My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 30. Meu gusta ti, Amor



Anna Marylin selesai memeriksa seorang pasien.


"Obatnya diminum. Ini antibiotik, harus habiskan, Nyonya Bryan. Jaga pola makan Anda, banyak istirahat, konsumsi air putih juga sayuran. Tolong gunakan masker selalu agar tidak menyebarkan virus pada anggota rumah. Bila perlu, isolasi mandiri Nyonya hingga tidak mewabah."


"Baiklah, Dokter."


"Semoga cepat sembuh."


Wanita yang dipanggil Nyonya Bryan mengangguk lesu.


"Terima kasih, Dr. Anna. Kami beruntung miliki Anda di klinik ini." Bicara dari balik masker.


"Ambil masker gratis di bagian loket, ya!"


"Terima kasih, Dokter Anna."


Anna Marylin tersenyum lembut. Sementara pasien berlalu, ponselnya berdering. Panggilan dari Black Hole. Anna hempaskan punggung pada sandaran kursi kerja.


Jika, alam semesta miliki Black Hole dengan gravitasi paling kuat hingga menyerap apa saja di sekitarnya ..., maka ..., Black Hole di muka bumi adalah sebuah terowongan terbengkalai, menyerap semua cahaya di sekitarnya jadi pekat dan sesat.


Di sana hanya ada kegelapan. Kejahatan tumbuh subur, teroganisir baik tanpa ada yang berani putuskan akarnya. Sangat mengerikan. Black Hole tak miliki aturan. Orang bebas gunakan pistol untuk membunuh. Pelanggaran hak asasi manusia bahkan libatkan orang-orang koruptor di pemerintahan.


Dari Black Hole, Anna hidup. Ia lakukan pembedahan minor juga mayor di bawah mata-mata buas bahkan todongan senjata. Ya, ia adalah dokter bagi para mafia yang menghindari rumah sakit.


Telpon terus berdering, Anna abaikan. Suster Anna tak bawakan daftar pasien dalam sepuluh menit, hingga Anna memanggil.


"Suster Emma, apakah masih ada pasien?"


Tak ada sahutan.


"Suster Emma?!"


"Ya, masih!"


Bukan suster Emma, suara lain yang tak asing, Anna Marylin bernapas kuat tahu siapa yang menjawab panggilan. Segera, Itzik Damian berdiri di ambang pintu mirip malaikat pencabut nyawa. Bersandar santai.


"Apa pangeran kabut putih terluka saat bermain pedang?" tanya Anna Marylin menulis catatan kecil, tempelkan di kalender peringatan.


Cheryl, Piglet butuh Vitamin C. Panggil Owl kembali ke sarang untuk bernyanyi malam ini!


"Aku bukan pangeran kabut putih, Anna."


"Apa keluhan-mu?!" tanya Anna.


Itzik Damian mendekat, datangi Anna. Ia duduk di hadapan Anna.


"Lidahku berbulu hitam."


"Apa ..., sakit?"


"Tidak! Aku hanya terganggu!"


"Coba kulihat? Julurkan lidahmu!"


Anna pegangi senter kecil periksakan kondisi mulut Itzik.


"Berhenti minum beralkohol dan merokok. Mereka mungkin akan memutih seperti bagian tubuhmu yang lain."


"Hanya itu?" Itzik Damian mengeluh.


"Periksakan dirimu ke dokter gigi. Mereka mungkin temukan virus atau sejenis bakteri di lidahmu."


"Menakutkan!"


"Berhenti berkeliaran di klinik dengan mantel putihmu. Pasien sekarat akan berpikir telah melihat hantu."


"Menggelikan untuk di dengar. Hedgar menyuruhku menjemputmu, Anna. Pernikahan kalian akan berlangsung."


"Aku masih punya pasien."


"Aku pasien terakhir. Aku menolak resep dokter. Anna, Hedgar tak suka menunggu."


"Dia bisa nikahi wanita lain yang ingin buru-buru jadi istrinya. Kamu bisa carikan seorang gadis untuknya! Aku lihat di Old Harbour Pub banyak wanita bersedia dimiliki Hedgar."


