
Archilles Lucca selesai mengisi makanan ke piringnya dan berjalan ke meja di mana ia sering habiskan makan siang selama ini. Ia duduk dan pejamkan mata untuk berdoa. Baru saja mata terbuka, temukan satu wajah di depannya; Eva Romero.
Gadis itu melambai 'hai' dan seperti biasa dengan tiga kancing baju terbuka. Selanjutnya pandangan Eva hanya terarah padanya. Lebih tertarik padanya dibanding makan siang di hadapan gadis itu. Eva nyaris tanpa kedip. Tak menggubris dua menit kemudian saat Beltran dan Beatriz bergabung di meja mereka.
"Aku mengerjakan tugasku dengan baik!" kata Eva cerah tanpa alihkan tatapan mata beraninya itu.
"Bagus untuk masa depanmu, Eva." Archilles membuka tutup saos pedas diisi ke dalam cup kecil dan di taruh di sisi kentang goreng.
"Berkat Anda."
"Eva ..., sebelumnya ..., jika ingin duduk di meja yang sama denganku, silahkan kancing dulu bajumu!"
"Mengapa Anda permasalahkan kancing seragamku setiap hari? Apakah Anda terganggu?"
"Kamu harus patuh aturan sekolah yang sangat jelas tentang tertib berseragam. Atau ...."
"Atau apa, Tuan?" potong Eva sunggingkan senyuman satu sudut bibir. "Anda akan pindah ke meja lain?! Dan para siswa akan mulai banyak rumor. Lagipula, lihatlah ketiga kancingnya lepas," adu Eva Romero tanpa beban. Jelas kancingnya sengaja dicopot.
"Sayangnya, teman-teman kita cukup pintar untuk berpendapat. Terlebih kamu sangat ekspresif juga agresif dan aku pikir teman-temanmu bisa melihat masalahmu."
"Anda bohong-kan soal Arumi Chavez?" sergah Eva tiba-tiba berbelok sangat cepat pada topik lain.
Sekali ini menarik perhatian Beltran dan Beatriz. Kedua murid berhenti makan dan saling pandang.
"Mari tidak bahas itu!"
"Arumi pacaran dengan seniornya bernama Ethan Sanchez. Mereka selalu bersama." Eva merogoh ponsel, tampilkan satu gambar lalu letakan di atas meja agar mudah dilihat Archilles. "Ini baru diunggah kemarin sore."
Seorang gadis sedang selfie di kafe. Dengan sengaja men-capture view di seberang meja. Arumi Chavez kenakan mantel cokelat tua, syal hijau lumut sedang minum bersama Ethan Sanchez. Caption-nya, Arumi Chavez and her boyfriend. Di sana juga ada artikel pendek kalau Ethan sangat populer di sekolah, idola sekolah dan bekerja paruh waktu di kafe dekat alun-alun kota.
Archilles Lucca tak menerima notifikasi tentang pengunggahan ini. Ia akan memeriksa ponselnya nanti.
"Well, aku pikir awalnya benar karena Anda punya tato cincin di jari Anda semirip Arumi. Tapi aku juga bisa lakukan itu!" Eva menunjuk jemarinya hasil ia bereksperimen. "Dan tebak apa, setiap pria yang menyukai Arumi Chavez bisa lakukan itu! Anda hanya idolakan Arumi Chavez."
Archilles Lucca perhatikan gadis di depannya, kening terangkat tinggi.
"Anda mengatakan Arumi pacar Anda untuk hentikan aku naksir pada Anda."
Menjelaskan pada gadis lain tentang Arumi Chavez dan dirinya bagi Archilles sangat konyol dilakukan.
"Eva ..., kamu hanya harus fokus belajar dan naik ke tingkat tiga."
"Tidak. Aku akan tinggal di kelas yang sama dengan Anda. Maukah Anda jadi pacarku?" tanya Eva Romero dengan keberanian yang buat Archilles Lucca tercengang. "Aku memikirkan Anda setiap saat dan aku menyukai Anda."
"Hei ..., Eva ...," tegur Beatriz dari sebelah. Tampak tak nyaman dengar pernyataan Eva. Terlebih hampir seisi ruangan menoleh kini ke arah meja mereka.
"Apa aku mengganggumu, Beatriz?" serang Eva Romero tidak senang.
