
"Wanginya enak sekali. Astaga, ingin rasanya aku ikut bergabung denganmu, Lizzie. Sebagai penonton juga tidak masalah." Poppy bersuara, tatapannya tertuju pada punggung Glend yang semakin menjauh.
"Cepatlah keluar, jangan biarkan otak kami berekreasi kemana-mana sementara kau sedang melambung tinggi dibuat oleh pria tampan itu. Astaga, kau beruntung sekali, Lizzie! Dia pemilik universitas tempat kita menimba ilmu."
"Hm, baiklah, aku pergi," Lizzie mengeluarkan koleksi parfumnya dari dalam tas dan menyemprotkannya ke tubuh sebanyak-banyaknya.
Begitu Lizzie tidak terlihat lagi, Justin, Alex dan Bill muncul di sana. Mengambil meja yang berdekatan dengan para wanita itu.
"Akh, ini membosankan," Justin membuka kancing kemejanya, memamerkan dadanya yang berbulu. Penelope dan yang lainnya kompak melirik ke meja mereka. Ketiga wanita itu menganga menatap kagum ketiga pria tersebut.
Tidak menunggu lama, Justin, Alex dan Bill segera melancarkan aksi mereka. Menggoda ketiga wanita itu sesuai permintaan Glend. Ck! Jika Glend tidak pemegang tahta tertinggi diantara mereka, percayalah mereka tidak akan sudi merayu ketiga wanita itu. Mendadak tipe wanita yang mereka inginkan adalah seperti Bella. Penelope bisa dikatakan wanita yang seksi dan menggoda, begitu pun Poppy dan Pevita. Tapi tidak satu pun dari ketiga wanita itu menarik minat mereka.
Sesuai instruksi Glend, mereka membawa ketiga wanita itu ke kamar. Glend sudah menyiapkan kejutan untuk mereka.
___
"Siapa kau?!" Lizzie menatap geram pria yang yang ada di hadapannya. Pria bertubuh besar yang dipenuhi tatto menatap lapar ke arahnya. Pria itu terus berjalan mendekati Lizzie hingga wanita itu tersungkur ke tempat tidur.
"Hei, Tuan, siapa kau sebenarnya? Di mana Andreas?"
"Dia sudah pergi, Nona."
Wajah Lizzie pucat seketika. Ia marah tatapi juga takut. Tubuhnya semakin gemetar tatkala pria itu merangkak naik ke atas ranjang.
Keadaan ketiga rekannya tidak kalah buruk. Penelope, Pevita dan Poppy justru berhadapan dengan pria setengah baya. Sesuai apa yang dikatakan mereka beberapa waktu lalu jika lebih baik berhubungan dengan pria tua. Glend mengabulkan permintaan tersebut. Kurang baik apa dirinya.
"Tidak! Menjauh dariku pria menjijikkan! Pria bau tanah sepertimu tidak pantas menyentuhku. Arghh...."
Glend menonton pertunjukan itu dengan tersenyum culas. "Jangan mengusik Bella jika tidak ingin hidupmu menjadi mimpi buruk."
Justin, Alex dan Bill yang duduk di hadapannya sibuk mensucikan tangan mereka karena sudah bersentuhan dengan triple P. Dengan sangat terpaksa mereka membiarkan ketiga wanita itu bergelayut di lengan mereka saat menuju kamar.
"Kenapa tidak memberi pelajaran hingga tuntas. Biarkan para wanita itu mengalami trauma karena sudah mengganggu hidup Bella." Justin melempar tissue basah ke tong sampah.
"Kau ingin Bella membenciku? Bella akan membunuhku jika tahu aku sampai berbuat hina seperti itu. Menakuti mereka dengan cara seperti saja sudah cukup. Tidak harus sampai diperkosa." Ya, Glend membayar beberapa pria untuk memberi pelajaran kepada keempat wanita itu. Hanya sampai batas melucuti pakaian keempatnya.
"Tapi, Glend, Poppy sangat wangi sekali. Mungkin lain kali aku akan mengajaknya berkencan," Alex berkelakar.
"Jangan jadi pria murahan," Glend menimpali dengan nada malas.
"Pernikahanku akhirnya sampai ke telinga Granny. Dalam waktu dekat, mereka akan melakukan kunjungan." Glend mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bella dalam masalah jika begitu." Justin bergumam.
"Granny pasti bisa kutangani. Dia akan menerima Bella seperti dia menerima ibuku. Bryson si keparat itu yang harus diwaspadai