My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 118. Never Ever Say Goodbye



💌 : Guru Lucca, kami menemukan Eva tadi siang!


Beltran mengirim pesan.


💌 : Kami?


💌 : Aku dan Cesar


💌 : Apa Eva baik-baik saja?


💌 : Eva pingsan. Seseorang mengerjainya. Kami membawanya ke klinik biara dibantu seorang pengunjung taman Nasional. Katanya teman Anda. Dapatkan perintah yang sama darimu untuk temukan Eva. Namanya Nona Marry Stella.


Archilles Lucca menghela napas panjang. Astaga.


💌 : Pastikan Eva menerima perawatan. Tolong hubungi paman dan bibinya. Temani Eva dan jangan ditinggal pada siapapun kecuali keluarganya.


💌 : Sudah kulakukan yang terbaik, Guru. Gara-gara menunggui Eva di klinik, Beatriz cemburu dan tinggalkan aku.


Benar-benar masalah.


💌 : Maafkan aku. Memangnya di mana Cesar?


💌 : Jagoan kita demam tinggi. Dia menggigil kedinginan lalu menginap di ruang sebelah Eva dan diinfus. Aku belum ke klinik lagi untuk memeriksa mereka.


Singkirkan ponsel. Archilles Lucca fokus menanak beras dalam kaldu. Ia kemudian merebus telur puyuh di panci. Bersihkan talenan. Ia bersiap memasak.


Nona Arumi Chavez tercenung di sofa ke arah laut lepas. Archilles periksa jam dinding, hampir setengah jam Nona Arumi di posisi yang sama setelah mereka tiba dan tak ada yang berniat menyinggung peristiwa sore tadi sejak sampai di rumah tepi pantai.


Di sisi, foto kakek-nenek Arumi Chavez membentuk mini galeri. Foto keluarga dari masa kecil yang adalah foto keluarga. Salsa, Sunny, Enrique Diomanta bersama Marion Davis di Diomanta Greenfield berlatar kandang kelinci. Ketiga gadis tampak lebih ceria dibanding saudara mereka, Mr. H yang tidak bersahabat dan muram saja wajahnya; memang tampak bengis sejak balita. Kolase foto mungkin baru dipajang tahun ini, sebab sebelumnya tak pernah ada apapun di sana kecuali lukisan laut dan pegunungan.


Kulkas dalam rumah ini terisi penuh berkat Mr. H yang meminta staf pengelola rumah sediakan dalam waktu kurang dari satu jam.


Keluarkan semua bahan makanan yang ia butuhkan. Bumbu dan daging segar. Ikan, udang, kerang menakar porsi berenam. Lebih dari berenam karena yakin teman-temannya di luar kelaparan.


Bersihkan kerang dan menumis bumbu. Kerang dimasak satu dengan kacang panjang, disirami macam-macam saus sembari memanggang ikan dan udang.


Adu pisau dan talenan buat Arumi menengok. Archilles Lucca sedang mencincang bawang bombai. Caranya menyayat bawang sangat rapi. Lalu berpindah meraih tomat. Setelahnya jamur, batang bawang, cabe dan timun. Menghela napas panjang dan hempaskan.


Apa yang dilakukan gadis seusianya di negara lain? Apakah mereka punya kisah cinta seserius dirinya?


Arumi Chavez amati Archilles Lucca lagi. Kuduknya merinding sebab ia sungguhan telah jatuh cinta pada mantan pengawal yang ternyata adalah sepupu jauhnya.


Pria ini punya banyak keahlian. Arumi mendata satu persatu dalam otaknya. Lebih dari 10 daftar keahlian. Ia akan selamanya jadi ratu saat menikahi Archilles. Namun, mengapa hatinya tidak tenang?


Pantai berangin, sedikit gerimis, suara ombak, aroma pasir juga keindahan koloni hortensia di halaman; Arumi Chavez pikirkan kemungkinan Archilles akan bahayakan nyawa sendiri jika terus dalam pengaruh Salsa Diomanta.


"Kita perlu makan, Nona." Suara penuh perhatian buyarkan lamunan. Cinta dan kasih sayang pria itu selalu sampai padanya. Tetapi, jika ia terus egois pertahankan Archilles di sisinya, ia bisa kehilangan Archilles.


