My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 60. Cotton Candy



"Ethan, aku tak mau melarikan diri. Nyonya Sanchez akan menganggapku pengecut jika tahu akulah penyebab-mu terluka tetapi aku malah meninggalkanmu sendirian." Arumi Chavez menggeleng putuskan tetap di sisi Ethan hingga Nyonya Sanchez datang.


"Betapa pendapat Ibuku sangat penting bagimu," keluh Ethan Sanchez. "Lihatlah! Aku akan baik-baik saja." Ethan coba yakinkan Arumi untuk kesekian kalinya.


"Mungkinkah ..., kamu ingin makan sesuatu? Aku bisa belikan untukmu," tawar Arumi sengaja mengganti topik, tersenyum mencoba tabah. Ia tak bisa kabur seberapa besar trauma pada Nyonya Sanchez. Satu-satunya cara hanyalah mencari sandwich dan mengunyah. Siapa tahu, kegelisahannya bisa menghilang.


"Arumi ...."


"Ya?!"


"Tolong jangan menyuruhku pergi."


"Arumi ...."


Ethan hanya menatap Arumi. Perbaiki posisi setengah berbaring. Pegangi luka di bagian perut.


"Ada apa? Kamu rasakan sesuatu?" tanya Arumi lekas bergerak mendekat.


Dalam satu menit, Ethan kembali rasakan satu tarikan kuat, perasaan memiliki yang membuat Ethan, sekejab, ingin menarik Arumi kembali ke dalam jangkauannya.


"Apa perlu aku panggilkan dokter?" tanya Arumi cemas.


Lalu, logika Ethan berjalan. Ia telah putuskan Arumi suatu waktu dan lepaskan gadis ini demi kebaikan mereka bersama. Tak bisa salahkan cinta Arumi yang terbang pergi darinya. Ia memulainya tanpa ia sadari, menyakiti Arumi.


Ethan Sanchez ingat berdiri di ambang kelas Arumi, abaikan Arumi ketika ia dengan sangat jelas melihat Arumi menunggunya. Mata Arumi Chavez masih mengharapkannya setelah perpisahan mereka. Arumi mungkin berpikir ia datang untuk berbaikan. Namun, secara sengaja ia hanya bicara pada Young Vincenti tanpa menengok pada Arumi Chavez.


Dari Young Vincenti, Ethan Sanchez kemudian dengar Arumi Chavez terluka dan menangis di atas meja belajar. Ia juga gagal jelaskan pada Ibunya bahwa tindakan brutal Arumi Chavez adalah cirikhas wanita sejati saat lindungi prianya dari rencana jahat. Nyonya Sanchez hanya melihat hal-hal buruk dari Arumi tanpa mau mengambil kesempatan mengenal kepribadian Arumi.


"Ethan?!" panggil Arumi pelan. "Apa sesuatu terjadi?"


Lagipula, apa yang bisa ia janjikan pada Arumi? Ia tak bisa pertaruhkan apapun seperti menukar kehidupannya kini demi Arumi Chavez.


Setidaknya Arumi berada di tangan yang tepat. Archilles Lucca nyaris mati setelah pertemuan mereka di Amelia. Pria itu jelas lindungi Arumi dari hal memalukan yang bisa merusak reputasi Arumi dan mungkin membuat gadis ini jadi bulan-bulanan media hiburan, juga para haters. Sesuatu yang lebih buruk yang bisa hancurkan mental Arumi.


Atau, Ethan Sanchez hanya akan biarkan takdir mereka mengalir begitu saja.


"Ibuku mungkin sudah sampai." Akhirnya kata-kata itu yang terucap keluar dari bibirnya.


"Apa yang kamu sukai, Ethan? Aku menunggu Leona datang!" Arumi mencari alasan.


"Dengar, pergi sekarang!" balas Ethan Sanchez separuh mengusir walaupun sebagian dari dirinya menyukai Arumi di sini. Ia mulai cepat linglung dan berubah-ubah, coba mengontrol semua emosi. Memaksa logika secara dominan mengambil alih dirinya. "Aku akan menelpon taxi untukmu. Tunggulah di lobi."


Mereka bertatapan beberapa waktu.


"Baiklah. Semoga cepat sembuh, Ethan."


Arumi Chavez kemudian mengangguk pasrah. Berbalik pergi, tinggalkan Ethan atas kehendak pria itu. Mendorong pintu rumah sakit. Terpaku seketika. Terlambat sekarang. Berharap ia punya kemampuan super mengubah diri menjadi asap.


