
"Selamat siang,"
Glend yang sedang berbaring di atas ranjang seketika membuka matanya mendengar suara wanita yang menerobos masuk. Ia segera duduk, menukik alis melihat wanita asing yang juga sedang mengamatinya dengan seksama.
Mengabaikan kernyitan di dahinya, wanita asing itu justru menarik kursi dan duduk di tepi ranjang. Glend masih memperhatikan wanita tersebut dengan seraut wajah bingung.
"Aku Ella Collins. Terapismu yang baru," kebingungan Glend terjawab sudah. Glend berdecak kesal, ia tidak menyukai terapis wanita. Saat ia marah, ia tidak bisa melampiaskannya secara langsung. Terapis wanita yang lalu-lalu, selalu berakhir dengan menggodanya. Ia muak.
"Keluar!!" Glend melancangkan tangannya ke samping dengan jari telunjuk yang mengacung ke arah pintu.
"Namamu Glend Vazquez?" Ella mengeluarkan buku dan bolpoin dari dalam tasnya. "Panggil aku Ella, tidak usah merasa canggung denganku. Kau bisa mengatakan apa pun kepadaku. Rahasiamu aman padaku."
"Itulah yang dikatakan terapis sebelumnya," Glend menimpali dengan nada malas. "Keluar lah, selain aku tidak menyukai terapis wanita, namamu justru seakan sedang meledekku."
"Kenapa?" Ella menukik alisnya. "Namaku mengingatkanmu pada masa lalu? Hm, baiklah, kita akan mulai."
"Tidak akan ada kata mulai, kau pergilah sebelum aku benar-benar marah." Glend melayangkan tatapan sengit. Menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan.
"Apakah pekan ini kau lebih sering menangis daripada sebelumnya?" Ella mengabaikan ancaman Glend. Wanita itu tidak menunjukkan rasa sakit sama sekali.
"Justin mengatakan demikian? Membeberkan bahwa aku sering menangis?"
Ella menulis sesuatu di catatannya. "Artinya ya, kau masih sering menangis." Wanita itu bergumam.
"Bagaimana dengan pekan ini kau kecewa
Glend kembali berdecak. Ia memalingkan wajah, "Ya. Selama bertahun-tahun, itulah yang kurasakan."
Ella kembali menuliskan jawaban yang diberikan Glend. "Jadi kau masib takut untuk menatap masa depan?"
"Tidak ada masa depan untukku dan aku memang tidak berandai andai untuk memiliki masa depan yang cerah. Di mana Justin?"
"Sedang bermain catur dengan Ayahmu, Mr. Bryson Dixton. Kau tidak memakai nama belakang ayahmu?"
"Aku memakai nama belakang ibuku. Jika kau sudah selesai, kau boleh keluar." Glend mengusir Ella secara terang-terangan.
Satu pertanyaan lagi, apakah dalam sepekan ini kau merasa sebagai orang yang gagal?"
"Sudah lebih dari lima tahun aku merasa gagal, Mrs. Collin."
"Ms. Collin, aku belum menikah. Ck! Kau sedang depresi, Kawan," Ella membuat kesimpulan dari empat jawaban yang diberikan Glend kepadanya. "Hubungi aku kapan pun kau membutuhkan teman untuk berbagi gundahmu. Aku ada 24 jam untukmu." Ella mengeluarkan kartu namanya dan meletakkannya di atas nakas. "Kau harus segera diobati. Bekerja sama lah dengan terapismu, Glend." Ella berdiri, ia mengulurkan tangan untuk menepuk pundak pria itu. Glend menghindari sentuhan wanita itu.
"Tidak usah datang lagi," Glend segera membaringkan tubuhnya.
"Setiap jam dua siang, aku akan datang menemuimu. Ponselku akan selalu aktif. Setiap pertemuan akan memakan waktu 10 hingga 45 menit. Untuk hari ini kurasa cukup. Tidakkah sebaiknya kau tinggal di sebuah rumah daripada di sebuah kamar hotel." Ella menyarankan. Ya, selama ini Glend memang memilih tinggal di kamar hotel mewah yang menyuguhi pemandangan indah menara Big Ben.
"Jangan lupa menutup pintunya." pungkas pria itu sembari memejamkan mata.