La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Ella Collins



"Ya, apa kita yang salah menduga. Ayolah, Felix Orlando tidak kalah luar biasa. Bella saja dibuat berpaling dari sahabat kita."


"Dan sekarang mereka membahas pernikahan. Oh Tuhan, Bella akan kembali disakiti. Ini tidak adil. Mendadak aku membenci kedua pria ini. Apa kesalahan Bella? Ck! Andai bisa aku akan membahagiakan wanita itu."


"Bukan hanya kau, aku pun demikian." Bill membenarkan ucapan Alex. Bella terlalu berharga untuk disia-siakan. "Misi kita berhasil ayo kita melaporkan hal ini kepada Bella. Hm, kita ambil beberapa foto sebagi bukti," Bill mengeluarkan ponselnya dan segera mengarahkan kamera ke objek yang menjadi sasarannya. "Oke, pose yang sangat luar biasa," Felix dan Ella kembali berpelukan. Pria itu juga memperbaiki helm yang dikenakan Ella.


🌵


Felix memperhatikan interaksi antara Glend dan Bella. Untuk sesaat ia hanya bergeming di tempat hingga akhirnya Glend berbalik badan. Ia lalu melanjutkan langkah untuk mendekati Bella. Entah apa yang mereka bicarakan, ia tidak bisa mendengarnya.


Namun, langkahnya kembali terhenti begitu Glend kembali memutar tubuh dan melangkah cepat ke arah Bella serta mencakup kedua wajah wanitanya itu. Felix seketika dibakar api cemburu. Ia pun setengah berlari, langsung menarik kerah belakang Glend dan melayangkan bogeman hingga Glend terjungkal.


"Wow, apa kesalahanku, Dude?" Glend terkekeh, ia pun berdiri sembari meludahkan darah dari mulutnya. Bogeman Felix tidak tanggung-tanggung, ia merasa giginya hampir copot.


"Felix," Bella mendekati pria itu. "Dia..."


"Kesalahanmu adalah menyentuh wanitaku, bertindak kurang ajar padanya." Felix menatap Glend dengan sorot mata tajam. Mimik yang selalu terlihat hangat itu tampak sangat mengerikan.


Alih-alih tersinggung, Glend justru kembali terkekeh. "Cemburu? Heh? Kau sedang salah faham. Kau bisa bertanya kepada Bella."


Felix menoleh ke arah kekasihnya. Bella menganggukkan kepala. "Dia hanya membantuku untuk memeriksa mataku. Sepertinya ada serangga yang masuk."


Seraut wajah tampan itu kembali berubah. Felix menatap Glend dengan mimik bersalah. "Maafkan aku, Mr. Vasquez." Felix mendekati Glend, mengulurkan tangannya. "Aku bersikap berlebihan."


Glend menyambut uluran tangan pria itu sembari menganggukkan kepala, "Itu karena kau terlalu mencintai tunanganmu," ucapnya dengan nada ringan seolah Bella tidak mempunyai arti dalam hidupnya.


"Ya, kau benar. Aku sangat posesif terhadap wanitaku."


Tiba-tiba sebuah bogeman kembali melayang di wajah Felix. Alex lah yang melakukannya. "Jangan mengaku jika Bella adalah wanitamu jika sebenarnya kau juga bermain-main dengan wanita lain!"


"Apa maksudmu, Kawan?" Felix meringis, sudut bibirnya terluka. Glend mengulurkan tangan, membantu Felix untuk berdiri.


Bella mengernyit bingung. "Bermain-main dengan wanita?"


"Bill tunjukkan fotonya," Alex memberi perintah, Bill dengan patuh mengeluarkan ponsel dan menunjukkannya kepada Bella.


Bella semakin menautkan alisnya. "Ini..."


"Ya, kau lihat, tunanganmu berpelukan dengan wanita lain. Mereka bahkan membahas tentang pernikahan. Mereka sudah dijodohkan. Begitu lah kira-kira yang kudengar." Bill melaporkan secara singkat hasil pengamatan mereka bersama Alex.


"Ini mantan adik iparnya," Bella berucap mematahkan semangat kedua pria itu. Alex dan Bill kompak tersedak. "Jadi adikmu sudah kembali?" Bella mengeluarkan tissue dari dalam tasnya dan membersihkan sudut bibir prianya itu. "Pasti sangat sakit."


"Aku pantas mendapatkannya." Felix tergelak. "Balasan karena aku sudah melayangkan bogeman kepada Mr.Vasquez."


"Jadi maksudmu, Ella adalah mantan adik iparnya?" Bill masih tidak terima kegagalan mereka.


"Ella?" Glend mengambil alih ponsel dari tangan Bill untuk melihat Ella siapa mereka maksud.


"Kalian mengenal Ella?" Kali ini Felix yang terlihat bingung.


"Ya, wanita itu selama dua tahun mencari perhatian seorang Glend Vasquez," Alex menimpali. Benar tidaknya urusan belakangan. Ia hanya ingin melihat reaksi Bella dan ternyata wanita itu hanya bersikap biasa saja. Tidak menunjukkan reaksi berarti.


"Wah, benarkah? Kebetulan sekali jika begitu. Datanglah nanti malam ke Orlando Hotel. Kami akan merayakan pesta penyambutan untuknya."