La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Rayuan Maut



"Kita sudah selesai sarapan. Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kita seperti dua insan yang terisolasi dari peradaban."


Bella tidak bisa membayangkan Glend menghabiskan waktunya berhari-hari seorang diri di villa yang lebih mirip disebut menara. Hanya ada kesepian. Pemandangan indah yang terlihat tidak akan bermakna jika hati yang memandanginya berselimut gundah.


"Tujuannya memang itu. Menyendiri."


"Apa enaknya menyendiri? Hanya membuatmu merasa bersalah. Untuk itulah aku datang sebagai penyelamatmu, sebagai pelipur lara. Aku cukup menghibur, bukan?"


"Sangat menghibur," Glend tersenyum, tidak menyangkal sama sekali. Keberadaan Bella memang mengubah suasana hatinya. Awalnya, untuk tahun ini, Glend sudah memutuskan untuk tidak datang kemari. Dan sekarang, ia bersyukur karena sudah memutuskan untuk datang. Kini ia tahu, hatinya ternyata tidak beku seutuhnya. Bella secara perlahan mampu mencairkannya.


"Sampai kapan kita akan di sini?"


"Kau bosan?" Tanya Glend sembari mendekat ke arah Bella yang duduk di jendela sambil memotong kuku. Glend mengambil alih gunting kuku dan meminta Bella mengulurkan tangan. Dengan telaten dipotongnya kuku wanita itu.


"Kau seperti ayahku." Sudut bibir Bella bergerak membentuk sebuah ciuman. "Dulu, ayahku juga sering melakukannya sebelum menikah dengan Rose."


"Aku bukan ayahmu."


"Aku mengatakan seperti," Bella memutar bola matanya jengah. "Bukan berarti kau ayahku."


"Kau tidak akur dengan ibumu?"


"Tidak. Dia dan Lizzie selalu menyiksaku saat ayahku sedang di luar kota. Kau tahu dongeng cinderella? Nah, aku diperlakukan seperti itu. Ditempatkan di kamar paling kecil dan aku harus berbohong kepada ayahku jika itu keinginanku. Aku harus menyiapkan sarapan untuk mereka, menyuci baju dengan menggunakan tangan. Terkadang, aku harus melewatkan hari tanpa makan. Atau jika beruntung, aku bisa makan buah. Untuk itulah aku selalu menginginkan akhir yang indah seperti dongeng tersebut."


"Menginginkan pangeran tampan rupawan datang menjemputmu?"


"Hmm... Kau jangan tersinggung."


"Kau mungkin sudah mendapatkannya." Glend bergumam.


"Aku mendapatkan pangeran kaya? Ya, aku akui, tapi tidak rupawan. Ini fakta, Glend. Aku sedang tidak menghinamu."


"Kau terdengar menghinaku, Bella."


"Tergantung kau menanggapinya."


"Ibu dan saudari tirimu sangat keterlaluan. Kenapa kau tidak melaporkannya kepada Harry?" Glend salut kepada Bella disaat gadis itu menceritakan hal yang cukup menyakitkan. mimik Bella tetap terlihat tenang, tidak memancarkan kemarahan atau pun kebencian sama sekali.


"Ibuku selalu mengancam akan meninggalkan ayahku jika aku mengadu. Ayahku memiliki trauma sejak ibuku meninggal. Hampir satu tahun ayahku menyalahkan diri atas meninggalnya ibu. Aku sampai diabaikan olehnya karena ia terlalu sibuk dengan perasaannya yang bersalah. Rose datang menawarkan secercah harapan. Sesungguhnya Rose adalah sepupu ibuku. Wajah keduanya sedikit mirip. Perlahan, ayah mulai sembuh, mungkin karena merasakan sosok ibuku ada pada Rose. Aku khawatir, jika ayahku merasakan kehilangan lagi ia akan hancur. Setidaknya Rose merawat ayahku dengan baik. Aku tidak boleh egois, bukan? Kau sangat pintar membersihkan kuku ternyata. Potongannya sangat rapi. Terima kasih, Glend." Bella mengulurkan tangan, meminta alat pemotong kuku tersebut. "Aku perlu memotong kuku kakiku juga."


"Ulurkan kemari." Glend menepuk pahanya agara Bella meletakkan kakinya di sana. "Aku akan membersihkannya."


"Tidak.Tidak. Aku bisa melakukannya."


"Aku ingin melakukannya, Bella."


