My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 25. Oh Mierda



Arumi Chavez masuk ke dalam mobil, mende*** kecewa.


"Di mana Archilles Lucca? Apakah Archilles pengawal ganda untuk seluruh anggota keluarga Diomanta?" Arumi Chavez mulai bersungut-sungut.


"Maafkan aku, Nona Arumi. Anda terpaksa harus lihat wajahku hari ini."


"Di mana Archilles Lucca?"


Kemarin sore Archilles pergi setelah berjanji akan menjemputnya. Pria itu kemudian tak terlihat lagi. Oh, apakah Archilles Lucca bocorkan pada Ethan Sanchez kalau dirinya akan kencan karakter dengan Tuan Miguel?


Ya, pasti Archilles. Dan apakah pria itu kabur kini darinya setelah menghasut Ethan Sanchez? Otak Arumi jungkir balik.


"Apa kamu beritahu Ethan Sanchez tentang kencan chemistry aku dengan Tuan Miguel, Leona?" tanya Arumi curiga.


"Darimana Anda berpikir begitu, Nona? Aku hanya kirimkan pesan pada Archilles Lucca karena Archilles yang bertugas menjaga Anda kemarin."


"Nah, di mana Archilles sekarang? Aku yakin dia adalah pelaku utama." Arumi Chavez mengulang pertanyaan sama ketiga kalinya.


"Bukankah Anda bersama Archilles seharian kemarin? Anda bahkan utarakan niat yang bikin Nyonya Besar hampir jatuh sakit kemarin pagi. Apa Archilles tak pamitan sebelum pergi?"


Mengapa pria itu selalu bohong padanya? Pikir Arumi murung. Apakah karena dirinya terlihat macam anak-anak, Archilles Lucca gampang saja perdayai dirinya?


Awas saja dia!


Harusnya Arumi tak ijinkan Archilles Lucca pergi. Saat pria itu kembali, Arumi akan borgol tangan Archilles di gerbang sekolah atau pada kemudi mobil sementara ia pergi sekolah untuk mencegah pria itu berkelana sesuka hati.


Ide bagus Arumi Chavez.


"Bisakah kita pergi ke Green Field nanti untuk menjenguk Uncle Hellton? Aku rasa kondisinya cukup buruk." Arumi cari alasan ..., tahu dengan baik, meskipun ia sangat sayang pada Uncle Hellton, ia lebih penasaran akan hal lain.


"Nona ..., Anda perlu beristirahat, besok sore Anda akan mulai syuting."


"Apa Archilles tak hubungimu? Setidaknya jika dia tak bisa menjemputku, dia akan hubungimu dan beritahu alasan padamu."


"Tidak, Nona. Aku tak terima kabar apapun darinya."


"Oh payah sekali dia." Arumi menyipit pada Leona, "Kamu tak sedang bersengkokol dengannya kan, Leona?"


"Nona ..., untuk apa aku lakukan itu pada Anda?!" bantah Leona. "Apakah pelayanan-ku buruk?


"Bukan masalah itu?"


"Lalu?! Mengapa harus Archilles?!"


Arumi alihkan pandangan keluar jendela mobil. Ia pikirkan jawaban, mengapa ia lebih suka melihat Archilles di belakang kemudi ketimbang Leona.


"Archilles pengertian padaku! Dia satu-satunya temanku."


"Aku akan coba lebih pengertian pada Anda dan berusaha jadi teman Anda."


Langit sering mendung belakangan, apakah musim hujan tahun ini akan dimulai? Lebih cepat? Apakah itu berarti Ethan Sanchez akan segera pergi? Oh ..., mengapa Arumi tak suka.


"Apakah hubungan Nona dan Tuan Ethan Sanchez berjalan lancar?" tanya Leona melihat pancaran gundah gulana di spion mobil.


"Apa aku terlihat patah hati?" Arumi bertanya balik teliti wajahnya di cermin.


Leona menggeleng. "Tidak juga. Wajah Anda ceria tetapi sedikit kelabu?!"


Tak ada rahasia berarti dalam hubungan Nona Arumi Chavez dan Tuan Ethan Sanchez. Semalam Tuan Ethan Sanchez kejutkan seluruh penghuni Diomanta saat menggendong Nona Arumi ke ruang tamu keluarga Diomanta, membungkuk minta maaf berulang kali karena tidak menjaga Nona Arumi dengan baik. Jelaskan luka lecet di mana-mana.


