La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Aku Tidak Peduli



Pesta selesai sebelum waktunya. Para tamu undangan dibubarkan begitu saja. Bella pergi meninggalkan ruangan karena sudah tidak tahan dengan rasa mual yang mulai melilit di perutnya. Sementara Glend, Bill dan Justin masih di sana. Alex sendiri untuk semetara waktu ia menjauhkan diri dari pandangan Glend. Pria itu tentang masih marah, muak dan kecewa padanya. Alex sangat menyesal akan hal itu. Tapi dia bisa apa?


"Kau sudah minum terlalu banyak, Dude." Justin menepuk nepuk pundak pria itu. Ia baru kembali dua hari lalu dari tugas yang dibebankan padanya. Banyak hal yang terjadi di istana selama ia dan Bill mendapat hukuman. Ia merasa jika hukuman yang dibebankan kepadanya dan Bill sengaja diberikan agar mereka tidak bisa membantu Bella.


Skandal antara Bella dan King Bryson jelas tidak mereka percayai begitu saja. Mereka yang muda, gagah dan menawan saja tidak berhasil merebut perhatian Bella, kononlah pria tua seperti King Bryson. Tahta yang dimiliki King Bryson juga tidak akan membuat seorang Bella tersihir untuk mendekatinya. Mereka yakin. ada konspirasi. Hanya saja semuanya disusun terlalu rapi.


"Aku ingin melupakan semuanya," gumam pria itu. Matanya sudah merah pertanda jika Glend sudah mabuk berat. Jas yang dikenakannya sudah terlempar entah ke mana, beberapa kancing kemeja dibuka karena merasa panas dan gerah. Rambutnya yang selalu terlihat rapi kali ini terlihat berbeda. Sangat berantakan.


"Tidak perlu mabuk untuk melupakan semuanya. Toh, pada kenyataannya kau sudah lupa pada momen penting dalam hidupmu," Bill menyeletuk dengan enteng. Ia sangat kesal pada kesinisan yang ditunjukkan pria itu kepada Bella beberapa waktu lalu. Ia menjadi saksi betapa Bella sangat menghargai Glend saat pria itu dalam mode penyamaran. Cacat dan buruk rupa. Sungguh ia tidak tega melihat wajah Bella yang begitu sedih, lelah, dan letih. Lingkar hitam tercetak jelas di bawah kedua mata wanita baik itu. Tidak terlihat lagi senyum yang dulu selalu kompak membuat mereka terpana. Bill yakin jika Bella sedang menjerit di dalam hati meminta ingin keluar dari Anndora.


Glend mengangkat kepalanya, menyorot ke arah Bill dengan alis yang menukik. "Kau terdengar kesal kepadaku."


"Memang. Kuberitahu padamu, Dude. Apa yang terlihat di video itu tidak benar..."


"Maksudmu itu bukan Bella?" Glend menyela kalimatnya.


"Itu Bella. Memang Bella. Tapi itu tidak benar..."


"Itu hanya editan?" Glend kembali menyela, sungguh selain berubah menjadi tolol, Glend juga bertransformasi menjadi sangat menyebalkan.


"Tidak. Bukan editan, hanya saja..."


"Bolehkan aku melayangkan bogeman ke wajahmu?" Bill kehilangan kesabarannya.


Glend terkekeh renyah menanggapi kekesalan yang ditunjukkan Bill secara terang-terangan. "Kau dan Alex begitu memuji dan melindunginya. Apakah dia juga memberikan pelayanan gratis kepada kalian, heh?"


Bugh!


Glend langsung tersungkur ke lantai. Bill terkejut dan menoleh ke samping. Justin terlihat meniup tinjunya karena merasa sakit.


"Kau memukul seorang penerus tahta, Men!"


"Dia pantas mendapatkannya. Dia lupa menyebut namaku dalam barisan pria pemuja Bella," ucap pria itu dengan enteng. Telinganya panas mendengar tudingan yang dilayangkan Glend kepada Bella mereka. Ia tidak terima.


"Astaga, aku sangat bangga kepadamu!" Bill merangkul pundak Justin. "Tapi kau dalam bahaya, Dude. Kau pasti akan mendapat hukuman kembali." Bill menunjuk CCTV pengintai.


"Aku tidak peduli."


Glend mendesis. Ia berdiri sempoyongan, mengusap darah dari sudut bibirnya yang terluka. "Brengsek!" umpatnya dengan suara tertahan. Ia pun pergi meninggalkan Justin dan Bill di sana.