor-ku ketika aku datang ke sekolah dan setelah pulang sekolah."
"Aku tergila-gila pada seniorku!"
"Aku tak tertarik padamu, sungguh. Kamu sangat congkak, angkuh, ceroboh, tanpa prestasi juga berbanding terbalik dari Marya. Kamu tak masuk daftar gadis impian. Dalam pikiranku, kamu hanya reinkarnasi Dewi Kebodohan."
"Sayangnya, aku memang seperti itu, Ethan."
"Lalu, aku berpikir, memangnya kenapa jika dia bodoh? Dia hanya berlebihan cantik, karunia yang tidak dihadiahkan bagi wajah-wajah gadis pintar. Seakan Dewi Kebijaksanaan sangat marah pada seseorang yang sok pintar hingga mengutuknya menjadi sangat bodoh tetapi merasa terlalu jahat untuk membuatnya jelek. Aku sungguh-sungguh jatuh cinta padanya."
Mengulang pengakuan dalam restoran berubah temaram.
Even when nobody else believes
(Bahkan ketika tak ada yang percaya)
I'm not goin' down that easily
(Aku tak akan mudah terpuruk)
So don't give up on me
(Jadi, jangan menyerah padaku)
And I will hold
(Dan aku akan bertahan)
I'll hold onto you
(Aku akan memegang tanganmu)
No matter what this world'll throw
(Tak peduli apa yang dilemparkan dunia)
It won't shake me loose
(Itu tak akan membuatku lepas)
"Suatu ketika beberapa remaja datang ke kafe dan memegang tanganmu, aku sangat kesal."
"Klien kita adalah raja. Kamu memegang tanganku dan berkata, 'Nona Arumi ini pacarku!'"
"Aku pikir aku mulai gila," sambung Ethan Sanchez mengulas senyuman tipis.
"Padahal waktu itu, aku berharap suatu waktu sungguhan kamu akan jadi pacarku."
"Doamu terkabul. Kita memang pacaran, berlangsung cepat. Kamu sengaja buatku cemburu. Kamu terus menggoda Archilles Lucca. Aku berpikir berapa lama ..., Archilles akan kokoh hadapi tingkahmu. Aku bertahan. Tetapi, Archilles Lucca tampak bersedia mati untukmu. Sikap pria itu padamu memancing sesuatu dalam diriku untuk berterus terang, mendorongku jujur pada diriku sendiri. Aku melihatku berubah bodoh karena bangun benteng kokoh dari perasaanku sendiri. Ketika temboknya runtuh, aku telah tergila-gila padamu dalam takaran lebih banyak daripada kamu tergila-gila padaku."
Arumi Chavez di hadapan Ethan, kaki mereka terus bergerak Arumi hanya menatap Ethan Sanchez.
"Aku menyadari kamu tak percaya diri saat bersamaku. Lalu, di mana salahku? Aku hanya kebetulan terlahir dengan banyak berkat."
"Ethan ..., kamu ..., terlalu sempurna untuk gadis sepertiku."
Lagu telah lama berhenti tetapi mereka masih terus berdansa, bicara dari kening ke kening hingga buat teman-teman mereka menonton pertunjukan itu.
Dandia seakan fotografer dari sebuah resepsi pernikahan, merekam video abaikan wajah datar Nyonya Sanchez. Gadis itu bahkan telah jungkir balik dari duduk, berdiri, serong ke kanan, ke kiri demi dapatkan angle bagus.
"Jika kesempurnaan bersanding dengan kesempurnaan, di mana bagusnya mereka terlihat Arumi? Hanya akan ciptakan keegoisan dan menang sendiri. Sedang sebuah hubungan adalah saling melengkapi?"
"Setidaknya seorang gadis yang tak terlalu membentang jarak terlalu jauh darimu. Aku berada di luar jangkauan. Aku tampak paksakan diriku agar mencapai standarmu."
