
Semacam teka-teki yang tak bisa ia pecahkan, Arumi Chavez kembali pulang dijemput Tuan Alfredo Alvarez yang prihatin pada keadaannya tetapi tak mampu berbuat banyak. Archilles Lucca menutup komunikasi dengan semua orang terdekatnya dulu, termasuk Tuan Alfredo.
Apa yang bisa otak bodohnya pikirkan?
Pada akhirnya, Archilles Lucca hanya menganggapnya gadis lima belas tahun. Dan tak bisa diandalkan. Ia tak menampik bahwa ia tak dapat lakukan apapun.
Tidak!
Jangan rusak cintamu padanya.
Pria itu terlalu mulia untuk curang. Archilles Lucca adalah pria penyayang dan sangat mencintainya.
Namun ....
Pemandangan pagi saat Archilles pergi tanpa berikan kesempatan ia buktikan pada Archilles bahwa ia akan mencoba segala cara untuk tetap tinggal apapun yang terjadi, telah timbulkan luka hati dan kesakitan tak bisa ia utarakan.
Kekecewaan tak berujung semacam jenis kekejaman lain. Arumi Chavez hanya tak berdaya. Ia akan pasrah sementara waktu. Ia tak peduli berapa lama, ia akan menunggu.
Pahitnya terus ditelan. Terlebih ia harus berjumpa serentetan peristiwa tampaknya tak akan berakhir mudah.
Masuk ke ruang tidur Salsa ketika ia datang karena Ayshe melapor Ibunya sakit. Aunty Sunny gantikan Ibu di kantor dan Aunty Marion Davis pasti sibuk di restoran.
Tak ada Ibunya di ranjang. Dari bathroom luapan dari mulut terdengar seperti siksaan yang mengerikan.
Ibunya muncul tak lama berselang. Terkejut melihatnya dan sedikit limbung. Arumi Chavez lekas berdiri dan memapah Salsa ke ranjang. Abaikan luka-luka fisik di kaki akibat goresan kerikil. Selimuti tubuh Salsa yang agak panas.
"Kamu kembali?" tanya Salsa dari balik selimut bersuara sengau tak lama kemudian. "Apa dia baik-baik saja?"
Arumi Chavez menahan luapan air mata. Ia duduk di bibir tempat tidur. Lututnya sedikit gemetar.
"Dia pergi!" jawabnya nyaris tanpa suara.
"Maafkan aku."
Arumi terpaku untuk beberapa lama. Ibunya batuk dan menggigil. Arumi Chavez segera memeriksa keadaan Salsa gunakan mata sembab dan punggung tangan. Dia tidak pandai, bukan perawat. Namun, kondisi Ibunya tidak bagus.
"Apakah ..., Ayahku juga pergi?" tanyanya menahan tangis.
"Uhhum. Sekali ini ..., tak akan pernah kembali. Maafkan aku. Ini semua salahku."
Pengakuan Salsa menurut Arumi tidak ada artinya sama sekali karena segala hal berlangsung menyedihkan bagi mereka, diujungnya ia menangis dalam diam. Air mata mengalir turun, jatuh di atas celana jeans dan meresap di sana. Kepala lebih lega dengan air mata. Bertahan hanya ciptakan nyeri. Kedua orang tuanya bahkan tak tanyakan kabarnya selama ia di Càrvado. Juga tak berikan berita tentang keputusan perceraian ini. Semua orang perlakukan ia seakan ia anak kecil yang tidak penting pendapatnya. Mereka egois.
"Anda mengacaukan semua orang. Aku tak mengerti apapun tentangmu Ibu. Dan mengapa aku masih bersamamu?"
"Kamu juga bisa pergi dariku jika kamu mau. Hanya saja, di luar terlalu berbahaya untukmu."
Mengusap air mata dengan ujung sweater. Andai, Salsa sadar lebih awal dan biarkan ia bersama Archilles. Terlebih, tak perlu sebabkan kedukaan dari kecelakaan yang hampir merengut nyawa Archilles.
