My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 64. Tears of Desperation



"Aku tak bisa balas mengatakan padamu, 'aku mencintaimu juga', Archilles. Maafkan aku."


"Dimengerti. Aku tak menuntut apapun dari Anda."


"Hanya saja ...," kata Arumi pelan, "tanpamu ..., tak bisa melihatmu dan merindukanmu adalah perasaan terburuk yang pernah aku alami." Mengakui perasaannya dalam keremangan.


Archilles tersenyum. Seorang cendikiawan berkata, merindukan seseorang adalah bagian dari mencintai mereka.


Jika dirinya dan Nona Arumi tidak pernah berpisah, mereka tidak akan pernah benar-benar tahu seberapa kuat cinta mengikat mereka.


"Tahukah Anda, yang baru saja Anda katakan lebih dari cukup bagiku dibanding 'aku mencintaimu'."


"Begitukah?"


Archilles Lucca mengangguk.


"Aku cemburu pada orang-orang yang bertemu denganmu setiap hari, berbincang denganmu di dunia barumu di mana aku tak ada."


Mungkin sama seperti Archilles iri pada keberuntungan Aorta karena Nona Arumi pasti selalu bersama Aorta menonton senja di ujung mansion.


"Kadang aku ingin menjelma jadi cincin di jarimu agar bisa bersamamu. Kamu tahu, perasaan semacam itu?"


"Ya, aku tahu rasanya."


"Mungkin terdengar aneh. Dulu aku bangun tiap pagi bersemangat ke sekolah karena ingin melihatnya. Aku mencintainya, sangat menyukainya dan memujanya segenap hatiku. Padamu ..., um ..., aku hanya ingin bersama. Aku ingin kamu ada dibalik kemudi, menunggangi kuda, memasak, bermain basket. Setiap jalan yang aku lalui, aku sekonyong saja berharap - entah bagaimana - melihat kita di sana."


Tak pernah ada seseorang selain Zefanya. Ini pertama kali. Baginya sangat dahsyat. Jika bukan cinta yang kuat, jika bukan dia orangnya, jika gadis ini bukan miliknya; jelaskan mengapa jiwanya begitu bahagia saat ini? Mengapa hati mereka seakan berbagi kehidupan? Dan mengapa ia diliputi haru biru?


"Aku tersanjung, Anda memikirkan aku secara mendalam."


"Aku iri pada mereka yang bisa melihat senyummu."


"Percayalah aku tak pernah tersenyum di sana," sahut Archilles.


"Oh?! Apakah suasananya buruk?"


"Tidak juga."


"Lalu?!"


"Tak ada alasan."


"Matamu tidak melihat gadis lainkan?"


"Aku tak butuh gadis lain sedang aku miliki gadis tercantik di dunia," jawab Archilles bersungguh-sungguh. "Beberapa orang berpikir aku sinting karena mengatakan Anda adalah pacarku."


"Oh, mengapa?"


"Mengapa?!" ulang Archilles Lucca lebih keheranan dari Arumi. Sepertinya gadisnya tidak sadar kalau wajah rupawan menawannya tersohor hingga ke negara tetangga.


"Anda sangat populer."


"Begitukah? Emm, ceritakan tentang dunia barumu Archilles? Kamu tidak berurusan dengan mafia, gangster lagi kan?" Arumi selidiki ke sebelah.


"Aku tak lakukan hal-hal semacam itu lagi. Dan tak ada yang perlu aku ceritakan, Nona."


"Baiklah. Kamu tahu, aku ingin kamu dengarkan aku suatu waktu ketika aku bermain piano. Ada dua lagu yang kutulis untukmu."


Archilles Lucca menatap Arumi Chavez cukup untuk membuatnya percaya bahwa Arumi Chavez juga mencintainya. Hanya saja ..., kebingungan mungkin melanda Nona Arumi hingga tak cukup yakin pada perasaan sendiri. Nona Arumi tidak terburu-buru soal cinta atau hasrat seakan biarkan segala hal berlarian seperti air mengalir di sungai. Akan bermuara juga pada akhirnya.


"Aku penasaran."


"Lagunya akan dimasukan sebagai salah satu soundtrack pengisi Bittersweet Married."


"Aku kehabisan kata," puji Archilles Lucca tak berhenti terpesona. "Anda menemukan bakat Anda lebih awal."


