
Grace duduk di pangkuan Glend sembari menikmati satu mangkuk ice cream. Bella dan Bryson duduk di hadapan mereka. Meja menjadi pembatas diantara mereka. Glend tersenyum, senyum yang sejak sepuluh menit lalu enggan menghilang dari bibirnya. Tatapannya yang teduh tertuju kepada Bella yang menatapnya dengan mimik datar.
"Aku senang melihat kau baik-baik saja, cara mia."
Glend menangkap gerakan pupil wanita itu. Ya, Bella sedikit terkejut. Cara mia, ia tidak mungkin melupakan panggilan itu. Panggilan saat hubungan mereka baik-baik saja.
"Ingatanmu sudah pulih?"
Glend hanya tersenyum getir sebagai jawaban. "Jadi kau bersembunyi di sini? Disembunyikan oleh ayahku?"
"Bersembunyi? Kenapa aku harus bersembunyi dan dari siapa aku bersembunyi?"
Tidak ada lagi Bella yang polos dengan tingkah manis dan konyol yang menggemaskan. Yang di hadapan Glend sekarang adalah seorang ibu yang kuat, tangguh dan sedikit angkuh.
"Grace, cukup, Sayang. Bersihkan mulutmu. Katakan terima kasih kepada Grandpa." Wajahnya yang tegas berubah sendu saat menatap Grace. Glend semakin melebarkan senyumnya. Bella masih memiliki cinta yang luar biasa.
Grace dengan patuh menuruti apa yang dikatakan ibunya. Bocah cilik itu mengambil sehelai tissue untuk membersihkan mulutnya.
"Grandpa tidak mengantar kita pulang?"
"Grandpa masih ada urusan, sweety," Bryson menarik napas panjang.
"Oh Thanks, God." suara seseorang membuyarkan rencana yang ia susun di benaknya.
"Felix," Bella berdiri dari kursinya.
Glend merasakan aura-aura mistis yang membuatnya tidak nyaman. Ia menoleh, melihat seorang pria menawan bergandeng tangan dengan seorang bocah cilik melangkah cepat menghampiri mereka.
"Kupikir sesuatu yang buruk terjadi padamu dan Grace," Felix menarik Bella ke dalam pelukannya.
Wajah Glend berubah pias. Ia tidak menyukai pemandangan itu. Ia marah? Jelas! Ia cemburu? Tentu saja! Siapa pria yang berani memeluk Bellanya? Glend tidak terima ini. Ia segera berdiri untuk menghentikan adegan ini, tapi tangan seseorang menghentikan aksinya. Glend menoleh, sang ayah lah yang menahan tangannya. Bryson menggelengkan kepala agar Glend tidak melakukan apa-apa. Terang saja Glend tidak terima. Ia menepis tangan sang ayah. Namun niatnya kembali terhenti begitu Grace yang ada di dalam pangkuannya meluncur turun.
"Daddy," gadis cantik itu berlari sembari merentangkan kedua tangan. Felix tersenyum lega, digesernya Bella ke sampingnya kanannya lalu Felix berlutut dengan menopangkan sebelah kaki ke lantai. Pun ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Grace, merentangkan kedua tangan.
Glend termangu di tempatnya. Mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Bella berpelukan dengan pria bernama Felix, lalu Grace juga melakukan hal yang sama. Hal yang tidak kalah mengejutkan putrinya memanggil pria itu dengan sebutan Daddy.
"Apakah aku terlalu besar kepala mengganggap jika Grace adalah putriku?" pertanyaan itu ia layangkan kepada ayahnya dengan tatapan yang masih tertuju pada kelompok kecil yang terlihat seperti keluarga yang bahagia. Bryson hanya bungkam. Bagi Glend, kebungkaman pria itu justru merupakan suatu jawaban.
Felix memutar-mutar tubuh mungil Grace untuk memeriksa apakah gadis cilik itu mendapatkan luka.
"Aku baik-baik saja, Dad. Uncle iron man itu telah menyelamatkanku di waktu yang tepat. Ssyyuuuut.... Dia tiba-tiba muncul dan membawaku ke dalam pelukannya."