"Andaikan semudah itu. Pria itu terlihat brengsek dalam kejahatan, tidak dengan wanita."


"Kamu seperti temanmu, suka membual."


"Ayolah, Anna. Jangan sampai Hedgar datang kemari."


Hidup Anna Marylin belum pernah sekacau ini sebelumnya. Ia memang berada di dunia kelam, keras juga hitam, tetapi semuanya baik-baik saja. Sampai hari ini, ia akan nikahi Hedgar Sangdeto demi keselamatan teman-temannya.


Anna Marylin tak bisa lari. Kabur bukan karakternya meski pedang terhunus tepat di lehernya. Ia melangkah keluar ruangan setelah menggantung jubah dokter. Itzik ikut di belakang.


Pintu klinik terbuka Anna sangka Hedgar yang tak sabaran. Ternyata, Laurent Vincenti di ujung sana bersama beberapa anak buahnya. Salah seorang di antara mereka memanggul seorang remaja yang merintih kesakitan di punggung; Young Vincenti.


Anna melirik ke belakang pada Itzik Damian yang tiba-tiba menggeram bak macan melihat singa, bersiaga. Mereka bermusuhan setelah berbagi tugas menjarah. Pembagian hasil jarahan mungkin tidak memuaskan salah satu pihak.


Luar biasa.


"Anna Marylin ...," sapa Laurent Vincenti tenang.


Pria ini adalah psikopat lainnya. Puteranya yang belasan tahun sangat suka berkelahi, selalu berakhir dengan luka-luka. Buah jatuh tak jauh dari pohon, like father like son. Peribahasa sempurna gambarkan Laurent dan puteranya, Young Vincenti.


"Dokter Cheryl akan menanganinya, Laurent. Aku ada urusan."


"Urus dulu puteraku, Anna!" Menarik senjata, arahkan pada Anna. Laurent tak akan menembaknya.


Serangan mendadak jelas saja memancing Itzik Damian ikut keluarkan senjata. Pistol berwarna putih monokrom di tangan seputih salju nyaris transparan.


"Apakah kau juga butuh perawatan, Manusia Salju? Tolong menyingkir, Anna milikku hari ini."


Itzik menyeringai. "Mataku terus melihat pecundang terbaik yang tidak tahu caranya menang, tetapi terus menganggap diri mereka pemenang. Ayah pecundang, anaknya pun pecundang."


"Kamu terdengar merdu ketika mulutmu terkatup," balas Laurent sedikit mengancam.


Itzik Damian berbalik ke kaca menahan cemoohan di wajah putihnya.


"Anna, mari kita pergi," ajak Itzik pada Anna Marylin, tak ingin ladeni Laurent.


"Anna?!" Laurent menatap Anna Marylin tajam, turunkan senjata. "Puteraku butuh pertolongan. Lakukan demi kemanusiaan."


Ketika menarik pelatuk habisi nyawa orang mereka tak ingat tata krama kemanusiaan.


"Itzik, beri aku waktu," pinta Anna Marylin.


"Anna, jika kita tak datang dalam 10 menit, dia akan kemari."


Anna Marylin mengangguk ke dalam pada Laurent, "bawa Young ke dalam!"


Lalu ..., berbalik pada Itzik.


"Aku tak bisa abaikan orang yang terluka, karena aku dokter."


Melangkah pergi sedang Itzik Damian mendapat panggilan dari Hedgar, menggeram jengkel.


"Hedgar ..., ada sedikit kendala."


Umpatan terdengar dari seberang. Mata Itzik Damian awasi semua pengikut Laurent.


Anna Marylin sangat cepat mengambil tindakan setelah memeriksa kondisi fisik si remaja yang terus mengigau.


"Tutup mulutmu, Young!" bentak Laurent kedapatan kesal pada puteranya.


Remaja berusia 17 tahun ini, Young Vincenti; tampan juga cute, tetapi sangat berandalan sama seperti ayahnya. Hari ini Young bertarung, terluka, sekarat dan hampir mati. Dua Minggu dirawat, ia pulih. Minggu ke-empat ia akan memulai tawuran dengan geng lain. Ia bertarung lagi, dikalahkan atau menang ..., dengan banyak luka. Young tampak bergairah pada siklus kehidupan urakannya itu.


