
"Jangan pernah kembali ke Anndora. Dia sudah memutuskan keluar dari kerajaan. Untuk itu tetaplah hidup seperti inginnya. Anndora tidak ada hubungannya lagi dengannya."
Bella merasa dilema. Queen Hellga menginginkan Glend kembali ke sana tetapi tidak dengan King Bryson. Apakah pria itu tidak ingin tahtanya tergeser atau justru ada alasan lain?
"Si buruk rupa ini masih koma tapi sudah memberikan beban untukku! Hei, pria murahan cepatlah kau bangun!" Bella membuka kedua mata Glend dengan kesal. "Jangan melotot saja! Cepat bangun!"
"Bella, kau menyiksa pasien," Justin yang dari tadi diam memperhatikan akhirnya membuka suara. Ditatapnya Bella dengan geli, bisa-bisanya wanita itu menjahili pasien yang tidak berdaya. Sebelum membuka mata Glend, Bella sudah menutup lobang hidung suaminya. Saat Justin bertanya tujuannya apa, Bella menyahut agar suaminya sesak napas dan cepat membuka mata. "Dari pada menyiksanya, kenapa kau tidak mencoba menciumnya, mungkin organ vitalnya akan memberikan reaksi merasakan sentuhanmu." Justin memberikan saran konyol. Untung saja Alex dan Bill tidak ada di sana, jika tidak kedua pria itu akan menoyor kepalanya dan meragukan lisensinya. Kedua pria itu sedang mengantar keluarga kerajaan ke hotel untuk beristirahat.
"Aku tidak akan sudi menciumnya!" Bella kembali menekan hidung suaminya, menghentikan pernapasan pria itu.
Uhuk...Uhuk... Ajaib, cara itu berhasil.
"Astaga, dia sadar." Justin segera beranjak dari kursinya. "Hei, biawak jamur, bangun dan muka matamu." Justin memukul-mukul pipi Glend dengan sedikit kasar.
"Hais, singkirkan tanganmu, Justin!" Protesnya dengan nada lemah. "Ah, kepalaku sakit sekali, apa yang terjadi?"
"Negara api datang menyerang dan kau bertindak sebagai pahlawan." Bella menimpali.
Mendengar jawaban konyol tersebut, mau tidak mau Glend membuka matanya dan menoleh ke sumber suara.
"Siapa kau?"
"Cih! Sudah kuduga." Bella bersedekap angkuh. "Aku? Istrimu." Bella mengangkat tangannya, menunjuk cincin yang tersemat di jemari manisnya. Glend mengangkat tangannya, melihat cincin yang sama tersemat di jarinya.
Justin yang ada di sana hanya bisa mengerjap. Selama ini, ia selalu dihadapkan pada drama keluarga yang menangis histeris jika si pasien bangun mengalami amnesia akibat geger otak. Justin memang sudah mengatakan kemungkinan itu kepada Bella. Ia kira Bella akan histeris panik, yang ada wanita itu justru berdecak angkuh.
"Jadi kau keturunan raja?"
"Kau sungguh istriku? Maksudku, aku menikahimu?"
"Apa wajahku terlihat seperti pembohong?"
"Kau cantik."
"Hm, matamu masih normal. Jadi kau sungguh pangeran?"
"Keluargamu datang menjengukmu. Termasuk mantan kekasihmu. Biar kuperjelas, kau ingat Alice?"
"Alice? Hmm... wanita itu datang?"
"Ya. Sialan, kau mengingatnya dan melupakanku. Apa kau ingin kuhajar." Bella mengangkat tinjunya.
"Bella, kendalikan dirimu," Justin segera menarik Bella menjauh. "Ini hanya sementara, tenanglah. Aku akan melakukan pemeriksaan kembali. Dia baru bangun, jangan ajak berbicara dulu. Biarkan kondisinya stabil. Nanti aku akan membantumu menghajarnya, tenanglah." Justin menarik kursi agar Bella duduk di sana.
"Apa wanita barbar itu sungguh istriku?"
"Katakan jika kau ingin melayangkan gugatan cerai. Aku, Alex dan Bill akan berlomba-lomba merebut hatinya."
Glend berdecak.
"Ya, istrimu, Bella kita." Justin kembali menegaskan.
"Jadi namanya Bella?"
"Hmm... Tidak usah memaksakan memorimu dulu. Katakan apa yang kau rasakan?"
"Shock. Aku seorang suami. Aku tidak percaya ini."
"Tapi itulah faktanya. Yang kutanyakan tentang keadaanmu. Apa yang kau rasakan? Selain kepalamu yang terasa pusing, apakah kau bisa menggerakkan organ tubuhmu yang lain?"
"Oh Tuhan, aku mengantuk. Biarkan aku tidur kembali."
"Lemah!" Bella mencibik.
Glend memiringkan kepala, menoleh ke arah Bella, "Jangan kemana-mana," Manik Glend pun terpejam secara perlahan.
Bella menelan saliva, "Aku merindukan si buruk rupa," gumamnya disusul helaan napas panjang.