
Seonggok daging tergeletak di lantai ..., itu ..., jari manisnya. Cincin berharganya samar berlumuran darah. Archilles pikir penyiksaan akan terus berlangsung. Siapkan mental.
Mungkin ia akan segera bertemu Martha Via. Mungkin, waktunya tak lama lagi. Ia akan makan sup buatan Ibunya. Bersandar di pundak Martha Via dan mengadu tentang nasib buruknya. Ia juga punya seseorang yang syukurnya ..., tidak serumit Nyonya Salsa. Martha Via bersahaja, entah terbuat dari apa hati Ibunya. Hanya mencintai dan lapang dada hadapi kenakalan tak terukur dirinya juga menerima keburukan Raul Lucca tanpa mengeluh. Menyimpan rindu pada Martha Via.
Archilles sampai di batas ambang sakit dan iblis di depan kegirangan akan penderitaannya. Beruntung seseorang datang. Menghardik keras. Memukuli ketiga iblis dengan tongkat listrik hingga ketiganya terkapar.
Archilles tak ingat kejadian selanjutnya. Ia hanya diliputi kegelapan. Entah berapa lama ia tidur. Ketika mata terbuka, Archilles Lucca terbaring di atas ranjang di ruangan serba putih. Ruang perawatan. Mungkin klinik atau rumah sakit. Archilles hanya terserang kantuk parah segera terlelap.
Tak bermimpi, tak ada apapun. Hanya kepekatan. Kepahitan mengikis harapan dan kesakitan seakan ingin menghapusnya tanpa sisa. Ia tak tahu kemana ia akan pulang.
Terbangun beberapa kali. Tidur lagi.
Mula-mula tanpa cahaya.
Lalu, rupa gadis itu saat berlari ceria padanya sepulang sekolah mengisi dirinya. Bersinar di bawah sinar mentari sore. Rambut cokelat tergerai berayun oleh angin musim panas. Ia melihat rumah tujuannya.
Dan ..., seorang gadis kecil sembilan tahunan melompat ke dalam pelukannya penuh sukacita.
"Archilles Lucca?!"
"Zefanya ...." Lebarkan kedua tangan menyambut. Sedikit mengeluh ketika Zefanya menubruk tubuhnya keras.
"Aku merindukanmu, aku berpikir untuk menemuimu tetapi tak tahu kemana harus mencarimu!" Lalu menangis sesenggukan dalam pelukannya.
"Aku di sini, Sayang. Sudah kubilang, aku akan datang padamu sewaktu-waktu."
"Aku merindukanmu setiap hari. Aku takut sesuatu terjadi padamu. Bagaimana aku akan hidup tanpamu?"
Ada Arumi Chavez dan Zefanya Lucca. Jika ia mati Arumi Chavez akan lanjutkan hidup, tetapi bagaimana dengan Zefanya Lucca?
Martha Via berdiri di ambang pintu, tak ijinkan ia masuk.
"Archilles Lucca, jaga adikmu!"
"Martha ..., aku merindukanmu!"
"Setiap Ibu selalu bersama anak-anak mereka, di hati mereka."
"Aku akan makan masakanmu dan pulang pada Zefanya."
Pintu tertutup di belakang Martha Via pertanda Martha via tak ingin kompromi.
Archilles tersadar pagi berikutnya. Setelah kehilangan cincin dan jari manisnya, Archilles diselamatkan seorang sipir penjara yang masih miliki hati nurani.
Dan kebetulan hebat bahwa penyelamatnya adalah kiriman Tuan Hadriano Cesar atas permintaan Manuel Cesar. Berandalan itu berjanji pada Ayahnya akan berhenti berulah dan patuh pada apapun kehendak orang tuanya asalkan Tuan Hadriano mulai menempuh jalan untuk bebaskan Archilles Lucca dari penjara.
Dua hari setelah ia dirawat di klinik penjara, penjaga memberitahu Archilles bahwa Beltran dan Cesar berkunjung bawakan ia makanan dan buku juga tugas mereka yang harus ia periksa. Cesar membuat keributan karena tak diijinkan bertemu dengannya dan menuduh Archilles mungkin telah diam-diam dibunuh. Pria itu mengancam akan mengirim masalah guru mereka pada media untuk dapatkan keadilan jika ia kembali lagi dan masih tak bisa bertemu gurunya.