"Kamu tidak waras!" Beatriz tengadahkan dua tangan. Ekspresi Beatriz mewakili ekspresi semua teman-temannya, tak percaya pada kelakuan nekat Eva. "Beliau guru kita. Sikapmu barusan sangat tidak sopan."
"Aku memberitahu Tuan Lucca tentang perasaanku! Apanya yang tidak sopan?"
"Kamu dan Cesar benar-benar sekumpulan orang tanpa aturan dan adab. Kamu ...."
Archilles Lucca menggeleng pada Beatriz saat gadis itu akan lanjutkan kata-kata menentang Eva.
"Habiskan makananmu, Eva! Kita akan bicara setelahnya."
Makan dalam ketenangan. Archilles amati Eva Romero. Muridnya ini berasal dari keluarga kaya dikirim ke kota kecil ini karena kehidupannya di metropolitan lepas kendali. Orang tua Eva sangat sibuk perjalanan bisnis hingga Eva ditinggal tanpa pengawasan. Di sini, ia tinggal bersama paman dan bibi dari pihak ayahnya.
Ketika tangan Archilles di atas meja sesaat seusai piringnya kosong, mata Archilles membentur tato cincin di jari. Gadisnya berada tak jauh darinya hari ini setelah penerbangan gadis itu semalam. Mereka menghirup udara yang sama, hanya berjarak tidak sampai dua jam perjalanan dengan bus.
Walaupun BM mengatur pertemuan mereka dan ia bisa pergi ke Ibukota untuk melihat Arumi Chavez, Archilles Lucca kendalikan dirinya sangat ketat. Gadisnya cuma akan fokus pada karir dan cita-cita. Mereka akan bertemu nanti, suatu waktu. Ia bisa menunggu dengan sabar. Terlebih ia tak ingin menarik perhatian Nyonya Salsa. Pembicaraan terakhir mereka sangat serius. Itu adalah sebuah ultimatum.
Mengangkat dagu, muridnya yang berandalan sedang menatapnya.
"Eva ..., aku pernah peringatkanmu bahwa ada batasan di antara kita. Aku gurumu dan kamu muridku!"
"Soal perasaan seseorang Anda tak bisa membangun sekat. Anda tak bisa melarangku suka pada Anda. Ini perasaanku."
"Kendalikan dirimu!"
"Aku tak bisa."
Archilles Lucca menggeleng. "Aku hanya akan jadi gurumu dan kamu muridku, tidak ada yang lebih spesial dari itu sekarang atau di masa mendatang. Aturan sekolah ini juga sangat keras, Anda dan aku bisa dikeluarkan dari sekolah hanya karena perasaan sepihak Anda."
"Sir ..., bagaimana Anda bisa mengabaikan seseorang yang menyukai Anda?"
"Eva ..., kamu tak bisa memaksa seseorang untuk menyukaimu juga. Bagiku, kamu muridku, tak lebih dari itu. Ini ..., berlaku untuk semua siswi di sekolah ini yang berpikir ingin pacaran denganku. Kancing bajumu sebelum jam pelajaran dimulai nanti, Eva. Aku harus kembali ke ruang guru."
"Aku akan mengejar Anda dan dapatkan Anda."
"Eva ...," ujar Archilles pelan,"kamu tak akan dapatkan apapun dariku! Tolong jangan menyulitkan dirimu sendiri. Aku dan Arumi sedang dalam hubungan serius."
"Aku tak percaya sama sekali." Eva tertawa geli.
"Tak ada yang bisa kulakukan untuk itu."
Mengapa para gadis jaman sekarang menakutkan? Padahal aturan sekolah jelas, dilarang jatuh cinta pada gurumu. Begitupula sebaliknya.
"Aku akan lakukan dengan senang hati sampai Anda melihat padaku!"
Archilles Lucca pergi dari sana. Eva Romero seperti murid dari perguruan Rosemary. Di luar ruang kantin berpapasan dengan Manuel Cesar dan teman-temannya baru hendak ke kantin.
"Kita akan bertemu lebih awal di kelas untuk membahas turnamen basket," kata Archilles memberitahu Cesar.
"Kami tak butuh Anda untuk urusan ini. Kami akan kalahkan kelas lain karena ini keahlian kami."
"Tanpa tanda tangan dariku kelasku tak bisa ikut turnamen. Jika itu yang ingin kamu dengar, Jhon Stuart!"
