My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Ending Part 3. Siete Vidas Mas



Ada 5 wedding dalam tiga hari yang harus aku tangani. Ini nulisnya sambil mabuk tidur macam Arumi.


Untukmu, yang cintai aku.


***


"Kamu tak akan coba-coba pada Romeo, Ralph."


Samar-samar Arumi dengar protes di dekat kupingnya lalu ciuman berulang kali di puncak kepala. Ia hanya terlalu mengantuk. Bibirnya kelelahan hingga tak sanggup bicara.


"Mengapa tidak? Aku menculik Bellova dan sembunyikan dia di pulau favoritku. Romeo memanjat ke sana hampir mati terkena hujan." Pria itu terkekeh senang. "Sangat sial sebab Ax membantu Romeo. Akhirnya aku tergantung di tebing setelah Romeo racuni makananku. Bos anehku itu biarkan aku dikencingi burung sepanjang malam."


"Maka kamu akan buang mimpimu tentang Bellova."


"Tidak juga. Jika Romeo sakiti Bellova, aku akan bawa Bellova kabur. Raymundo Alvaro bisa menggigit jempolnya sampai putus."


"Berhenti membual. Berikan Nona penawar!" Meminta pada temannya.


"Tidak banyak teh yang diminum Nona." Cangkir diperiksa.


"Nona harus segera sadar."


"Kamu tidak takut Nona berlari ke dalam gereja dan menikahi Tuan Xavier Moon, Lucca?"


"Coba pantau! Pernikahan akan sepenuhnya kacau."


"Tanpa tanda." Mengintip di jendela. "Oh Tuhan, tak ada yang sadar bahwa mempelai wanitanya bukan Nona. Butuh waktu sampai pengantin pria menyingkap kerudung mempelai wanita. Ibadah belum sampai di sana."


"Alana Chavez menggali makamnya sendiri."


"Berterima kasih padanya untuk ini. Dia membantumu tanpa disadari. Gendong saja Nona dan bawa pergi."


"Berikan aku penawar!"


"Baiklah." Mengalah. Bunyi zipper ditarik. Ketukan pada botol. Jentikan. "Aku kurangi dosisnya."


Sesuatu kemudian dingin di sisi luar paha Arumi. Kulit diusap kapas dingin. Sengatan ketika jarum tertancap di kulit. Sebuah suntikan. Arumi mengerang pelan.


"Ssshhh ...." Bujukan lewat kecupan di kening dan tidak pergi dari sana beberapa waktu.


Kapas ditaruh lagi setelah jarum dicabut. Berikut elusan perlahan permukaan ibu jari di bekas suntikan. Sentuhan berhasil bangunkan indera perasa. Kuduk Arumi meremang. Ia telah menggigil.


"Nona?!" panggilan pelan.


"Biarkan saja sampai Nona bangun sendiri."


Pelukan erat di tubuhnya.


"Berikan aku gaun putih itu! Matamu, Bung. Jangan melihat pada Nona!"


"Aku menjaga gadismu tujuh tahun lalu dan menguras isi rekeningmu. Lihat dia kini. Menjelma jadi wanita utuh. Banyak kapal kandas di tujuh tahun lalu, mulai berlayar di tahun ini. Apakah Anda berdua akan menyusul nanti malam Mr. and Mrs. Lucca?"


"Berbalik!" suruh Archilles Lucca pada temannya.


"Astaga, memang kamu bisa lakukan sendiri?"


"Aku coba."


"Jangan terlalu paksakan. Jangan sampai kamu sekarat lagi nanti."


Sepertinya Archilles Lucca tak peduli. Kedua tangan lingkari tubuhnya. Dan bergerak sangat halus ketika pakaikan ia gaun. Jantung Arumi berdetak dua kali lebih cepat dan ia menghirup aroma napas itu.


Tangan berhenti sejenak di pahanya. Memeriksa.


"Mengapa Nona lebam-lebam dan memar?" Archilles Lucca bertanya, sedikit usapan.


"Ada apa?" Temannya penasaran.


"Berikan penawar pada yang lainnya juga!"


"Oh, aku terus melakukan dalam bulan ini menyentuh gadis asing." Kerja pria bernama Ralph ini hanya menggerutu sejak tadi. "Permisi, aku perlu naikan skirt Anda, Nona. Rasanya macam digigit semut. Sabar ya!"


Mungkin berikan suntikan pada Gladys. Lalu ....


"Raphael? Tanganmu!" tegur Archilles Lucca.