Dewasa bukan soal angka, Nona Arumi tampak lebih matang dari caranya bersikap dan berperilaku. Itu berarti ia tak akan melihat kekonyolan gadis ini lagi.


Mungkin karena kegembiraan sedang meluap, Arumi Chavez tak berhenti tersenyum selama Me Before You diputar. Tak ada kesedihan persis ketika terakhir ia menonton film itu. Archilles Lucca setiap sepuluh menit menoleh pada gadis berjarak satu depa darinya. Mereka ciptakan romansa tanpa bersentuhan.


Menyusuri jalanan setelah film berakhir. Ujung di mana kafe berada. Itu berarti kafe juga menghadap alun-alun kota. Di sana sebuah monumen obelisk berdiri indah ceritakan peristiwa bersejarah berabad-abad lalu. Leona ikut dari belakang. Menjelang akhir pekan sangat ramai di sini, terlebih ada stasiun kereta bawah tanah di depan sana juga banyak halte bis. Ada kereta gantung untuk pergi ke Miradouro Alcantara.


"Aku akan antarkan Anda pulang."


"Oh, tidak!" geleng Arumi kuat. "Ibuku tidak akan suka."


"Jangan hindari ini, Nona. Akan lebih berbahaya jika Nyonya Salsa tahu aku bertemu Anda dan tidak mampir untuk menyapa. Lagipula, aku perlu berkunjung dan menjenguk Tuan Hellton."


Arumi Chavez keberatan.


"Kamu kan bisa melihat Uncle Hellton di restoran Aunty Marion."


"Momennya tidak tepat, Nona. Aku juga perlu minta ijin untuk membawa Anda besok pagi."


Arumi Chavez menengok. "Kemana?"


"Hanya mengelilingi kota."


"Aku tidak yakin Ibuku ijinkan."


"Tanpa mencoba kita tak akan pernah tahu."


"Maksudku, tidak sekarang. Bisakah kamu berkunjung besok setelah kita bepergian?"


"Nyonya Salsa sedang tidak ada di mansion, Nona Arumi. Nyonya dan Nona Sunny mengunjungi lokasi di mana panti asuhan akan dibangun." Leona masuk di antara dua orang.


Nona Arumi Chavez berseri-seri menerima kabar gembira itu. Tak sembunyikan semangat remaja belia.


"Kamu bisa minta ijin pada Uncle Hellton dan Aunty Marion," tawar Arumi Chavez ciptakan tatanan secepat kilat. Tahu bahwa Uncle Hellton tak akan keberatan.


"Nona ..., Nyonya bisa saja telah kembali."


"Akh, Leona, mengapa informasimu suka setengah-setengah?"


"Mungkin saja."


Mereka sampai di depan kafe. Kebetulan, Ethan Sanchez baru keluar dari restoran diantar Luna Hugo. Mereka sedikit mengobrol sebelum kembali ke kafe. Di dalam Café by Marion & Laluna, pasukan masih lengkap. Mungkin tak akan berakhir cepat. Makan malam formal berubah seperti gathering keluarga. Hanya Tuan Allain Miller yang tak terlihat lagi. Pria itu pasti tidak nyaman.


"Jangan cemas. Aku akan datang besok pagi dan menjemput Anda, Nona. Mumpung di sini, aku pikir, aku ingin tahu kabar Tuan Ethan."


"Di mana kamu menginap malam ini? Kamu bisa pulang ke kamarmu dan tidur di sana. Apakah kamu tak rindukan Aorta dan Vena?Um, sepatu dan jasmu juga merindukanmu. Kupikir mereka bicara padaku suatu waktu."


Archilles Lucca tersenyum lebar, mengisi hati dengan celotehan Arumi Chavez. Berpikir ia rela lakukan apa saja agar dapatkan ijinan Salsa Diomanta untuk habiskan hidupnya bersama Arumi Chavez.


"Nona Arumi sering tidur di kamarmu." Leona memberitahu Archilles.


"Ya. Leona benar. "Aku bertanya pada mereka, apakah kalian merindukan Archilles Lucca? Mereka hanya diam saja sebelumnya lalu aku dengar jasmu berkata; begitu banyak."


Archilles Lucca akhirnya tertawa lebar.


"Apakah kamu mengejekku?" tanya Arumi cemberut.