Di hari keempat Archilles Lucca dikembalikan ke dalam sel meski bukan sel lama. Tangan terbalut perban. Ia tinggal bersama empat orang pria dalam sebuah ruangan yang lebih besar dari sel sebelumnya.
Di sana, penghuni sel memasak makanan sendiri, membagi tugas masak kecuali dirinya dan tak perlu mandi di kamar mandi umum karena mereka punya kamar mandi. Ruangan jauh lebih hangat dan cerah sebab penghuni melabur sendiri dindingnya. Kejutan baik sebab Alex juga diselamatkan oleh sipir penjara dari gangguan pria-pria iblis.
Paling tua sangat bijaksana, bernama Robin. Setiap hari membaca kitab suci. Hanya menulis catatan-catatan kaki di sebuah buku.
Mungkin itu yang akan dilakukan seseorang saat menyadari umur mereka berangsur mengerut.
Seorang lain penyendiri jarang bercakap tetapi sangat tangkas merawatnya, bernama Alfonso. Ia diperlakukan seperti seorang tuan terhormat.
Di hari kelima, tak diduga ia menerima kunjungan. Archilles Lucca pergi ke bilik penerima tamu. Hellton Pascalito dan Axel Anthony berbagi tatapan. Tanpa percakapan untuk waktu lama kendati mereka cuma punya waktu tiga puluh menit.
Tuan Hellton tampak belum sembuh betul. Pria itu memakai kaca mata gelap dan bertopi. Rautnya datar tanpa ekspresi, menyimpan kemarahan di satu sisi.
"Apa Archilles baik-baik saja, Ax?" tanya Hellton Pascalito hingga Archilles Lucca melipat kening. Apakah mata Tuan Hellton bermasalah?
"Aku pikir Lucca sakit."
"Apa sesuatu terjadi?" tanya Hellton menggeram.
"Tidak! Aku hanya sedikit frustasi, Ax. Ini terlalu tiba-tiba." Archilles sembunyikan tangan terluka di sisi tubuh. "Apa Anda baik-baik saja, H?" tanya Archilles muram.
"Ya," angguk Hellton. "Baik."
"Tidak!" geleng Axel Anthony membantah temannya. "Penglihatan H datang dan pergi."
"Apa maksudnya, Ax?"
"Saraf di bawah mataku terganggu terlebih pada intensitas cahaya berlebihan." Hellton berterus terang. "Jangan pikirkan aku!"
"Semoga Anda cepat sembuh."
"Kamu akan bersabar, Archilles. Aku akan keluarkanmu segera." Hellton Pascalito bicara dengan suara rendah.
Jarak dari kota ini ke lembah Tena, dimana Hellton dan Axel membangun rumah tidak sampai satu jam perjalanan.
"Tidak, Tuan. Anda tak akan buat Nyonya Salsa kesal dan berpikir aku minta bantuan Anda. Please, jangan lakukan apapun!"
"Archilles ..., kami sangat menyesal untuk segala hal yang terjadi!" Axel Anthony menghela napas berat. "Kami baru terima kabar tentangmu dari Carlos Adelberth. Pria itu sedang berada di Afrika saat ini."
"Apakah BM baik-baik saja?"
"Tak ada yang tahu. Pria itu menutup akses padanya sementara waktu. Kami tak bisa menghubunginya."
Apa yang terjadi? Keadaan mereka sepertinya tidak begitu bagus.
"Bertahan sebentar lagi. Kami akan temukan cara."
"Tidak, Tuan," tolak Archilles. "Jangan mengurusi masalahku sedang Anda berdua harus berada didekat Baby Piglet dan Baby Owl."
"Kami akan segera pergi berburu."
"Maaf ..., Lucca absen. Anda berdua akan menjaga diri tanpaku. Apakah Romeo ikut?"
"Ya."
Ketiga pria, dua yang ini dan satunya lagi di luar sana, perangi banyak kepala yang inginkan Pequeena Mendeleya dan Irishak Bella. Akan terus berlangsung berbulan-bulan ke depan. Mungkin memakan tahun-tahun hidup mereka. Terlebih Irish Bella telah diresmikan sebagai musuh para mafia.
