
"Anna ...."
Namanya dipanggil pelan dan halus. Anna Marylin menggeliat sedikit. Matanya seakan direkatkan oleh sesuatu. Walau segera awas setelah kesadaran perlahan penuh, Anna tak kuasa menolak rasa kantuk.
Angin bertiup kencang sebabkan sekelompok Pinus ciptakan nyanyian alam. Dari bau rumput segar habis dipangkas juga sesuatu yang lebih khas dari itu beritahu Anna bahwa ia berada di rumah tua Hedgar, tempat di mana ia dicekik suaminya beberapa Minggu lalu.
"Brengsek!"
Paksakan mata terbuka lebar, Anna tak temukan lagi kamar lama mereka di mana insiden yang hampir merenggut napas berlangsung. Ruang tidurnya lebih kalem dan anggun dari sebelumnya terlebih ada begitu banyak permainan warna putih. Bukan gaya Hedgar sama sekali kecuali sedikit sentuhan hitam di dinding.
Anna mengkritik foto pernikahan mereka yang bergelantungan mirip pigura dari setting film horor tempo dulu, just black and too much little white. Mungkin hanya benar-benar wajah dan pundaknya yang agak terang.
Tampaknya rumah ini berbeda.
"Anna ..., selamat pagi."
Wandah menyapa sekali lagi. Sangat cepat dan telaten gunakan wash-lap dengan handuk hangat bersihkan wajah juga lehernya. Kemudian meraih lipatan handuk lain untuk keringkan Anna.
"Aku bisa sendiri, Wandah!"
"Kamu masih lemas. Biarkan aku membantumu."
Pakaiannya telah berganti. Gaun tidur tipis lembut.
"Apa kamu juga mengganti pakaianku?"
Wandah menggeleng. "Tidak, Anna. Aku sudah tidur ketika kamu dan Hedgar tiba."
Pertanda bahwa Hedgar telah lalui malam bersamanya tanpa membuatnya sadar. Anna yakin sebab tubuhnya sedikit rasakan sensasi aneh. Tanpa perintah akal sehat, kulitnya mengingat beberapa sentuhan. Terutama, penjelasan logis mengenai unsur gerah di bawah sana, agak lengket dan buat tidak nyaman.
Brengsek!
Pria itu pasti berpikir sah-sah saja bercinta dengannya, mereka sepasang suami istri.
Brengsek! Abnormal. Bagaimana bisa membiusnya dengan obat tidur lalu lakukan pekerjaan tak senonoh. Dasar psikopat term3sum di galaksi ini!
"Di mana, Breng ...."
Anna mendesis lalu menggeram hingga tanpa sadar potongan kalimat terdengar mirip desis lidah ular yang akan muncratkan bisa beracun bercampur auman serigala marah hingga Wandah mundur menjauh.
Anna segera sadari sikapnya.
"Di mana Hedgar?" Berubah lebih pelan. Lalu, teringat lagi pada kelakuan Hedgar, Anna berubah lebih kesal dari sebelumnya. "Apa dia meniduriku saat aku pingsan? Pria gila itu ..., di mana dia?" Anna meradang.
"Dia ada urusan."
"Kapan dia kembali?"
"Anna, aku tidak tahu. Em, bukankah suami istri memang wajib bersama? Cobalah lihat matanya dan temukan kebijakan dari sikapnya!"
Anna ingin menggaruk wajah Wandah.
"Wandah, apakah ..., kamu dan dia sama tidak waras?"
"Anna ...."
"Tanpa ijinku, meskipun kami menikah, aku perlu tahu."
Wandah jelas kebingungan.
"Aku bisa menuntutnya atas kasus p3m3rk0s4an."
"Apakah ada aturan negara ini macam begitu?" tanya Wandah menatap Anna seolah wanita di depannya sudah gila.
"Hak Asasi Manusia."
"Baiklah, coba bicarakan masalah internal ini padanya. Aku takut lebarkan pikiranmu dan Hedgar mungkin berasumsi aku menghasutmu."
"Bilang padanya untuk cepat kembali!"
"Aku akan bersamamu di sini. Kamu bisa lakukan apa saja yang kamu inginkan termasuk berenang di telaga. Buaya telah dipindahkan pergi dari sini. Hedgar juga bersihkan sungai dari bebek."
"Apa kamu ingin buatku tersentuh?"
Wandah hanya menatapnya. Tak lama berselang wanita muda itu bicara.
