
Bella sampai di kediaman Vasquez setelah melalui perdebatan dengan Andreas. Pria menawan itu bersikeras untuk menahan Bella di sana dan mencoba memprovokasi Bella tentang pernikahannya. Bella sedikit naik darah, terlebih saat pria itu bertanya siapa suami Bella. Memangnya apa yang akan Andreas lakukan jika pria itu tahu bahwa Glend Vasquez adalah suaminya. Mungkinkah ia mengenali wajah Vazquez mengingat mereka berdua sama-sama seorang pengusaha. Jangan sampai keduanya saling mengenal. Bisa-bisa Andreas mencemooh wajah Glend dan dengan biadabnya membocorkan prihal ciuman mereka.
"Bill..." Bella memasuki rumah lebih dalam, tidak ada tanda-tanda keberadaan Bill di sana.
"Selamat siang, Mrs.Vazquez?" Alex lah yang muncul di sana. Si koki hebat andalan Glend. "Apa kau ingin makan, Nyonya?"
"Tidak." Bella menggeleng dengan cepat. "Di mana suamiku?" Tidak ada salahnya berbasa basi menanyakan keberadaan Glend. Toh, Bill juga tidak yakin apakah kali ini Glend pergi ke Sisilia atau tidak. Semoga saja Alex memberikan jawaban yang lebih jelas.
"Glend? Kurasa dia berada di Sisilia sekarang."
"Kurasa?"
"Menurut yang biasanya."
"Berikan aku alamatnya."
"Kau ingin menyusul?" Alex memperhatikan wajah Bella dengan seksama.
"Ya. Apakah tidak boleh?"
"Dia menolak ditemani. Lima hari dalam setahun ia akan mengisolasi dirinya sendiri dengan merenung dan menyalahkan diri sendiri dengan apa yang sudah terjadi. Dia tidak ingin seorang pun melihat kerapuhannya. Jika ada yang berani maka akan menjadi sasaran kemarahannya."
Astaga, separah itukah? Bagaimana bisa Glend menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ibu dan saudaranya? Semuanya sudah menjadi suratan takdir, lantas kenapa ia harus menanggung kesalahan itu? Kecuali ada sesuatu yang terjadi sebelum kecelakaan.
"Hanya karena dia marah, lantas kalian membiarkannya begitu saja? Aku tidak percaya ini. Jauh di dalam lubuk hatinya, Glend pasti membutuhkan seseorang untuk dijadikan teman berbagi. Meyakinkan dirinya bahwa yang terjadi sudah ketentuan takdir. Berikan aku alamatnya."
"Tapi, Mrs.Vasquez,..."
"Bella, panggil saja Bella."
"Ini tidak semudah yang kau bayangkan, Bella. Bisa saja kau akan terluka..."
"Aku tidak peduli. Aku akan bersiap-siap." Bella meninggalkan Alex pergi menuju kamarnya.
Setelah Bella menghilang di ujung tangga, Alex mengeluarkan ponsel menghubungi Bill.
"Bella memaksa tetap ingin pergi?"
"Glend baru saja terbang, jika Bella bersikeras, biarkan saja. Sudah waktunya ada seseorang menyadarkan pria itu. Dia tidak akan menyakiti Bella."
____
Sisilia merupakan pulau terbesar di Mediterania. Daerah Sisilia yang bergunung-gunung dan berpulau-pulau menjadi pemandangan indah dan menarik.
Glend duduk di dekat jendela menikmati pemandangan gunung Etna. Di depannya dua botol minuman keras sudah habis tidak bersisa. Bulan ini, yang paling ditakutinya dalam setahun.
Pada awalnya ia akan mencoba segala upaya untuk melarikan diri bulan ini. Pesta liar, wanita, pekerjaan. Namun ia sadar, tidak peduli apa pun yang ia kerjakan, siapa pun yang mendampinginya, rasa sakit itu tetap ada. Tetap terasa nyata. Ia menjalani hidup pada masa kini tetapi masa lalu menjadi bagian dirinya dan ia membawanya kemana-mana. Kenangan yang tidak akan pudar, bekas luka yang tidak akan sembuh. Rasa nyeri yang sampai menusuk ke tulang sumsum. Tidak ada jalan untuk meloloskan diri. Itulah sebabnya ia memilih untuk mengasingkan diri, minum sampai mabuk. Mabuk berat.