Dan Queena Mendeleya mendapat sanksi 'dimusnahkan' oleh member kartel yang marah pada Viktor Mendeleya. Sementara kedua wanita sedang hamil dan tinggal bersama.
"Tuan, walaupun Anda mungkin sangat sibuk, aku mohon agar Anda terus memantau Nona Arumi."
"Apa sesuatu terjadi?"
Archilles mengangguk. "Nona Arumi dihantui perasaan diawasi oleh seseorang sejak lama. Ia selalu mengeluh, bangun pagi dengan ketakutan besar dirinya mungkin akan dijahati seseorang."
"Apa kamu peringatkan Salsa?"
"Ya."
"Semoga kakak perempuanku yang keras kepala tidak mengabaikan peringatanmu. Ia pasti telah lakukan upaya terbaik untuk Arumi."
"Anda akan hubungi Nyonya Salsa lagi. Nona Arumi tanpa penjagaan terakhir kali Nona kemari hanya bersama Leona."
"Aku kehilangan kata pada perilaku ponakanku. Harusnya kamu mengusir gadis nakal itu pergi begitu kamu melihatnya. Arumi bahkan merengek padamu hanya untuk mengusir cicak. Salsa harusnya tahu bahwa Puteri kami suka merayumu."
"Aku tidak keberatan, Tuan. Karena aku mencintai Nona Arumi," jawab Archilles Lucca tanpa keraguan sedikitpun. "Dan menyukai semua sikapnya padaku."
Tentu saja dua orang di depan sana lekas terdiam. Terlebih Archilles di luar dugaan bicara tanpa takut dicerca dan sambil tersenyum. Hellton pun sedikit tersenyum ingat tingkah ponakannya yang absurb.
"Maka aku tak heran kakakku temukan peluang bagus untuk jebloskan-mu ke penjara."
"Jalanku sulit."
"Jalan semua pria yang mencintai seorang wanita dan inginkan cinta sejati tak pernah ada yang mudah," sahut Hellton Pascalito hempaskan napas penuh beban.
"Ya," angguk Axel Anthony. "Kamu akan pertahankan cintamu tak peduli apapun masalahmu. Jangan lakukan kebodohan seperti yang kami lakukan."
"Ya, Axel benar."
"Oleh sebab itu, Anda berdua, Lucky Luciano, Tuan Adelberth atau Tuan Durante sekalipun tidak boleh menentang keinginan Nyonya Salsa. Aku hanya akan menunggu di sini."
"Masalah ini, berbeda, Archilles."
"Tuan, aku mohon."
"Baiklah, Archilles. Mari tetap sehat dan bertemu lagi di suatu waktu."
"Jaga diri Anda berdua, Tuan."
Dalam seminggu ia menerima lebih banyak permintaan kunjungan termasuk Cesar dan Beltran. Luiz Armando juga teman-temannya diwakilkan oleh Daniel. Dan kepala Biara, Padre Antonio yang datang mendoakan kesehatannya.
***
Dua belas hari sejak ia berada di penjara. Archilles Lucca di atas ranjangnya. Pak Tua Robin membaca sebuah buku sedang Archilles terbenam pada loteng ranjang. Pak Tua Robin sangat cerdas dan mengetahui banyak hal di muka bumi ini layaknya sebuah memori data menyimpan banyak file.
Mereka sering duduk dan berbagi pengalaman, saling menguatkan dan mendoakan. Di dalam sini, banyak hal baik terjadi kendati Archilles selalu rindukan suara itu. Nona Arumi Chavez tepati janji dengan tidak menelponnya.
Melihat Archilles gelisah, Pak Tua Robin sedikit lafalkan beberapa baris penghiburan.
Sekarang
Waktu membenci cinta
Menginginkan kemalangan cinta
Tetapi, cinta memutar emas, emas, emas dari jerami
Helaan napas.
Archilles Lucca pejamkan mata. Ia baru saja minum obat pereda nyeri. Tak berani gunakan tangan kiri sebab sesuatu menikam jantungnya tiap mata menangkap tangan kirinya.
Tak percaya, ia kehilangan cincin Nona Arumi. Berharap tak akan bertemu Arumi Chavez atau ia tak akan tahu bagaimana cara sembunyikan kondisi ini. Ia siapkan jawaban-jawaban tertentu misalkan Arumi Chavez kemudian tahu ia di penjara dan datang mengunjunginya.