"Anda tak akan mencegah kami pergi ke pertandingan."
"Mengapa? Aku bisa kirimkan hasil belajar kalian pada kepala sekolah. Sikap keras kepala dan pembangkang akan jadi bahan pertimbangan. Kelas kita bisa didiskualifikasi bahkan sebelum kamu sampai ke stadion olahraga." Archilles Lucca sedikit mengancam.
"Baiklah," tukas Manuel Cesar berikan suara. "Mari kita bekerja sama, Guru Wali."
Cesar masuk ke kantin sedang Archilles perhatikan anak-anak itu saat mengekor di belakang Cesar. Tebak mereka kemana? Tentu saja mengusik Beltran dan Beatriz.
Archilles lanjutkan langkah pergi ke ruang guru. Memeriksa ponsel, mengirim pesan pada BM. Namun, tak dapatkan tanggapan. Duduk di kursi kerjanya, membaca paper yang dibuat murid. Apa yang akan dilakukan gadisnya hari ini?
Apakah Anda menikmati tamaram oranye hangat dari pijar lampu kota, Nona?
Apakah Anda hanyut pada pesona panorama yang tak pudar semalam? Atau Anda terlalu letih?
Apakah Anda mengingatku walau hanya sedetik? Aku tak jauh darimu, Nona. Aku merindukanmu.
"Anda tak akan membantu Cesar menangkan pertandingan ini, Sir!"
Beltran Domingo kagetkan dirinya saat mendadak muncul di hadapannya dan ajukan protes. Archilles cukup terkejut menerima serangan frontal penuh emosi itu sebab Beltran selalu berhasil atasi berbagai gejolak dalam diri. Mendongak lebih tinggi temukan wajah Beltran merah padam. Sesuatu terjadi dan Cesar si berandalan pasti telah menghasut Beltran.
"Apa ada yang salah? Aku wali kelas Cesar dan akan mendukung kelasku untuk turnamen ini."
"Cesar tidak ingin piala. Dia ingin buat perhitungan denganku."
"Buat aku mengerti!"
"Beatriz," sahut Beltran menggeram. "Pecundang itu inginkan Beatriz."
Archilles Lucca menatap Beltran tak berkedip. Lalu, kejadian berikutnya sangat tak terduga ketika Cesar juga muncul di ruangan guru dan wajah menyebalkan pria itu tampak ingin memprovokasi Beltran hingga Beltran hilang kendali.
"Aku akan peringatkan kalian berdua bahwa tak ada taruhan apapun dalam turnamen olahraga terlebih seorang gadis. Anda berdua akan terkena sanksi dan denda jika sampai terjadi."
"Sudah kuduga kamu mengadu," ejek Cessar tersenyum puas.
"Aku tak ingin hal lain selain berkompetisi."
"Oh, bilang saja kamu takut dikalahkan olehku!"
"Aku mengalahkanmu banyak kali, Manuel Cesar. Kamu lupa fakta."
"Sekali ini berbeda. Aku punya alasan dan tujuan!"
"Kau mengatakan hal yang sama terakhir kali dan kalah dariku. Ingat?" balas Beltran.
"Aku tak ...."
"Berhenti debat! Pertandingan ini untuk persahabatan antar kelas bukan pertarungan mencari musuh," lerai Archilles Lucca.
"Bagaimana kalau kita lakukan sekarang? Hmm? Satu lawan satu ..., setelah kelas berakhir. Jika aku kalah aku akan membaca sumpah di depan satu sekolah untuk jauhi Beatriz. Jika aku menang, aku akan melihatmu putuskan Beatriz di depanku dan teman-teman kita."
Beltran menoleh pada Cesar menatapnya marah dan cukup dekat.
"Beatriz bukan barang dan tidak untuk dipertaruhkan. Dia seorang gadis yang punya harga diri."
"Bagaimana dengan Rebecca?" tanya Cesar nyaris berbisik. Amarah pria itu terlihat jelas di wajahnya. "Kita pernah bertemu untuk Rebecca. Berhenti munafik!"
Beltran terdiam.
"Oh lihat dia, kehilangan mulutnya!"
"Aku menyesali hari itu, untuk kita dan Becca."
"Aku menunggumu!" Cesar menjauh.
"Kita bisa pulihkan keadaan," cegah Beltran.
"Hanya ketika aku dan Beatriz bersama, hubungan kita mungkin baikan."