Nyonya Salsa Diomanta saking terharu, tampak ingin langsung melamar Tuan Ethan Sanchez untuk Puteri Muda Diomanta yang terkenal bawel, cengeng, manja dan agak bodoh; jika saja Tuan Ethan tidak segera pamitan dan pergi.


Setelah Tuan Ethan Sanchez pergi Nona Arumi bermain drama pusingkan semua orang. Gadis mereka segera panik, berlari turun dari kamarnya hendak menyusul Tuan Ethan Sanchez. Ternyata Nona Arumi sibuk terpukau pada pacarnya, lupa bahwa Nona Arumi punya tugas matematika yang harus segera dikumpulkan. Segera uring-uringan kemudian mencari Archilles Lucca. Segala hal semakin runyam sebab tak ada Archilles Lucca. Nyonya Salsa bahkan berusaha hubungi nomer Archilles dan tak ada hasil. Pria itu di luar jangkauan.


Leona tawarkan diri untuk membantu tetapi Nona Arumi yang sedang merajuk tak mudah dibujuk. Gadis itu mengunci diri di kamar, lewatkan makan malam dan buat Nyonya Salsa pening, tak mungkin menyuruh Puteri sulungnya yang sedang hamil muda datang untuk mengurusi Nona Arumi.


"Coba hubungi Archilles!"


"Sudah Nona, tapi masih tak terhubung."


"Bawa aku ke Green field, Leona! Hatiku berkata Archilles tak baik-baik saja. Aku bisa merasakannya."


Leona berpaling amati raut serius Nona Arumi, sampai segitunya?


"Apa Anda yakin?"


"Ya, mungkin kamu tak percaya padaku, tetapi aku gelisah tiap memikirkan Archilles. Dia punya luka menganga sepanjang ini ..." tunjuk Nona Arumi mengira-ngira panjang luka Archilles. "Seperti disabet belati. Sudah aku obati dengan plester, tetapi aku yakin dia pergi berkelahi lagi karena sikapnya sangat mencurigakan."


"Nona, jangan berprasangka buruk. Dengan siapa Archilles akan berkelahi?"


"Jika tak berkelahi dia tak mungkin punya bekas gigi di tangannya. Ya Tuhan, kamu kan pengawal pribadi, Leona?! Kamu tak tahu hal-hal sepele begitu? Aku tak mengerti masalah apa yang terjadi, keluargaku tak lagi terlibat dalam organisasi, tetapi Uncle Hellton terluka. Begitu pula Archilles Lucca." Nona Arumi sedikit mengamuk.


"Baiklah ..., baiklah Nona. Tenangkan diri Anda. Kita siap pergi dan bila perlu kita temukan Archilles Lucca hari ini, Nona?!"


Arumi Chavez segera bersandar mencari kenyamanan berubah siaga ketika berpapasan dengan motor Sarah Jessica masuki parkiran sekolah.


"Apakah dia tak punya kerjaan lain selain buntuti pacarku?" keluh Arumi Chavez segera teralihkan dari Archilles.


"Ada apa, Nona?'


"Leona berhenti! Stop! Stop, Leona!"


"Ada apa, Nona? Bukankah kita harus pergi?" Leona refleks injak rem. Susah juga mengawal majikan yang satu ini. Muda, labil dan banyak maunya.


Mata-mata Arumi Chavez bak elang mengintai mangsa berubah semakin lebar. Ethan Sanchez keluar dari gedung sekolah menuju parkiran sedang Norah Milan mengekor dari belakang dengan setumpuk map di tangan dan mencegat pacarnya yang hendak pulang. Segera saja Arumi diliputi kabut cemburu setebal es di kutub Utara.


"Ini lagi? Apa dia tak bisa kerjakan masalahnya sendiri? Haruskah selalu mencari Ethan Sanchez?"


"Bisa beritahu aku, apa yang terjadi Nona?" tanya Leona berusaha mencerna situasi.


"Apa mereka tak tahu Ethan Sanchez pacaran denganku? Harusnya sikap Ethan Sanchez tadi siang cukup jelaskan pada para gadis bahwa Ethan Sanchez sedang pacaran denganku? Masa gadis secerdas Norah Milan tidak peka padahal prestasinya bagus? Kurasa peringkatnya bagus karena sering menyontek."


Arumi memanas di tempatnya duduk. Norah Milan sekarang berdepetan dengan pacarnya dan Ethan Sanchez yang sangat tampan sibuk terangkan sesuatu.


"Kurasa Anda kurang go public," sahut Leona.