Itu karena jemari tangan temannya berlari di paha mulus Gladys. Telunjuk sampai di ujung skirt. Menarik turun penuh penyesalan.


"Lucca, mari kita pergi! Rekaman CCTV dari ruangan ini akan kukirim pada Tuan Xavier Moon."


"Baiklah."


Tubuh Arumi coba diangkat, tetapi, kelihatan sulit dilakukan. Archilles Lucca mengeluh.


"Sudah kubilang, biar aku saja."


"Aku akan memeluknya sebentar." Akhirnya hanya terdengar memelas.


"Kamu bisa lakukan sepanjang di perjalanan. Aku hanya menggendongnya sampai mobil. Beritahu Tuan Laurent bahwa Nona bersama kita."


Pelukan terlepas dengan berat hati.


"Aku terus menggendong kekasih teman-temanku. Kapan aku punya milikku sendiri?"


"Jangan terlalu dekat dengannya!" Archilles Lucca peringatkan Ralph.


"Itu sulit, Lucca!" protes temannya. "Ringan sekali badan Nona ini."


"Benarkah?"


"Apa dia hanya makan tiga gigitan roti tiap hari? Aku berasa memikul permen kapas ukuran extra large."


Cahaya lebih kuat menyerang mata. Pintu mobil terbuka. Tubuh berpindah dalam lengan Archilles Lucca. Mobil bergerak pergi.


Arumi akhirnya pegangi kendali atas kesadarannya. Ia pikirkan apa yang akan terjadi pada Xavier? Juga Alana Chavez?


Tentu saja Xavier Moon akan lukai Alana Chavez terlebih Brelda Laura yang paling bersemangat pada pernikahan mereka.


Dan meskipun ia tak jatuh cinta pada Xavier Moon, ia merasa sedih karena Brelda dan Casandra pasti sangat kecewa. Ia perlu kembali ke Saint Nicholas dan gagalkan pernikahan Xavier. Alana tidak pantas untuk Xavier. Gadis itu hanya jahat.


Arumi menggeliat.


"Nona ..., kamu sudah bangun?" Bertanya pelan. Kecupan lagi di keningnya. Tidak bisa menghapus apapun. Apalagi luka tujuh tahun yang sebenarnya telah lenyap sebulan lalu saat pertemuan kembali mereka di San Pedro.


"Hentikan mobilnya!" perintah Arumi dingin.


"Nona?!"


"Siapa yang memberimu ijin larikan aku dari pernikahanku?"


Tak ada sahutan. Hanya helaan napas berat juga pelukan enggan terlerai.


"Brengsek, hentikan mobilnya kataku!" Arumi sedikit menjerit. Ia mendorong tubuh Archilles Lucca marah. "Jangan menyentuhku, Tuan!"


Pengemudi hidupkan sinyal dan tepikan mobil. Arumi menggapai pintu. Ia segera turun. Tanpa alas kaki, ia berjalan melawan arah kembali ke Saint Nicholas yang kerucut menara loncengnya juga salib terlihat di kejauhan. Menyembul di antara pepohonan.


Pintu tertutup keras di belakangnya saat langkah kian panjang.


"Nona!!!"


Arumi tak peduli pada panggilan itu. Semakin percepat langkah. Gaun sifon tertiup angin. Ia menggigil di pagi yang mulai panas.


"Nona ... mari bicara!"


Archilles Lucca menyusul.


"Nona!"


Pria itu sampai, lingkari lengan pada pinggangnya dan memeluknya erat.


"Lepaskan aku!"


"Tidak!"


Siku menerjang rusuk pria di belakangnya hingga pelukan terlepas. Archilles Lucca tak menyerah menghadang jalannya.


"Minggir!" bentak Arumi. Tatapan lurus ke depan. Ia tahu kelemahannya. Tak mau ambil resiko.


"Nona ...."


"Siapa pikir dirimu, Tuan?" tanya Arumi dengan tatapan merendahkan. "Apa menurutmu ..., kamu sangat spesial? Pikirmu, kamu bisa datang dan pergi kapan saja sesuka hatimu? Dan aku akan setuju dengan semua keputusanmu? Menciumku dan khianati aku?Memelukku dan mendorongku semaumu? Lihat dirimu, Tuan!"


"Nona ..., dengarkan aku!"


"Aku bisa menuntutmu dan temanmu atas kasus penculikan. Anda berdua berkomplot bersama Alana Chavez untuk tindak kejahatan ini!"