"Aku tidak lapar." Arumi menyahut lemas. Apakah bisa lepaskan Archilles? Jauh sebelum ia jatuh cinta, ia lebih dulu alami ketergantungan pada kasih sayang dan perhatian yang diterimanya secara cuma-cuma.


"Setelah makan, aku akan beritahukan segalanya padamu, Nona. Tanpa satupun tersembunyi."


Mereka saling melihat. Arumi Chavez kembali ke laut.


"Bisakah tolong aku, bersihkan dirimu dari make up dan kembali kemari, Nona?"


Arumi Chavez patuh, menghilang ke salah satu ruang tidur.


"Agathias, panggil yang lain untuk makan malam." Archilles bicara di ponsel.


"Tuan Muda, kami akan masak spaghetti dan makan nanti."


"Ada cukup banyak nasi dan lauk. Lupakan spaghetti. Kemarilah! Bawa saja ke ruangan kalian dan makan dengan baik lalu pergi istirahatlah!"


Agathias muncul tak lama berselang.


"Reynaldo dan Samuel akan berjaga sementara aku dan Alfredo tidur. Pukul 2 dinihari nanti giliranku."


"Apakah perlu?" Archilles Lucca memeriksa pemanggang.


"Jika aku punya putera satu-satunya dan telah tanpa sengaja menyinggung seorang pejabat kedua terpenting di negara ini, aku akan kirimkan satu regu pasukan khusus untuk menjaganya" Agathias Altair seperti kesal pada sikap tak peduli Archilles.


"Sangat berlebihan, Agathias."


"Ayah Anda sedang melakukannya!"


Archilles Lucca terdiam. Ia berhenti beraktivitas sejenak hanya untuk menatap Agathias. Dan sinar merah terpantul di dinding dapur, satu, dua dari senjata laras panjang datangnya dari arah pantai beritahu Archilles Lucca bahwa Agathias tidak sedang bercanda. Ayahnya mengirim pasukan untuk pastikan keamanannya. Ini juga alasan Tuan Maurizio tidak menelpon.


Archilles Lucca segera bolak balik ke meja makan kaca di sisi jendela. Letakan dua tumpukan piring keramik. Mangkok sup paling atas. Serbet putih dipasangkan hiasan mutiara. Sangat mahir mengatur lilin dan bunga segar dalam benda kaca berbentuk labu.


"Bagaimana penampilannya menurutmu, Agathias?" tanya Archilles Lucca anggukan dagu pada meja makan bernuansa chic.


"Dramatis. Nona Arumi mungkin suka, tetapi terlalu feminim bagiku."


"Kalau kamu punya pacar, kamu akan skip sisi menggelikan darimu dan hanya berpikir dari sudut pandang para gadis."


"Romantis. Semoga sukses."


Archilles Lucca menopang tubuhnya di meja dapur gunakan kedua tangan. Ia menatap Agathias serius.


"Aku terlatih dan terbiasa lindungi diriku sendiri selama bertahun-tahun, alasan aku masih hidup hingga hari ini."


"Aku tahu Anda tak takut pada apapun bahkan kematian sekalipun, tetapi Anda perlu berada di posisi Tuan dan Nyonya Lucca. Kehilangan bayi selama 24 tahun, kini menemukan Anda dan tak lantas hentikan dukacita bahwa Anda hidup bertolak belakang dari keluarga kandung Anda. Bahkan tak ada bayangan. Sangat disayangkan jika Anda menganggap situasi Anda adalah perkara sepele, Tuan Muda. Perdana menteri mungkin miliki sikap kerendahan hati itu, tetapi bagaimana kalau yang kita lihat hanyalah kamuflase? Taktik sebelum letuskan bencana. Anda berada dalam bahaya karena jiwa patriot Anda yang aku kritik keras, tidak ditaruh pada porsinya. Anda seakan menjual jiwa pada seseorang agar bisa dapatkan keinginan Anda."


"Kamu tak tahu apa yang telah aku lewati, Agathias. Termasuk, yang tersimpan di dalam sini," tunjuknya ke dada, "pada gadis yang aku cintai. Kamu tak paham, apa yang aku perjuangkan dan yang aku pertaruhkan. Hatiku jatuh padanya dan aku telah bersumpah untuk melindunginya dengan nyawaku. Mungkin, suatu waktu ketika kamu jatuh cinta ..., kamu akan paham."