"Hedgar berjalan di rumah lama kami setiap hari dan ucapkan, 'maafkan aku, Anna. Aku mencekikmu, terkutuklah aku!'. Lalu, ketika ia sampai di puncak emosi, ia merobohkan rumah ..., satu-satunya tempat ia besarkan kami. Hunian yang sangat berarti bahkan tak ada satu makhluk hidup pun boleh menggores kayunya. Hedgar hancurkan karena kesal pada dirinya. Ia hancurkan kenangannya juga."
"Cerita yang bagus, Wandah! Terima kasih! Karanganmu sangat sempurna dan lihat hatiku, dinaungi awan haru biru. Terima kasih banyak!" sinis Anna Marylin pada suaminya.
"Tak berharap kamu percaya padaku, tetapi percayalah Hedgar milikimu sebagai istrinya. Tak pernah terjadi sebelumnya."
"Berapa wanitanya sebelum aku?" Anna tak percaya pada Wandah apalagi pada Klan Sangdeto lainnya.
"Aku tak tahu. Hanya kamu yang pernah dibawa kemari."
"Sia-sia aku bertanya pada fans fanatik suamiku," keluh Anna geli sendiri ketika ucapkan 'suamiku'.
"Anggota kami akan bertambah satu. Berkatmu, Tatiana akan segera kemari tanpa dicari."
"Tak ada bayi!"
"Anna ..., bagaimana bisa kamu menentang takdir wanita?" Wandah menatapnya lembut sama seperti pertama kali Hedgar perkenalkan mereka. "Jika kamu takut repot, aku akan jadi pengasuhnya. Aku berharap kamu dapatkan gadis kecil yang cantik. Em, sangat menyenangkan."
Pernyataan Wandah jelas saja semakin perkuat keinginan Anna untuk tidak miliki bayi.
"Jadi, ini alasan kamu tak lagi culas padaku?"
Wandah lagi-lagi hanya tersenyum, sekali ini penuh perhatian ketika bicara.
"Sarapanmu akan aku siapkan. Ayo bangun dan makanlah!"
"Tidak, Wandah! Aku bertambah pusing sekarang dan ingin menelan daging tubuhku sendiri. Tinggalkan aku tanpa makanan selama sebulan dan biarkan aku mati membusuk. Please."
Anna Marylin jatuhkan tubuh di atas ranjang, pejamkan mata. Hamil? Mood-nya lekas buruk dan ilmu kedokterannya tak berfungsi.
Apa ini? Ia berharap bisa menikahi seorang pengusaha kaya raya dan bermartabat yang akan selamatkan dirinya dari kenistaan masa lalu keluarganya. Menjaga dirinya dengan baik dari kaum sesat.
Nyatanya ia di sini dengan seorang pelaku kriminal yang ditargetkan pemerintah. Lebih parah lagi Hedgar terindikasi mengidap penyimpangan. Hedgar mungkin sakit jiwa. Mungkin menderita somnophilia atau lebih parah dari itu. Anna menggeleng tanpa sadar, memilih diagnosis lain. Terlelap dalam kekalutan.
Entah berapa lama, hingga suara pria itu bangunkannya.
"Anna ..., hei baby, bagaimana bisa kamu masih tidur jam segini dan lewatkan sarapanmu?"
Anna Marylin merengus dalam hati. Suaminya di sisi pembaringan mengelus dagu dan rahangnya. Pindah ke bibir. Kini ia bisa rasakan tubuh Hedgar sedang membungkuk di atasnya merayu bibirnya. Mendesak seakan ingin katakan; "buka dirimu untukku. Bawa aku padamu. Semua yang aku inginkan hanya dirimu."
Sial!
Anna Marylin menarik diri. Dengan tegas ciptakan jarak. Hingga Hedgar hanya melayang di atas lehernya.
"Apa kamu pernah berkunjung ke psikiater?"
Hedgar terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba yang ditujukan padanya. Terdiam beberapa detik, memindai mata Anna intens lalu seluruh wajah Anna. Meraih tangan Anna dan mengecup punggung tangan sambil diresapi.
"Aku hanya jahat bukan sakit jiwa seperti tuduhanmu. Aku punya data medis lengkap dari ahli kejiwaan."
Napas Hedgar menderu di tangannya. Anna menarik tangan, bangkit dari tidur dan bersandar menjauh ke kepala ranjang.
"Apakah hasratmu mungkin akan selalu bangkit melihat orang tak sadar? Pingsan? Atau tidur?"
Hedgar sukai Anna ketika memulai observasi padanya.
"Anna, aku pria lurus hanya tertarik pada wanita sejati." Hedgar fokus di kata 'orang'.