"Itu tidak benar," geleng Archilles. "Tangannya terulur hendak meraih dagu Arumi tetapi Arumi mundur menjauh. Ia menepis keras Archilles Lucca. "Nona ..., mari ke mobil dan kita bicara."


Pengguna jalan perhatikan mereka.


"Aku akan ikut denganmu, tetapi bawa aku kembali karena aku harus nikahi Xavier."


"Tidak! Anda hanya akan menikahi aku!"


Mata mereka bentrok. Tenang untuk sekejab. Arumi lalu tertawa karena hati tak bisa berpaling pada pria lain sekeras apapun ia berjuang. Ia mendongak pada langit. Bahu naik turun. Ia ingin pukuli pria di depannya. Namun, terlalu sayang, terlalu cinta. Dan ia kesakitan sendiri.


"Apa yang ada di pikiranmu, Tuan?" tanya Arumi setelah berhenti tertawa. "Apa aku milikmu? Tolong bangun dan sadarlah!"


"Kamu marah padaku, kamu boleh lukai aku sesuka hatimu. Lemparkan aku ke jurang, aku tak peduli. Tetapi ..., aku tak akan biarkan kamu menikahi pria lain."


"Idiot!" umpat Arumi mendorong Archilles jauhkan dari dirinya sendiri. "Aku mencintaimu dan menangis untukmu ..., itu kemarin. Hari ini, besok dan ke depannya, kamu bukan sesuatu yang penting untuk dikenang. Aku akan segera melupakanmu."


"Nona ...."


"Menyingkir!"


"Tidak akan!" Archilles Lucca kembali mendekat.


Arumi berbalik arah. Tetapi, pria berambut cepak bersandar di mobil sambil melipat tangan halangi jalannya. Lambaikan tangan.


"Holla, namaku Raphael Bourne. Apa kabarmu, Nona?" Tersenyum senang.


Arumi berputar haluan, tetapi Archilles Lucca baca gerakannya. Pria itu tegak di depannya.


"Aku mencintaimu, Nona!" Seakan hanya punya kalimat itu sebagai senjata pamungkas untuk membujuk Arumi.


"Berhenti katakan hal-hal yang tidak bisa kamu pertanggung jawabkan!" seru Arumi murka. "Seorang pria yang mencintai kekasihnya tak akan tinggalkan kekasihnya merana sendirian bertahun-tahun, apapun alasanmu. Tidak mudah dikuasai dan tidak akan sebabkan kesakitan pada kekasihnya. Terlebih ..., aku tidak butuh cintamu lagi. Tidak sama sekali. Pergilah dengan siapa kamu ingin pergi, Tuan. Aku berhenti peduli pada duniamu."


"Nona ...."


"Kamu telah sebabkan kehancuran jauh lebih dahsyat daripada yang pernah dilakukan orang-orang jahat padaku! Bahkan matahari tidak mampu hangatkan tubuhku lagi. Aku telah mati di dalam sini. Kamu bilang cinta? Telan saja cintamu, Tuan! Kenyang saja dengannya."


Arumi mendorong tubuh Archilles keras hendak kabur tetapi Archilles Lucca meraih tangan Arumi dan menahannya. Sedikit paksaan ketika memeluknya.


"Lepaskan aku!"


"Tidak!"


"Aku akan berteriak pada semua orang," ancam Arumi.


Arumi meronta marah dan sekuat tenaga meninju dada Archilles dengan tangan yang bebas. Ia miliki keahlian bela diri kini. Ia sangat kasar ketika menyerang Archilles. Ia menendang kaki Archilles. Ia sakiti pria itu tepat di mana kaki pria itu bermasalah hingga pegangan terlepas Arumi mulai berlari pergi di tepi jalan.


"NONA?!"


Arumi abaikan teriakan itu. Ia berlari makin cepat dan tiba-tiba saja.


DOR!!!


Letusan pistol. Arumi menjerit ketakutan. Ia menutup kedua kuping dengan telapak tangannya. Langkah tertahan. Ia lekas berbalik. Pupil mata melebar. Ia disergap pusing, pening dan mual.


Tangan kanan Archilles Lucca menggenggam pistol tembaki langit. Lengan turun bentuk siku. Moncong pistol terarah langsung di sisi kepala adalah kuda-kuda. Telunjuk tanpa ragu bersiap untuk habisi fasad sendiri. Sedang ..., temannya tegak berdiri karena terlalu terperanjat. Tak akan pernah menduga.


"Lucca! Jangan bercanda! Apa kau gila? Demi Tuhan, kendalikan dirimu!"