Bagian terbaikku adalah dirimu
Ruang berhargaku adalah jatuh cinta padamu
Bebas dan luas
Melampui ungkapan dalam puisi ini
Tertidur. Entah berapa lama. Saat pengaruh obat sangat kuat tetapi kegelisahan dari alam bawah sadar yang sekonyong-konyong menyambar mirip petir di siang bolong, Archilles Lucca terbangun. Ia terengah-engah. Peluh basahi tubuhnya.
"Archilles Lucca, ada panggilan untukmu!"
Sipir penjara bawakan ponselnya lima menit kemudian. Archilles Lucca terhenyak. Gunakan handuk mengusap kening oleh keringat dingin.
Nona Arumi?!
Apakah gadisnya berencana akan datang?!
Archilles siapkan penolakan, menerima ponsel dari jendela berukuran kecil.
"Halo ..., Nona ...."
"Archilles Lucca?!"
"Nona Arumi?!"
"Help us please, help me Archilles."
Sambaran panik dari seberang otomatis membuat Archilles menegang. Ia terpaku di tengah ruang sedang teman-temannya keheranan.
"Nona?! Apa yang terjadi?!"
"Aku tak tahu. Sekelompok orang aneh menyerang kami."
"Nona ..., Anda di mana?"
"Di perkebunan anggur milik keluarga Hernandes."
Tidak bertanya lebih jauh. Situasi ini pasti darurat.
"Nona ..., please jangan panik! Jangan matikan telpon. Tolong alihkan ke video! Biarkan aku melihat situasimu."
Archilles Lucca mengatur detak jantung yang berirama sangat cepat hingga nyaris meledak.
Video belakang kamera Nona Arumi tampilkan pertarungan beberapa orang. Archilles sedikit mengerut, men-capture layar.
"Aku di dalam ruang tidurku. Leona mengunciku dari luar. Aku mendengar suara jeritannya, Archilles. Mereka menyakiti temanku." Nona Arumi bicara cepat dan ketakutan.
Ponsel tidak stabil, Nona Arumi sepertinya berlari ke dalam ruang tidur. Permadani merah maroon terlihat lalu jendela dan bagian depan sebuah rumah. Halaman. Kamera soroti sepasukan hitam berjubah dan bertopi runcing, memegang lilin hitam membentuk simbol tertentu. Seorang lain berdiri di tengah-tengahnya memegang tongkat berkepala pentagram dan kepala kambing bertanduk di dalamnya.
Di hadapan mereka dua tiga orang terkapar dan Archilles Lucca kenali seragam body guard teman-temannya dari mansion Diomanta.
"Apalah Michael bersamamu?"
"Ya." Arumi Chavez sepertinya menahan tangis. "Tetapi, aku tak yakin mereka bisa bertahan. Apa kamu tahu siapa mereka?"
"Nona ..., tolong jangan panik. Lihat aku!" pinta Archilles Lucca.
Arumi Chavez terlihat di layar ponsel. Wajah gadisnya ketakutan hingga sama putih seperti tembok.
"Anda tak punya banyak waktu, Nona, sampai mereka temukan Anda."
"Kamu tahu siapa mereka?"
"Nona ..., Anda akan baik-baik saja." Archilles atasi ketakutan dirinya sendiri. Ia tak berdaya. "Aku akan datang padamu. Saat ini, dengarkan aku!"
"Archilles, aku sangat takut! Mereka sangat menyeramkan!"
Arumi Chavez akhirnya menangis.
"Lihat aku! Cari tempat lebih gelap, taruh ponsel Anda di sana, arahkan pada pintu masuk ruang tidur Anda. Biarkan aku melihat Anda, Nona. Jangan melawan mereka."
"Aku akan bawa ponselku! Kamu bisa menemukanku!"
"Tidak, Sayang. Ponsel Anda akan dihancurkan. Ikuti saranku."
Arumi Chavez menuruti permintaannya. Menaruh ponsel di sebuah tempat yang agak tersembunyi bersandar pada belakang ornamen perangkat telpon manual. Sementara Archilles mencoba berbagi layar dengan BM. Namun, tidak tersambung.