"Ayolah, kami go public hari ini! Kepala sekolah sampai cleaning service sekarang tahu hubunganku dan Ethan."


"Oh ya?!"


"Ya."


"Di sekolah mungkin biasa saja, Nona. Coba sesekali Anda berkunjung ke tempat Tuan Ethan bekerja, minum bersama di kafe, sedikit ... ehem ... ehem ...." Leona contohkan dengan tangannya membentuk dua orang yang sedang kiss. "Anda lalu selfie berdua dan mengunggahnya di sosial media agar para gadis tahu Tuan Ethan Sanchez sedang pacaran dengan Anda."


"Leona, kamu bersemangat sekali ya?"


"Terima kasih, Nona! Aku mencoba pengertian pada Anda." Leona malu-malu.


"Apakah otakmu sedang sakit?"


"Hah?!" Leona berpaling ke belakang dengar bentakan kasar Nona Muda.


"Archilles Lucca melarang aku, 'ehem ... ehem...' dengan Ethan Sanchez di tempat umum atau media akan melahap aku tanpa belas kasihan."


"Oops, Archilles Lucca benar. Aku tarik kembali ideku, Nona. Otakku memang sakit."


"Apakah keningmu butuh dapat tiga empat ketukan agar sadar?"


"Silahkan Nona. Jangan ikuti saranku."


"Tetapi Leona ..., idemu boleh juga." Nona Arumi tampak berubah pikiran. Para gadis terus mengganggu pacarnya dan Arumi tak suka. Ia akan pergi ke media sosial dan mengekspos kisah mereka.


Haruskah?! Arumi menimang.


Tidak harus!


Alih-alih dapatkan pengakuan, kehidupan pribadi Ethan bisa disorot dan mungkin saja akan berakhir buruk pada Ethan dan dirinya juga.


Ethan Sanchez terlihat beberapa waktu kemudian kali ini bersama Sarah Jessica. Arumi meraih handling mobil hendak turun tetapi diurungkan sebab Ethan Sanchez datangi mobil mereka sementara Sarah memeluk pinggang pacarnya. Menjengkelkan.


Motor berhenti di sisi mobil dan Ethan Sanchez mengetuk kaca mobil. Arumi turunkan kaca tak sembunyikan wajah masam.


"Arumi ..., kamu masih di sini?" tanya Ethan Sanchez sadari raut kemerahan menahan kesal Arumi. "Aku akan bersama Sarah pergi ke rumah sakit karena adikku sedikit bermasalah."


"Apakah Dandia sakit?" Itu yang paling mungkin karena mirip kakaknya, Dandia hanya dikenal karena cerdas.


"Ya, mimisan dan pingsan di kelas. Ibu Ethan menelpon aku. Jadi, aku mampir kemari sekalian menjemput Ethan."


Sarah menjelaskan segalanya termasuk waham baru bahwa ia sangat dekat dengan keluarga Ethan, sampai-sampai dirinya adalah orang pertama yang ditelpon Ibu Ethan Sanchez bukan Marya kakaknya atau Reinha Durante, bukan kepala sekolah atau guru Anastasia. Arumi bertambah-tambah cemburu.


"Oh, taruh motormu Ethan! Naiklah bersamaku, kita akan pergi bersama." Menoleh pada Sarah Jessica. "Sarah, kamu bisa naik motor sendiri kan? Mobil ini hanya cukup untuk aku dan Ethan."


"Arumi ..., siang begini sering macet. Ibuku sedang menuju sekolah Dandia dengan taxi dan akan antarkan adikku ke rumah sakit terdekat."


"Baiklah! Pergilah Ethan, semoga Dandia baik-baik saja. Aku juga harus pergi mencari Archilles Lucca. Kabari kondisi Dandia pada kami, Ethan. Aku akan berkunjung nanti. Mari kita pergi Leona."


Kaca mobil dinaikan.


"Oh Sarah, bisakah kamu bawa motorku?! Aku akan naik mobil bersama Arumi. Kita akan bertemu di Rumah sakit Lucíadas."


Ethan Sanchez sekonyong-konyong turun dari motor, tinggalkan helm pada Sarah.


"Eh? Apa yang terjadi? Bukankah pakai motor lebih cepat sampai?" tanya Arumi keheranan saat Ethan tahu-tahu menyerobot masuk mobil.


"Apa kamu merasa repot aku menumpang?" tanya Ethan Sanchez.


Arumi menggeleng. "Tidak! Tetapi ini akan lebih lama."