Leona berdecak. "Ini pertama kali Anda cemberut setelah hampir sebulan, aku pikir anda kehilangan emosi di wajah Anda."


Archilles Lucca masukan kedua tangan ke dalam saku mantel sebab sesuatu mendesaknya meraih gadis itu ke dalam pelukan. Ia jatuh cinta pada keseluruhan Arumi Chavez. Gaya bicara, tatapan. Wajah, rambut, mata dan ia memimpikan suara Arumi Chavez dalam tidurnya.


"Nona ..., penginapanku tak jauh dari sini."


"Oh, sayang sekali." Nona Arumi terlihat kecewa.


"Anda harus pulang sekarang, Nona!"


"Aku belum pamitan pada Luna Hugo dan yang lainnya. Mau pergi bersamaku? Aku yakin semua orang senang melihatmu."


"Tidak, Nona!" Archilles mengangguk pada Ethan Sanchez yang berhenti sejenak di sisi jalan, cukup terkejut sebelum lanjutkan langkah hampiri mereka.


"Arumi Chavez? Kamu tinggalkan hidangan penutupmu untuk barang yang ketinggalan di mobil?"


Arumi meringis. "Tadinya aku tak yakin telah melihatnya ...."


"Bisa di mengerti," angguk Ethan Sanchez amati gadis yang berseri-seri semacam terpantul sinar bulan purnama. Pipi dan puncak hidung kemerahan padahal udara sangat dingin.


"Malam, Ethan."


"Archilles Lucca ..., senang melihatmu lagi setelah sekian lama."


"Apa kabarmu?"


Lima menit kemudian mereka duduk berhadapan di kafe sedang Arumi Chavez kembali ke dalam restoran untuk berpamitan.


"Sangat mengejutkan kamu ada di sini."


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Archilles Lucca. "Kamu terluka seminggu lalu."


Ethan Sanchez tidak heran Archilles Lucca tahu keadaannya. Pria ini memang punya keahlian sebagai mata-mata.


"Aku telah pulih meski belum sepenuhnya."


Archilles mengangguk. "Syukurlah. Aku mencemaskanmu."


"Terima kasih. Di mana kamu selama ini? Apakah kamu menemukan pekerjaan yang bagus?"


"Ya. Aku mengabdi di sebuah sekolah terpencil."


"Um? Guru?"


"Ya."


"Menarik. Apakah masih di negara ini?"


"Tidak."


"Kamu kemari karena ingin melihat Arumi? Pastikan keadaannya dan berterima kasih padaku?"


"Terima kasih telah bantu aku ungkapkan maksud dan tujuanku."


"Aku masih mencintai Arumi," ujar Ethan Sanchez tiba-tiba lemparkan pandangan keluar kaca, melayang jauh. Tertancap tepat pada Arumi Chavez yang bersinar di antara keluarganya. Sepertinya memulai beradu pendapat dengan Lucky Luciano. "Jika kamu mungkin ingin tahu soal itu juga."


Archilles Lucca meneguk minuman, mengangguk setelahnya ikutan berpaling ke sana. Mereka mencintai gadis yang sama dan tidak sendirian. Semalam Archilles menyelinap ke perkebunan Vincenti dan peringati, Young. Pria muda itu mengaku jatuh cinta pada Nona Arumi. Young bahkan terang-terangan sedang gigih dapatkan Arumi. "Tak ada yang bisa kulakukan dengan itu."


"Keadaanku sulit. Aku hanya manusia lemah. Setelah aku putuskan menyerah padanya, ternyata tanpa seijin-ku hatiku masih mencari-carinya."


"Aku mengerti rasanya."


"Arumi Chavez ..., hanya memikirkanmu."


"Maaf jika sikap Nona Arumi terlebih aku mungkin telah menyakitimu."


"Aku terus berjuang setiap hari, Archilles. Lalu, ujungnya selalu sama ..., aku tidak bisa pertahankan Arumi tanpa menyakitinya." Ethan Sanchez tersenyum tipis. Ciuman terakhir mereka sangat manis tetapi adalah awal dari kepahitan yang menyedihkan.


"Lihat dia!" ujar Ethan Sanchez gunakan dagu menunjuk Arumi. "Lebih bersemangat dari dua jam sebelum ini dan tak berhenti memeriksa kemari! Mungkin takut aku menggiling-mu dalam mesin pembuat kopi." Berdecak. "Tadinya, Arumi terus murung terutama ibuku sebabkan Arumi terluka."