"Apakah aku menuntutmu begitu?" tanya Ethan Sanchez tak suka.
"Tidak, aku tak tahu bagaimana ini bisa terjadi?"
"Aku mengerti maksudmu, Arumi. Aku tak bisa turun ke deretan terbawah dan bersamamu karena aku akan hancurkan kerja keras Ibuku. Lagipula, takdirku entah mengapa bukan di sana. Kamu tak bisa naik ke tempatku karena di luar kemampuanmu, kamu tak akan sanggup. Lalu, mengapa kita buang-buang tenaga?! Bisakah biarkan saja melaju seperti aliran air sungai? Kita bukan akan menikah besok, lusa bahkan dalam lima tahun."
"Aku bisa berpengaruh buruk bagimu, jika kamu tak bisa mengekang perasaanmu padaku!"
"Baiklah," angguk Ethan Sanchez cepat. "Aku akan kendalikan diriku. Aku bersalah melanggar aturan yang kubuat sendiri."
Mereka akhirnya berhenti. Ethan Sanchez, lingkari tangannya pada pinggang Arumi.
"Maukah kamu pikirkan kembali tentang kita sambil aku yakinkan Nyonya Sanchez?"
"Ethan ...."
"Aku tak bisa salahkan Ibuku. Aku melihat banyak luka. Meskipun aku sangat mencintaimu, aku tak bisa tinggalkan keluargaku. Aku yakin, di posisiku, kamu akan lakukan hal sama. Tetapi bukan berarti kita korbankan perasaan. Aku sangat tak suka pada kondisi, di mana, aku harus memilih menjaga perasaan dari orang-orang yang aku sayangi. Bagiku itu sungguh tak adil. Kita hanya akan pacaran dan nikmati masa muda."
"Ethan ...."
"Jangan peduli pada kata dunia selama kamu tak rugikan orang lain. Apakah kita hidup untuk menimbang pendapat orang lain tentang kita? Apakah kita hidup untuk buat orang lain terkesan?"
"Bagaimana dengan dramaku?"
"Ethan ...."
Menahan tubuh Arumi, bergerak mendekat, mencium kening Arumi perlahan. Kali ini Arumi tak bisa enyah-kan sentuhan padanya. Mata-matanya terpejam.
"Tak perlu beritahu aku sekarang! Kita bisa bertemu lagi nanti. Aku berharap kamu tak mudah menyerah tentang kita setelah buatku jatuh cinta padamu."
Mungkin hubungan ini tak harus habiskan satu musim. Apa perlu dihentikan lebih awal hanya demi hindari benturan keras malah bencana, yang bahkan sama sekali tak bisa diprediksi? Atau ikuti keyakinan Ethan Sanchez?
Arumi melunak, ia mengangguk. Ia akan kembali pulang, naik ke ranjang, pejamkan mata kemudian pikirkan lagi.
"Kita akan makan malam lalu aku akan antarkan kamu pulang. Bagaimana?" tanya Ethan Sanchez. "Atau masih ingin di sini?"
"Aku cukup kenyang, Ethan. Terlalu lelah menikmati pesta."
"Baiklah, mari kita pergi!"
Ethan Sanchez pegangi Arumi Chavez, datangi tempat Nyonya Sanchez.
"Mom ..., maafkan aku tak bisa temani ...."
"Pergilah!" potong Dandia Sanchez sebelum ucapan Ethan Sanchez selesai. "Aku akan pulang bersama Ibu," tambah Dandia Sanchez berubah pengertian.
Ethan Sanchez memicingkan mata pada adiknya lekas curiga.
"Tenang saja, aku tak minta tambahan biaya. Sekali ini gratis!"
"Mom?!" Ethan Sanchez harapkan dukungan Nyonya Sanchez. "Bolehkah?" Minta ijin.
Arumi Chavez menengok pada Ethan Sanchez, mencatat di benaknya, cara bicara baik dan benar pada Ibumu meski kamu kecewa juga marah, tak sukai sikap otoriter Ibumu; contoh patut ditiru.
