
Sebagai bentuk penghargaan bagi penulis yang sudah meluangkan waktu untuk berpikir dan mencoba menyajikan yang terbaik. Feedback yang diharapkan adalah vote dan komentar dari pembaca. Karena itu dimohon dengan sangat apresiasinya, sebab apresiasi adalah penyemangat bagi kami. Ibarat manusia yang membutuhkan oksigen, begitulah kiranya apresiasi kalian wahai para pembaca budiman.
🐣
Bella masih terkejut dengan sikap Glend yang tidak biasanya. Sikap pria tersebut justru membuatnya penasaran dengan apa yang sesungguhnya dialami pria itu.
Saat ia datang, Glend tampak begitu menyambutnya. Bertingkah manis seperti biasa sehingga Bella lupa jika wajah suaminya itu sangat buruk. Lalu setelah ia selesai mandi, Glend mendadak berubah. Apa kesalahannya? Apa karena ia tidak membawa pakaian? Opsi itu menari-nari di benak Bella. Namun, ia segera mengenyahkan dugaan itu. Ayolah, Glend mungkin saja pelit, tapi tidak tidak mungkin sampai tidak bersedia meminjamkan kemeja kepadanya. Lalu jika bukan karena kelancangan Bella yang memakai kemejanya, lantas apa yang memicu kemarahan pria itu sampai mengusir Bella dari dalam kamar. Tidak mengijinkan Bella tidur di ranjang yang sama.
Bella mondar mandir di kamarnya, memikirkan kemungkinan lain yang memancing kemarahan Glend. Niatnya datang kemari adalah untuk menghibur Glend. Jelas sekali jika tadi manik pria itu menyiratkan kesedihan dan kemarahan.
"Seharusnya aku tidak jujur tentang ciuman itu." Bella bermonolog. Glend mengungkit hal itu juga bahkan pria itu bersikap sinis dengan menyebut Bella murahan.
"Prinsipku, mengatakan sejujurnya walau pun pahit."
"Tapi kenapa aku mesti peduli dengan semua ini? Memangnya siapa dia?"
"Dia suamiku," ucapnya dengan nada memelas. "Meski dia menyebalkan dan tidak sedap dipandang, faktanya dia suamiku. Suami istri harus saling mendukung. Tapi permainan berbahaya seperti apa yang dia inginkan? Gulat di ring? Itu tidak mungkin! Dia lumpuh, bagaimana bisa menghajarku."
Bella mengambil ponsel, menarikan jemarinya di sana. Hiburan seperti apa yang dibutuhkan suami saat sedang bersedih.
"Nah, aku menemukannya." Bella duduk bersila di atas ranjang. Membaca dengan semangat. "Ada 13 cara, hm, mari kita lihat cara pertama. Satu, berikan pujian kepada suami." Bella mengernyit membaca poin pertama. Pujian, bagaimana ia memuji Glend jika tidak ada satu pun yang bisa dipuji dari pria itu. "Tidak mungkin aku memuji rupanya. Jatuhnya fitnah jika aku mengatakan dia menawan." Bella bermonolog. Poin pertama tidak membantu sama sekali menurutnya. "Oke, oke, Bella, memuji tidak harus dengan fisiknya. Coba pikirkan hal baik tentang dia. Ck! Dia menyebalkan, sikapnya sangat menyebalkan. Poin kedua mungkin membantu." Bella kembali menatap layar ponselnya.
"Hargai kerja keras suami. Skip! Aku tidak mengerti soal kerja kerasnya. Yang kutahu Bill lah yang bekerja keras untuknya. Poin ketiga semoga membantu." Bella menaruh harapan pada poin ketiga, jika pun tidak memberi solusi ia masih memiliki 10 poin lagi.
"Beri suami waktu sendiri. Heh? Ini tidak benar. Dia akan mabuk berat jika kubiarkan sendiri. Tidak... Tidak... ini juga tidak membantu sama sekali. Oh Tuhan, poinnya tidak ada yang benar. Poin empat, jangan terlalu fokus main ponsel. Hei, kami bahkan jarang bermain ponsel."
"Poin selanjutnya, berikan hadiah pada suami. Dia sudah memiliki segalanya. Dia tidak membutuhkan hadiah apa pun. Astaga, ini membuatku frustasi, kepada siapa lagi aku harus bertanya."
"Membuatkan sarapan spesial di atas kasur. Oke, ini sedikit masuk akal. Masalahnya ini sudah malam. Aku butuh solusi malam ini!"
"Tatap matanya, tersenyum, ulangi. Matanya terlalu indah, aku tidak kuat menatapnya. Eh, ini pujian, tapi apa yang kukatakan barusan, ya, manik mata grey selalu mematikan." Bella segera menggeleng. Bayangan Andreas tiba-tiba melintas begitu saja. Bukan saatnya memikirkan pria lain, Bella.