"Kamu tak akan mengganggu kami."
"Berhenti cengeng dan mencari perlindungan, Beltran. Hadapi aku sekali ini."
"Aku tak akan ladenimu, Cesar!"
"Akhirnya, kamu hanya harus memilih. Aku tak main-main."
"Maka ini akan berakhir buruk untukmu!"
Beltran menatap kepergian Cesar, tidak senang pada situasinya. Sedang Archilles meskipun menduga pertikaian Beltran dan Cesar tetap tak paham apapun.
"Di mana Rebecca?"
"Meninggal," sahut Beltran lirih. "Cesar tak bisa menerimanya. Ia sangat terluka karena Rebecca dan menyalahkan aku."
"Mengapa kamu cemas hadapi Cesar? Kalahkan dia seperti yang sudah-sudah dan pertahankan Beatriz."
"Cesar tahu tungkai kakiku cidera dan bermasalah. Aku bisa hadapi dia sekarang dan aku akan kalah dua kali." Membendung napas. "Sekali ini dan saat kami bertemu di turnamen sedang aku kapten dan sedang pulihkan kondisi kakiku."
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Belum aku putuskan. Cesar tak akan berhenti sampai ia berhasil tumbangkan aku."
"Aku tak bisa mendukungmu Beltran. Aku wali kelas Cesar."
"Baiklah, Sir. Aku mengerti sikap Anda. Maafkan aku!"
Berjalan kaki sepulang sekolah Archilles Lucca berhenti sebentar di depan kafe samping sekolah. Di dalam sana, Manuel Cesar dan komplotannya sedang merokok; kecuali Eva Romero dan ....
Mereka menunggu Beltran sebab Beatriz ada di sana, diawasi Cesar.
Apakah ia lewati saja? Seminggu ini bak bumerang baginya. Ia tak bisa dekati komplotan itu. Saat ia pikir telah berhasil, ternyata ia keliru. Tingkat kebuasan mereka meningkat seiring penaklukannya.
Tak bisa jelaskan alasan mengapa ia mendadak gelisah.
Beltran Domingo keluar dari gerbang sekolah, berhenti di sisi Archilles.
"Jangan berikan jalan pada Cesar untuk merasuki-mu, maka akan mudah saja baginya mematahkan-mu. Mari ke dalam dan cari celah untuk selesaikan masalah."
"Aku tak yakin."
Keduanya beriringan menuju kafe. Tak banyak orang di dalam sana. Beberapa pengunjung selain geng Cesar. Staf kafe sedang layani seorang pelanggan wanita bertudung peach ketika mereka masuk. Sepertinya tuna wicara sebab hanya menunjuk menu tanpa bicara.
"Wah kejutan," sambut Cesar.
"Beatriz, mari pergi!" ajak Beltran.
"Dia minta bantuan Wali Kelas kami," ujar Cesar mengolok-olok Beltran.
"Persetan denganmu! Jangan ganggu Beatriz!" umpat Beltran pegangi tangan Beatriz tetapi satu tangan Beatriz lainnya ditahan kuat Cesar hingga Beltran tak punya pilihan selain berada di sisi Beatriz.
"Keliru Cesar. Aku akan mendukung yang aku anggap benar. Beltran menunggumu di stadion tetapi kamu tidak datang."
"Aku mengubah jadwal pertandingan."
Archilles Lucca duduk di bangku depan Cesar, menaruh tas dan mengambil rokok di atas meja tanpa minta ijin. Keluarkan satu batang dan minta api pada Adam di sisi kiri. Ia mengisap rokoknya kuat-kuat menelan sebanyak mungkin asap dan hanya hembuskan kabut sangat tipis. Bertingkah persis bajingan sejati.
Oh yeah, dia memang pernah di sana, bernapas dari udara kotor dan makan sembari menghirup bau daging manusia terbakar. Dan begundal di hadapannya tak ada apa-apanya. Cuma macam bayi bulu kaki yang baru belajar merangkak keluar dari kulit ari.
"Kita tak sempat bicara di kelas karena kalian tak datang lebih awal seperti janji." Archilles naikan satu kaki memangku kaki lainnya.
