La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Mimpimu Menjadi Kenyataan



Halo semua, apa kabar? Bagaimana puasanya? Semoga lancar. Aamiin.


Visual lengkap La Belle Et La Bete sudah di pos di IG@Shinee0503. Jika berkenan silakan dipollow genk🌚🌝


Happy Reading🖤


.


.


.


"Apa kau sangat terobsesi dengan dongeng Cinderella, Bella." Glend menggenggam tangan Bella dengan lembut, ditatapnya manik istrinya itu dengan teduh. Karena kesal dengan Eli, Bella tidak jadi sekolah. Ia memilih untuk memperpanjang liburnya.


"Terobsesi? Tidak juga. Aku hanya pernah bermimpi, menikah dengan seorang pangeran."


"Mimpimu bisa dikatakan menjadi kenyataan," Glend bergumam lirih.


"Hah? Kau seorang pangeran?" Bella menatapnya dengan dahi yang mengernyit, sejurus kemudian ia mengangguk faham. "Ya, pangeran buruk rupa," tukasnya lempeng.


Glend hanya tersenyum samar. "Apa kau tahu jika kehidupan kerajaan itu sangat keras, Bella. Kenyataannya tidak akan seindah di dalam dongeng. Banyak aturan yang dituntut untuk dipatuhi. Dirimu bukan lagi jadi milikmu. Hidupmu dikorbankan untuk rakyat. Keluarga menjadi nomor sekian. Kehidupan bangsawan dipenuhi intrik dan skandal. Kematian bisa dibuat menjadi sesuatu yang wajar."


Bella terkesiap, untuk pertama kalinya Glend terlihat sangat serius. Wajahnya muram dan kembali sorot matanya memancarkan kemarahan dan kesedihan.


"Kenapa kau mendadak sangat serius. Setelah menikah denganmu, impianku itu sudah pupus. Aku sudah tidak berharap lagi. Lagi pula menjadi istrimu sudah cukup menyenangkan," Bella mengusap-usap lengan suaminya. Terkadang Glend terlihat sangat berbeda dan penuh misteri. Banyak hal yang ingin ditanyakan olehnya kepada Glend. Hanya saja ia tidak tahu memulainya dari mana.


Seperti apa kehidupan Glend sebelumnya? Bagaimana ibunya bisa meninggal bersamaan dengan Andreas? Pertanyaan-pertanyaan itu hanya tercekat di tenggorokannya. Bella takut jika ia menanyakan hal itu, Glend kembali merasa sedih dan rapuh.


"Kau yakin tidak ingin tidak ingin tinggal di kampus? Ada pekerjaan yang harus kutangani."


Glend tergelak, "Itu karena aku legit seperti katamu."


___


"Kau sudah datang," Glend dalam wujud Andreas tersenyum tipis menyambut kehadiran Lizzie dengan ketiga temannya. Triple P.


Lizzie tersenyum sumringah, tidak menyangka jika Andreas akan menghubunginya secara tiba-tiba, mengundangnya untuk makan siang.


"Maaf, aku datang terlambat," Lizzie tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang berbinar merona. Ayolah, siapa yang tidak tersipu dan melambung diundang oleh pria tampan yang juga kaya. Semua wanita memimpikan hal itu. Memiliki pria rupawan yang bisa dipamerkan kepada dunia juga terpuaskan dengan materi. Harapan yang manusiawi. Hanya Bella yang tidak manusiawi.


Glend menggeleng, masih dengan senyum samar yang terukir di wajahnya. "Ini teman-temanmu?" Ia berbasa basi. Berlakon seolah ia tidak mengenal ketiga wanita itu.


Lizzie mengangguk, "Ya, Penelope, Pevita dan Poppy."


Glend mengangguk, alisnya menukik saat ketiga wanita menyebalkan itu berebut mengulurkan tangan.


"Astaga, kalian jangan membuatku malu!" Lizzie menepuk tangan temannya satu persatu.


Glend terkekeh sumbang. "Duduklah, aku sudah memesan makanan." Tidak berapa lama beberapa pelayan datang membawa makanan. "Apa kau keberatan jika kita menikmati makan siang di kamar hotel, sauda-, Lizzie?"


Wajah Lizzie sontak merona merah. Tanpa berpikir, wanita itu langsung mengangguk. Glend pun berdiri, melangkah mendahului Lizzie.


"Kalian jangan kemana-mana, oke. Aku akan berbagi cerita membahagiakan ini nanti kepada kalian."


"Kau membuatku iri," Penelope merengut kesal.


"Wanginya enak sekali. Astaga, ingin rasanya aku ikut bergabung denganmu, Lizzie. Sebagai penonton juga tidak masalah." Poppy bersuara, tatapannya tertuju pada punggung Glend yang semakin menjauh.