Nyonya Sanchez dan Sarah Jessica di muka pintu. Arumi Chavez secara refleks mundur menjauh dari pintu. Dilihat dari ekspresi Nyonya Sanchez, mereka mungkin berada cukup lama untuk melihat segala hal berjalan. Mungkin juga mengambil kesimpulan.


"Nyonya Sanchez ..., Anda sudah datang?" tanya Arumi bodoh sendiri. Sedikit membungkuk pegangi tas erat, seakan berbagi gugup.


Sarah Jessica lekas berhamburan ke dalam ruangan. Terlihat jelas emosi dalam diri Sarah yang biasanya selalu ramah pada Arumi berganti penuh kekesalan. Gadis itu tak menyapa seperti biasa.


"Apa yang terjadi padamu? Aku melihatmu mengikuti sekelompok pengendara bermotor. Apa yang terjadi?"


"Aku baik-baik saja. Tolong tenanglah!" sahut Ethan Sanchez setengah bangun dan amati dua orang yang menegang di depan pintu.


"Bagaimana bisa menyuruhku tenang, kamu terluka, Ethan."


"Aku baik-baik saja."


"Apakah aku mudah dibodohi?" tanya Sarah Jessica semakin tak membendung jengkel sebab Ethan Sanchez menghindarinya. "Aku menunggumu dalam ketakutan seperti gadis bodoh."


Ethan Sanchez berpaling pada Sarah. "Maafkan aku. Segalanya terjadi begitu cepat."


"Ya, aku paham. Dan akan selalu mengerti dirimu lebih banyak tanpa diminta." Sarah mengeluh.


"Sarah ..., Arumi dalam bahaya. Aku tak bisa abaikan teman-temanku."


"Aku mengerti Ethan. Jika di posisimu, aku akan lakukan hal yang sama."


"Terima kasih."


"Aku pergi sekarang! Kamu baik-baik saja, bukan? Oh lihatlah aku, betapa konyolnya. Aku seperti anjing menunggu tulang di depan pintu rumah seorang pria."


"Hei ...."


"Apa kamu menikmatinya, Ethan?" Sarah Jessica berdiri tegak. "Sampai nanti."


"Sarah ..., baiklah. Mari bicara!"


Acuhkan Ethan, Sarah beranjak pergi dari ruangan. Tersenyum lelah pada Nyonya Sanchez tanpa melihat pada Arumi.


"Telpon aku Nyonya jika Anda ingin pulang. Aku akan menjemput Anda."


"Pulanglah dan beristirahatlah, Sarah. Aku akan naik taxi nanti."


Sarah berlalu pergi. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya. Nyonya Sanchez menarik napas kuat, menatap Arumi.


"Kemana kamu akan pergi, Nona Arumi?" tanya Nyonya Sanchez datar. "Apakah ada keadaan mendesak?"


"A ... a ...ku ...." Terbata-bata. Berusaha tak menoleh ke arah ranjang. Akhirnya cuma bisa menunduk, tak berani menatap mata Nyonya Sanchez.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Nyonya Sanchez melembut, mungkin sadari sikapnya mengintimidasi Arumi. Sangat pelan mengangkat dagu Arumi. Amati wajah Arumi seksama.


"Ya, Nyonya aku baik-baik saja."


"Bukankah kamu perlu ceritakan padaku, mengapa wajahmu terluka? Mengapa puteraku bisa terluka? Apa yang terjadi?"


Arumi meremas ujung tas sekolah semakin kuat. Tatapan Nyonya Sanchez turun pada tangan-tangan putih di mana salah satu jari dilingkari gambar cincin. Salah mengerti. Terlihat begitu sebab wanita itu seakan kehabisan kata.


Begitulah akhirnya Arumi Chavez kembali ke dalam ruangan, duduk di sisi Ethan Sanchez. Di seberang Nyonya Sanchez duduk merenung cukup lama.


Walaupun hari-hari berlalu, Arumi tak bisa jelaskan mengapa rasa sakit di hati Arumi pada perkataan dan tindakan Nyonya Sanchez masih melekat seakan baru kemarin. Arumi mencoba trik di mana ia hanya mengingat kebaikan dan kasih sayang Ethan padanya. Tanpa melihat pada Nyonya Sanchez.


Lamunan lekas buyar ketika Nyonya Sanchez memulai pertanyaan.


"Apa yang terjadi, Nona Arumi? Aku perlu tahu."


"Aku baik-baik saja, Mom."


"Ethan, aku sedang bicara dengan Nona Arumi."