Archilles Lucca mengekor Ethan Sanchez, Nona Arumi sedang awasi mereka.


"Kapan kamu kembali?" tanya Ethan Sanchez amati Archilles seksama.


"Besok. Aku tak bisa tinggalkan kelasku."


Archilles tersenyum kecut, perbaiki posisi duduk.


"Aku mengajar sekelompok berandalan. Mereka sangat sulit diatur."


"Dunia baru yang menakjubkan. Aku yakin, kamu cukup berpengalaman untuk kasus-kasus seperti ini. Apakah aku harus memanggilmu, Profesor, sejak sekarang? Aku sangat menghormati seorang guru."


"Tidak, sangat aneh kedengaran."


"Baiklah. Di mana kamu menginap?"


"Belum tahu."


"Di lantai atas ada dua kasur. Kalau-kalau kamu mungkin ingin menginap. Tetapi, aku yakin kamu punya banyak tempat menginap. Orang-orang di dalam restoran sana adalah keluargamu."


Kini, hampir semua kepala yang tertinggal di dalam restoran sebelah menengok pada mereka karena tingkah Nona Arumi menarik perhatian. Lucky Luciano lambaikan tangan menyapa Archilles begitu pula Anna Marylin.


"Kafe ini yang terdekat dengan Arumi. Kamu lebih gampang ke sana besok pagi."


Archilles Lucca tak bisa sembunyikan kekagumannya pada Ethan Sanchez. Jika saja Nyonya Sanchez berubah melembut, Ethan sangat sempurna untuk Nona Arumi seperti keinginan Nyonya Salsa. Jika saja, Nona Arumi belum berhenti mencintai Ethan Sanchez, ia akan relakan gadis itu bersama Ethan Sanchez.


"Jangan salah sangka padaku!" kata Ethan Sanchez letakan cangkir kosong. "Arumi lebih bersedih atas kepergian-mu dibanding kami putus. Dia mengatakan padaku dunianya runtuh tanpamu. Sebulan ini, ia terlihat gundah gulana tak berbentuk. Aku tawarkan bantuan karena aku yakin gadis itu akan sangat bahagia bersamamu sepanjang hari besok."


"Aku tak ingin merepotkanmu."


"Tidak masalah, Archilles. Aku tak keberatan. Kita bisa bertukar pikiran dan mengobrol banyak hal."


"Seorang muridku sangat mirip denganmu. Aku bahkan mengingatmu sejak pertama kali aku mengenalnya."


"Oh ya?! Aku pikir aku cukup langka."


Archilles tersenyum. "Karakter, attitude juga prestasinya. Namanya Beltran Domingo. Dia miliki pacar di tingkat dua."


"Apakah pacarnya peringkat terakhir dan ingatkanmu pada Arumi Chavez?"


"Tidak. Pacarnya peringkat pertama di tingkat kedua."


"Pasti sangat serasi."


"Ya. Beltran pemimpin dan Beatriz adalah wakil Beltran."


"Sangat ideal," balas Ethan Sanchez. "Aku tidak akan pacaran untuk waktu yang lama. Aku perlu pastikan kedua adikku bisa hidup mandiri."


"Semoga cita-citamu terkabul."


Seorang staf masuk ke kafe dan bawakan pesan bagi Archilles bahwa para tamu menunggunya menyapa.


"Aku akan menerima pesan dari Leona jika kamu ingin menginap." Ethan Sanchez kembali dengan tawaran tulusnya.


"Baiklah, Ethan. Sampai jumpa."


Setelah tiga puluh menit bernostalgia, pada akhirnya Archilles Lucca di belakang kemudi sedang Nona Arumi duduk di samping. Nyonya Salsa dan Sunny telah kembali dan tahu Archilles bersama Arumi.


"Ibuku mungkin akan menyakitimu," kata Arumi Chavez pecahkan keheningan.


"Aku akan baik-baik saja, Nona."


"Oh, Archilles. Ditolak ibu dari pacarmu rasanya sungguh tidak enak. Mereka akan umpankan sesuatu dan setelah kita menggigit, kamu akan langsung keracunan hingga hatimu seakan disiram bubuk kematian."


Alih-alih ketakutan Archilles Lucca malah tertawa lepas. Ia tertawa setelah sebulan lebih hanya meringis seakan terjebak di padang gurun tanpa minum.


