
"Aku mulai lelah, Dude." Glend berdiri, berjalan menuju jendela kamar. Pemandangan sebuah lonceng besar di tengah menara jam memanjakan penglihatannya. Menara Big Ben yang masih berdiri kokoh ini merupakan peninggalan masa lalu yang masih terawat dengan baik dan menjadi salah satu tempat wisata di London yang terkenal. Ya, saat ini mereka sedang berada di Britania Raya. Dan sepertinya mereka akan menetap di sana mengingat ini sudah satu tahun dan belum ada tanda-tanda Glend meminta pulang ke New York.
"Apa kau sudah membeli rumah yang kumaksud?" Justin semakin yakin jika Glend sudah memutuskan akan menetap di sini, di Inggris. Justin mendesah, semakin sulit untuk membangkitkan kenangan pria itu bersama Bella karena keduanya tidak memiliki kenangan di sini, kecuali di Sisilia. Haruskah Justin membawa Bella ke Sisilia? Sejak mengetahui pengkhianatan yang dilakukan Andres terhadapnya, Glend menolak untuk mengunjungi tempat tersebut.
"Pemiliknya belum bisa dihubungi. Mungkin saja pemiliknya tidak ingin menjual rumah itu. Kawan."
"Untuk itulah kau harus membujuknya. Aku menyukai rumah itu."
"Omong-omong, bagaimana jika kita berkunjung ke Sisilia. Aku merindukan pemandangan gunung Etna."
"Kau bisa mengajak Bill atau Alex, tapi jangan membawa keduanya. Aku lelah, aku akan istirahat." Glend naik ke atas ranjang, merebahkan tubuh dan segera memejamkan matanya.
"Kau dan Bella melewatkan hal indah di sana. Itulah yang dulu sering kau katakan kepada kami."
"Bella lagi, Bella lagi." Pria itu bergumam lirih. Hatinya selalu berdenyut nyeri setiap mendengar nama wanita itu. Segala upaya sudah ia lakukan untuk menyingkirkan nama Bella dari hatinya. Nyatanya ia hanya bisa melupakan wanita itu saat ia memejamkan mata, dan terkadang saat tidur pun ia masih memimpikan Bella. Memimpikan Bella yang memohon kepadanya saat ia bercumbu dengan Alice. Sumpah demi apa pun, ingin rasanya Glend menusuk dadanya dan manarik jantung dan hatinya keluar dari tubuhnya agar rasa sakit itu segera lenyap.
"Kuharap terapis selanjutnya lebih baik."
"Katakan padaku jika sesungguhnya kau ingin mengingat apa yang sudah kau lalui bersama Bella. Jangan membentengi dirimu, kutahu dari lubuk hatimu yang paling dalam bahwa sesungguhnya kau sangat merindukannya."
"Jangan sok tau." Napas Glend mulai tidak teratur. Emosinya mulai terpancing. Amarah dan rasa nyeri itu berlomba-lomba menggerogotinya.
Glend membuka matanya, ia langsung turun dari atas ranjang, melangkah lebar mendekati Justin sembari menatap pria itu penuh amarah.
Apa yang dikatakan Justin memang benar adanya. Ia memang melakukan hal menyedihkan itu. Melukis secara diam-diam lalu membakarnya hingga berubah menjadi serpihan debu.
"Sejauh apa kau mengawasiku, sialan!" Glend menarik kerah baju Justin lalu dengan gerakan cepat melayangkan bogeman di wajah Justin. "Siapa yang memberimu perintah untuk mengawasiku, heh? Memangnya kenapa jika aku melukis wajahnya? Wanita itu selalu menghantuiku, sesaat wanita itu memohon, sesaat kemudian dia menyeringai sinis. Aku sungguh muak dengan semua ini," Glend terus melayangkan pukulan kepada Justin tanpa ampun. Justin berusaha melindungi wajahnya tapi Glend justru berusaha untuk merusak wajah tampan pria itu.
"Apa artinya Bella di hatiku? Dan apa artinya aku di dalam hatinya? Apakah dia mencintaiku? Jawab aku, keparat?" air mata pria itu mulai keluar membasahi pipinya.
"Kau mencintainya, Sialan!" Justin menendang sahabatnya itu hingga terjungkal ke belakang. "Yang kami tahu kau mencintainya!"
Glend terkekeh sambil menangis, "Jika aku mencintainya kenapa aku tidak mengingatnya. Jika dia mencintaiku harusnya tidak menghukumku seperti ini."
"Dia mungkin tidak mencintaimu," pungkas Justin tanpa perasaan.
"KENAPA DIA TIDAK MENCINTAIKU?!" Glend kembali murka. Pria itu berdiri dan bermaksud untuk menghajar Justin kembali. Justin tidak tinggal diam, ia sudah bersiap membuat ancang-ancang. "Apa karena aku sudah menyakiti hatinya?" lirih pria itu dengan nada mengiba. "Atau mungkin karena aku memang tidak layak untuk dicintai? Bukankah memang tidak ada satu pun yang peduli padaku, Justin?" Glend tertawa sumbang. "Katakan jawaban mana yang paling tepat, Justin..." Glend tersenyum getir melihat apa yang sedang dilakukan temannya itu. "Kau ingin membiusku lagi?" Rintihnya dengan pilu. "Kenapa tidak menyuntik mati saja." Glend berjalan gontai menuju ranjangnya. "Tubuhku penuh dengan bekas suntikan, Dude. Apa kau tidak lelah mengawasiku, lenyapkan saja aku yang merepotkan ini. Aku bersumpah tidak akan menghantuimu jika aku mati."
Justin menghela napas panjang. Diletakkannya kembali jarum suntik tersebut. Sungguh ia bingung tindakan apa yang harus dilakukan lagi terhadap Glend yang menyedihkan.