"Ya, Anda benar. Aku tak akan sanggup bayangkan betapa besar perasaan Anda pada Nona Arumi. Bagaimana makhluk yang hampir sempurna dan kompleks seperti Anda begitu berdedikasi pada seorang gadis."


Kamu mau tahu sebuah rahasia?" tanya Archilles Lucca, keluarkan ikan dan udang dari oven. Memeriksa.


"Entahlah. Nona Arumi hanya terlihat macam ponakanku yang berusia lima belas tahun. Ponakanku tak pacaran. Hanya sibuk les private banyak bahasa, tekun belajar dan main game sebelum tidur. Dia bahkan masih main boneka."


Archilles Lucca berbisik.


"Gadis di dalam bukan sembarang gadis. Aku mencintai gadis langka, Agathias. Lebih dekat dengannya, maka kamu akan temukan bahwa Arumi Chavez adalah keajaiban alami."


Agathias Altair mengerut. "Apa kekasih Anda terlahir sepuluh abad sekali?"


"Nona Arumi Chavez mengasimilasi begitu banyak keindahan. Kompilasi gadis-gadis di setiap abad. Dan pacarku persembahkan semua bakat senimannya, menulis lagu indah untukku dengan pianonya."


"Memang langka kalau sampai sehebat itu di usia muda. Ponakanku tak mengerti apapun soal ciptakan lagu."


"Mau dengar lagunya?"


Agathias Altair menggeleng. "Nanti lain Kali. Aku tidak suka musik jaman sekarang. Kecintaanku pada musik berakhir ketika aku masih kecil dan seorang penyanyi Mexico nyanyikan lagu-lagu balada dalam bahasa Spanyol yang bikin aku meremang. Dan aku tak berhenti pikirkan iramanya karena sangat menyentuh jiwa. Di era ini, musiknya tanpa tema dan asal jadi lagu. Aku tak paham tujuan orang bermusik."


"Sayang sekali, kamu telah keliru. Aku juga tak bisa memaksamu. Tidak lucu saat kamu dengarkan lagu ciptaannya, ada perasaan kental bahwa lagu itu mungkin ditujukan bagimu. Aku tidak rela membaginya dengan orang lain. Ini adalah himne cinta darinya untukku yang ditulis saat Nona jatuh cinta padaku. Aku ingin menyanyikannya sekuat tenaga tetapi aku tak tahu caranya."


"Pria yang malang." Agathias prihatin. Mereka mengobrol seperti teman dekat. Agathias berpikir ini kemajuan dalam sebuah hubungan. Archilles Lucca berbagi hal-hal kecil dengannya pertanda sedang membuka diri. Mungkin ingin Agathias yakinkan Tuan Maurizio agar tak begitu cemas. "Terima kasih untuk makan malamnya, Tuan Muda. Anda ternyata koki handal."


Archilles kembali ke tungku mengupas kulit telur puyuh. Bersihkan baby corn. Mulai membuat sup.


"Kembali lagi untuk mengambil sup dan sajian penutup. Camilan ada banyak di laci penyimpanan."


"Kami menjaga pola makan, Tuan Muda."


"Selama kamu berolahraga teratur dan bisa berlari sekencang kuda, lupakan diet."


Agathias membantu mengisi nasi yang sudah masak ke dalam kotak-kotak makanan. Pria itu pergi antarkan makanan.


Nona Arumi Chavez dengan cepat kembali duduk di sofa memakai sweater pink bergambar Mickey dan Minnie Mouse dan legging abu-abu yang ditemukan dalam kamar. Jangan bilang menyukai Eva si tikus terinspirasi dari Minnie Mouse. Sepertinya milik Nyonya Salsa, Sunny atau Marion Davis. Atau mungkin saja milik Nona karena sangat pas terlihat di badan gadisnya.


Benturan di kaca dan deru angin beritahu bahwa gerimis telah mengambil wujud hujan dan entah mengapa, Arumi Chavez kepergok gelisah.


Archilles Lucca merasa bersalah. Di usia belia, gadis itu harus rasakan banyak hal bodoh karena orang-orang dewasa dan dirinya salah satu. Bisakah ia perbaiki?


"Tolong kemari dan cuci tanganmu, Nona!" Archilles berkata sambil mengaduk sup. Aromanya benar-benar menggigit.


"Nanti saja aku makannya," sahut Arumi meraih bantal sofa dan menopang dagu.