Archilles Lucca pernah ingat Arumi tentang sikap buruknya pada Ibunya, diabaikan, merasa Archilles terlalu berlebihan. Kini, Arumi merasa sikapnya dulu memang brutal.
"Baiklah, Ethan. Aku akan bersama Dandia. Tolong tidak keluyuran dengan puteri seseorang, lupa diri kemudian menginap bersama, Ethan Sanchez. Aku akan menunggumu pulang." Nyonya Sanchez beri peringatan.
"Mom?!"
"Apakah aku salah? Jangan abaikan apa yang kukatakan. Cinta yang kamu miliki satu sama lain cukup kuat. Ini seperti kue tar besar. Ada hasrat dan logika di dalamnya. Satu potongan besar hasrat sisanya potongan kecil logika. Kamu tergoda potongan besar, tak berhenti mengunyah karena takjub pada kelezatannya. Cinta kadang membuat kita lupa banyak hal, Ethan."
"Mom, aku tak akan lakukan hal-hal sebabkan kerusakan fatal masa depanku juga Arumi. Aku tak mungkin menyakiti hatimu dan Nyonya Salsa."
Ethan Sanchez menatap Ibunya. Satu, dua, tiga detik, inginkan pengertian.
"Tuhan menjagamu selalu, Ethan," balas Nyonya Sanchez berdoa. Sekalipun Nyonya Sanchez pahami tak lantas sembunyikan kekecewaan. Namun, tak ada yang bisa dilakukan kecuali menurunkan berkat bagi puteranya.
"Kemarikan identitasmu!" tadah Dandia mulai usil.
"Apa maumu?"
"Sekalipun aku mendukungmu, aku tak ingin sesuatu buruk menimpamu dan Nona Arumi. Kamu wajib tinggalkan identitas-mu. Kita tak pernah tahu, saat iblis menggodamu di tengah jalan begitu kamu lewat depan motel dan lampu suram sebuah suite terlihat menggoda untuk dikunjungi."
"Eh, gadis ini! Berapa usiamu, Bocah?! Kamu baca komik dewasa?"
"Ooopss, aku benarkan Ibu?" Dandia berpaling pada Nyonya Sanchez minta dukungan.
"Dandia, jangan ganggu kakakmu!"
"Baiklah, sampai nanti Nona Arumi. Oh ya, aku mengundangmu datang ke rumah kami akhir pekan untuk makan malam," ujar Dandia penuh harap.
"Dandia?!" tegur Nyonya Sanchez menoleh tajam pada anak gadisnya, tak sukai sikap gegabah Dandia.
"Bukankah Ibu mengundang Sarah, dan ijinkan aku mengundang temanku? Aku akan mengundang Nona Arumi," jawab Dandia santai.
Nyonya Sanchez bernapas berat. "Datanglah jika kamu mungkin sedang tak sibuk."
"Maafkan aku, Nyonya Sanchez. Terima kasih sudah mengundangku," kata Arumi Chavez, pura-pura tak rasakan tatapan tajam Nyonya Sanchez. "Aku akan berada di Paris selama tiga hari di akhir pekan Minggu ini. Aku akan mampir lain hari."
Nyonya Sanchez mudah lega.
"Owh, titip salam untuk Eiffel ya, katakan I am in love with him, so much love," sambut Dandia berseri-seri.
Arumi Chavez mengikat perasaan secara pribadi dengan Dandia dari cara mereka saling berbagi pandangan.
"Dandia ..., sehat-sehat selalu, ya!" ujar Arumi Chavez tulus. "Aku harus segera pulang!"
"Hati-hati di jalan!"
Pamitan pada teman-teman, lalu pada Sarah dan keluarga Sarah, Arumi diantar keluar beramai-ramai.