"Apa menurutmu aku sedang melucu?" gerutu Arumi Chavez heran.


"Aku sangat menyukaimu, Nona. Terlebih dark jokes macam barusan. Jangan cemas. Okay?"


"Ya, kamu benar. Lagipula, aku akan lindungimu dari Ibuku."


"Jangan menaruh pikiran negatif pada Nyonya Salsa."


"Kecuali kamu memang tak pernah mengenalnya. Belakangan ibuku sangat otoriter dan protektif."


"Anda hanya perlu menghargai Nyonya Slasa demi kebaikan Anda."


"Kami hindari konflik."


"Ya, sangat bagus untuk Anda berdua. Kita sampai, Nona."


"Cepat sekali? Apakah mobil kita terbang?" Nona Arumi berkata lesu.


"Sia-sia saja aku datang kemari hanya untuk dapati wajah Anda murung. Mari ke dalam."


Mengawal Arumi ke dalam mansion. Hellton Pascalito, Anna Marylin, Salsa dan Sunny berada di ruang tamu. Di sudut lain, Tuan Alfredo dan Leona berdiri tegak.


"Kupikir kita bertiga bisa mengobrol setelah kakakku bicara padamu, Archilles." Hellton Pascalito bicara ketika mereka bertemu. "Ayo Anna, kita akan menunggunya di ruang baca."


Anna Marylin mengangguk, tersenyum pada Archilles.


"Sampai nanti, Archilles."


"Ya, Anna."


Archilles yakin, Hedgar tidak punya peluang bahkan celah sempit untuk meraih Anna. Tuan Hellton bangun dan skuadnya menjadi terlalu canggih untuk dilawan Hedgar kecuali pria itu memang bosan hidup. Namun, Hedgar juga petarung, di suatu tempat, Archilles hanya harus yakin Hedgar tidak tinggal diam.


Sisakan Salsa, Sunny, Arumi juga dua asisten. Archilles Lucca perlahan mengatur detak jantungnya sendiri. Arumi Chavez dibentengi Salsa Diomanta hingga kadang dengan sendirinya setiap berhadapan dengan Salsa, ia seakan dihadapkan pada perbedaan kasta mereka. Ia akan mencoba.


"Apa kabar Anda, Nyonya?"


"Archilles, aku tak menyangka kamu berkunjung secepat ini."


"Aku cemaskan Nona Arumi."


"Dia baik-baik saja, Archilles Lucca. Selama Ethan Sanchez di sisinya, Arumi akan baik-baik saja."


"Ya," angguk Archilles Lucca tersenyum.


"Jadi, kapan kamu pergi?"


"Besok sore, Nyonya. Aku menyapa Anda sekaligus minta ijin untuk membawa Nona Arumi bepergian besok pagi."


Salsa Diomanta menatap Archilles Lucca tajam.


"Bepergian?"


"Ya, Nyonya. Kami hanya berkeliling kota."


"Aku melihat kota tiap hari, Archilles," protes Arumi seakan Nyonya Sanchez telah ijinkan mereka.


"Aku yakin Anda belum pernah melihat episode-episode terpenting yang dituangkan para pejuang negara kita di masa kependudukan. Ada banyak memori dalam bentuk monumen dan patung perunggu. Anda bisa sekalian belajar Sejarah Dunia."


"Bagus untuk Arumi."


Sunny yang sedari tadi diam keluarkan kata-kata dukungan.


"Aku akan antarkan Nona kembali dua jam sebelum aku check in."


"Di mana kamu menginap malam ini?" tanya Nyonya Salsa belum berikan keputusan.


"Maaf menyela, Nyonya," kata Leona tiba-tiba. "Ethan Sanchez bertanya apakah kamu akan kembali dan menginap dengannya di kafe, Archilles?"


Salsa Diomanta menoleh Leona, menyipit. Tak bisa sembunyikan keheranan. Apakah Ethan dan Archilles dekat?


"Archilles akan menginap di sini!" jawab Salsa cepat hingga timbulkan banyak tanda tanya bagi banyak pihak.


"Nah, kan apa juga kubilang. Kamu bisa kembali ke kamarmu! Pergilah sebelum Ibuku berubah pikiran," sambung Arumi Chavez berusaha bicara seadanya tetapi semua orang tahu gadis itu sangat bersemangat. "Kamu mungkin lupa jalannya, Archilles. Aku bisa tunjukan padamu. Mari aku antar!"