"Seorang suami tidak pantas memegang kaki istrinya."


"Seorang suami yang baik harus meratukan istrinya. Dan aku sedang berusaha. Ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sudah kau lakukan tadi malam."


"Aku tidak mengharapkan bayaran atau pun balasan dengan apa yang terjadi tadi malam. Kurasa apa yang terjadi tadi malam sama-sama membuat kita bahagia."


Ya, Bella melakukannya tanpa paksaan. Ia menemui Glend dengan suka rela. Status mereka suami istri. Keintiman adalah sesuatu yang sakral dan penuh makna. Tidak ada harga di sana. Tidak ada timbal balik. Hanya ada kenikmatan dan kepuasan. Hanya ada kejujuran, tidak ada pembatas. Itulah menurut Bella.


"Jadi kau sungguh bahagia?" Glend memastikan. Ia kira Bella mengatakan hal demikian hanya agar Glend tidak merasa bersalah.


"Dan?" Glend menarik kaki Bella ke atas pahanya. Menahannya di sana. "Dan apa, Bella?"


"Dan kau boleh memotong kukuku."


"Aku akan memotongnya, selesaikan kalimatmu." Glend penasaran. Ia sudah menebak apa yang akan dikatakan Bella si lugu. Tapi ia sungguh ingin mendengarnya langsung.


"Dan ya begitu. Kita melakukannya dua kali."


"Dan?"


"Dan sudah kujelaskan."


"Dan?"


"DAN AKU MELEDAK BERULANG KALI, SIALAN!"


Sekuat tenaga Glend menahan tawanya agar tidak meledak.Ya, Bella masih rapuh dan sensitif dalam bidang itu. Ada kejadian lucu saat Bella pertama kali hendak mencapai puncak.


"Aku harus ke toilet, Glend". Ucap Bella dengan napas tidak teratur. Glend yang tahu bahwa sesungguhnya Bella sedang klimakss, tidak membiarkan gadis itu turun dari atasnya. Ditahannya Bella tetap di sana.


"Keluarkan. Tidak usah ditahan." Perintah Glend. Bella menolak, menggeleng, meronta, dan memaksa hendak turun. Si brengsek Glend justru semakin mencumbu gadis itu hingga tubuh Bella lemas kehilangan tenaga.


"Sepertinya aku pipis," Bella meringis dengan wajah merah menahan malu yang masih menyisakan gelombang gairah.


"Aku tidak akan memberimu jatah lagi jika tawamu sampai lepas, Glend!" hardik Bella dengan gusar.


Detik itu juga tawa pria itu lepas.


"Kau sangat lucu, maafkan aku."


"Cih!" Bella memalingkan wajah dengan kesal. "Aku marah padamu."


"Dan aku mulai menyayangimu."


"Kau dalam bahaya kalau begitu." Alih-alih tersanjung dan terkejut dengan pernyataan yang cukup manis itu, Bella justru tersenyum mengejek penuh kebahagiaan.


"Ya, aku tahu."


"Helleh. Aku tidak akan termakan ucapanmu. Omong-omong, apa kau pernah menyaksikan gunung Etna itu meledak?" tunjuk Bella pada gunung berapi yang masih aktif tersebut. Gunung tertinggi di Italia.


"Secara langsung? Tidak. Tapi kau bisa melihatnya di beberapa vidio. Ketika Gunung Etna meletus akan memberikan pemandangan yang indah karena seperti kembang api raksasa. Tapi keindahannya juga bisa menghancurkan. Layaknya wanita."


"Ck! Kau malah curhat. Kau korban perasaan ternyata. Malang sekali. Bersyukurlah kepada Tuhan karena sudah mempertemukan dirimu denganku. Keindahanku tidak akan menghancurkanmu, asalkan... dengar Glend, ini ada kata penekanan di sini. Asalkan kau tidak bermain hati denganku. Jangan jatuh cinta padaku."


Glend tersenyum penuh arti. Penekanan yabg terlambat karena faktanya, Glend sudah memasuki zona bahaya itu dan tentunya ia tidak akan melepaskan Bella begitu saja. Bella miliknya. Istrinya. Selamanya.


"Jika kau yang menghancurkanku mungkin aku tidak akan keberatan, Bella."


"Rayuanmu maut, Dude." Kelakar Bella dengan kerlingan mata nakal, tidak tersipu sama sekali.


Ck! Akan sulit merebut hati wanita ini. Glend membatin. Semuanya dianggap lelucon olehnya.