"Leona bisa nyalakan GPS dan mengunduh maps. Kita bisa hindari jalur ramai pergi ke Rumah Sakit Lucíadas."


"Oh, Ethan Sanchez ..., aku tak apa. Abaikan perasaanku. Kamu bisa bersama Sarah dan berpelukan sepanjang jalan ciptakan kenangan. Saat musim dingin berakhir bergabunglah dalam satu universitas, satu asrama dan berbagi hal-hal manis. Aku akan berjalan di jalanku sendiri."


"Arumi Chavez?!" Sorot mata Ethan Sanchez berubah tajam. "Apakah kita perlu berdebat sekarang? Sarah ..., temanku. Jika ingin selalu bersamaku seperti Sarah. Mari kembali ke beberapa Minggu lalu. Berhenti main drama, bekerja denganku di kafe. Kita bisa terus berduaan dan berdekatan."


"Kamu kedengaran egois, Ethan."


"Mari pergi Leona. Kita akan menuju Rumah Sakit sambil dengarkan apa mau gadis ini dariku?"


Mobil melaju menyusuri jalanan, sementara Arumi dan Ethan diam-diaman.


"Kita punya waktu 10 menit, Arumi Chavez. Apa kamu akan gunakan untuk hening-kan cipta?"


Ethan Sanchez berpaling pada Arumi.


"Biar kulihat wajahmu!" pinta Ethan Sanchez memaksa Arumi berbalik padanya. "Apa masih sakit?"


Arumi menggeleng. "Tidak."


"Baiklah. Jadi, Arumi Chavez jika punya keberatan-keberatan mari kita selesaikan."


"Aku akan terus syuting Bittersweet Married, Ethan. Aku tak bisa berhenti di tengah jalan."


"Baiklah," angguk Ethan Sanchez tak ingin bertengkar. "Ada yang lain?"


"Sarah!"


"Dia temanku, Arumi. Aku dan Sarah, kami habiskan banyak waktu belajar bersama. Jangan melihatnya sebagai saingan. Kamu bisa berteman dengannya juga."


"Baiklah," angguk Arumi.


"Paling utama di sini, gadis lain tak begitu menarik bagiku. Hanya seorang gadis tingkat satu yang sangat-sangat ceroboh bernama Arumi Chavez."


Ethan Sanchez awasi Arumi, cara gadis itu tak tersipu padahal wajahnya mulai memerah lagi.


"Apa kita berdamai sekarang?" Ethan Sanchez ulurkan tangan dan menggenggam tangan Arumi erat, menarik Arumi bersandar di bahunya. Mereka tak bisa pacaran di tempat umum atau akan dihujat terlebih netizen yang membenci Arumi.


Arumi mengangguk setuju. "Baiklah." Tersenyum di atas pundak pacarnya.


"Lihat ke depan, Leona. Jangan sampai kita berakhir di IGD," tegur Ethan saat dapati Leona mengintip mereka. Leona terbatuk-batuk kecil kembali fokus ke jalanan. Ada dua orang yang bisa atasi sikap bossy Nona Arumi, Ethan Sanchez dan Archilles Lucca.


"Apa kamu merasa baikan, Arumi?"


"Ya. Terima kasih."


"Archilles mengirim pesan pada Marya Corazon bahwa ia akan berada bersama pamanmu selama lebih dari dua Minggu, Arumi. Kamu akan bersama Leona sementara waktu."


"Kapan?!" tanya Arumi mengerut bangun dari pundak Ethan Sanchez.


"Aku tak tahu pasti. Kamu bisa bertanya pada Marya."


Sisa perjalanan kemudian hanya habis dalam sunyi. Di tahun-tahun mendatang, Arumi sanksi mereka akan begini. Ethan Sanchez mungkin saja akan bertemu gadis lain di universitas yang bisa buatnya jatuh cinta dan Arumi Chavez tak menaruh banyak harapan. Ia hanya akan mainkan melodi di hatinya dan jatuh cinta. Tak ingin melihat masa depan termasuk harus ciptakan doktrin Ethan Sanchez terlahir untuknya.


"Arumi ..., kurasa kita tak akan bisa hindari pertemuan-mu dengan keluargaku."


"Apa aku pergi saja, Ethan?!"


"Tidak harus. Ibuku tak suka aku pacaran di usia sekolah. Kamu mungkin tak akan dapat respon bagus darinya. Ditambah aku pertimbangkan kembali pertukaran pelajar ke Australia, aku rasa Ibuku sedikit penasaran sekaligus terganggu tentangmu."