Laurent Vincente, sang Ayah, akan mulai menelpon Anna, memaksa Anna lakukan sesuatu. Terakhir kali terluka, Queena pergi ke Black Hole untuk obati Young karena Anna Marylin harus mengurus kekasih H yang terluka dianiaya oleh adik perempuan Hedgar.


"Ini terakhir kali kamu dapatkan perawatan!"


Ada banyak planet semirip bumi di jagad raya luas. Coba salah satu diperuntukan khusus bagi para orang gila ini? Jika ada amalan untuk proyek misi menerbangkan para psikopat seperti Hedgar Sangdeto dan Laurent Vincenti ke luar angkasa, Anna akan jadi donatur resmi.


"Luka ..., tak pernah dirawat lagi hingga infeksinya menyebar. Kakinya bernanah dan mulai membusuk. Tunggulah di luar, aku akan mengurusnya." Anna beri penjelasan dari balik masker setelah memakai handscoen, menarik troli bertingkat berisi alat-alat perawatan luka. Ia mengusir Laurent Vincent. Si pria bergeming; Hanya intens membidik Anna Marylin.


"Apa kamu rasakan kami?!" tanya Laurent Vincenti pada Anna Marylin yang telaten mengatur letak bahan dan alat yang akan ia gunakan.


Anna Marylin mengangkat bahunya. "Aku ..., mati rasa."


"Nikahi aku, Anna Marylin! Puteraku membutuhkanmu! Aku akan berikanmu banyak uang. Kamu bisa membangun klinik lebih besar dan megah." Laurent Vincent tanpa basa-basi melamarnya. H dan Ax, sering ingatkan Anna Marylin bahwa Laurent mencarinya untuk dijadikan istri dan ibu.


"Kamu kalah cepat," sahut Anna Marylin acuh tak acuh masukan kasa steril ke dalam wadah kering, sirami NaCL.


Kasa kemudian ditaruh dipinggir luka, sedikit ditekan hingga nanah muncul di permukaan. Sekali usap cairan pekat putih abu-abu, melengket. Dibuang. Anna dengan sabar lakukan berulang kali hingga luka benar-benar bersih.


"Anna?!"


"Laurent, urus Young dengan baik! Berapa usiamu? Berapa nyawamu? Bukankah kamu banyak uang? Cari wanita yang baik untuk mengurusmu dan Young! Apakah tak ada kebaikan dalam dirimu sama sekali?" kritik Anna Marylin, keringkan luka dengan kasa kering.


"I want to be with you (Aku ingin bersamu)."


Anna menggeleng. "Aku tidak!"


"Apakah pria itu, Hedgar?!" tanya Laurent penuh permusuhan.


Hening. Anna Marylin tak menggubris Laurent, sangat lembut, kasa di tangannya menari di atas permukaan luka.


"Ya, pria itu aku. Anna akan menikahiku! Menjauh darinya!" Hedgar Sangdeto berdiri di muka pintu.


Anna Marylin mengangkat wajah sejenak dapati Hedgar bicara sebeku es, tetapi menahan murka menyala-nyala di bawah sana.


Anna Marylin kembali ke pekerjaannya. Sadari bahwa kehadiran Hedgar untuk pernikahan mereka tanpa sengaja sebabkan ia tertekan secara emosional.


"Satu pemenang, sisanya pecundang!" olok Hedgar senang pada raut Laurent Vincenti.


"Agungkan kemenangan yang diperoleh dengan kecurangan? Kita harus sepakat siapa 'Sang Pecundang' di sini!"


Hedgar tak terima dikatai pecundang dari caranya balas menatap Laurent. Anna Marylin bereskan alat-alat, hempaskan dengan keras sebagai tanda akhiri pertikaian atau ia akan membius keduanya, lemparkan mereka keluar klinik.


Suasana berubah hening. Anna lalu mencuci tangan. Sementara ia bekerja, dua pasang mata awasi-nya.