"Apakah aku perlu menelpon Anna untuk memeriksamu, Ibu?"
"Em, tidak perlu. Aku sudah telan obat. Hanya butuh berbaring."
"Biarkan aku tahu, apa yang ingin Ibu makan agar merasa baikan? Aku akan minta Ayshe siapkan."
"Tidak, Arumi. Aku baik-baik saja."
"Istirahatlah, Ibu."
"Arumi ...."
"Ya?"
"Aku sungguh-sungguh menyesal untukmu."
"Jangan pikirkan apapun! Semuanya akan baik-baik saja." Ia tidak yakin tetapi menambah kegelisahan Ibunya hanya agar Salsa terpojok bukan hal murah hati. Ia hanya tak bisa marah dan tinggalkan Ibunya seburuk apapun sikap Salsa padanya. Arumi memeriksa selimut.
Akh, Ibu, mengapa Anda seperti ini? Apakah membencimu bisa kurangi sakit yang sedang berkobar-kobar?
Arumi Chavez bangun berdiri pergi ke meja. Napas Salsa mulai teratur.
Lalu, ia mengambil tisu, hapus bekas air mata dari wajah. Saat itulah mata dapati amplop tertanda sebuah hospital tergeletak di sana. Menoleh ke ranjang, Salsa mungkin telah tidur.
Tangannya terulur meraih benda itu dan membuka penutupnya. Temukan foto hasil USG. Hanya bentuk setitik di layar. Nadi berdesir. Ibunya sedang mengandung. Dan ia melihat adiknya di sana seakan berdetak padanya, "hai, kak, ini aku! Tunggu aku!"
Apakah Ayahnya tahu ini? Dan tetap nekat ceraikan Ibunya?
Arumi Chavez keluar dari ruang tidur semakin gundah gulana. Ia tak bisa biarkan ini terjadi. Sebagai anak, ia tak tahu harus mendukung siapa. Tetapi, yang ia tahu, ini salah. Meninggalkan wanita hamil dan akan lahirkan bayi tanpa ayah? Adiknya bahkan lebih buruk darinya dan Aruhi jika sampai terjadi. Ia tak boleh rasakan apa yang Aruhi dan Arumi rasakan.
Ibunya selalu terlambat belajar sesuatu dan mengulangi kekeliruan yang sama. Atau Ibunya berharap sekali ini berhasil, tetapi James Chavez tak cukup tabah menerima sikap penguasaan Salsa yang otoriter?
Arumi Chavez menuju parkiran.
"Nona ..., asisten baru Anda akan segera tiba. Paman Anda mengkonfirmasi."
Tak bertanya siapa asisten barunya.
"Aku butuh Anda, Tuan Alfredo."
"Nona ..., Anda mau kemana? Anda terlihat tidak sehat. Tolong tinggal di rumah. Biarkan aku pergi dan dapatkan keinginan Anda."
Arumi Chavez menunduk. Ia menjadi sedih karena Archilles berpesan agar tidak bepergian jika pria itu tak ada. Ia menggigit bibirnya kuat. Walaupun tak ada untung sama sekali, ia sedang coba alihkan sakit di dalam sana.
Apa yang akan terjadi mulai sekarang? Ini terlalu tiba-tiba. Tidak apa-apa pergi dengan kepastian, pria itu akhiri segalanya di antara mereka.
"Nona?!"
Arumi Chavez terkejut, pegangi tangan asisten Ibunya.
"Tuan Alfredo, antarkan aku temui ayahku. Situasi sangat rumit. Ayahku mungkin marah pada ibuku dan mengambil keputusan salah. Aku perlu beritahu Ayahku sesuatu sangat penting."
Alfredo Alvarez menangkap bahwa Arumi Chavez cemaskan perpisahan kedua orang tuanya. Sangat prihatin pada apa yang menimpa Nona Arumi Chavez.