Archilles berpaling untuk melihat gadisnya, tak sadari bahwa tangannya terlalu rendah hingga kenai kuping panci panas.


Argghh!


Pria itu menggeram.


"Archilles Lucca?!"


Arumi Chavez melompat dari sofa dan sampai dengan cepat di tempat pria yang sedang kibaskan tangannya agar redakan nyeri.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Bukan hal besar, Nona."


"Mana aku lihat?"


Jari telunjuk pria keunguan tersengat panas. Arumi Chavez perhatikan.


"Kamu tunggu di sini. Aku akan ambil plester." Arumi Chavez baru akan pergi, Archilles Lucca menarik gadis itu kembali padanya.


"Nona, tak semua luka bisa gunakan plester. Kita bisa fungsikan gula untuk luka bakar sebagai pereda nyeri dan sakit."


Archilles tunjukan cara. Mengambil sedikit gula dan balurkan pada bekas sengatan panas.


"Apakah ini ampuh?"


"Jika Anda tak makan, sia-sia saja tanganku terbakar."


"Baiklah. Bisakah kita bicara sebelum makan?"


"Tidak. Makan dulu baru bicara. Perut kosong membuat manusia mudah kesal dan marah."


"Baiklah, Archilles. Apa yang bisa aku bantu?"


"Nyalakan lilinnya, Nona."


Mereka berhadapan di meja makan sedang ombak bergulung sampai dekat ke arah rumah. Pasang naik.


"Bisakah aku mencoba, Archilles?" tanya Arumi Chavez saat Archilles mengambil piringnya untuk diisi nasi.


"Baiklah."


Makan dalam diam. Arumi Chavez kehilangan selera tetapi apakah lidahmu bisa menolak kelezatan makanan?


"Ada Tart de Lemon."


"Nanti saja. Aku terlalu kenyang."


Berpindah ke sofa setelah membantu Archilles bereskan dapur, mereka menonton hari yang mulai gelap.


Arumi Chavez berpaling pada pria yang duduk tak jauh darinya.


Jadi, Archilles Lucca mungkin memang jodohnya?


"Malam itu di Darling Islands, Tatiana datang ke suite-ku menyamar sebagai staf hotel." Archilles menunggu reaksi pacarnya tetapi gadis itu hanya diam. "Tatiana beritahu aku rencana Perdana Menteri untuk melamar Anda. Tatiana memperingati-ku bahwa Tuan Abercio mungkin punya rencana jahat sebab Abercio adalah salah seorang petinggi di sekte yang inginkan Anda."


"Mengapa Tatiana melakukannya? Apakah dia harapkan imbalan darimu?"


"Anda tahu dia menyukaiku. Aku tak bisa melarang siapapun yang jatuh cinta padaku sebatas peringati bahwa aku milik Anda dan memilikimu. Tatiana tidak memusuhi Anda, Nona. Dia hanya terobsesi padaku. Dia menyukai apa yang aku sukai dan singkirkan hampir semua gadis yang mendekatiku."


"Apakah ada cinta model itu? Apakah Tatiana menderita bipolar atau gangguan jiwa lain?"


"Tatiana menangkap semua orang yang terlibat di hari penculikan Anda dan aku bereskan mereka. Dia sangat permudah pekerjaanku. Selama kita berpisah, aku berburu semua orang yang sakiti dan inginkan Anda. Tatiana banyak menolongku. Aku tidak bisa lepaskan Anda sekarang meskipun seluruh Agen FBI disewa untuk menjaga Anda karena Abercio mungkin sangat berbahaya. Dan selamanya karena aku mencintaimu, Nona."


Arumi Chavez tahu jantungnya tak beraturan.


"Ibuku mungkin akan menyakitimu."


"Nyonya Salsa akan berhenti dengan sendirinya karena aku tidak mempan digertak lagi asalkan Nona tidak mengusirku dari sisimu. Mari menikah lalu sementara Anda selesaikan sekolahmu dua tahun ini, aku akan belajar keluar negeri ikuti kehendak ayah."


Arumi Chavez menatap kekasihnya, takut ia merayu Archilles karena ia mendadak ingin melompat pada pria itu. Tangannya cengkeram erat sofa. Cincin mereka berkilauan di jarinya.


"Bisakah kita pergi keluar, Archilles?"


"Angin mungkin akan sebabkan Anda sakit."