"Baiklah," angguk Anna Marylin. "Jawab yang lainnya!"
"Kaumku sangat normal suka tergoda pada wanita sedang tidur! Dan kaummu memang terlahir sempurna dengan posisi tidur, mabuk, pingsan yang membuat kami lekas memuat adegan panas selanjutnya termasuk berfantasi soal gaya. Sembilan puluh persen otak pria senang pada s ...."
"Bagaimana denganmu?" potong Anna cepat.
"Aku salah satu dari mereka. Apa itu masalah?"
"Kamu mungkin mengidap s0mn0philia."
"Apa itu Anna? Kedengaran s0mn0philia adalah teman sekelas ph3d0philia?" tanya Hedgar serius.
Tadinya Anna seperti hendak mencekiknya mungkin karena semalam. Aroma Anna bangkitkan sisi maskulin yang buatnya mabuk kepayang dan ia bercinta dengan Anna. Kini ..., berkat philia yang entah apa, Anna seperti dokter ahli kejiwaan menilainya mungkin berpenyakit.
"Ya, mereka masuk dalam kumpulan penyimpangan s3ksu4l."
Tawa Hedgar pecah berkeping-keping. Blacky bahkan kaget sebab cakarnya lekas mencengkeram holder lebih kuat dari sebelumnya.
"Aku berpikir kini ...," masih tertawa meski sedikit lebih pelan, "kalau dokter kejiwaan mungkin lebih gila dari pasien sakit jiwa karena terlalu banyak teori."
Lanjutkan tawa terpingkal-nya.
"Aku bertanya serius Hedgar?" bentak Anna hingga tawa Hedgar sisa senyuman geli. Bibir Hedgar sedikit runcing.
"Aku perlu tahu!" tambah Anna serius.
"Pria bodoh mana yang akan biarkan istrimu yang berambut pirang, cantik, terbaring menggoda di atas ranjang putih kami setelah sebulan lebih menendangku ke ujung atmosfer? Suasananya cenderung emosional karena dia sedang mengandung bayiku. Mengapa, ingin bercinta dengan istrimu yang lelap dianggap perilaku penyimpangan? Sedang, kamu dan ranjang adalah 'undangan' bagiku? Terlebih aku tak ingin mulai pertengkaran."
"Kamu sakit jiwa!"
"Berarti semua pria di bumi ini sakit jiwa, Anna. Kamu cocok sebagai dokter para mafia Anna bukan sebagai dokter jiwa. Tetapi ..., jika cita-citamu ke sana ..., bagaimana kalau survei-mu dimulai dari teman-temanmu, Anna? Mereka lebih buas pada kekasih mereka dibanding aku? Kupikir merekalah psikopatnya." Hedgar separuh mengejek. "Kamu bisa mengutip gunakan pertanyaan, apakah wanita sangat menggoda saat tidur? Jika jawaban ya, berarti para pria akan memulai akademi angkatan pertama di kelas sakit jiwa."
"Berhenti membual, Hedgar."
"Apa aku salah?" tanya Hedgar ulurkan tangan ditepis Anna. Hedgar menyukai warna rambut pirang dan mata indah Anna Marylin.
"Aku bersama Hellton saat kamu inginkan Irish Bella untuk kesenanganmu! Kita tak tahu apa yang akan kamu lakukan pada wanita itu? Menikahinya?" balas Anna mengolok hingga Hedgar mati langkah sebab Anna benar.
"Baiklah. Mari berhenti berdebat. Aku akan beritahu kamu, rahasia kami. Otak para pria tak sungkan memulai mengarah ke sana saat berjumpa gelagat *3**1 terlebih pada sesuatu yang sangat mereka cintai. Aku mendadak ingin bercinta dengan istri yang sedang tidur dan sangat sulit mendisiplinkan diri. Sebelum pikiranmu pergi kemana-mana, kita sudah menikah dan kamu kelebihan mabuk tidur. Tidak menolak dipeluk dan membalas ciuman."
"Aku harus pergi bekerja," kata Anna singkirkan selimut, ingin secepatnya kabur.
Hedgar tak menyerah memindai seluruh wajah Anna. Menahan kedua kaki Anna dengan tubuh besarnya.
"Tidak!"
"Hedgar? Aku menikahimu dengan perjanjian bahwa kamu tak akan menyentuh teman-temanku."
"Bagaimana kalau kamu terus memeriksa kondisi kejiwaanku? Kurasa kamu ada benarnya! Apakah kamu akan arahkan aku untuk terapi?"