Tapi malam ini berbeda, ia tidak boleh mabuk berat. Ia akan kedatangan tamu. Tamu istimewa. Glend melirik jam tangannya, harusnya Bella sudah sampai satu jam yang lalu. Apakah gadis itu mengurungkan niatnya untuk datang?
Glend baru saja hendak menghubungi Bill, ia mendengar suara pintu dibuka. Ia menoleh dan menemukan Bella sedang menyeka keringatnya.
"Oh Tuhan, Glend! Rumah apa ini. Aku membutuhkan waktu dua jam hingga akhirnya berhasil menemuimu di sini." Pintu pertama yang Bella temui adalah terbuat dari kayu ek. Ruangan yang ternyata merupakan sebuah perpustakaan. Dindingnya dilapisi rak-rak tinggi yang dipenuhi buku. Bella menjelajahi seluruh ruangan yang berada di lantai dasar kemudian berjalan menaiki tangga. Ini sungguh konyol. Ia tidak mampu menjelajahi semuanya hingga akhirnya ia memutuskan untuk berjalan di koridor berkarpet dan kembali menemukan pintu kayu ek berat. Bell membuka pintu tersebut, alih-alih menemukan sebuah ruangan, ia justru mendapati sebuah tangga spiral yang menjulang. Bella menaiki anak tangga hingga akhirnya ia sampai di sebuah ruangan berbentuk lingkaran besar dengan jendela di semua sisi.
Di ruangan tersebut juga terdapat sebuah tempat tidur bertiang empat berukuran sangat besar terbungkus beledu merah maroon.
"Kau minum?"
"Hmm." Glend mengangguk. "Aku menghabiskan dua botol sampanye. Kemarilah, duduk di atas pangkuanku." Glend menepuk pahanya.
Akh, sudah berapa lama Bella tidak duduk di sana, di atas pangkuan Glend. Bella pun menurut, duduk menyamping di atas pangkuan suaminya.
"Tumben sekali kau menurut," Glend terkekeh.
"Aku harus menghiburmu. Jadi ini salah satu usahaku."
Glend semakin tergelak mendengar jawaban Bella. Selalu saja terus terang dan di luar dugaan.
"Hanya untuk menghiburku?" Glend menjalankan kursi rodanya, berkeliling di ruangan tersebut.
"Sebagai bentuk permintaan maaf."
Glend menghentikan kursi rodanya. Ia menunduk menatap wajah Bella dengan dahi mengernyit bingung. "Kau membuat kesalahan?"
Bella menggigit bibir bawahnya, sungguh ia dilanda bimbang. Haruskah ia jujur atas kecurangan yang ia lakukan? Ia menginap di rumah seorang pria dan bahkan membiarkan pria tersebut menciumnya.
"Aku sedang bertanya, Bella. Jangan menggodaku dengan menggigit bibirmu. Aku sedang mabuk, kau bisa habis jika bertingkah nakal."
"A-aku ingin bibirku di seterilkan." cicit Bella sembari menunduk malu. Jantungnya berdebar menunggu reaksi pria itu.
Glend tidak langsung merespon hingga hanya hembusan suara angin yang terdengar. Dua menit kemudian Glend baru membuka suara.
"Steril? Bibirmu dikotori orang lain?"
"Ma-maafkan aku."
"Angkat kepalamu."
Bella menggeleng. "A-aku salah. Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku membiarkan hal itu terjadi. Maafkan aku." Bella tiba-tiba memeluk Glend, membenamkan wajah di dada pria itu.
"Usaha yang bagus," Glend bergumam. Tangannya terangkat membalas pelukan sang istri. Diusapnya punggung Bella dengan lembut. Dihirupnya aroma gadis itu. Masih saja aroma sabun yang biasa ia pakai. "Apakah pelukan ini juga merupakan salah satu trik untuk meredam amarahku, cara mia?"
"Apa itu cara mia? Apakah sejenis caramel?"
"Pertanyaannya bukan itu, Bella."
Bella mengangguk, "Kau sedang bersedih. Aku datang untuk menghiburmu. Mari kita bahas hal itu nanti."
"Hiburan yang kubutuhkan bukan sekedar pelukan," Glend mengurai pelukan mereka. Diusapnya wajah Bella dengan penuh hati-hati. "Kau pasti lelah. Istirahatlah." Glend meraih dagu Bella agar sedikit mendongak, lalu ia pun menundukkan kepala. Memberikan kecupan singkat di bibir gadis itu. "Bibirmu sudah steril sekarang."
.
.
.
Yang masih kepo sama pisual akan saya post di IG@Shinee0503. Spoiler juga sudah dipost.