Leona hampir saja terkekeh jika Tuan Alfredo tidak lekas menyikut lengannya. Salsa Diomanta hempaskan napas berat.


"Archilles bukan pengawalmu atau salah satu yang bekerja padamu, Arumi. Archilles akan tidur di ruang tamu."


"Aku akan menginap di salah satu penginapan terdekat, Nyonya."


"Tidak! Menginaplah di sini." Salsa Diomanta bersih keras.


"Terima kasih, Nyonya. Aku akan mengingat kemuliaan hati Anda."


Semuanya tampak berjalan baik, mungkin karena Tuan Hellton dan Anna Marylin di sini. Lebih dari itu Archilles Lucca tahu Nyonya Salsa inginkan sesuatu darinya. "Leona, minta Ayshe siapkan ruang tidur untuk Archilles."


"Baik, Nyonya."


"Arumi ..., kembali ke kamarmu."


"Baiklah, Mom. Sampai jumpa besok pagi Archilles!" Lambai Arumi Chavez. "Aku akan mainkan piano untuk bangunkanmu besok pagi. Bye bye Aunty Sunny, bye Leona. Selamat malam, Tuan Alfredo."


Arumi Chavez menaiki tangga. Salsa mengekor pada puterinya yang seakan tapaki tangga sambil menari.


"Aku juga harus beristirahat. Hari ini sungguh melelahkan. Selamat malam, Archilles Lucca." Sunny pamitan.


"Selamat malam, Nona Sunny."


Ayshe dan Leona menuju ruang tidur yang dikhususkan untuk tamu yang berkunjung sisakan Salsa, Archilles dan Alfredo yang masih tetap mematung di sudut ruangan.


"Terima kasih ijinkan aku menginap malam ini."


"Kamu tak akan menyakiti Ethan Sanchez dengan hubungan percintaanmu dan Arumi."


Archilles Lucca terdiam sesaat. Nyonya Salsa pedulikan Ethan Sanchez.


"Aku sedang mencari cara agar di masa depan Ethan Sanchez dan puteriku bersama. Aku belum menyerah." Berkata lagi penuh tekad.


Archilles Lucca tak punya hak mencegah keinginan seorang Ibu yang mencintai puterinya. Tak bisa gambarkan bagaimana bentuk hatinya. Tetapi, Archilles ingin Nyonya Salsa pahami bahwa ia bukan musuh, ia hanya seseorang yang mencintai seorang gadis bernama Arumi Chavez.


"Jika Nona Arumi kembali mencintai Ethan Sanchez, aku hanya akan menerimanya."


"Begitukah? Kamu katakan ini karena kamu yakin Arumi jatuh padamu?"


"Sama seperti Anda, aku hanya ingin yang terbaik bagi Nona Arumi."


"Aku tak melihatmu sebagai pribadi terbaik itu, Archilles. Ethan Sanchez-lah yang mengubah perilaku negatif Arumi. Sejak awal sikap Ethan berhasil meredam jiwa pembangkang Arumi. Gadis kita ini masih anak-anak. Ia mungkin akan berubah suatu waktu."


"Maka, biarkan saja terjadi, Nyonya."


"Percayalah padaku, perasaan kuat Arumi padamu hanya terbawa suasana. Mungkin hanya semusim. Aku pernah sepertinya. Kamu terlalu cerdas untuk diberi pengertian bahwa yang mengikatmu adalah gadis di bawah umur. Dia tak mengerti apapun. Hanya sesuatu yang menggebu-gebu dan naif. Aku mencegah hal buruk yang akan menimpamu dan puteriku di masa depan."


"Aku percaya pada Anda. Hanya ..., biarkan kami bersama besok. Aku tak akan menyentuhnya. Anda bisa memenggal kepalaku jika aku melanggar, Nyonya."


"Hanya sekali ini, Archilles."


"Terima kasih, Nyonya."


"Aku tak berharap kamu muncul lagi di kemudian hari dan mengacaukan Arumi seperti hari ini."


***


Mengerti mengapa Anna belum bersama Hedgar ya. Ditambah ngambek-an Si Anna ini. Mungkin setelah chapter ini ada kisah mereka.