
"Cinta adalah tentang kesabaran, Dude. Felix melakukan itu selama bertahun-tahun lamanya."
"Jika demikian, bebaskan dirimu dari belenggu yang mengikatmu. Kenangan tentang Bella. Kami akan mendukungmu jika kau benar baik-baik saja. Kau harus membebaskan diri. Dengan begitu, kau akan menemukan kebahagiaanmu yang lain." Mendadak mereka berempat jadi pintar bermain kata. Bertransformasi menjadi motivator cinta. "Jika kau tidak dapat menghapusnya, kau hanya perlu menutupinya dengan sesuatu yang lebih baik." Bill menambahi karena ia yakin, Glend tidak akan bersedia membebaskan diri dari belenggu seorang Bella. Glend terlalu mencintai wanita itu. Ia yakin Glend hanya akan hidup dengan mengingat kenangan manis yang mereka lalui.
"Kau tidak bisa keluar setelah kau terjebak di masa lalu. Kau tidak akan bisa melihat pintunya." Dan benar saja. Anggapan Bill terjawab sudah dengan ucapan ringan pria itu.
"Hal itu berlaku pada pria bodoh sepertimu!" Justin merasa kesal mendengar kalimat menyedihkan itu. "Aku bersumpah tidak akan pernah jatuh cinta setolol dirimu."
Glend tergelak, tidak tersinggung sama sekali. "Ya, jangan pernah membuat kesalahan yang sama seperti yang aku lakukan dan mencoba lari ketika kau bahkan tidak bisa berjalan. Saat kau lelah, istirahatlah. Saat kau sedih, silakan menangis. Tidak apa-apa istirahat. Kemudian suatu hari, pasti akan datang hari ketika kau bisa berlari kembali."
"Bacot!" Justin memberikan jari tengahnya kepada pria itu. Glend kembali tertawa.
"Selamat tinggal, Kasih." Lirihnya sembari memejamkan mata.
🍬
"Mom, kudengar kita akan tinggal bersama Daddy Felix?"
Bella sedikit mengernyit mendengar cara Grace menyebut Felix. Biasanya tidak ada embel-embel nama di belakang. Ia dan Grace saat ini sedang duduk di podium, menyaksikan Gavin dan Felix yang sedang bertanding di sirkuit.
"Ya, kita akan tinggal bersama. Kau senang? Bukankah kau selalu merengek untuk tinggal bersama Daddy."
Grace mengangguk, "Ya, aku senang. Sangat senang, Mom. Mommy, bahagia?"
"Ya." Bella menerbitkan senyum terbaiknya.
"Kuharap Uncle iron man juga bahagia. Kurasa dia sudah pergi meninggalkan negara ini. Apakah dia berpamitan padamu, Mom?"
Bella tertegun. Benarkah Glend sudah pergi? Ya, kepergian pria itu mungkin lebih baik. Bella berucap dalam hati. Dengan begitu, semua akan berjalan seperti semula. Bella kembali meyakinkan. Semula? Memangnya apa yang kuinginkan sejak semula?
"Bagaimana kau tahu jika Uncle pergi, Sayang?"
"Haaiss, aku kalah lagi." Gavin sudah berdiri di hadapan mereka dengan cucuran keringat. "Daddy menang. Aku harus berlatih lebih giat, Mom!"
Bella tersenyum, "Ya, kau harus berlatih lebih giat."
Felix muncul di belakang Gavin, pria itu terkekeh melihat wajah Gavin yang cemberut kesal.
"Sportif, Dude. Berbesar hatilah." Ia mengacak gemas rambut Gavin dengan gemas. "Ada hal yang harus kuurus. Bisakah kau dan anak-anak pulang sendiri? Ada rapat penting yang harus kuhadiri." Felix menatap Bella dengan tatapan teduh dan memuja.
"Ya, tidak masalah. Gavin juga ingin berlatih beberapa putaran lagi. Aku akan menghubungimu begitu kami sampai di rumah."
Felix mengangguk, "Baiklah, Gavin, semangat untukmu, Dude. Daddy yakin kau akan menjadi pembalap handal di masa depan. Sungguh Daddy tidak sabar untuk melihatnya." Ia merangkul pundak Gavin sembari mengusap-usapnya. "Dan kau, princess," Felix menyentil hidung Grace. "Jadilah penyemangat paling depan untuk saudaramu."
"Aku tidak ingin menjadi penyemangat, aku juga ingin mencobanya, Dad!"
Felix tertawa, "Nanti Gavin yang akan mengajarimu, bukan begitu, Jagoan!"
Gavin mengangguk, "Tentu saja. Setelah aku lebih hebat darimu, Dad."
Felix mengangguk membenarkan. Kemudian ia menoleh kepada Bella, "Aku pergi," pamitnya sembari berdiri.
"Aku akan menghubungimu," Bella pun berdiri dan memeluk Felix.
🐰
Ciitt... Brugh... Brughh... Duar.... Mobil itu berbalik, berguling-guling. Pengemudinya terlempar ke luar dan detik selanjutnya, mobil itu meledak.
"TIDAK!!!"