"Baiklah. Mari kita pergi."
Arumi Chavez dibawa ke rumah ayahnya.
"Apa kita tidak langsung ke kantor saja?"
"Nona, Tuan akan berkantor dari rumah hari ini menurut asistennya."
"Baiklah."
Arumi Chavez menarik napas kuat. Tak ada yang ia ingat tentang rumah ini kecuali ia pernah di sini. Bahkan wajah kakek neneknya hilang entah kemana. Mobil ayahnya ada di halaman rumah.
"Tolong tunggu di sini, Tuan Alfred."
"Apa Anda yakin, Nona? Aku akan temani Anda ke dalam."
"Aku hanya akan bicara sebentar pada ayahku."
Arumi Chavez tapaki undakan tangga menuju rumah besar. Ia menekan bel pintu. Menunggu. Tanpa respon.
"Daddy?!" panggilnya tak sabaran. Apakah rumah ini kehilangan semua asisten?
Pintu terbuka.
"Apakah Ayahku ada?" tanyanya pada asisten rumah tangga yang langsung mengerut kebingungan.
"Daddy?!" panggil Arumi ke arah dalam sedikit berjinjit.
"Nona ..., maafkan aku ..., tetapi siapa Anda?"
"Daddy?!"
"Ada apa ribut-ribut?"
"Nona ..., ada tamu." Terbata-bata.
Arumi Chavez berhenti. Ia mendongak ke atas pada saudari tirinya, Alana Chavez.
"Oh, ya Tuhan. Mimpi apa aku semalam? Banyak kejutan ya di hari ini," sambutnya muak. "Lihat siapa yang datang berikutnya? Apakah ada hubungan dengan wanita yang dibawa ayahku? Ya ya ya, pastinya ya."
"Di mana Ayahku?" tanya Arumi Chavez.
Alana Chavez tersenyum geli. "Ayahmu? Yang mana Ayahmu? Harusnya hukum di negara ini ditegakan. Bagaimana bisa seorang anak p3l4cur berani sekali menyebut ayahku sebagai ayahnya?"
Alana Chavez turun dari atas tangga. Hampiri dirinya. Usia Alana lebih tua empat tahun darinya.
"Aku butuh bicara dengan Ayahku," kata Arumi acuhkan saudari tiri yang jijik padanya. "Daddy? Daddy?"
Plak!!!
Alana Chavez menamparnya keras. Menjambak rambutnya.
"Untuk buatmu sadar bahwa tak ada ayahmu di sini, j4l4n9!"
"Aku tak ingin ribut denganmu, Alana. Aku hanya akan bicara sebentar dengan Ayah dan pergi!"
Alana Chavez gemas padanya.
"Apa pikirmu aku akan lepaskanmu setelah menunggumu dan ibumu untuk hari ini? Aku tak bisa berkoar-koar di media karena aku kasihan padamu, ayahku sangat mengasihimu dan reputasi ayahku akan tercemar. Kau datang kemari dengan tidak tahu dirinya. Ya ampun. Harusnya, wanita murahan perebut suami orang yang juga sebabkan Ibuku mati depresi berlutut di kakiku dan mohon ampunan. Tetapi, p3l4cur s14l4n itu bertingkah seakan tak punya dosa pada kami." Alana Chavez menjerit di atas wajahnya, kuatkan cengkeraman hingga mata mereka bertemu. Umpatan dan makian membuat saudara tirinya terlihat bisa lakukan apa saja padanya. Dan Arumi tak bisa membela diri. Mata Alana penuh kesakitan terpendam. Arumi Chavez bisa rasakan deritanya juga.