"Tetapi, apa yang terjadi?" lanjut Anna Marylin merah padam abaikan Hedgar. "Kamu menyerang bunker Hellton sementara dia sekarat dan sebabkan temanku yang lain luka-luka. Kamu melanggar janjimu jadi aku batalkan pernikahan kita."
Apa kodrat wanita memang selalu ingin mengungkit kesalahan pria di masa lalu? Rumit juga mereka.
"Amarahku tidak mudah pergi. Aku memang inginkan kematian iblis itu!"
"Temanku punya nama! Berhenti menyebutnya iblis!"
"Baiklah. Aku salah karena tidak tepati janji padamu. Aku menyesal, sungguh-sungguh menyesal."
"Aku harus pergi!"
"Apa yang kamu inginkan, Anna? Aku berdamai dengan teman-temanmu? Baiklah! Akan kulakukan! Itu mudah saja. Mari undang mereka dan beritahu bahwa mereka akan punya ponakan. Aku yakin mereka akan bersorak untukmu!" Hedgar menyeringai senang. "Mari berkumpul di suatu tempat dan berpesta. Kita akan mengundang Elgio Durante juga."
Anna Marylin berpaling dan menatap tajam Hedgar yang bersemangat. Parut di wajah pria itu berkurang jauh. Tak butuh keahlian untuk menilai bahwa Hedgar mengobati bekas-bekas luka di wajahnya. Mungkin sedikit pembedahan.
"Apakah kamu inginkan nyawa teman - temanku?" Anna temukan setitik nila di kepala Hedgar menghapus senyuman pria itu.
"Aku tak akan berani. Kamu pasti akan tinggalkan aku!"
"Mari bercerai!"
"Tak akan ada perceraian. Yang sudah dipersatukan Tuhan tak bisa dipisahkan manusia."
Hedgar terdengar mirip pengkhotbah di rumah ibadah. Bagaimana bisa Anna percaya? Sedang pria ini miliki segudang kejahatan yang berdinding beton. Hanya lihat kepala dokumen saja Anna pening.
Hedgar terlibat perdagangan manusia, pemasok obat terlarang, pencucian uang, bermain di pasar gelap, perjudian bahkan pr0st1tus1, mungkin daftar di atas masih bisa dihindari. Tetapi perdagangan manusia, bukankah tidak masuk akal?
Anna perlu mencari tahu. Ia sangat inginkan kehidupan normal dan bekerja sebagai dokter sungguhan bukan menyamar di klinik sebagai dokter para mafia.
"Aku harus pergi!" Anna bangkit dari ranjang. Di jendela Blacky menatap tanpa kedip.
"Kamu harus terbiasa dengannya, Anna!" kata Hedgar menarik Anna padanya hingga Anna terjerembab. Lingkari pinggang Anna erat-erat.
Wandah mendorong meja berisi penuh makanan. Perut Anna berbunyi nyaring sisakan senyuman samar di wajah Hedgar. Bernapas di bahu Anna, menahan tubuh itu agar tak kemana-mana. Anna menyipit melihat isi meja.
"Lihat apa yang dimasak Wandah?"
Soup kerang, udang di atas wajan alumunium bertaburan cincangan paprika merah, kerang goreng, costeleta de Novilho yang dipanggang sempurna mengisi plates putih bersama atau cup kecil saos, filet de Robalo dengan potongan buncis, potongan buah dan dua menu penutup.
Sayangnya Anna menggeleng, ia kehilangan nafsu makan. Itu karena ia mencium satu aroma aneh yang tidak bisa ia deskripsikan dari semua hidangan. Bahkan harusnya ia bisa mencium aroma laut dari kerang dan ketumbar segar tetapi sekali lagi ia hanya menemui hidungnya seakan telah kehilangan fungsinya.
"Tidak mau makan?" tanya Wandah prihatin. "Oh, segalanya telah dimulai."
"Aku tak menaruh apapun di sini. Demi kebaikanmu, please, makan sedikit," bujuk Hedgar. "Betapa wangi ketumbar tercium di kerang ini."
Anna Marylin berdecak. Hedgar berubah seperti pria baik-baik. Ya, bayi memang bisa mengubah seorang pria, tetapi Anna putuskan tidak lekas percaya.
"Terima kasih untuk makanan yang luar biasa ini, Wandah. Aku sungguh tak ingin makan."
"Wandah tinggalkan kami," pinta Hedgar.
"Bagaimana dengan buah? Aku bahkan bisa mendengar perutmu minta tolong." Hedgar mengambil cup berisi buah, menusuk potongan kiwi.
