
"Buruk rupa dan mesum."
"Ya, kau benar. Kalau begitu aku tidak akan sungkan. Aku mesum, untuk itu mari kita lihat apa kau masih saja memabukkan walau aku tahu jawabannya tetap sama. Aku hanya mencari alasan untuk menyecapnya." Tetap saja tidak tahu malu. Detik selanjutnya bibirnya sudah mendarat di atas bibir milik ranum yang memabukkan itu. Glend mengangkat tubuh Bella agar duduk di atas pangkuannya. Ia senang, melayang, melambung, merasakan tangan Bella melingkar di lehernya bahkan jemari wanita itu memainkan rambutnya. Ciuman itu berlangsung cukup lama. Intim dan memabukkan. Glend dan Bella sama-sama memejamkan mata menikmati sapuan meluapkan kerinduan dengan mereguk setiap tetes rasa manis yang masing-masing mereka tawarkan. Oh Tuhan, ia butuh kamar!
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Glend sontak membuka matanya. Maniknya membeliak kaget.
Bella sepertinya masih terbuai dengan permainan Glend yang memang sangat ahli dan berpengalaman dalam hal berciuman. Wanita itu tidak mendengarkan suara seseorang yang menegur mereka. Bella bahkan mengeerang kesal saat Glend berhenti memainkan lidahnya.
Glend tidak tahu harus berbuat apa. Godaan wanita yang dicintainya itu sangat tidak mungkin untuk ditolak dan kabar buruknya, ia juga sudah dibakar oleh gairah yang meletup-letup. Namun, matanya yang bersitatap dengan mata polos dan suci putranya, memberi perintah kepada akal sehatnya agar kembali. Hei, mereka orang tua nista yang mencemari mata suci putranya sendiri.
Glend mengusap punggung Bella sebelum menepuknya dengan lembut. Tapi sepertinya sinyal yang diberikan Glend tidak diterima baik oleh wanita yang gersang akan sentuhan itu. Ya, baik Glend dan Bella sama-sama gersang akan sentuhan. Jadi, wajar saja jika sekarang mereka tidak terkendali hingga tidak sadar di mana posisi mereka saat ini.
Bella sengaja menggigit bibir Glend agar merespon ciumannya kembali. Bukannya memberikan apa yang diinginkan Bella, Glend justru menggigit balik. Bella kembali mengeluarkan ringisan yang justru terdengar seperti deesahan.
"Kau menggigitku!" Bella akhirnya melepaskan tautan bibir mereka. "Kau sengaja melakukannya!" Dipukulnya pundak pria itu dengan kesal. "Apa tidak memabukkan lagi?" ia bertanya dengan wajah polos.
"Sangat memabukkan. Jauh lebih memabukkan dari apa yang ada di dalam ingatanku."
"Lalu kenapa kau diam saja seperti pohon pisang?!"
Bella terkejut, ia sontak menoleh ke belakang dan menemukan putranya sudah siuman.
"Ga-Gavin. Ka-kau sudah sadar?" Bella kepalang malu. Apa lagi yang lebih memalukan dari situasi ini. Disaksikan oleh anak sendiri sedang bercumbu!
"Ya." Sahut bocah itu singkat. "Aku tidak tahu jika Daddy ada di sini. Kupikir kau sudah pergi, Dad? Ops, maksudku, Uncle."
Glend dan Bella tersenyum simpul. Sesungguhnya Bella juga kaget saat mendengar Grace memanggil Glend dengan sebutan Daddy. Ia tidak tahu sejak kapan anak-anaknya tahu tentang status hubungan mereka.
Glend menurunkan Bella dari atas pangkuannya, kemudian menghampiri putranya. "Putraku sedang membutuhkanku, tentu saja aku ada di sini."
"Akhirnya kau siuman, Jagoan. Bagaimana perasaanmu."
"Aku senang melihatmu di sini," Gavin menerbitkan senyum di wajahnya. "Apakah artinya kau dan Mommy sedang berbaikan?"
"Ya, dan yang kau lihat tadi adalah stempel perdamaian. Begitulah cara dewasa memulainya kembali dari awal." Tukasnya dengan konyol.
"Sedikit menjijikkan," ucap Gavin dengan wajah bergidik geli. "Bertukar saliva, euuwww...."
"Katakan itu, jika kelak kau sudah dewasa, Buddy. Jika hari itu tiba, mari berbagi cerita apakah kau masih mengatakannya menjijikkan atau justru memabukkan?" Glend mengerling jenaka.