"Cheryl akan mengurus sisanya, Laurent. Hanya Cheryl yang tersisa untukmu. Jangan berulah!" Anna lepaskan masker.


"Jauhkan tanganmu darinya!"


Hedgar tak diduga-duga menendang rak susun pada Laurent hingga pegangan tangan pada Anna terlepas. Bunyi benda berderak menarik perhatian anak buah masing-masing seperti aba-aba, saling acungkan senjata.


Ya Tuhan! Bisakah mereka tenggelam saja ke dalam perut bumi?


Anna mengangkat kedua tangannya, menyerah. Ia tak akan sanggup hadapi dua pria gila ini saat mereka saling menggigit.


Ghost dame!


"Hedgar ..., mari kita pergi!" Nada Anna penuh perintah.


"Aku menembak mati semua yang berani menyentuhnya!" kata Hedgar nyaris berbisik.


"Oh ya?!" balas Laurent meledek. "Zayang sekali, Anna sering menyentuhku saat aku terluka. Kami pernah bersama di malam Natal, berkemah di hutan Pinus penuh salju."


Hedgar tak tahu atasi amarah di kepalanya terlebih Laurent Vincenti sengaja memancing perseteruan. Datangi Laurent, arahkan pistol bersiap menembak.


Anna Marylin berubah sangat kesal.


"Hedgar?! Kamu ikut aku ke pernikahan atau kamu dan Laurent bisa saling mencincang tubuh kalian untuk makan malam spesial singa-singa lapar? Aku sangat-sangat tak keberatan. Kita bisa lupakan pernikahan ini!"


"Mari tembak aku!" pancing Laurent bentangkan tangan.


"Laurent?! Berhenti membual! Urus Puteramu! Setidaknya Young akan jadi satu-satunya orang yang berdiri di sisimu kuburkan jenazah-mu!" ujar Anna Marylin keras pada Laurent.


Anna Marylin pergi keluar ruangan, berjalan di tengah-tengah di antara senjata yang saling teracung.


"Keluar dari sini!" bentak Anna Marylin pada kedua kubu.


Sementara Itzik Damian tampak menikmati pertunjukan. Kakinya menyilang, bersandar di tembok bak foto model. Warna kulitnya dan warna tembok menyatu menjadi satu-kesatuan. Pria itu terlihat tidak nyata.


"Anna Marylin, Anda membuatku terpesona. Sungguh. Sayang ..., Anda terlalu tua untukku, aku miliki seorang gadis idol di hatiku."


"Aku pikir kamu akan nikahi Puteri dari dunia game."


"Lucu!" balas Itzik. "Dia ..., lebih indah dari Dewi-Dewi dalam game."


"Aku penasaran."


"Kamu mau lihat? Ini dia!"


Ponsel pada layar tunjukan seorang gadis dengan bunga Peony pink di tangannya. Kecantikan muda yang menyilaukan.


Anna mengerut, "Kamu tak akan mengganggunya, Itzik Damian!"


"Mengapa?"


"Aku peringatkan-mu!" Anna tiba-tiba berbalik, acungkan satu telunjuk depan hidung Itzik. "Jangan sampai kamu terlihat di dekatnya!"


"Baiklah, aku hanya mengaguminya!"


"Sebaiknya! Jika kamu berani macam-macam padanya, ada lebih dari empat klan yang akan memburu kepalamu!"


"Aku tak takut, Anna!"


"Coba saja!" tantang Anna. Pekerjaannya bertambah. Arumi Chavez Diomanta terlalu lemah tanpa perlindungan Archilles Lucca. Sunny Diomanta mengambil alih semua bisnis sedangkan Marion Davis terlalu sibuk mengurus perusahaan tanpa Hellton Pascalito. "Berapa usiamu?" tanya Anna Marylin kembali melangkah alihkan topik.


Anna ajak Itzik mengobrol santai seolah ia adalah wanita yang akan jadi ibu sambung untuk pria albino yang melangkah di belakangnya. Ia akan mengontrol Itzik Damian dan mengirim peringatan sedini mungkin pada Sunny Diomanta.