"Oh, tak apa kamu anggap aku pecundang Ethan, aku tak bisa bertemu Nyonya Sanchez sekarang."


"Tenanglah!"


Arumi gunakan masker, juga topi dan kaca mata. Menghindari resiko yang tidak penting ikuti Ethan Sanchez pergi ke lobi memeriksa ruangan Dandia. Leona muncul dengan seikat bunga dan berikan pada Arumi.


"Oh Leona, terima kasih banyak."


"Aku sedang coba pengertian pada Anda, Nona."


Begitulah mereka pergi ke ruangan tempat Dandia dirawat. Ethan Sanchez pegangi tangan Arumi melangkah bersama.


Pintu rumah sakit didorong. Sarah di dalam bersama seorang wanita dan Arumi telah menahan napasnya sejak tadi.


"Ibu, maaf aku telat datang."


"Ethan?"


Mengerut pada gadis di sebelah Ethan. Arumi tersenyum lepaskan masker juga kaca mata dan topi.


"Nona Arumi Chavez?!" Dandia memekik girang. "Kamu berkunjung?"


Dandia terbaring di atas ranjang putih sedang selang infus ditanam di tangannya. Lebih tertarik pada Arumi dibanding kakak laki-lakinya.


"Hai ..., Dandia selamat siang. Apakah kamu baik-baik saja? Cepat sembuh ya," balas Arumi selekas mungkin datangi Dandia. "Selamat siang, Nyonya." Menyapa ke sebelah ranjang pada wanita seumuran Salsa Diomanta yang tampak sedang menilainya.


"Oh Nona Arumi, sungguh kejutan kamu berkunjung. Kamu lebih cantik dari yang ada di papan iklan. Aku senang kakakku pacarimu. Dia punya poster-mu seukuran layar bioskop dalam kamarnya."


"Aish bocah ini!"


"Oh ya?" Arumi tersenyum lebar penasaran foto mana yang pacarnya taruh dalam ruang tidur.


"Ethan juga kelabui Ibuku, katanya cuma foto artis favoritnya dan ibuku percaya."


Ethan Sanchez longgarkan dasi sekolah terlihat ingin menggampar wajah adiknya dan menyumbat mulut adiknya dengan dasi.


"Oh ya?!" Ethan Sanchez benar-benar bikin Arumi tercengang.


"Aku tahu kalian pacaran sejak malam Ethan Sanchez menyuruhku bawakan kalian makanan karena kalian akan menginap bersama."


Ini sudah tak benar. Mengapa Dandia menjadi terlalu jujur?


"Ethan?!" Wajah Nyonya Sanchez mengerut penuh kekecewaan. "Menginap bersama seorang gadis tanpa sepengetahuanku?"


"Gadis ini tak bisa dipercaya," keluh Ethan Sanchez berdecak pada Dandia. Hari paling sial, habis dibantai Reinha dan Claire, lalu Marya buka rahasianya kini giliran adiknya yang usil.


"Dandia salah paham, Mom! Bukankah Dandia terlalu bawel untuk ukuran orang sakit? Kamu mimisan atau cari perhatian? Masih saja cerewet?" Ethan Sanchez datangi adiknya memeluk Dandia erat berniat mencekik leher Dandia. "Kurasa dia sehat sekarang setelah bertemu idolanya." Memeluk lebih kencang.


"Ethan, sakit!"


"Aku menyayangimu, Dandia Sanchez. Hmmm?! Sangat!" Menepuk bahu Dandia kuat.


"Ethan?!" Dandia mengeluh.


"Bodoh ..., setelah ini kembalikan uang tutup mulut yang aku lemparkan padamu malam itu!" bisik Ethan Sanchez di kuping Dandia penuh ancaman sedikit longgarkan pelukan.


Dandia tersenyum jahil.


"Kau yakin akan menagih uangmu lagi?"


"Ya, buka mulutmu dan muntahkan kembali uangku!"


"Baiklah. Lalu ..., aku akan beritahu Mommy bahwa kau menyimpan foto hot Nona Arumi di ponselmu."


Oh Mierda!!! (Oh sial!!!)


***


Di Heart Darkness kalau ada yang benar-benar resapi, bisa tebak karakter Dandia ya. Dari awal dia muncul, jelas agak rese-rese gimana gitu.


Chapter seriusnya nanti ya. Aku lagi gak begitu mood buat nulis.