"Mau coba?" tanya Hedgar mainkan buah di depan wajah Anna seakan Anna balita yang harus disuap. Ia pernah lihat sisi lain pria seperti yang dilakukan Hedgar.
Hellton Pascalito berubah semacam Kungkang terbodoh hadapi Irishak yang sedang hamil.
"Aku ingin ke klinik dan bekerja."
"Tak ada yang boleh pergi," sahut Hedgar. "Entah itu kamu atau bayi-ku."
"Aku tak suka di sini. Lagipula, kamu telah dapatkan apa yang kamu inginkan?" rutuk Anna Marylin jengkel.
"Dosisnya berkurang." Hedgar terperanjat.
"Ckckck! Dengan berapa banyak wanita kamu tidur? Jika inginkan bayimu, kamu bisa minta pada mereka! Aku yakin kamu punya banyak dari hubungan tak normal sebelum menikahiku."
"Beritahu aku maumu kecuali perpisahan."
"Aku hanya ingin pergi ke klinik."
"Baiklah. Setelah kamu makan semua ini, aku akan antarkanmu!"
"Mengapa aku merasa kamu penuh kebohongan?"
Anna akhirnya mulai makan. Mengunyah di bawah tatapan Hedgar. Sebuah panggilan masuk. Wajah Hedgar berubah serius.
Tiga puluh menit kemudian Hedgar menghilang dari ruang tidur. Anna bersihkan diri. Bertukar pakaian dengan yang telah disiapkan Wandah. Pelan-pelan keluar dari ruang tidur, jelajahi rumah. Wandah tak ada di dapur. Menuju pinggir lahan dengan keranjang sayur bersama seorang pria muda.
Berkeliling. Sementara Hedgar di sebuah ruangan menerima panggilan. Bercakap dalam bahasa Rusia dan sepertinya tersambung dengan seseorang yang memberinya peringatan.
"Aku akan hadir dengan istriku." Hedgar mengkonfirmasi sesuatu.
"Aku punya berita lain untukmu, Hedgar"
"Ya?"
"Seseorang telah dikirim padamu."
"Begitukah? Menarik!"
"Dipaatikan ini akurat tetapi gerakannya sangat hati-hati. Kamu akan mengenalinya cepat atau lambat jika instingmu bagus!"
"Terima kasih bantuanmu, Sir. Kita bahas nanti!" sahut Hedgar.
"Biarkan saja dia di sisimu. Kamu bisa manfaatkan dia sebelum melenyapkannya."
"Apakah seorang wanita?"
Hedgar berbalik merasa diperhatikan. Anna Marylin di luar sana, sedang menatapnya.
"Ya dan bisa siapa saja untuk menyesatkan matamu. Jika kamu jatuh padanya maka gelap-lah seumur hidupmu."
"Sampai nanti!" Ponsel dimatikan.
Hedgar datangi Anna seakan menguji insting seberapa kuat ia bisa menghirup Anna Marylin. Mengendus sesuatu. Tampaknya masuk akal Anna tiba-tiba dilepas begitu saja.
Tidak!
Tanpa dasar!
Sedang Anna mematung di suatu tempat. Meskipun Hedgar tertawa dan tersenyum padanya, pria ini sulit ditebak. Anna tanpa sadar berhenti bernapas.
"Hidupmu sepertinya rumit, Hedgar."
"Ya, beberapa hal tak berjalan bagus."
"Jangan libatkan aku! Kembalikan aku ke klinik!" ujar Anna Marylin akhirnya tanpa berkedip.
Hedgar sampai padanya. Menunduk sampai mata mereka bertemu. Menyelidiki Anna dan Anna meskipun gelisah pada perubahan sikap Hedgar berjuang untuk tenang.
"Apakah Hellton membaik?" tanya Hedgar pelan.
Satu pertanyaan untuk dapatkan banyak berita balasan.
"Ya. Dia putuskan akan bersama Irishak sejak hari ini dan lupakan perseteruanmu karena bayinya lebih penting darimu. Begitupula Axel Anthony. Teman-temanku sedang fokus pada masa depan keturunan mereka."
"Aku percaya padamu!"
"Aku tak peduli kau percaya padaku atau tidak, Hedgar! Lepaskan aku. Mari berpisah."
"Apa aku membuatmu takut, Anna?"
"Aku tak takut pada siapapun!" Anna mendengus kasar. "Tidak padamu juga."
Hedgar memeluk Anna Marylin.
"Anna ..., apa yang harus kulakukan agar kamu jatuh cinta padaku dan mau tinggal di sisiku?"
***
Maaf ya ini dulu...