"Aku tak tahu. Aku tinggal di panti asuhan. Bisakah ambil sampel pada tubuhku untuk ketahui usiaku?"


"Beberapa suku primitif percaya bahwa tulang dan darah orang-orang terlahir albino sepertimu bisa sembuhkan berbagai penyakit. Mereka sering berburu! Berhati-hatilah!"


"Apa kita mulai dekat?" Itzik sunggingkan senyuman. Bibirnya bahkan putih.


"Tergantung!"


Mereka sampai di mobil, Itzik membuka pintu mobil.


"Jangan membuatnya marah, Anna. Please."


Hedgar datang kemudian giginya tak berhenti berbenturan. Gerakannya sangat cepat saat ayunkan tinju pada Itzik hingga si pria terjungkal. Tak puas ia lakukan lagi, menarik kerah mantel, ayunkan kepalan tangan. Wajah putih Itzik kuncurkan darah begitu kontras. Putih dan merah.


"Sekali saja ..., cukup sekali saja kerjakan segala hal dengan benar," amuk Hedgar lampiaskan amarah. "Apa susah untukmu, Brengsek? Kau sengaja buatku marah?" Menendang bertubi-tubi.


Itzik jatuh, bangun lagi kemudian menyeringai. "Apakah Laurent mengatai-mu pecundang? Atau karena Laurent menyentuh Anna?!"


"Bunuh keparat itu dan puteranya!"


"Tidak sekarang, Hedgar. Apakah kamu akan nodai tangan dengan darah di hari pernikahanmu?" Itzik mengusap darah di ujung bibir pecah, menepuk pundak Hedgar. "Ayolah, Bung. Kita urus dia nanti! Pengantinmu menunggu!"


"Bawa Tatiana padaku!"


"Adikmu berlari, aku malas mengejarnya! Mari tunggu dia tersandung, kita bisa memungutnya nanti."


"Menjijikan karena hanya tersisa Tatiana untuk jadi saksi pernikahanku!"


"Apa kamu akan nikahi Anna di gereja?!"


"Kamu mengolok-olok aku juga?"


"Lalu? Mengapa menunggu Tatiana? Aku saja cukup! Masuk sana sebelum Anna Marylin berubah pikiran!"


Itzik Damian mengangguk ke dalam mobil pada Anna Marylin yang menonton keduanya, muak. Hedgar mengatur jaket, masuk ke dalam.


"Kamu benar-benar pria tanpa martabat dan rahmat, Hedgar!" sambut Anna Marylin. Sikap buas Hedgar adalah masalah nomer satu.


"Aku tak butuh keduanya! Pakai Gaunmu, Anna. Aku pilihkan satu yang paling indah."


"Aku tak percaya orang sepertimu gunakan kata 'indah'."


Anna Marylin di bawa ke sebuah tempat, cukup jauh dari kota, private villa di tengah hutan Pinus, berganti cepat dibantu beberapa wanita.


Dalam balutan gaun hitam pekat, Anna Marylin digandeng pergi ke tengah taman villa. Di sana puluhan man in black, berkaca mata hitam berbaris rapi. Terang saja, salah satu kepala gangster akan menikah. Di antara hitam seorang Padre berjubah putih berdiri, atau sesuatu yang palsu, pikir Anna Marylin, menunggu mereka di depan sebuah podium kecil.


Itzik Damian mirip manekin di sebuah mall ketika memakai jas hitam-hitam.


Pernikahan berlangsung cepat. Cincin tersemat. Akhir dari ritual yang bahkan Anna Marylin tak menyimak hanya membeo ucapkan sumpah, menerima kecupan di kening ..., tak ada ciuman panjang ..., adalah ia sah menjadi istri Hedgar Sangdeto.


Pernikahan selesai ditandai deru berlongsong-longsong peluru lepas dari banyak pistol puluhan anggota geng yang hadir. Letusan pergi bersama asap naik langit, entah doa apa yang diucapkan. Mereka bersorak sorai setelahnya menyambut The Queen Anna. No balon, no merpati, just gun.


Anna Marylin berdansa sebentar dengan pengantin pria yang terlalu bergairah padanya, tetapi dikendalikan sangat baik. Kemudian ia digiring kembali ke bagian dalam vila.