Archilles Lucca sepertinya juga putus asa pada hidup sendiri. Ia juga mulai bosan. Pria itu menatap Arumi dengan tekad sekeras baja, kehilangan harapan dan juga malas bernapas.


"Lucca, berikan pistol sialan itu padaku! Tolong sadarlah!" Temannya mulai panik. "Dengar, Bodoh, jangan mudah kerasukan cinta!"


"Aku mencintaimu, Nona!" kata pria itu pelan, terbawa angin sampai pada Arumi. "Jika tidak denganmu, aku akan mati."


"Lucca?!"


Arumi menggeleng saat Archilles Lucca pejamkan mata, berniat bunuh diri.


"No! Archilles Lucca?! No! Aku mencintaimu, kau sialan! Aku mencintaimu! Baiklah, aku akan menikahimu!" Arumi separuh memekik panik. Ia segera berlari pulang terpacu adrenalin, bergerak seperti tornado dewasa. Ia lekas menubruk Archilles Lucca keras, memeluk erat tubuh itu.


"Kau brengsek, Archilles Lucca. Kamu akan sesali ini. Aku akan menghukummu." Tangisan Arumi meluap-luap.


"Ketuk keningku, potong kakiku, tolong jangan pergi!" Pelukan diperketat. "Untuk semua sakitmu, maafkan aku! Jangan pergi! Atau biarkan saja aku mati di depanmu."


Mereka terjatuh di sisi jalanan. Arumi meraih pistol dan lemparkan jauh-jauh. Sedang Raphael menggaruk sisi kepala.


Beginikah orang kalau jatuh cinta? Kadang logika tersumbat?


Raphael Bourne hampir saja menangis. Untung saja ia ingat kalau dia pria sejati.


Mobil-mobil macet di jalanan.


Raphael mengatur lalu lintas kendaraan. Membungkuk pada muka-muka penasaran. Orang tak akan peduli jika terjadi pada pasangan biasa.


Arumi Chavez yang kini resmi mengganti namanya menjadi Narumi Vincenti adalah seorang aktris. Terang saja seakan melihat kejadian langka.


"Tolong matikan ponsel Anda, kami sedang syuting melodrama. Tayangnya mungkin beberapa bulan lagi."


"Tanpa kru dan kamera?" tanya seorang pengemudi tak percaya.


"Kameranya ada 20 meter di atas langit. Anda tahu, agar seperti kisah sungguhan," tunjuk Raphael ke atas langit.


Raphael Bourne menggiring sepasang kekasih yang lelah secara emosional sebelum para fans Arumi berbondong-bondong datang dan beritanya tersebar kemana-mana.


Keduanya berpelukan sepanjang ia mencuri pandang di spion. Riasan wajah wanita hancur lebur mirip peramal kehilangan mantra sedang si pria berantakan macam habis bertarung di kejuaraan tinju liar.


Wanita sesenggukan dalam lengan pria yang berubah macam pengemis, terus saja berbisik "Aku mencintaimu, Nona! Jangan tinggalkan aku," sampai Raphael jatuh iba pada temannya.


Iseng nyalakan kamera mobil tengah. Suatu waktu mungkin berguna untuk mengejek keduanya.


"Hampir saja kisah Romeo dan Juliet terulang kembali."


Archilles Lucca tak peduli. Tangan sibuk membelai rambut Arumi.


Menjelang pukul empat sore, lengan Arumi digandeng Tuan Laurent Vincenti. Mereka di ambang pintu Saint Marry Churh di sisi barat kota.


"Papa ..., apakah Xavier baik-baik saja?"


"Tidak, Narumi. Pria itu sangat marah tetapi tetap lanjutkan pernikahan. Kamu tahu artinya? Kakakmu benar-benar dalam masalah berat. Tuan Moon sepertinya ingin ciptakan neraka untuk Alana."


"Aku sungguh sangat menyesal, Papa."


"Tuan Xavier menahan Alana menjadi istrinya agar Alana tak mengganggu pernikahanmu dan Archilles."


"Aku bersedih untuk Xavier. Hanya saja, aku harap Xavier tidak sakiti Alana, Papa."


"Kamu tahu, Alana hanya punya dua pilihan, di penjara atau menjadi istri Xavier Moon. Sekali ini, James Chavez tak akan bisa selamatkan puterinya. James sangat marah dan menampar Alana karena jahat padamu."


"Apa yang bisa aku lakukan?"