Tingkah brengseknya membuat Eva Romero takzim. Tak jemu-jemu menatap pria di depan mereka. Ia naksir berat. Tak mungkin Arumi Chavez menyukai pria begini. Ayolah, Ethan Sanchez sangat tampan. Saking tampan, Eva tidak heran, Ethan Sanchez diidolakan banyak gadis cantik. Tentang Arumi Chavez, Eva yakin guru Lucca sedang membodohinya.
"Duduklah!" anggukkan kepala ke kursi kosong. "Kita masih punya banyak waktu. Selesaikan masalah kalian sekarang di hadapanku! Jangan bawa masalah pribadi ke dalam turnamen!"
Semua orang duduk terkecuali Cesar.
"Bagaimana denganku?" tanya Eva Romero.
Archilles menarik hisapan terakhir, matikan ujung rokok di asbak menoleh pada Eva. Ia bisa mengulur waktu sambil redakan suasana.
"Kemarilah!" Archilles keluarkan benang juga jarum yang didapatnya dari Guru Misma.
"Beatriz, maukah kamu membantuku?"
Beatriz mengangguk tetapi Cesar pegangi tangan gadis itu kuat. Cesar selalu ingin menentangnya dan Beltran.
"Baiklah, aku akan lakukan sendiri!"
Archilles condong ke arah Eva, menarik kerah baju gadis itu dan mulai mainkan jarum.
"Apa yang Anda lakukan?"
"Kita lihat saja nanti!" balas Archilles Lucca. "Kesabaranku mulai habis menghadapimu!"
Tiga tarikan Eva, Archilles menjahit mati kemeja seragam Eva.
"Aku tak akan bisa lepaskan seragamku," keluh Eva.
"Masalahmu!"
Archilles akan berpindah ke lubang kedua ketika tatapan mata Archilles terpaku pada tangan pelanggan yang diabaikannya tadi. Membentur tangan kiri yang telunjuknya sedang mengetuk cangkir kopi pelan. Ia mengenali pemilik tangan indah itu.
Archilles Lucca terperanjat. Buru-buru jauhi Eva Romero dan duduk tegak hingga tingkahnya membuat semua murid keheranan. Guru mereka takuti sesuatu. Menoleh ke mana guru mereka memandang.
Mata Archilles mencari kepastian pada wanita yang diabaikannya. Kini, sedang lepaskan kaca mata hitam juga sedikit membuka tudung, menatapnya tanpa berkedip. Naikan satu sudut bibir. Di hadapan sang gadis seikat kembang bunga besar tergeletak.
"No ... na?! Bagai ... mana bisa?"
"Arumi Chavez?" Beatriz nyaris memekik.
Archilles Lucca membeku di tempat duduknya. Arumi Chavez bangkit dari duduk menggendong buket bunga datang ke arahnya. Sementara para berandal lupa cara mengatupkan mulut melihat gadis rupawan yang terlalu cantik hingga tampak tidak nyata. Terpana. Leher gadis itu dilingkari seutas kalung, Mrs. Lucca.
"Ops!" celetuk salah seorang di antara mereka melongo pada guru mereka.
"Cool!" bisik Beltran pelan.
Dan Cesar diam-diam temukan kelemahan guru mereka yang tak pernah terkalahkan. Mengejutkan. Guru mereka di luar ekspetasi.
"Aku tidak tahu ..., seorang guru bekerja keras seperti ini. Apakah ini kerja paruh waktu? Ekstra kurikuler? Teori di pagi hari dan penerapannya di luar jam sekolah?"
"Nona ...."
"Luar biasa, Tuan."
"Nona ..., apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Archilles Lucca pelan. Hatinya secara simpang siur berdenyut antara cemas, rindu, cinta dan lainnya.
"Menonton pacarku menjahit kancing baju murid perempuannya yang lepas. Apakah ..., Anda juga akan menguncir rambutnya dan mengikat tali sepatunya, Tuan?" tanya Arumi Chavez duduk di meja sebelah mereka.
Archilles tak punya kata untuk menjawab.
"Ini pertama kali aku berkendara ke tempat asing karena merindukanmu. Lihat yang aku temukan! Beruntungnya Anda bukan guru biologi yang mengajari teori reproduksi."
"Mari kita pergi!" kata Archilles Lucca geli dengar omelan Arumi. Gadisnya tak sembunyikan cemburu hingga wajah itu memerah dan bertambah menarik.