"Di dalam sini bisa lebih berbahaya." Arumi Chavez mengeluh.


"Baiklah."


Baru saja lebarkan pintu. Ponsel Archilles Lucca berdering. Panggilan masuk. Archilles memeriksa ponsel. Carmelita Luisa.


"Guru Carmel menelpon. Aku perlu menjawab panggilannya, Nona. Mungkin sangat mendesak."


"Apakah memang harus menelpon pagi, siang dan malam?" Arumi Chavez cemberut dan kembali ke sofa.


Archilles aktifkan pengeras suara. "Mari kita caritahu apa yang terjadi."


"Guru Lucca, maaf aku mengganggumu." Suara Carmelita terdengar tidak karuan.


"Ya, Carmelita ada yang bisa aku bantu?"


"Aku kehabisan kata, tenaga dan pikiran."


Arumi Chavez keheranan. Memangnya Archilles Lucca charger-an?


"Apa sesuatu terjadi?"


"Murid kesayanganmu di depan asramaku, berdiri di bawah hujan angin dan tak pergi sekalipun diusir Kepala Asrama. Ya Tuhan, apakah dia ingin ciptakan skandal dan menyeretku?"


Archilles Lucca berdecak.


"Akhiri panggilanmu dan biarkan aku menghubunginya."


"Tolong buat dia pergi dari asramaku. Ya Tuhan, mengapa aku datang kemari dan mengajar di tempat ini? Psikopat ada di mana-mana. Aku sampai takut pergi ke toilet."


"Aku akan membantumu sebisaku, Carmelita. Tolong jangan panik."


Panggilan mereka berakhir.


"Nona, biarkan aku selesaikan masalah satu ini. Lagipula di luar sedang gerimis."


"Aku pikir Young Vincenti paling bandel dan menyebalkan."


"Mereka kembar beda orang tua. Hanya Cesar ini kadar bandelnya jauh lebih tinggi dari Young. Mungkin bisa menyamai tinggi gunung Everest."


Archilles lakukan panggilan video pada nomer Manuel Cesar. Ditolak. Sampai tiga kali ditolak.


Coba sekali lagi.


"Hmm, ada apa? Aku sedang sibuk!" sahut Cesar. Wajah Manuel Cesar tak begitu jelas terlihat.


"Apa yang kamu inginkan? Beritahu aku!"


"Mulanya melihat Carmelita, dapatkan maaf darinya. Mengajaknya makan malam."


"Manuel Cesar? Kamu berlebihan. Kamu berada di lingkungan keramat. Tolong jangan menyebalkan."


"Aku akan berdiri di sini sampai Carmelita datang menemuiku. Biarkan rumor mengejar Carmelita seperti hantu."


"Carmelita gurumu, tolonglah!"


"Ini bukan jam sekolah. Carmelita, gebetanku."


"Ya Tuhan, terbuat dari apa otak Bocah ini?"


"Anda punya ide, Guru Lucca?"


"Tadinya aku punya ide. Tapi, kamu mudah berkhianat."


"Bagi aku idemu. Aku tak akan laporkan Arumi Chavez karena menyuruh seseorang menculik dan menyiksa Eva Romero."


"Jangan sembarangan, Manuel Cesar!"


"Eva menerima surat darimu, ajak ketemuan di Taman Nasional. Ia pergi ke sana. Seseorang menyerangnya dan mengikatnya di pohon. Mencakar lehernya dan peringatinya untuk menjauhimu, Guru Lucca. Bahkan tak boleh melihat padamu atau mata Eva akan dicungkil dan disemayamkan di pemakaman para vampir. Memangnya siapa yang berani seekstrim itu kalau bukan pacar Anda sendiri? Arumi Chavez kejam padanya terakhir kali mereka bertemu."


"Apa Eva melihat rupanya?"


"Menurut Eva. Dia memakai topeng kucing bertaring dan kukunya bercakar panjang. Cat woman."


Astaga, apa ini kebetulan? Tapi, Egiana gunakan pola yang sama sebarkan t3R012.


Archilles Lucca mulai pening. "Arumi Chavez sedang bersamaku dan tak punya kaitan apapun!"


"Dia kan kaya, bisa menyewa seorang agen atau pembunuh bayaran."