"Tolong jangan berlebihan!" sambar Ethan Sanchez tergesa-gesa. "Arumi pergilah! Mengapa kamu sangat keras kepala?" tambah Ethan hingga buat Nyonya Sanchez menyipit.


"Menurutmu aku berlebihan, Ethan? Apakah salah jika aku bertanya pada Nona Arumi apa yang sudah terjadi?"


"Tidak ada yang salah."


"Lalu?"


"Ibuku punya kebiasaan baru suka memojokkan gadis ini." Ethan Sanchez tanpa sengaja menatap Ibunya tajam. Sungguh mencengangkan semua pihak.


"Ethan?! Bukankah kamu keterlaluan padaku? Anda menyakitiku, Tuan," serang Nyonya Sanchez dingin. Wanita itu terluka sangat dalam. "Aku hanya seorang Ibu. Wajar jika aku ingin tahu, apa yang terjadi? Mengapa puteraku terluka dan dirawat di rumah sakit? Mengapa aku harus memojokkan seseorang tanpa tahu letak permasalahannya?"


"Ethan ..., aku bisa jelaskan segala hal. Tolong jangan berdebat. Nyonya ..., kami ...."


"Tidak perlu jelaskan apapun, Arumi!" potong Ethan. "Aku baik-baik saja kecuali dua luka di lengan dan perutku."


"Nah, beritahu aku penyebab kamu dapatkan luka itu! Selesaikan?" keluh Nyonya Sanchez berusaha sabar.


Ketukan di pintu Arumi Chavez terkejut, menoleh. Perdebatan terjeda.


Dua petugas kepolisian berseragam dan seorang pria lain tampak diantar security rumah sakit berdiri di depan ruangan Ethan Sanchez. Arumi Chavez berpaling kembali pada Ethan Sanchez. Kendalikan diri sangat sulit terlebih polisi jelas mencari mereka.


"Aku berharap kalian berdua tidak terlibat sesuatu yang berbahaya."


"Mom?! Berhenti menakut-nakuti Arumi!"


"Ethan Sanchez ..., mari sembuhkan dirimu. Lalu, kamu bisa hidup mandiri. Aku bisa mengurus adik-adikmu tanpamu. Sudah cukup aku dimusuhi olehmu selama sebulan ini."


"Mom ...."


"Ya, lakukanlah! Aku akan merawatmu. Setelahnya kamu bisa lakukan apapun keinginanmu." Nyonya Sanchez menyerah.


"Aku tak bermaksud begitu, Mom." Ethan sangat cepat sadari kekeliruannya berbicara rendah. Sedang Arumi tak mungkin melerai atau menambah kata. Ia sejak dulu tidak tahu cara hadapi Nyonya Sanchez. Di mata Nyonya Sanchez ia hanya puteri seorang gangster. Jadi, sebagus apapun ia terlihat di mata orang lain, ia hanya hal buruk di pandangan Nyonya Sanchez.


Pintu ruangan terbuka lebar.


"Nyonya ..., permisi. Maaf kami mengganggu. Boleh minta waktu sejenak?"


Nyonya Sanchez bangkit berdiri.


"Ya, Sir. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Nyonya Sanchez. "Puteraku sedang sakit dan butuh beristirahat," katanya lebih lanjut seakan hendak mengusir petugas pergi.


"Kami dari pihak kepolisian. Kendaraan beroda dua di halaman parkir hospital, plat PG.06.70 teregistrasi atas nama Ethan Sanchez. Kami butuh mengambil keterangan karena kamera pengawas di beberapa gedung menangkap kendaraan Tuan Ethan Sanchez terlibat perselisihan antar geng motor bersama seorang gadis."


"Ethan?!" tegur Nyonya Sanchez tak senang. Menatap Arumi tidak suka.


"Sir, aku Ethan Sanchez. Anda cukup keliru. Kami tidak terlibat tawuran. Akulah yang menelpon ke kantor polisi laporkan penyerangan beberapa preman pada teman-temanku."


"Begitukah?"


"Ya, Tuan. Ethan Sanchez benar. Namaku Arumi Chavez."


"Nona Arumi Chavez Diomanta ..., kami juga mengenali Anda bersama Young Vincenti."


"Ya, tadinya kami akan pergi belajar group ke rumah Tuan Vincenti. Tetapi, di perjalanan segerombolan motor mengejar kami. Temanku berusaha menghindar tetapi kami akhirnya terjebak di blok delapan. Ethan Sanchez kemudian datang dan menyelamatkanku."


