La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Gavin, Grace



Gavin dan Grace kompak menghadap ke arah Mrs.Fiona, menundukkan kepala memberi hormat. "Terima kasih, Mrs. Fiona, sudah menjaga juga memberi kami ilmu yang bermanfaat. Maafkan kenakalan kami karena anak-anak memang seperti itu. Mohon dimaklumi." Seru keduanya dengan kompak. Bella lagi dan lagi melotot melihat kelakuan dia bocah kesayangannya itu. Sementara Felix terkikik geli. Kedua tangannya mengusap-usap sayang kepala kedua bocah cilik tersebut.


"Jadi katakan, Mrs. Fiona, apa kesalahan putraku kali ini?" Felix bertanya dengan wajah bangga seolah Gavin sedang melakukan hal terpuji. Bella jelas kesal melihat tingkah laku ketiganya. Bella berdiri di samping Felix dan mencubit lengan pria itu.


"Kuanggap itu sentuhan kasih sayang," Felix mengerling jenaka. Bella kembali mencubitnya lagi.


"Gavin berbuat salah dan kau justru memasang wajah bangga seperti itu. Kau terlalu memanjakan mereka, Felix! Gavin harus dihukum."


"Tidak masalah, kau akan menghukumnya nanti, aku akan menemaninya menjalani hukuman yang kau berikan. Berhenti marah-marah karena kau terlihat sangat seksi saat sedang marah dan kau tahu itu tidak baik untuk kesehatanku, Sayang."


Mrs.Fiona berdehem, wajah wanita itu merah merona seolah pujian Felix yang mengandung kenakalan itu ditujukan kepadanya.


"Ouh, maafkan drama rumah tangga ini, Mrs. Fiona," Felix memamerkan senyum sejuta dollarnya yang langsung membuat Mrs. Fiona menganga.


"Ti-tidak masalah. Aku sudah biasa menyaksikannya. Aku rindu suamiku jika begini."


"Sebentar lagi kau akan bertemu dengan suamimu, Mrs.Fiona. Jadi, apa kesalahan putraku kali ini, Mrs.Fiona? Kuharap masalah yang timbul bukan karena perebutan hak milik lagi." Felix mengulum senyumnya mengingat selama satu bulan ini banyak gadis-gadis yang menyatakan cinta kepada Gavin. Dan sialnya, Gavin menerima semuanya.


"Masih masalah yang sama, Mr. Orlando. Gavin, putramu, memutuskan hubungannya dengan Claire Poulsen. Gadis itu tidak terima dan menduga tindakan Gavin tersebut akibat hasutan dari kekasih putramu yang lain, Monalisa Hilton."


"Oh, Tuhan, aku bisa gila jika begini." Bella memijat pelipisnya, kepalanya mendadak pusing. Ia menyekolahkan Gavin dan Grace bukan untuk tebar-tebar pesona, tetapi untuk menuntut ilmu. Jiwa donjuan putranya itu sudah ada sejak dini, ini akan sangat menyulitkan ke depannya.


"Jangan gila, cukup aku yang gila karenamu," Felix menarik dagu Bella mendekat ke wajahnya. Pria itu pun menyatukan hidung mereka. "Ini anugerah, memiliki anak-anak yang cantik dan menawan."


"Gavin, bertingkah layaknya cassanova, Felix!"


"Itulah kenapa ia digilai para gadis. Ia hanya tidak ingin melukai para gadis itu, jadi ia menerima semua perasaan mereka dan memutuskannya secara bergilir."


"Ck! Jangan berlebihan. Hm, Mrs. Fiona, kau bisa mengirimkan nomor orang tua gadis itu kepadaku. Aku dan Gavin akan meminta maaf secara langsung. Tolong himbau juga kepada para gadis itu agar tidak terlalu mencintai putraku secara berlebihan. Ayolah, putraku juga tertekan dengan tingkah para gadis itu. Bukan begitu, Buddy?" Felix mengacak rambut Gavin dengan lembut.


"Ya, Dad, kau benar. Hatiku terlalu lembut untuk mengabaikan mereka," Gavin menjawab layaknya pria dewasa.


Bella dan Mrs. Fiona hanya bisa menarik napas panjang.


"Kudengar kau juga membuat seorang anak laki-laki menangis. Wow, kau memang jagoanku!" Felix mengepalkan tinjunya dan mengarahkannya kepada Gavin, bocah itu melakukan hal yang sama, menempelkan kepalan tinjunya yang kecil kepada kepalan tinju Felix.


Bella hanya bisa meringis, menatap Mrs. Fiona dengan tidak enak hati.


"Kau menghajarnya?" Felix kembali bertanya. Kali ini dengan wajah serius.


"Tidak, aku hanya menarik celananya karena berani mengintip rok putrimu. Astaga, dia memakai ****** spongebob."


"Kau juga memakainya jika kau lupa, Gav!" Grace menjulingkan matanya. "Dad, gendong aku, aku lelah berjalan." Grace mengulurkan kedua tangannya. Tanpa diminta dua kali, Felix segera membawa Grace ke dalam gendongannya.


"Dad, Clara mengatakan bahwa ayahnya membeli barbie Stefanie Canturi."


"Dia berbohong, Dad." Gavin menimpali. "Clara mendapat hadiah dari kolega ayahnya berupa Steiff teddy bear." Steiff teddy bear, bukan boneka beruang biasa, harganya yang hampir tidak masuk akal, USD 193.000 atau mencapai Rp 2,45 milyar, karena bulu Teddy Bear yang satu ini terbuat dari emas dan matanya terbuat dari batu safir dan berlian. Grace tidak mau kalah hingga meminta boneka yang lebih mahal. Barbie Stefanie Canturi.


Felix tergelak, "Berbohong tidak dianjurkan, Honey. Baiklah, kita akan membelinya. Sekarang."


"Daddy, aku mencintaimu!!" Grace membanjiri wajah Felix dengan ciuman bertubi-tubi.


Melihat hal itu, Bella hanya bisa mendesah panjang. Anak-anaknya sangat dimanjakan oleh Felix. Pria yang selalu mendampinginya selama beberapa tahun terakhir ini.