"Memberikan pijatan dengan lembut. Heh? Haruskah aku menawarkan diri untuk memijatnya? Dia bahkan menepis tanganku saat aku menyentuh pundaknya."
"Next, Berkencan di akhir pekan. Kami akan menjadi bahan gunjingan jika kami pergi berjalan-jalan."
"Lakukan kegiatan rumah tangga sebagai tim. Ini tidak mungkin. Ia memiliki banyak uang untuk membayar seorang pelayan."
Bella memijat pelipisnya. Sebelas poin tidak membantu sama sekali. Semangatnya memudar. Jika dua poin terakhir tidak membantu, ia akan menghubungi Eli.
Bella menggulir layar ponsel. Membaca dua poin terakhir. Manik Bella membeliak dan detik selanjutnya ia pun tersedak.
Meluangkan waktu untuk berhubungan intim yang menyenangkan dan berhubungan intim dengan mesra. Itulah dua poin terakhir.
Bella melempar ponsel. Ia melompat dari atas ranjang. Mendadak ruangan terasa panas. Dikibas-kibaskannya tangannya di depan wajah.
"Saran yang memudaratkan!" ucapnya dengan bibir sedikit gemetar karena otak liarnya justru membayangkan dirinya dan Glend bercinta!
"Oh Tuhan, sepertinya aku sudah tidak waras."
____
Glend melihat jam dinding, pukul 01.15. Dialihkannya kembali tatapannya pada siluet wanita yang berdiri di ambang pintu.
Glend memang sengaja memadamkan lampu. Cahaya bulan dan bintang cukup menerangi ruangannya.
"Belum tidur, Bella?" suara Glend serak menggoda. Terdengar sangat berbeda dari biasanya.
Mungkin karena ia sedang mabuk, pikir Bella.
"Apa yang kau pelajari setelah membaca trik tersebut?" seperti biasa, nada Glend tenang, lembut, mendayu. Bella sedikit lega. Ia pikir, Glend akan bersikap sinis lagi.
"Apa kau tahu matamu sangat indah, Glend?" Bella mempraktekkan poin pertama. Memberikan pujian.
"Hm, banyak wanita mengatakan hal demikian." Alih-alih tersanjung, Glend justru membenarkan.
"A-aku sedang memujimu."
"Itu bukan pujian, itu fakta, cara mia."
"Terima kasih sudah memberikanku kartu tanpa limit. Aku sungguh sangat menghargainya." Poin pertama tidak berhasil, poin kedua pun menyusul.
"Kenapa harus berterima kasih, kau bahkan belum menggunakannya. Itu penghinaan."
Bella terbatuk. Ya, apa yang dikatakan Glend benar adanya. Ia belum pernah menggunakan kartu pemberian suaminya. Rencananya, ia akan menggunakannya saat berkencan dengan ayahnya. Tapi saat memutuskan menyusul Glend ke Sisilia, ia sudah membatalkan kencannya bersama ayahnya.
"Nanti aku pasti menggunakannya. Apa tubuhmu pegal? Aku akan memberikanmu pijatan. Sebaiknya kau berbaring."
"Aku tidak bisa tidur. Berbaring justru membuatku semakin tertekan." Tidak sedetik pun Glend melepaskan tatapannya dari manik Bella yang justru terlihat menghindari tatapannya.
"Kapan kau ulang tahun? Aku akan memberikanmu hadiah."
"Dengan uangku?"
"Uangku," sahut Bella.
" Tiga Agustus."
"Oh, masih lama."
Hening. Bella semakin gugup. Beberapa poin tidak berhasil sama sekali. Haruskah ia menggunakan jurus terakhir.
Dia suamimu, Bella, tidak ada yang salah dengan menyerahkan diri.
Ya, benar. Tidak ada yang salah.
Bella menunduk malu-malu, menyelipkan rambut ke balik telinga.
Glend masih saja menunggu dengan tenang apa yang akan dilakukan gadis itu.
"G-Glend," panggil Bella dengan nada sedikit gemetar.
"Ya." Suara Glend semakin serak.
"Bo-boleh aku duduk di atas pangkuanmu."
"Ehhmm... te-tentu saja." Glend mendadak gugup. Kegugupan Bella menular kepadanya.
Bella pun segera duduk menyamping seperti biasa. Melingkarkan lengan di balik leher suaminya dan menenggelamkan wajahnya di sana.
"Glend, aku ingin nafkah batin." Bella berbisik di telinga suaminya.
Glek!
Kau boleh mengambil hak-mu, Glend. Bukan itu yang dikatakan Bella. Sekujur tubuh Glend panas dingin. Alih-alih memberikan hak kepada Glend, Bella justru melakukannya dengan cara yang sangat manis, seolah gadis itu lah menginginkan pelayanan dan penghiburan.
Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Gadis ini selalu di luar dugaan.