
"Apa yang kau lakukan di sana?" Bill melintasi ruangan, dengan segera mendirikan kursi roda kemudian membantu Glend duduk di sana. Kaki kirinya memang masih belum memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya. Menurut diagnosa dokter itu hanya sementara saja sama seperti geger otak yang ia alami. Tapi yang menjadi pertanyaan, sementara itu sampai kapan?
"Wanita yang kalian sebut dengan istriku sengaja mendorongku agar jatuh. Apa kalian yakin dia istriku?"
"Kami tidak memaksamu untuk percaya, Dude. Kau tinggal menggugatnya. Jika kau tidak tahu cara menggugatnya, kau bisa mewakilkannya kepadaku. Dengan begitu aku dan yang lain tidak akan sungkan lain bersaing untuk menggantikan posisimu."
"Astaga, kau dan yang lain secara terang-terangan ingin merebut milikku?"
"Milikmu? Kau bahkan melupakannya." Bill berdecak malas. "Omong-omong, apa ada pakaian yang ingin kau bawa. Kita akan terbang dua jam lagi. Silakan memberi perintah, your higness."
Mereka semua memutuskan kembali ke Anndora. Tepatnya dipaksa kembali. Bill dan yang lain harus menerima hukuman, sementara si pembuat onar sesungguhnya tidak bisa tinggal diam begitu saja. Dengan sangat terpaksa ia ikut ke sana.
"Ck! Berhenti memanggilku seperti itu. Aku bukan bagian dari mereka lagi sejak lima tahun yang lalu dan seingatku, aku memang tidak pernah bermimpi untuk menjadi bagian dari mereka. Hanya karena Granny masih hidup, aku tidak bersedia menginjakkan kaki ke sana."
Ya, Bill tahu itu. Ia tumbuh bersama Glend di Anndora. Orang tuanya lah yang mengasuh Andreas dan juga Glend. Selama mereka bersama, tidak pernah tercetus dari mulut pria itu jika ia berkeinginan untuk menjadi raja selanjutnya, di mana pada saat itu Andreas lah memang yang memungkinkan mengganti peran King Bryson. Bersaing dengan saudaranya tidak ada di dalam daftar hidupnya. Glend memilih tetap bertahan di Andora hanya karena ibunya dan Andreas. Namun, disaat keduanya sudah tiada, ia tidak mempunyai alasan untuk kembali ke sana.
"Kau di sini, Bill..."
Glend dan Bill menoleh ke sumber suara. Bella baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Aroma semerbak langsung memenuhi ruangan kamar tersebut.
"Keluarlah," Glend memberi perintah.
"Helleh! Sebelum kau bercerai dengannya, aku tidak akan mungkin merebutnya. Hais, bisa-bisanya kau melupakannya. Bella, kau wangi sekali," Bill sempat-sempatnya melayangkan godaan.
"Aku sengaja," Bella mengidikkan bahu santai. "Aku sudah selesai menyusun barang-barangku, kau bisa sekalian membawa koperku, Bill."
"Jadi maksudmu kau sengaja menuangkan banyak sabun ke tubuhmu?"
"Ya," Bella duduk di depan meja rias, membuka laci dan mengeluarkan alat pengering rambut.
"Agar aku tergoda?" Glend sudah ada di belakangnya, menatapnya melalui pantulan cermin.
"Agar kau tersiksa." tandas Bella masih dengan gaya tidak acuh.
"Tersiksa?"
"Ya, selain leher dan dada, kau juga menyukai aromaku. Apa ya, istilah yang kau sematkan kepadaku? Melambung, terbuai, candu... ck, bukan itu."
"Memabukkan?" Glend ikut menerka-nerka.
"Ah, ya, memabukkan. Kau menyebutku memabukkan. Itukah yang kau rasakan sekarang?"
"Tidak juga."
Bella tiba-tiba memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan. Wanita itu mencondongkan tubuhnya hingga jarak wajah mereka menipis.
Glend bahkan bisa mencium aroma mint dari napas wanita penggoda di hadapannya itu.
"Benar kau tidak merasakan apapun, Glend?" Bisik Bella dengan suara yang sengaja dibuat sensual. Matanya sengaja ia turunkan ke bibir pria itu.