Arumi Chavez merebut ponsel dan pelototi Manuel Cesar. "Dengar, Bodoh! Jika aku tak suka Eva, aku hanya akan datang sendiri dan menjepit bibirnya dengan tanganku sendiri. Aku tak butuh orang lain lakukan untukku. Kau dengar aku?"


"Wah wah wah, Anda sedang berduaan dengan pacar Anda?" Manuel Cesar berdecak.


"Bukan urusanmu!" sahut Archilles. "Pergi dari sana sebelum Carmelita menelpon pihak berwajib."


"Polisi cukup bodoh menangkap seorang murid yang tak bisa kerjakan soal matematika dan ingin minta tolong pada gurunya."


"Mulutmu memang penuh tipu muslihat, Manuel Cesar."


"Beri aku ide, Guru Lucca. Jika sekali ini Carmelita mau menemuiku, aku akan berubah jadi malaikat dan tak menyusahkan orang."


"Kau akan menusukku dari belakang."


"Sekali ini tidak akan terjadi lagi."


"Baiklah. Coba pingsan di tempatmu! Dan tidak bangun dari sana selama tiga puluh menit meski guntur kilat badai petir menerj ...."


BUUK!!!


Tanpa aba-aba sepertinya Manuel Cesar benaran ikuti sarannya sampai-sampai Archilles terkaget-kaget.


Kamera itu terkena hujan dari cara menangkap bunyi biji hujan yang jatuh.


Panggilan lain diterima.


"Guru Lucca, anak itu pingsan. Bagaimana ini? Bagaiman ini? Apa yang harus aku lakukan?"


"Sejak kapan dia mematung di sana?"


"Sejak pukul lima sore setelah aku pulang dari sekolah. Aku mengabaikannya."


Berarti hampir tiga jam.


"Dia mungkin bercanda," sahut Archilles tenang. "Hubungi saja orang tuanya."


"Oh ya Tuhan, bagaimana ini?"


"Kalau kamu cemas dia sakit, pergilah dan bawa dia masuk. Manuel Cesar memang sedang sakit. Memakai perban macam tadi pagi terlalu besar-besarkan masalah, tetapi setelah mencari Eva, Beltran katakan pria itu demam tinggi dan diinfus di klinik."


"Salahmu, Guru Lucca. Anda menyuruhnya mencari Eva!"


"Aku harus pergi," kata Archilles buru-buru serba salah. "Tolong jangan sampai Manuel Cesar sekarat di asrama-mu, Guru Carmel."


Matikan ponsel dan lemparkan ke bawah bantal sofa.


"Tuan Muda?"


Agathias tergopoh-gopoh datang. Ada apa lagi? Ia baru saja mau berduaan dengan Arumi Chavez dan banyak sekali gangguan.


"Agathias, aku pikir sup-nya mulai dingin." Basa-basi. Mengapa mereka selalu ketakutan pada segala hal.


"Tuan Maurizio menelpon Anda tetapi ponsel Anda mati. Bisakah kita bicara?" tanya Agathias melirik pada Arumi Chavez.


"Ya? Katakan saja. Ada apa? Sejak saat ini, Nona Arumi akan dengarkan apapun yang kita bicarakan."


Agathias tidak yakin tetap melapor.


"Ayah Angkat Anda, Tuan Raul Lucca, baru saja dibebaskan dari semua tuduhan dan dilepaskan dari penjara. Tuan Maurizio minta Anda berhati-hati dan tidak pergi menemuinya. Seseorang mungkin akan manfaatkan Tuan Raul Lucca untuk menyerang Anda."


"Siapa yang membebaskannya?"


"Seseorang yang miliki kekuasaan tinggi."


"Perdana Menteri?"


"Mungkin saja."


"Bisakah tolong jemput Zefanya, kakek dan nenekku dan bawa mereka ke Càrvado sekarang?"


"Tuan Maurizio minta Anda sendiri yang datang dan mengawal mereka pulang ke Càrvado. Juga Nyonya Nastya."


"Agathias? Ayah Ibuku bisa bersama adik dan kakek-nenekku pulang ke sana."


"Kami akan mengawal Anda. Ayah Anda ingin Anda segera pulang. Aku pikir, Ayah Anda tak akan mau kehilangan lagi."


***


Aku capek banget. Pulang kerja jam 7 malam dan asli nulis ini kayak dikejar-kejar. Nanti aku perbaiki kalau ada tipo.


Aku mencintaimu. Cintai aku.