La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Felix, Bella



"Tidak hanya menyediakan pusat kebugaran, Orlando Hotel juga menyewakan pakaian berkelas bagi pengunjung sehingga para pelanggan yang memiliki situasi darurat tidak perlu khawatir dengan pakaian yang akan dikenakan baik dalam acara formal atau pun santai. Kami bekerja sama dengan brand-brand ternama juga brand lokal yang tidak kalah bagus. Kebersihan dan kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Namun, beberapa pengunjung mungkin memiliki standar sendiri, hotel kami juga menyediakan butik. Pelanggan bisa membeli pakaian yang ia inginkan di sana. Orlando Hotel bukan hanya sekedar penginapan semata bagi para pelanggan, kami menjanjikan kesehatan, kenyamanan, dan rekreasi."


Tepuk tangan bergemuruh di ruangan tersebut. Presentasi yang sangat hebat, para direksi dibuat terpukau atas presentasi yang diberikan oleh Bella. Semuanya setuju dengan ide yang ia kemukakan. Diantara banyaknya pasang mata yang menatapnya penuh kagum, ada seorang pria yang secara terang-terangan memandanginya penuh memuja. Felix Orlando.


Pria itu segera berdiri dari bangku kebesarannya menghampiri Bella yang juga tersenyum dengan sangat manis.


"Presentasi yang sangat memukau, kau sungguh sangat mengagumkan, my dear." Felix merengkuh pinggang Bella dengan sangat posesif, lalu tanpa merasa canggung apalagi sungkan, Felix mendaratkan satu kecapan singkat di pucuk kepala Bella.


"Semua memperhatikan kita," Bella memukul pelan dada pria itu.


"Lalu masalahnya apa? Aku sengaja agar tidak ada yang berani menatapmu dengan penuh kagum. Kau hanya milikku dan hanya aku yang boleh menatapmu dengan tatapan memuja yang hampir membuatku gila."


"Jangan berlebihan," Bella memutar bola matanya dengan jengah, namun wajahnya berkata lain, semburat merah terlihat jelas di pipinya yang mulus.


"Jangan bosan denganku," Felix menyentil hidung Bella sebelum menegapkan tubuhnya kembali dan menatap para hadirin rapat. "Kurasa rapat hari ini cukup, terima kasih untuk kerja samanya, silakan keluar." Felix menampilkan senyum tipis basa basi.


"Kau membeli parfum baru? Wanginya sangat enak." Felix mengendus bahu Bella sekilas. Apa pun perubahan dalam diri wanita itu selalu mampu ia tangkap dengan segera. Bella biasanya memakai parfum dengan aroma feminim, lavender juga vanilla. Kali ini wanginya berbeda, lebih kuat namun tinggal meninggalkan kesan segar di dalamnya. Aroma citrus, perpaduan yang biasanya diambil dari buah-buahan.


Bella mengangguk, "Hm, keluaran terbaru. Dulu hanya diproduksi khusus."


"Diproduksi khusus?" Felix menukik alisnya kemudian menunduk kembali, menghirup lebih dalam aroma tubuh Bella. "Aku menginginkan satu."


"Aye, aye, kapten!" Felix mengeluarkan ponselnya, memberi perintah kepada sopir agar stand by di bawah.


🐿


"Kau harus memberi peringatan kepada putramu, Bella. Dalam sehari ini, Gavin sudah membuat dua gadis menangis bahkan meraung dan menghajar satu anak laki-laki sebagai tambahan," Mrs. Fiona selaku cikgu dari anak-anaknya selalu memberi laporan kepada mereka. Setiap hari.


Bella berdecak, matanya melotot kepada kedua anak-anaknya. Gavin mengidikkan kedua bahunya, tidak merasa takut sama sekali.


"Hais, sudah kukatakan berhenti melotot seperti itu. Kau bukannya membuat kami takut, kau terlihat lucu, Mom." Grace mengibaskan tangan mungilnya dengan gerakan malas.


"Grace," Felix bersuara.


"Hufth... Ouh, Dad, ini bukan salah kami, aku berani bersumpah. Bukan begitu, Gav?"


"Jangan memanggil namaku setengah-setengah, Gre."


"Hei, lalu apa yang kau lakukan padaku?!" Grace berkacak pinggang, menatap Gavin, saudara kembarnya dengan tatapan menantang.


"Gavin, Grace, katakan terima kasih kepada Mrs. Fiona." Felix menengahi perdebatan kecil yang bisa saja berbuntut panjang. Ia menghampiri keduanya lalu merangkulnya Gavin dan Grace seakan kedua bocah itu adalah temannya.