"Tuan Xavier Moon kirimkan doa untuk kebahagiaanmu. Dan ia berpesan, jangan bersedih lagi. Ia berjanji akan mengurus Alana dengan baik."


Itu tidak terdengar bagus dari Xavier Moon. Pria itu pasti merasa dlL3c3hkan Alana.


Pintu akan dibuka. Tirai tipis selubungi wajah dan ia memakai gaun indah yang disiapkan Tatiana Sangdeto untuknya. Tatiana juga merias dirinya. Hanya sesuatu yang sederhana. Tatiana juga kembalikan kalungnya setelah direndam dalam cairan mulia emas hingga tak ada bekas kelam di sana. Tatiana Sangdeto adalah malaikatnya yang sesungguhnya.


"Papa ..., aku selalu gagal menikahinya."


"Sekali ini, aku pastikan kamu berhasil." Laurent Vincenti menepuk punggung tangan Arumi berikan kekuatan.


Mungkin berhasil. Tetapi, akankah semuanya terlalu terlambat untuk besok?


Dentingan piano dimulai juga lonceng kecil. Pintu terbuka dan semua orang di dalam berdiri. Kepala-kepala menoleh ke belakang.


Seseorang nyanyikan lagu pembukaan.


Telah Bersua Yang Dicari


Telah Berjumpa Yang Dinanti


Harapan Pudar Kini Berseri


Bunga-bunga baby breath hiasi bangku gereja. Karpet mawar putih terbentang sepanjang jalur.


"Papa ..., aku takut."


"Narumi Vincenti, Papa bersamamu." Laurent Vincenti tersenyum penuh penguatan seorang Ayah. "Kita akan baik-baik saja, Sayangku."


Hanasita dan Jezebel memegang keranjang bunga di depan. Lemparkan helaian mawar sambil tersenyum riang. Arumi tak melihat adiknya Aizen dan yang lain. Tetapi, semua orang pasti hadir di sana, keluarga dekatnya.


Di barisan paling belakang, Tuan James Chavez dan Nyonya Andreia berdiri menyendiri. Nyonya Andreia menatapnya sendu dengan banyak penyesalan tanpa kata. Dan Tuan James Chavez yang tak berdaya. Ingin menggapainya tetapi seakan sadar dirinya bukan Ayah yang diinginkan Arumi.


Arumi tersenyum pada kedua orang yang dipenuhi rasa bersalah padanya hingga keduanya semakin sedih saja.


"Puteriku yang baik hati. Tuhan berkatimu. Para malaikat akan menjagamu selalu."


Ibunya terisak-isak di bawah topi bundar putih yang ia kenakan. Ethan Sanchez seperti Putera sejati, memeluk Salsa dan menghibur. Young Vincenti tak bisa menggeser pria itu. Wajahnya masam.


Apa Ethan tak lihat Nyonya Andreia sendiri sedang sedih?


Marya Corazon tersenyum sambil menangis. Aruhi juga mengganti namanya karena selalu menderita dengan nama Aruhi. Kini Arumi paham.


Aunty Nastya Lucca dalam lengan Uncle Maurizio di sisi seberang tampak terlalu bahagia untuk diungkapkan. Zefanya Lucca juga ....


"Mama!"


Arumi mendengar suara Aurora. Hatinya lekas-lekas terpanggil. Ia menoleh untuk dapati Itzik Damian dan Chaterine Lucca menggendong Puterinya yang bersinar seperti bulan purnama.


Semakin dekat ia melihat Archilles Lucca yang tak mau menanggung apapun, haru biru melihatnya. Bahu pria itu terguncang hebat. Dia menangis.


Apakah semuanya akan baik-baik saja?


Ketika mereka sampai dan Ayah Laurent serahkan dirinya pada calon suami, tangannya digapai Archilles Lucca, Arumi mudah gemetar. Tak bisa jelaskan apa yang ia rasakan.


Mereka bersama di depan altar suci sementara asap dari ukupan dupa dan kemenyan naik ke langit tinggi. Arumi pernah mencuri benda itu dan lonceng kecil saat Archilles Lucca sekarat.


Pengesahan pernikahan, keduanya berhadapan. Mata tak saling lepaskan walau terhalang veil. Tangan Arumi dan tangan Archilles Lucca dikaitkan satu sama lain. Padre menaruh Stola di atas kedua tangan itu dan direciki air suci. Di hadapan Tuhan dan semua saksi akan nyatakan janji perkawinan.