"Mumpung kamu di sini, berlutut di kakiku untuk semua duka nestapa dialami bocah berusia 4 tahun. Ia menangisi ayahnya tiap malam dan tak mampu mencegah ibunya meninggal karena kehancuran dibawa oleh perempuan berhati iblis." Menarik napas. Air mata Alana turun dengan cepat. "Sayang, jika tidak, Alana tak akan biarkanmu keluar hidup-hidup dari sini!"
Arumi Chavez tak bisa membalas meskipun ia bisa. Karena saudara tirinya benar dan Salsa bersalah. Alana mencengkeram kuat rambutnya dan buat ia berlutut. Sangat kasar gunakan kepalan meninju belakang kepala hingga mukanya menyentuh kaki Alana. Tangannya di lantai. Arumi Chavez meringkik karena nyeri yang tiba-tiba menyerang.
"Alana, maafkan kami. Aku sungguh-sungguh sangat menyesal untuk segala hal yang telah terjadi padamu."
"Lihat dia! Merangkak kemari mencari ayahku? Betapa dunia ini berisi lalat menjijikan."
Harusnya Salsa tak sia-siakan James Chavez agar Alana tak menertawakan mereka. Satu kaki Alana pergi pada punggung tangannya dan menginjak kuat.
Memori Arumi Chavez mengenang, apa yang pernah ia lakukan pada kakaknya, Aruhi, ketika gadis itu baru datang ke mansion. Karma, tak pernah salah orang. Walaupun datang terlambat.
Alana kembali menariknya bangun. Ujung-ujung saraf di kepalanya kini semakin nyeri. Cengkeraman Alana membuatnya pusing.
Mata bertemu mata. Alana mengamatinya.
"Ini masih belum cukup dan tak akan pernah cukup. Aku meringkuk di sudut kamarku dan berdoa setelah kematian Ibuku. Tuhan tolong dengarkan tangisanku. Tetapi, aku pikir kehidupanmu tak berpengaruh sama sekali. Aku berhenti mengadu dan mulai mengutuki kamu dan wanita sialan yang melahirkan-mu. Kamu, akan rasakan seluruh penderitaanku dan ibuku di sepanjang hidupmu. Sengsara-lah suatu waktu karena orang yang kamu cintai dirampas darimu. Redup dan sesak-lah hatimu seakan matahari tak lagi bersinar untukmu. Ingatlah aku nanti bila hadiahku tiba padamu karena permintaanku telah terkabul."
"Alana, aku sungguh menyesal untukmu," pinta Arumi pelan.
Alana Chavez mendorongnya keras hingga ia terjengkang dan kepalanya membentur besi di dasar tangga.
"Jangan sampai aku melihatmu lagi di rumah ini!"
"ALANA?!" hardik James Chavez keras.
"Ah, yang baru datang itu Ayahku yang direbut j4l4n9 sialan dan yang kamu sebut Ayahmu! Hari ini, Ayahku lakukan hal benar dan aku mendukung dengan siapa saja Ayahku habiskan hari tuanya asalkan bukan seorang p..... macam ibumu."
"Alana?! Apa yang kamu lakukan pada adikmu?"
"Aku akan lakukan padanya setiap kali kami bertemu. Ayahku akan berpikir seribu kali pertemukan kami." Alana Chavez pergi dan naiki tangga. Ia membanting pintu keras.
Setidaknya mereka mirip karena suka lampiaskan emosi pada pintu.
"Arumi?!"
James Chavez bergegas datangi dirinya. Hidungnya lembab dan ada bau amis dari sana. Arumi Chavez menatap ayahnya nanar, ingin langsung berterus terang tetapi kemudian katupkan mulut. Rahangnya mengejang. Paham ..., siapa wanita yang di maksud Alana dan direstui saudari tirinya.
Astaga. Apakah Ethan Sanchez tahu? Ini sungguh sangat mengerikan. Arumi Chavez tertembak tepat di jantung yang retak dan panah yang tertarik sebabkannya pecah berkeping-keping. Kesakitan menjalar di seluruh tubuh.