"Aku akan menunggumu selesaikan kerjaanmu, Tuan," balas Arumi Chavez berikan senyuman maklumat. Dirasa cukup men3r0r Archilles Lucca.
Sepertinya b3t1n4 ini terus saja mengganggu Archilles dengan penampilan s3r0n0knya, rutuk Arumi dalam hati. Ia harus akui circle pertemanan Young Vincenti seluas samudera. Pria itu bahkan reservasi sebuah penginapan di atas bukit dan di-private, tak jauh dari tempat Archilles untuknya. Menghadap langsung ke Biara di mana menurut Young, Archilles tinggal.
"Eva akan selesaikan sendiri!" Archilles menatap tajam Eva Romero kehilangan kata, tak akan tertawakan gurunya setelah menuduh gurunya mengkhayal terlalu tinggi.
"Aku punya cara yang lebih praktis, Sayang." Arumi Chavez pergi ke kasir membeli sesuatu. Datangi Eva Romero, tangannya menggenggam sesuatu.
"Hai ..., namaku Arumi Chavez Diomanta." Membungkuk sedikit dekat Eva. "Pacarku tak tahu bahwa benang dan jarum terlalu konvensional. Biar aku bantu, ya!"
Satukan sisi kemeja Eva yang terpisah. Keluarkan staples.
Tek Tek Tek Tek Tek Tek hingga ke pangkal leher.
Menjarit kancing baju Eva Romero yang saking tercengang berubah gagu.
"Oh wow," Arumi amati hasil kerjanya. "Ornamen ini sangat bagus untukmu, jatuhnya mirip zipper tanpa rel. Keren"
Eva Romero bangun dari sadar baru saja hendak protes, tangan Arumi yang memegang staples tegak depan hidung mancung Eva.
Tek Tek!
Arumi meremas benda itu kuat-kuat dua klai hingga dua peluru staples jatuh berdenting di atas meja. Tersenyum penuh makna pada Eva seakan katakan, "berani buka mulutmu, maka staples ini akan bekerja untuk menjahitmu."
"Jangan menatapnya, mengganggunya, menggodanya apalagi menginginkannya, Nona. Pria ini milikku. Hmmm?!" Lebih rapat ke kuping Eva Romero. "Tolong beritahu yang lain juga." Tegak berdiri. "Aku mengandalkanmu!"
Arumi Chavez menoleh pada Archilles, mengisi staples ke dalam tas Archilles seakan menyuruh pria itu gunakan lain kali pada Eva. Ia mengambil bunga dan berikan pada Archilles.
"Untukmu. Semoga sukses dengan pekerjaanmu, Tuan Lucca."
Arumi Chavez melambai pada yang lain. "Hai semua. Senang bertemu kalian. Mohon tidak menyulitkan Tuan Lucca." Membungkuk sedikit. "Sampai jumpa."
Melangkah pergi dan mendorong pintu kafe. Archilles bangkit dan ikut dari belakang terlalu terburu-buru. Arumi lepaskan pintu yang lekas berayun menabrak Archilles hingga pria itu meringis pegangi dahinya.
Mendorong pintu setelah mengumpat, lompati dua tiga tangga berhasil meraih gadis yang ia tahu sedang bersungut-sungut padanya. Memaksa Arumi berbalik.
"Aku tidur di bus dua jam agar bisa menemuimu. Kau brengsek!"
"Ketuk keningku!" pinta Archilles mendekap Arumi sembunyikan di dadanya. "Sedikit rumit di sini!" tambahnya eratkan pelukan. Ia sesak napas karena terlalu gembira. "Mohon pengertiannya."
"Aku sangat cemburu hingga ingin mencungkil matamu."
"Aku tidak bijaksana, ampuni aku."
Archilles menjauh sedikit amati wajah Arumi. Mengusap alis juga mata yang indah yang seakan sedang ungkapkan kegusaran padanya. Tersenyum lebar.
"Mau pergi denganku?"
"Aku sudah keliling tempat ini tiga kali sejak pagi."
"Ada water park tak jauh dari sini. Kita bisa terbang bersama di udara, di atas air. Mari pergi ke sana."
Archilles kembali memeluk Arumi, mengelus rambut lembut itu sedang berpasang-pasang mata awasi mereka.
"Kamu tak akan pernah coba mengganggu Guru kita atau Arumi Chavez akan kemari dan menjahit seluruh tubuhmu dengan staples, Eva Romero."
***