La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Rumahku Adalah Bella



"Aku butuh healing, adik perempuanku. Kau selalu menyiksaku." Tandas Gavin tidak punya perasaan. Ya, Grace sangat manja jika ada dirinya di sana. Tingkah gadis itu cenderung menyulitkannya. Tapi percayalah, keduanya saling menyayangi layaknya upin dan ipin.


"Mom, jangan merindukanku," Gavin memeluk Bella, "Wangimu berbeda, aromanya lebih menyengat tetapi sangat enak."


Bella tersenyum, "Aku membelinya kemarin. Aku juga menyukainya, sangat menyukainya."


"Masuklah ke dalam, kami akan pergi setelah kau dan Grace masuk ke rumah, Mom."


Bella terkikik melihat lagak putranya yang sok dewasa itu.


"Hubungi aku jika ada apa-apa." Felix mendaratkan satu kecupan di kening Bella. Bella hanya menganggukkan kepala.


🐭


"Ouh, kepalaku hampir meledak." Justin memijat pelipisnya. Sakit di wajahnya baru terasa setelah ia menemukan kesadarannya.


"Minum ini," Alex menyediakan teh penghilang rasa mabuk untuk mereka berempat.


Glend meneguk minuman tersebut dalam satu kali tegukan. "Di mana ayahku?"


"Sudah pergi sejak dua jam yang lalu," Alex melihat jam tangannya yang menunjuk angka 15.00. Glend, Justin dan Bill baru saja bangun setelah Alex membunyikan toa di sana. Mereka terlihat seperti gelandangan yang menganggur atau pengangguran yang terlihat seperti gelandangan. Kira-kira sekacau itu lah penampakan mereka.


"Kemana?" Glend meringis, sama seperti Justin ia juga merasakan pusing luar biasa.


"Dia tidak mengatakannya."


"Tidak usah berkomentar jika pada kenyataannya tidak ada yang bisa kita temukan dari pria tua itu," Glend berdecak kesal.


Justin ingin menimpali, namun suara ponselnya menghentikan niatnya tersebut. "Di mana ponselku?" Ia merogoh sakunya, tidak menemukannya di sana. Pakaiannya masih sama dengan yang ia kenakan tadi malam. Hanya Alex yang sudah mengganti pakaian.


"Ponselmu ada di sini," Glend mengeluarkannya dari balik jasnya.


"Kenapa ada padamu?" Justin mengernyit bingung


"Aku tidak tahu," sahut pria itu dengan nada malas sembari melempar ponsel milik Justin yang ditangkap pria itu dengan sempurna.


"Astaga, 15 panggilan tidak terjawab. Mari kita lihat, ada kabar apa hingga nomor yang sama memanggilku hingga berulang kali." Justin menekan nomor itu kembali. "Justin Romano di sini. Ya, benar. Hmm,.. ouh, hari ini? Jam lima sore? Baiklah, aku akan segera datang, katakan kepada Tuanmu, mungkin aku akan sedikit terlambat. Ya, terima kasih." Justin memutuskan sambungan telepon. "Jam berapa sekarang?" Justin bertanya seraya membuka kancing bajunya satu persatu.


"Jam 15. 07." Bill menjawab.


"Jarak ke Bristol sekitar dua jam tiga puluh menit. Bersiaplah, setelah hitungan tahun, akhirnya pemilik mansion yang manjadi incaranmu itu bersedia untuk bertemu."


"Akhirnya kita akan pindah dari hotel ini. Aku merindukan rumah, Dude!" Bill dengan semangat beranjak dan menyerbu masuk ke dalam toilet.


"Aku tunggu kabar baiknya," Glend beranjak, berniat kembali ke atas ranjang.


"Kita semua akan ke sana, Dude. Mungkin saja pemiliknya sulit ditangani. Atau mungkin janda yang menyukai pria tampan menyedihkan sepertimu. Kau harus ikut, semuanya harus ikut. Ayolah, 150 menit perjalanan akan menjemukan jika dilalui sendiri."


Glend tidak berkomentar, ia tetap masuk ke dalam kamarnya. Persetan dengan rumah. Rumahnya hanya Bella. Ia sudah tidak peduli dengan mansion itu lagi. Ia bahkan sudah melupakan bahwa ia pernah menginginkan mansion tersebut.