Harusnya ia tak perlu susah-susah datang kemari dan mengemis. Memuakkan.
"Arumi, apa kamu baik-baik saja?"
Arumi menepis dan menolak ayahnya kuat. Ia ingin bangun tetapi terlalu pusing. Mengambil waktu untuk bernapas. Jika ia mati di sini, semua orang akan bertepuk tangan di atas mayatnya. Ia duduk dan tertawa sejadi-jadinya.
"Arumi?!" Tangan terulur tetapi tak pernah sampai padanya. "Seseorang tolong ambilkan kotak obat!"
Dan perhatian yang terdengar, "Mari buat dia mati kehabisan napas".
"Oh, astaga. Aku salah masuk rumah orang." Ia mengeluh kemudian menangis karena kesal. Mengusap darah dari hidung dengan punggung tangan. Cukup sudah!
Harusnya tak berusaha terlalu keras. Ayahnya memang nyata-nyata telah meninggal saat usianya 5 tahun. Ayah yang kembali beberapa bulan lalu, bukan datang untuknya tetapi restu untuk perpisahan karena akan bersama wanita lain.
"Arumi ..., Ayah...."
"Maafkan aku, Tuan Chavez." Arumi Chavez berpegangan di sisi tangga. Bangkit berdiri dan tegak. Sisa-sisa kekuatan mengendalikannya. Ia membungkuk meskipun ia merasa akan pingsan. "Aku pikir ayahku ada di sini. Tetapi, beliau ternyata telah meninggal saat aku masih kecil. Aku berhalusinasi karena terlalu merindukannya. Aku akan pergi. Maaf telah membuat keributan di rumah Anda, Tuan. Terima kasih untuk semua harapan dan ilusi yang ditinggalkan padaku."
"Arumi ...."
"Jangan sentuh aku, Demi Tuhan." Kibaskan tangannya. "Semoga Anda hidup bahagia dan selalu diberkati, Tuan."
"Nona Arumi?!"
Tuan Alfredo Alvarez ketakutan.
"Nona ...."
"Harusnya aku tidak datang, Tuan Alfred. Aku tak pernah punya Ayah. Dia meninggal saat aku masih kecil. Mari kita pergi!"
"Arumi?!"
Arumi Chavez masuk ke dalam mobil. Mencari sandaran. Tuan Alfredo pamitan dan pergi. Tidak ingin dengar Tuan Chavez bicara takut Nona Arumi lakukan hal nekat dengan melarikan mobil.
"Nona ..., apa Anda baik-baik saja?"
"Ya, Tuan Alfredo. Agak sedikit tragis."
"Nona, aku akan antarkan Anda ke rumah sakit. Hidung Anda berdarah."
Arumi Chavez pejamkan mata.
"Tidak, Tuan Alfred. Aku pantas menanggungnya."
Ia menahan tangis. Tetapi, darah di hidung mengucur deras seakan gantikan air matanya.
"Aku akan tidur sebentar. Seminggu ini mimpiku sangat buruk, Tuan Alfred. Semoga aku bangun dan semuanya kembali normal."
Arumi Chavez pejamkan mata. Mobil berbelok di rumah sakit. Tuan Alfredo menggendongnya keluar dari mobil. Ia mendengar seruan pria itu memanggil dokter.
Matanya dibuka dan ada nyala senter seperti satu titik merah pada kertas. Masih cukup sadar saat jarum menembus tangannya. Ia hanya tak ingin percaya bahwa ia tidak bermimpi.
Arumi Chaves harusnya menikahi Archilles Lucca hari ini, tetapi di mana dia? Hatinya hanya berubah dingin.
"Selamat ulang tahun, Arumi Chavez."
***
Kebetulan ya ulang tahun Arumi kemarin pas aku nulis chapter ini. Dan ada fenomena ekuinoks di Indonesia terjadi tanggal 21 Maret. Masih ingat mengapa dia di cari?