Dalam kontak panggilannya hanya ada dua nomer tanpa nama, temukan bahwa salah satunya nomer Salsa Diomanta. Memanggil.
Ditolak.
Mengirim pesan. "505"
"Biarkan saja videonya terus menyala, Nona!Anda tak bisa larikan diri jika Michael dan Leona gagal lindungi Anda. Ikuti apa mau mereka dan Nona jangan lakukan apapun atau Anda akan disakiti. Aku berjanji akan menemukanmu."
Handling pintu bergerak.
"Archilles mereka di sini!" Arumi Chavez telah terisak pelan terlihat berdiri ketakutan akhirnya duduk di ranjang. "Kostum mereka menakuti aku, Archilles."
Archilles Lucca mendesis matikan lampu ruangan dan meminta teman-temannya diam agar siapapun tak sadari videonya sedang menyala.
Pintu akhirnya terbuka.
"Argh!!!"
Arumi Chavez refleks pergi ke ujung ranjang. Orang-orang itu terlihat di ruang tidur. Empat orang berjubah hitam, bertopi runcing. Salah seorang di antara mereka pegangi kamera dan menyoroti ranjang.
"Siapa kalian?"
Terdengar nada ketakutan Arumi Chavez sampai-sampai Archilles merinding.
"Nona Arumi Chavez ..., ikut dengan kami!"
"Tidak! Aku tak kenal denganmu dan tak tahu siapa kalian!"
Arumi Chavez menghilang dari pantauan video. Archilles Lucca menangkup wajahnya oleh rasa yang dibagi Arumi Chavez.
"Bawa dia!"
"Tidak! Aku tidak mau! Apa maumu? Uang? Akan aku berikan."
"Kemuliaan bagi anak dari cahaya. Anda gadis beruntung yang terpilih. P3r4w4n dari maret yang akan dipersembahkan bagi keagungan."
Dua orang hampiri Arumi Chavez. Archilles Lucca gertakkan gerahamnya. Walaupun abu-abu, Archilles Lucca menduga bahwa kelompok ini adalah salah satu sekte pemuja kegelapan. Mereka gunakan lambang kambing bertanduk runcing dan pentagram, kebalikan dari domba. Hanya tak habis mengerti mengapa mereka mengincar Arumi Chavez.
Tak disangka Arumi Chavez terlihat kembali separuh berdiri dan melompat pada yang sedang bicara. Hindari diri dari tangkapan. Tangannya sangat cepat terayun dan sesuatu tertancap tepat di dada pria yang perintahnya didengarkan. Sekilas benda itu berbentuk garpu hanya dua gigi. Garpu Tala, salah satu benda favorit musician walau tidak semua miliki benda itu karena menganggap tidak begitu penting.
Nona Arumi mungkin sering gunakan garputala untuk musiknya.
Archilles menggeleng di depan ponsel. Berbisik pelan.
"Nona jangan lakukan itu!"
Arumi sangat kasar mendorong si pria hingga terdorong ke belakang. Tangan gadis itu berdarah. Si pria tanpa rasa sakit, pegangi lengan Arumi Chavez erat.
"Menyingkir dariku! Aku tak akan pergi kemana-mana!"
Dua pria lain mendekat dalam gerakan fasih menangkap orang berhasil meringkus Nona Arumi. Sedikit ciderai lututnya hingga gadis itu menjerit kesakitan, lumpuhkan tangan Nona Arumi dan mengikatnya.
"Archilles akan datang dan lemparkan kalian ke neraka."
Tak ada yang menyahutnya.
"Tidak! Lepaskan aku!" Meronta sekuat tenaga berusaha lepaskan diri.
Namun, lawan Nona Arumi bukan orang biasa dan terlalu tangguh. Gadisnya tanpa daya.
"ARCHILLES!!!"
Hanya itu hal terakhir yang didengar Archilles, sebuah raungan sebelum Arumi Chavez dibawa pergi. Ruangan itu kembali kosong dan hening.
"Archilles, mereka berasal dari sekte pemuja setan."
Pak Tua Robin bicara di sisinya. Teman satu sel telah mendengar percakapan dan ikut menonton.
"Ya, sudah aku duga."