"Aku ..., Archilles Lucca menikahimu, Narumi Yuki Vincenti dan berjanji setia padamu seumur hidupku baik dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, dan mencintaimu sebagai kekasih satu-satunya dengan segenap hatiku dan segenap jiwa ragaku sampai maut memisahkan kita."


Suara pria itu ikrarkan sumpah putih sangat dalam wakili jutaan emosi yang bergelora dalam diri. Arumi ucapkan sumpah yang sama.


Empat pria kecil bersetelan jas pengawal lengkap dengan kaca mata gelap dan ear phone berjalan di lorong gereja. Menarik atensi setiap orang. Di tangan salah satu pria kecil ini, mini koper hitam ala-ala detektif dipegang.


Aizen Ryota Vincenti ditemani saudaranya Abelard Chavez, Juan Enriques dan Edgar Junior Sangdeto yang mau tidak mau harus akur karena doktrin ajaib Amora Shine Blanco bahwa Naruministic harus bersatu, melangkah penuh percaya diri ke depan.


Keempatnya tanpa senyuman di wajah. Sungguh-sungguh menggemaskan. Berlutut sopan di depan sakristi sebelum lakukan aksi mereka.


Hanya terlihat..., keren.


Juan Enriques mengangkat mini koper anggukan kepala pada Edgar Junior untuk pecahkan sandi. Tampak kompak saat bersandiwara.


Agak sulit atau memang disengaja. Entahlah. Semua orang menahan napas saat tangan kecil Edgar Junior terus menggeser angka-angka di koper mencari padanan sandi tetapi sepertinya temukan kendala.


Keheningan mengisi udara. Kepala-kepala melongok penasaran. Tuan Hedgar Sangdeto melirik istrinya, Anna Marylin, yang hanya terpukau menatap bocah-bocah di depan. Hedgar ingin tahu, siapa yang dikagumi Anna? Puteranya atau putera sahabatnya? Atau Putera Laurent Vincenti? Hedgar Sangdeto meskipun telah tujuh tahun berlalu, masih mudah cemburu.


Kini, masalahnya terlihat serius. Juan Enriques kerutkan kening. Rahang pria kecil itu berderak, fotocopy raut Tua Hellton saat mulai kesal.


Edgar Junior Sangdeto naikan satu bibirnya, lemparkan seringai di wajah culasnya, kerjain Juan Enriques. Jelmaan Hedgar Sangdeto selalu ingin mengusik Hellton Pascalito.


Oh, No!


Not now Kids!


Lalu ....


Klik.


Koper terbuka. Tiga bocah lain bernapas lega termasuk semua orang yang hadir.


Abelard Chavez lebarkan tutupan koper, keluarkan kotak cincin dan berikan pada Aizen Ryota Vincenti yang langsung antarkan pada Padre.


Cincin diberkati dengan doa bagi yang mengenakannya untuk tetap tinggal dalam kesetiaan, damai, saling mengasihi, saling menghormati dan melayani.


"Kenakanlah cincin ini pada jari manis istrimu sebagai lambang cinta dan kesetiaan." Padre berkata.


Aizen Ryota stay cool persembahkan pada Archilles Lucca.


Cincin disematkan. Arumi tangisi semua kesedihan mereka, termasuk pada jemari suaminya yang tidak lengkap seperti nasib cacat mereka. Archilles Lucca menghapus tiap butiran air mata.


Arumi ciumi tangan suaminya setelah lingkari cincin di jari manis Archilles Lucca pada tangan yang lain.


Kerudung disingkap. Mereka saling menatap dengan cinta dan kasih sayang. Ia dapati mata Almon yang ia cintai telah menangis karena bahagia.


Arumi pejamkan mata ketika bibir suaminya menyentuhnya. Mereka berciuman dibawah tepuk tangan.


Masih bertanya dalam hati, bagaimana dengan besok? Apakah ia rela hilang ingatan tentang hari indah ini? Tentang mereka? Atau ia tetap hidup saja dan nikmati sampai tiga empat bulan lagi lalu mati dengan tenang.


"Mama! Papa!"


Ciuman mereka berakhir. Arumi menoleh. Ia berlutut dan Aurora berlari padanya.


"Au, Mama sama Papa bisa tinggal bersama, kan?" Menoleh pada Archilles. "Kan, Papa?"


Arumi mendekap Aurora.


"Malam ini, bial Au sama Izik dan Kei. Mama sama Papa boleh pacalan."


Bukankah Arumi punya alasan untuk sembuh dan hidup? Sebab, ia telah bersama sumber kebahagiaannya.


***