Sementara pesta perayaan di bawah sana akan segera dipindahkan ke Old Harbour. Sangat rapi tinggalkan vila satu persatu, sisakan beberapa penjaga.


Masuki ruang tidur, beruntungnya, tidak sepekat Hedgar meski terkesan monoton dan dingin.


"Maaf ..., tak ada bunga."


Hedgar bicara di tengkuknya.


"Bunga tak cocok denganmu," sambung Anna. Marylin menjauh ke arah cermin. Setidaknya Hedgar pria normal dalam percintaan, bukan psikopat yang menaruh tiang, rantai, cambukan, borgol lalu menyiksa pasangan sebelum bercinta.


Walau demikian, Anna tak akan lebih lama dari 365 hari bersama Hedgar. Ia akan membunuh suaminya begitu ketemu kesempatan bagus.


Gadis-gadis bergaun hitam, masuk. Diketahui semua gadis bernama Anna.


"Kami akan membantu Anna melepas gaunnya."


"Kami bisa sendiri! Pergilah!" usir Hedgar.


Pintu tertutup. Hedgar lepaskan pakaian dalam gerakan lambat sambil menatap Anna Marylin seakan berkata, kita akan memulai segala hal, umpan-kan tubuh idealnya, gagah dan menarik.


"Bagaimana buatmu terpesona padaku, Anna Marylin? Aku punya tubuh sebagus atlet olahraga."


Suasana berubah hening.


Anna Marylin lekas mencela. "Aku melihat bisep dan lats para penjahat hampir tiap hari, juga beberapa pria bodoh yang sia-siakan otot mereka tegal unjuk kejantanan. Aku bahkan membantu beberapa dari mereka perbaiki bagian dalam ************ yang bocor akibat terlalu gegabah."


"Aku berbeda, Anna."


"Aku ..., dokter, kebal pada tubuh pria, Hedgar."


Anna Marylin menggapai pengikat gaun, lepaskan satu persatu.


"Aku akan membantumu!"


"Diam di tempatmu, Hedgar!"


Gaun kemudian melorot ke lantai sisakan sesuatu yang lebih primitif. Atasan berenda hitam juga bawahan. Pantulan indah di kaca membungkam Hedgar. Pria itu bernapas pelan, melangkah ke arah Anna. Tangannya terulur.


"Apakah kita bisa bersama malam ini?"


Anna Marylin berbalik cepat, gunakan kedua tangannya membekuk leher Hedgar sebelum pria itu menyentuhnya hingga si pria mundur menjauh.


Hedgar lemas-kan otot lehernya sementara Anna memutar jemarinya.


"Aku bersyukur Iblis tak jatuh cinta padamu, Anna."


Hedgar amati Anna Marylin yang hanya menatapnya.


"Luxuriosa!" Bertepuk tangan karena antusias.


Anna separuh berlari, bentangkan satu kaki di udara akan menyambar tubuh si pria, Hedgar hanya perlu berputar di tempat. Satu tangan terulur menyambar tubuh Anna, hempaskan ke ranjang. Ia ikut menerkam ke sana. Anna Marylin berguling ke sisi lain, tetapi Hedgar lebih dulu bangkit hentakan selimut penutup ranjang hingga Anna kehilangan keseimbangan. Terjatuh.


Hedgar sangat cepat memutar benda ditangannya. Keahlian Hedgar buat Anna terombang-ambing. Tanpa kerja keras berhasil meringkus Anna.


"Aku suka ini," kata Hedgar saat ruang gerak Anna terkunci sepenuhnya. Hedgar menahan tubuh Anna yang terbungkus selimut, membungkuk di atas wajah Anna Marylin, menghirup kulit wajah.


Anna Marylin pejamkan mata, tahu bahwa ia kalah lebih cepat karena terlalu anggap remeh Hedgar. Tak ingin melihat wajah Hedgar. Bibirnya disentuh.


"Happy Wedding Day, My Wife Anna."


***


Happy reading.


Apakah Anda menyukai Chapter ini? Beri tanggapanmu di kolom komentar.