"Nona Muda, maafkan kami soal tadi. Kata-kata kami pasti menyakitimu." Donald Harrison antarkan Arumi Chavez. Tania Lim Harrison di samping suaminya, raut turun karena terus mengingat keburukan sikapnya.
"Oh, aku sangat malu, Nona Arumi. Sungguh sangat menyesal."
Arumi Chavez menggeleng, "Bisakah kita lupakan kejadian hari ini? Kita bisa memulai hubungan yang baru. Aku sangat iri, Nona Sarah miliki Anda berdua sebagai orang tua yang bijaksana dan humble."
"Oh, lihatlah sikapnya, Donald! Sangat manis. Bisakah kita berfoto bersama? Aku akan pajang foto Anda di dinding restoran kami."
Arumi mengangguk semangat, berdiri di tengah bersama Sarah diapiti Donald dan Tania Harrison, mengambil foto, hapuskan luka sisakan kenangan manis.
"Sesekali mampirlah kemari ya, aku akan senang hati siapkan kue beras untukmu. Anda perlu mencobanya, Nona."
"Mom, Nona Arumi mungkin tak sukai rasa kue beras."
"Oh, coba dulu!"
"Baiklah, Nyonya Harrison. Aku akan mampir kemari suatu waktu. Aku pergi, semoga malam Anda menyenangkan."
"Sampai jumpa, Arumi. Da da da!" lambai Sarah Jessica.
Arumi Chavez balas melambai. Langkah kaki ringan dekati Ethan Sanchez yang menunggu sabar.
"Apakah kita pesan taxi saja? Kamu mungkin mengantuk di atas laju motor."
Arumi menggeleng. "Aku sangat suka naik motor denganmu."
"Em, tidak. Mari kita naik taxi. Wajahmu ramalkan, apa yang akan terjadi dalam sepuluh menit ke depan."
Lima belas menit kemudian, taxi menyusuri malam kota. Arumi Chavez tertidur lelap di bahu Ethan Sanchez.
"Nah, apa juga aku bilang, kamu malah tidur dalam lima menit. Apakah aku mungkin lewat dalam mimpimu, Arumi Chavez?"
Ingin hati mengajak Arumi ke menara jam. Di sana pemandangan kota, jembatan dan lamlu-lampu sangat indah dan romantis. Tetapi, Arumi telah lebih dahulu lelap.
Taxi berhenti di pekarangan luas rumah Arumi. Ethan Sanchez tak punya pilihan selain menggendong Arumi.
"Gadis ini ternyata sangat bahaya saat tertidur."
Nyonya Salsa Diomanta mondar-mandir menunggu. Lega campur gembira melihat kedatangan Ethan Sanchez.
"Selamat malam, Nyonya Salsa."
"Ethan ..., senang melihatmu. Oh, apakah Arumi minum dan mabuk?" tanya Nyonya Salsa overthinking.
"Tidak, Nyonya. Arumi hanya terlalu lelah."
"Ethan?!" Marya Corazon muncul di ruang tamu, Elgio Durante di belakang istrinya.
"Sayang, kamu di sini?" sapa Ethan Sanchez. "Kamu terlihat sangat cantik malam ini," tambah Ethan Sanchez.
"Lihat dia! Menggoda istriku sedang adik iparku ada dalam lengannya." Elgio Durante berdecak.
"Nyonya Salsa, kemana aku akan bawa Arumi? Dia bertambah berat dari menit ke menit."
Salsa Diomanta tak berhenti tersenyum lebar.
"Kamar Arumi di atas, Ethan," kata Marya Corazon.
"Aku akan antarkan Arumi ke atas," tawar Elgio Durante menggoda, "Jika kau ijinkan," tambah Elgio senang melihat gelagat Ethan yang tidak rela.
"Aku bisa sendiri!"
"Kamu beri Arumi minuman k3r4s?"
"Apakah aku tipikal pria b3j4t, Elgio Durante?" sergah Ethan Sanchez sedang Elgio Durante tak tahan geli.
