
"Aku tidak tahu harus bersedih atau berbahagia. Di sana Bella terlihat hidup dengan baik. Aku bersyukur untuk itu," Alex mengusap pundak Glend yang dari tadi masih saja terlihat seperti zombie. "Dan di sini, aku berduka untukmu."
Justin menarik napas panjang. Apa yang ia pikirkan sudah diutarakan oleh kedua temannya. Glend memang sangat memprihatinkan.
"Kita akan mencari celah pria itu. Seorang Felix Orlando tidak mungkin tidak memiliki cacat dan celah. Aku yakin jika pria itu tidak sebaik yang dikatakan Uncle. Semua pria brengsek, Dude."
Bill dan Alex setuju dengan apa yang dikatakan Justin. Felix pasti memiliki sisi buruk.
"Menunduk," Justin memberi perintah. Alex dan Bill kompak menurut. Ketiga pria itu bersembunyi begitu mobil Felix melewati mobil mereka.
Glend melirik ke arah spion, begitu mobil Felix tidak terlihat. Ia pun segera melompat turun sebelum ketiga temannya menyadarinya.
Di depan pintu rumah Bella, ia langsung menekan bel.
Tidak menunggu lama pintu rumah akhirnya dibuka.
"Hai," Glend menyapa dengan santai sembari tersenyum hangat. "Boleh aku masuk?" Sebelum Bella menjawab pertanyaannya, ia sudah merengsek masuk. Mau tidak mau, Bella akhirnya mundur dan minggir ke samping sebelum pria itu menabrak tubuhnya.
"Ya, kesopanan yang tidak diragukan lagi," Bella bergumam pelan. Glend terkekeh, ia mendengar apa yang dikatakan wanita itu.
Glend merotasi pandangan ke seluruh ruangan. Foto Bella, Gavin, dan Grace memanjakan penglihatannya. "Kau sangat hebat bisa melahirkan dua anak-anak yang sangat lucu dan manis." Glend berbalik, matanya bersirobok dengan manik Bella yang indah. "Kau tidak menawarkanku untuk duduk?"
"Di mana aku harus duduk?" Glend memasang wajah pongah. Sesungguhnya ia menahan tawa saat melihat Bella mendelik.
"Tidak mungkin di atas pangkuanku," sahut Bella dengan mimik tenang.
Glend mengulum senyumnya, "Kau yang dulu biasa duduk di atas pangkuanku." Glend melihat jemari Bella gemetar begitu pun dengan pupil wanita itu. Glend memaki dirinya karena sudah membuat wanita itu bereaksi.
"Aku sangat menikmati saat-saat itu. Aku menyesal telah mencemari kenangan yang begitu indah tersebut. Pasti menyakitkan bagimu." Glend menundukkan kepala sesaat, menjeda kalimat sembari menarik napas. Untuk terlihat tenang di hadapan Bella, ia juga butuh usaha keras. "Aku jahat sekali, bukan?" Glend mengangkat kepala. Lagi, manik mereka beradu. "Aku tidak akan meminta maaf karena aku merasa belum layak untuk mendapatkan maafmu," Glend tersenyum samar, manik pria itu menyiratkan luka yang teramat dalam.
"Aku harus berjuang untuk mendapatkan maafmu. Aku sadari itu, Bella. Tapi, aku yakin kau tahu bahwa aku tidak membutuhkan bahasa apa pun agar kau mengerti bahwa aku sangat mencintaimu. Tidak pernah beristirahat sama sekali untuk mencintaimu. Luka yang kutorehkan, itu di luar kendaliku, Bella. Keadaan dan situasi itu benar-benar di luar kuasaku. Aku bersyukur kau baik-baik saja. Aku senang melihatmu bahagia. Namun, aku tidak rela jika yang memberikanmu kebahagiaan adalah pria lain. Dia mungkin memang meratukanmu, tapi bagiku kau adalah mahkota yang selalu akan kujaga, kulindungi, kujunjung. Kau tentunya tau bahwa aku tidak akan segan mengorbankan nyawaku untukmu. Aku tidak akan pernah menyesali kecelakaan itu, Bella. Tidak akan. Karena jika aku menyesalinya, posisinya bisa saja terbalik. Kau akan terluka. Aku tidak akan sanggup melihatmu terluka dan melupakanku. Karena rasanya sangat sakit."
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" Bella mengangkat dagu dengan angkuh.
Glend tersenyum sembari berjalan mendekati wanita itu. "Yang ingin kukatakan, tetap lah hidup bahagia. Aku akan terus mencintaimu hingga aku menemukan titik lelah dan menyerah. Terima kasih sudah melahirkan anak-anak yang lucu. Kau hebat." Glend mengusap kepala Bella, lalu melangkah pergi keluar rumah.
"Glend Vasquez." Bella mengejar Glend keluar. Pria itu berhenti dan berbalik.
"Keadaan saat itu memang di luar kuasa dan kendalimu. Tapi yang kau lakukan dengan Alice semata-mata untuk mendorongku pergi. Kau memintaku pergi, aku pun mempermudahnya. Sekarang, seperti katamu, semuanya baik-baik saja sekarang. Dulu, semuanya tidak bisa diperbaiki. Hingg bertahan bukalah pilihan. Seperti katamu, aku sekarang bahagia. Jangan merusaknya. Selamat tinggal."