"Baiklah!" Seorang petugas dengarkan keterangan seksama berdiskusi dengan temannya. "Aku berharap Anda berdua bersedia menghadap ke kantor polisi sewaktu-waktu untuk dimintai keterangan." Mengambil keputusan.


"Baik, Tuan!" jawab Arumi mengangguk.


"Baik, Tuan!" Ethan mengikuti.


"Kami permisi. Maaf mengganggu waktu Anda, Nyonya."


Setelah petugas pergi, Arumi Chavez hembuskan napas tertahan. Menelan sedikit cairan di ujung lidah mengering.


"Hari yang luar biasa. Apakah kamu sungguh mencintai Nona Arumi, Ethan Sanchez?" tanya Nyonya Sanchez pada Ethan.


"Hubungan kami telah berakhir sebulan lalu, di hadapanmu. Tak ada apapun yang tersisa di antara kami." Sorot mata Ethan jelaskan segala hal.


"Kamu bisa bersama Nona Arumi jika itu maumu," balas Nyonya Sanchez cepat.


"Mom ...."


"Aku bosan menghadapimu. Pergilah ke mansion Diomanta. Kamu akan dipuja di sana. Nikmati hidupmu."


"Mom?!"


"Berhenti mengambil tanggung jawab, Ethan. Aku sungguhan tak akan ikut campur lagi urusanmu."


"Mom, tolong berhenti!"


"Kamu mungkin bisa ikutan menjadi bandit. Aku lihat kamu mulai cocok, Ethan."


Arumi Chavez menggigit bibirnya kuat. Betapa menyakitkan untuk didengar. Sekali ini mengangkat wajah, menatap Nyonya Sanchez. Lagi-lagi kelu.


Ethan Sanchez hempaskan kepala ke ranjang.


"Tolong, tinggalkan aku sendiri!"


"Ethan?!"


"Ethan ...."


Pejamkan mata kuat sebagai jawaban tak ingin bicara pada siapapun.


"Nyonya ...," kata Arumi Chavez pelan. "Aku tak bersama Ethan Sanchez lagi. Aku akan menikahi seorang pria di masa mendatang. Seseorang dari golongan bandit yang lebih pantas untukku." Meringis. "Ethan sangat menyayangi Anda dan tak akan lakukan hal buruk yang menentang Anda. Maafkan kami karena terus membuat Anda khawatir. Karena Anda sudah di sini, aku pamit pulang, Nyonya."


Arumi Chavez menoleh ke ranjang. Melangkah keluar ruangan. Sedikit tertegun temukan Young Vincenti di luar.


"Aku muak padamu. Menjauh dariku!" keluh Arumi.


Young mendekat ulurkan tangan menyentuh wajah Arumi. "Wajahmu lecet di mana-mana. Tetapi, ya, mau diapakan gadis ini memang terlahir rupawan. Lecet malah bikin ia tambah cantik. Apa kamu sudah ke dokter?"


"Berisik!"


"Kamu butuh perawatan."


"Young?! Polisi mencarimu!" tegur Arumi Chavez menghindari sentuhan Young tanpa sengaja menoleh ke dalam ruangan Ethan. Nyonya Sanchez sedang menatapnya dan Young kini.


"Aku di sini, polisi telah bebaskan aku sebab aku juga korban."


"Kamu penuh bualan, Young!"


"Aku telah terbiasa." Young masih nekat saja memeluk Arumi kuat.


"Brengsek lepaskan aku!" gerutu Arumi Chavez pelan.


"Aku peduli padamu. Aku takut kamu terluka, ya Tuhan, gadis ini keras kepala sekali." Semakin erat mendekap malah mulai menepuk bahu Arumi pelan. "Pacarmu mungkin akan menyelinap ke perkebunan ayahku dan menembak kepalaku nanti malam! Oh sial, aku menerima pesan mengerikan dari private number karena menyeretmu dalam masalahku."


Arumi tak menghindar entah pelukan Young atau Nyonya Sanchez. Lebih fokus pada tatapan Nyonya Sanchez daripada keluhan Young.


Arumi bersandar di bahu Young akhirnya. Ia bermain terlalu banyak drama hari ini gara-gara brengsek model Young Vincenti. Mungkin saja ditambah satu sebagai scene penutup agar Nyonya Sanchez percaya. Arumi membalas pelukan Young. Ia bertanya seredup jalanan tua yang kehilangan cahaya.


"Bisakah kita pergi? Aku sangat ingin makan permen kapas."


***


Tinggalkan dukungan Anda ya. Pecahan part kemarin. Jangan di-skip part Ethan atau Archilles biar tidak ada dusta di antara kita.


Aku mencintai kalian.