"Oh, Ethan akan kesusahan pergi ke atas. Maafkan Arumi repotkanmu, Ethan. Gadis ini, ya Tuhan," keluh Nyonya Salsa dahului Ethan pergi ke kamarnya sendiri.
Arumi Chavez dibaringkan di atas ranjang. Sikap manis Ethan sungguh buat Nyonya Salsa terpesona.
"Em, Nyonya, Arumi belum makan malam. Aku rasa dia akan kelaparan tengah malam."
"Aku akan mengurusnya, Ethan. Terima kasih banyak."
Kembali antarkan Ethan Sanchez.
"Aku langsung pamit pulang, Nyonya. Taxi menunggu. Lagipula, Ibuku tidak akan tidur sebelum aku pulang," kata Ethan Sanchez tambah-tambah bikin Nyonya Salsa kagum.
"Baiklah, Ethan."
"Tak minum teh dulu?" tawar Elgio Durante.
"Lain waktu, Elgio," tolak Ethan Sanchez. Mereka tidak bermusuhan tetapi tidak juga dekat. "Bye bye, Sayang. Sampai jumpa besok di sekolah." Berikan kecupan jarak jauh pada Marya.
"Ethan ..., bisakah kita bicara sebentar?" tanya Salsa Diomanta tiba-tiba, wajahnya harap-harap cemas.
Ethan Sanchez menatap Nyonya Salsa, mengira-ngira. Seseorang datang dari luar, itu adalah Archilles Lucca.
"Ya, Nyonya ..., silahkan!"
"Mari duduk!"
"Nyonya ...."
"Archilles ...," sapa Marya Corazon tersenyum ramah.
"Archilles, kamu telah kembali?" Elgio Durante segera bangun.
Beri isyarat ke arah atas pertanda akan diadakan pembicaraan serius. Archilles balas mengangguk pada Elgio Durante dan menyapa Ethan Sanchez sebelum mengekor di belakang Elgio Durante tapaki tangga menuju perpustakaan keluarga.
"Ethan ..., aku menaruh harapan besar padamu."
"Nyonya ..., apa yang Anda inginkan?"
"Ini tentang Arumi. Aku sungguh-sungguh inginkanmu untuk Puteriku. Hanya kamu, satu-satunya pria paling tepat bagi Arumi."
Walaupun dicakap-kan cukup pelan, baik Elgio Durante maupun Archilles Lucca bisa dengarkan permintaan itu. Elgio Durante bahkan berhenti naik tangga, menoleh ke bawah, menengok setengah putaran pada Archilles Lucca yang otomatis diam di tempat.
"Kamu dengar itu, Archilles Lucca?" tanya Elgio Durante nyaris berbisik. "Mertuaku terlihat ingin menahan Ethan Sanchez di sini malam ini dan nikahkan Arumi Chavez dengan Ethan setelah matahari terbit besok pagi."
Archilles Lucca cuma mampu mengangguk, "Ya, Tuan. Aku dengar." Menapaki tangga lagi ikuti Elgio Durante. Luka di tubuhnya tak seberapa sakit. Ada luka lain lebih dalam menusuk.
Dan ....
Kamu tahu ..., apa yang paling menyedihkan dari semua ini?! Pikir Archilles gampang tersayat dan perih.
Archilles Lucca bahkan tak bisa ungkapkan bahwa ia menyukai Arumi Chavez sebab berterus terang pada Nona Arumi kemungkinan besar akan buat Nona Arumi kebingungan hadapi gejolak emosi. Menghela napas kuat. Ia tak punya pilihan selain terus melangkah menyimpan rapi kesedihan di bilik hatinya.
***
Tinggalkan komentar, komentar paragraph, komentar di komentar sesama.readwes, like, like di komentar readers lain dan pendapatmu soal Chapter ini. Aku hanya mengandalkan cinta-mu padaku!