"Mereka akan mencari seorang dara murni yang lahir di tanggal dan bulan tertentu. Gadis yang lahir bertepatan dengan Halloween di Oktober, solstices (matahari berada di titik terjauh dari khatulistiwa) di bulan Juni dan Desember atau Equinoxes - Maret dan September. Mereka memantau dan diam-diam mengincarnya berhari-hari sebelum gadis itu ditangkap untuk dinodai raja iblis di Christmas Day. Ada persekutuan mengejek dan menghujat Tuhan di hari itu. Tidak sampai disitu, mereka akan menunggui hingga gadis ini mengandung dan akan minum santapan kasih sayang dari darah bayi yang digugurkan paksa menjelang malam 30 April. Dimana sekte ini merayakan hari besar malam walpurgis. Mereka akan nyalakan api unggun dan bersenang-senang dengan iblis lewat sebuah perjamuan darah."
Insting Nona Arumi sangat tajam. Gadis itu tahu, ia diintai sejak awal. Archilles sama sekali tak menduga kalau ini berhubungan dengan dunia gelap sesungguhnya.
"Aku hanya pernah dengar. Tak berpikir kegilaan ini sungguhan terjadi."
"Sudah terjadi dan akan terus terjadi, Archilles. Mereka hanya memilih gadis tertentu memenuhi syarat astronomi kelahiran khusus. Selain itu memang sang pilihan diberkahi kecantikan, kekayaan dan popularitas. Terlebih gadis ini masih suci."
"Apakah dia pacarmu?" tanya Alfonso.
Archilles mengangguk. "Dia lahir di tanggal 20 bulan Maret."
"Sejak tahun 2010 hingga tahun 2043, ekuinoks di mana matahari berada tepat di atas khatulistiwa bumi selalu jatuh di tanggal 20 Maret di setiap tahun. Gadismu adalah gadis ekuinoks vernal, julukan khusus untuk gadis yang lahir di musim semi."
"Waktumu tidak banyak hanya sampai tanggal 24 Desember."
Archilles Lucca menyipit. "Bukankah berurusan dengan para mafia terlihat lebih masuk akal?"
"Sayangnya sekte ini memang nyata dan beberapa petinggi mafia terlibat di dalamnya. Mereka bahkan miliki dark web, dark room. Aksesnya sulit dijangkau."
BM pernah menyinggung ini. Archilles hanya tak percaya bahwa hal-hal ini sungguhan ada. Berharap BM bisa dihubungi tetapi nomer temannya bahkan tidak tersedia.
Lalu, ponselnya berdering. Nomer tak dikenali. Berharap Raphael Bourne.
"Lucca, Arumi Chavez diculik sekte pemuja setan."
Young Vincenti dan suara cemasnya bicara tanpa basa-basi.
"Bagaimana bisa kamu tahu?" tanya Archilles Lucca lupa bahwa Young Vincenti adalah keajaiban jenis lain di dunia ini.
"Aku ..., member dark room. Video streaming penculikan Arumi Chavez diputar eksklusif di room 6 barusan, begitu pula apa yang akan terjadi padanya. Arumi Chavez sungguh dibawa menuju kegelapan. Kurasa teman hacker-mu sedang diburu int3rp0l karena berusaha membobol data pemerintah dan menjualnya di D4rk W3b hingga tak tahu pacarmu dalam bahaya."
Dan Young Vincenti jelas sangat akurat.
"Kita harus bebaskan Arumi sebelum live streaming berikutnya di tanggal 25 Desember."
Archilles kehilangan kontrol. Ia pergi ke pintu sel dan menggedor pintu dengan kedua tangan lupakan bahwa salah satu jarinya terpotong.
"Keluarkan aku dari sini!" teriaknya keras. "Dengar aku? Keluarkan aku dari sini!"
Penjaga tak menggubrisnya. Archilles menggedor pintu semakin kencang dan keras, memukuli pintu baja itu bahkan menendangnya.
Petugas datang.
"Sir, keluarkan aku dari sini."
"Archilles, jangan meminta sesuatu yang sulit padaku."
"Baiklah, maafkan aku. Tolong hubungi Nyonya Salsa Diomanta sampaikan padanya Nona Arumi dalam bahaya. Jika Nyonya Salsa tidak bebaskan aku sekarang, ia akan menyesali ini seumur hidupnya."
***